
"Kak, lepasin!" Dengan susah payah Kana menggeliat mencoba keluar dari kungkungan suaminya yang masih ingin mengajaknya bermalas-malasan di atas kasur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
"Bentar lagi Na. Ini kan masih pagi. Aku masih kangen," rengek Adrian sudah seperti anak kecil saja. Dari semalam Adrian benar-benar tidak ingin melepaskan Kana. Makan, minum pun Kana lakukan di atas kasur karena Adrian tidak memperbolehkannya turun dari ranjang.
"Kak, aku mau mandi sama masak juga." Kana mencoba melepas tangan Adrian yang memeluk perutnya lalu perlahan mengusap perut Kana dengan lembut.
"Kamu juga harus kerja!" omel Kana saat tangan Adrian mulai melenceng ke tempat yang tak seharusnya.
"Udah seminggu lho Na." Adrian menenggelamkan kepalanya di tengkuk leher Kana mencium feromon sisa semalam.
"Aku capek!" Kana menepuk tangan suaminya lalu duduk dan menatapnya kesal. "Semalam kan sudah!"
Adrian tidur miring menghadap ke arah Kana samb kepalanya dengan satu tangan. Menatap istrinya lekat-lekat. " Kan semalam, pagi ini belum." Adrian menaik turunkan alisnya.
Kana mendecih kesal lalu beranjak dari tidurnya. "Kakak mandi saja dulu. Aku akan siapkan sarapan." Kana tak mempedulikan permintaan suaminya.
Adrian mendesah kecewa karena gagal mendapatkan 'sarapan' spesialnya, dengan malas dia beranjak dari tidurnya untuk mandi dan bersiap ke kantor. Kalau saja tidak ada kunjungan dari kantor pusat, Adrian akan mengambil cuti lalu menghabiskan waktu seharian dengan Kana. Sayang, semua di luar kendalinya.
Setelah selesai mandi Adrian bergegas ke dapur menyusul Kana yang lebih dulu berada di sana. Dilihatnya Kana membelakangi dirinya sibuk dengan panci penggorengan. Adrian termenung memperhatikan istrinya dari belakang. Tangan Kana sibuk mengaduk sesuatu, entah apa. Rambut basahnya ditutup dengan handuk, memperlihatkan leher jenjang yang putih mulus. Ada bekas jejak merah di sana. Tentu saja hasil karya Adrian. Dan Adrian bangga itu, karena dari sekian banyak pria yang mendekati Kana, Adrian-lah yang berhasil mendapatkannya.
Baby doll warna pink yang dipakai Kana memperlihatkan perutnya yang mulai membuncit. Maklum, kehamilan Kana sudah masuk trimester ke dua. Entah hanya perasaan Adrian atau memang dari sananya, tubuh Kana berbeda dari sebelumnya. Lebih berisi dan seksi. Adrian jadi teringat malam-malam yang selalu dia habiskan bersama Kana. Satu kata, memabukkan.
" Masak apa, sayang?" Adrian menarik kursi lalu duduk. Kana mematikan kompor lalu menaruh makanan di piring dan membawanya ke meja.
"Tumis kangkung. Biar Kakak ngantuk," canda Kana meletakkan hasil masakkannya di meja. Adrian tersenyum, ternyata di meja sudah ada masakkan yang lain. Tempe dan ayam goreng. Tapi kapan Kana belanja dan masak?
"Ayam gorengnya mama yang kirim barusan, pakai ojek online." Seperti tahu apa yang dipikirkan Adrian, Kana menjawab. " Tempe sama kangkungnya tadi aku beli di tukang sayur," imbuh Kana lagi.
Adrian manggut-manggut, menyodorkan piring ke arah Kana. " Enak deh kalau dilayanin," sindirnya, Kana tersenyum lalu mengambilkan makanan untuk suaminya.
" Hari ini aku ada bimbingan Kak, mau ke kampus." Kana meletakkan piring yang sudah Kana isi dengan nasi dan lauk pauk.
"Tapi aku gak bisa anter Na. Ada kunjungan dari pusat."
"Gak papa, aku bisa naik ojek." Kana ikut mengambil piring dan menyendok nasi beserta lauk pauk.
"Jangan! Biar nanti aku telepon Kanda suruh nemenin," cegah Adrian.
"Gak perlu lah Kak. Aku bisa sendiri, nanti pulangnya juga sama Moli." Kana menolak, dia sudah bosan jika ke mana-mana Kanda mengikutinya.
"Tapi Na ak-"
__ADS_1
"Kak, please jangan berpikiran negatif. Aku akan hati-hati. Percaya sama aku ya?" sela Kana mencoba menenangkan suaminya. "Aku akan telepon sejam sekali, oke?"
Adrian terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila Kana pergi sendiri. Tapi, benar kata Kana. Tidak seharusnya dia berpikiran negatif, yang ada malah akan benar terjadi jadi, lebih baik dia mengizinkan Kana pergi sendiri saja. Walaupun entah kenapa, dia rasanya berat sekali untuk membiarkan Kana pergi sendirian.
"Baiklah. Tapi janji ya, kamu harus hati-hati dan kabari sejam sekali," pinta Adrian, posesif demi kebaikan Adrian pikir tidak masalah.
Kana mengangguk lalu tersenyum manis membuat jantung Adrian berdegup lebih kencang. "Na? Boleh gak kalau sarapannya diganti 'makan' kamu saja?" Pertanyaan bodoh Adrian itu kontan saja membuat mata Kana melotot cantik karena Kana tahu pasti maksud dari kata-kata Adrian.
*
Setelah Kana mengantar Adrian ke teras rumah, dia bergegas mempersiapkan diri untuk ke kampus, celana khusus hamil dan kemeja warna biru laut membuat penampilannya makin cantik. Setelah Kana memastikan semua pintu rumah dan saklar mati. Lalu mengambil tas ranselnya dan bergegas membuka pintu depan.
Langkahnya mundur ke belakang saat dia membuka pintu dan mendapati Susan berdiri di depannya.
"Bikin kaget aja! Ngapain kamu di sini?" Kana mengelus dada menetralkan jantungnya yang berdetak lebih cepat akibat terkejut melihat Susan yang tiba-tiba ada di depannya.
Susan menatap Kana tajam. Lalu meringsek masuk ke dalam rumah tanpa disuruh. "Ngapain sih? Masuk rumah orang sembarangan. Kak Ian gak ada!" Kana menyusul Susan.
"Baguslah kalau dia gak ada." Susan duduk di sofa dengan paha kanan bertumpu pada paha kiri, menatap Kana penuh intimidasi.
"Aku ke sini bukan untuk bertemu dengan Adrian." Susan menatap sekeliling rumah Kana.
"Terus, mau ngapain? Ngajak aku main lompat tali? Sorry Tante, aku mau ke kampus." Kana berucap ketus. Matanya melirik ke arah ponsel yang berbunyi ada notifikasi dari Kang Ojol yang sudah menunggu di depan rumah. Kana memgetik pesan balasan agar Kang Ojol menunggu sebentar.
"Maksud kamu apa?"
Susan tersenyum sinis. "Kenapa kamu tidak pergi saja yang jauh atau hilang sekalian?"
"Apa kamu bilang?" Kana menatap Susan tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Susan menatap sengit ke arah Kana lalu dengan angkuh menendang meja di depannya. "Aku mau kamu pergi dari kehidupan Adrian."
Kana terkesiap mendengar kata-kata Susan itu. "Atas dasar apa kamu menyuruhku pergi? Aku istri sah Adrian dan kamu cuma teman kantornya."
Susan mendecih lalu berdiri di depan Kana. Menatap Kana tajam dengan tatapan seorang musuh yang siap mencabik-cabik tubuh lawannya.
"Apa? Asal kamu tahu ya, aku jauh lebih dulu kenal Adrian dibanding kamu. Aku yang sudah bertahun-tahun mencintai Adrian . Tapi apa yang aku dapat?" Susan menatap nyalang ke arah Kana . "Tidak ada. Kamu yang dapat semua yang dimiliki Adrian. Perhatian, cinta, harta semua kamu dapatkan! Sedangkan aku- " Susan tak melanjutkan kata-katanya, tapi tatapan matanya penuh dengan kebencian dan kemarahan.
"Kenapa sih kamu gak pergi saja yang jauh dari hidup Adrian.
harusnya aku yang bersama Adrian, karena aku lebih mencintainya bukan kamu," imbuh Susan histeris sudah seperti orang yang hilang akal.
__ADS_1
Kana menatap Susan tak percaya. Jadi, Susan melabraknya pagi-pagi begini hanya untuk mengatakan itu semua pada Kana? Kana tak habis pikir. Apa Susan ini tidak tahu malu? Padahal jelas-jelas Adrian menolaknya bahkan terang-terangan menyuruh Susan pindah dari rumahnya yang sekarang, masih saja Susan tak menyerah.
" Cinta?" Kana tertawa sumbang. "Apa yang kamu rasain ke suamiku itu bukan cinta tapi hanya obsesi kamu untuk mendapatkan perhatian suamiku. Dan kayaknya Kak Ian tidak bodoh, karena dia tidak tertarik sama kamu. Poor you!" Terlanjur basah adu argumen, sekalian sajalah Kana melukai harga diri Susan. Dan berhasil, terbukti dari rahang Susan yang mengeras dan tangannya yang mengepal erat. Tatapan matanya penuh amarah.
"Aku peringatkan kamu anak kecil! Pergi dari hidup Adrian atau aku tidak segan-segan melukaimu!" ancam Susan mendorong pelan Kana.
"Kamu tidak punya hak menyuruhku pergi! Harusnya kamu yang pergi. Bukan kah kamu sudah janji pada Adrian pindah dari rumah kamu?"
Seperti diingatkan oleh kata-katanya sendiri, Susan terdiam mengingat janji yang dia ucapkan pada Adrian. Padahal dia mengucapkan janji itu hanya untuk menarik simpati Adrian, tapi malah menjadi boomerang untuknya sendiri.
"Terus kamu pikir aku akan pergi gitu dari rumah itu? Jangan mimpi! Karena sampai kapanpun aku akan tetap di samping Adrian."
"Astaga! Kasihan sekali kamu, kayaknya kamu butuh psikolog biar stress kamu hilang? Biar gak godain suami orang lagi. Kamu gak maukan disebut perempuan murahan perebut suami orang atau zaman sekarang namanya pe-la-kor ," cetus Kana emosinya mulai terpancing.
"Apa kamu bilang?!" teriak Susan histeris.
"Mau diulang? Pe-la-kor!"
Susan menatap Kana marah lalu mendorong Kana sampai tubuh Kana terbentur tembok. "Auhh!" Kana merintih saat pundaknya terbentur dinding.
"Sakit? Itu belum seberapa dibanding sakitnya melihat pria.yang kita cintai menikah dengan wanita lain."
Kana menegakkan tubuhnya lalu tersenyum sinis. "Kamu pikir dia akan simpati pada kamu? Dia akan semakin membencimu kalau melihat ini."
"Diam!!" teriak Susan lalu tiba-tiba saja Susan menarik tangan Kana lalu mendorong Kana ke lantai. Tentu saja, Kana yang memang belum siap menerima tindakan anarkis Susan itu tak bisa berbuat apa-apa. Dia terjungkal, hal pertama yang Kana lakukan adalah melindungi janinnya.
"Kamu gila?!! Kamu bisa menyakiti anakku!" Kana tidak mempedulikan sakit badannya, yang ada di pikirannya adalah janin yang ada di perutnya.
"Oh, begitu?Kalau gitu rasakan ini!"
Bug!Bug!
Tanpa bisa dicegah, Susan menendang perut Kana dua kali. Membuat Kana menjerit kesakitan, sayangnya Susan tidak peduli dia semakin kalap lalu menendang bagian tubuh Kana yang lain.
"Arghhhhh!" Kana meringkuk melindungi Perutnya tangannya berusaha meraih ponsel yang terjatuh saat Susan mendorongnga. Sayangnya, Susan tahu itu lalu dia mengambil ponsel Kana dan menginjak-injaknya dengan penuh kemarahan.
"Jangan! Tolong jangan!" jerit Kana berusaha mencegah kaki Susan yang terus menginjak ponselnya.
"Adrian milikku!Hanya milikku!!" seru Susan. Lalu dia berjongkok menyamai tinggi Kana. Menjambak rambut Kana lalu menyeringai. "Peringatan pertama untukmu. Tinggalkan Adrian!" Dengan kasar dia melepas tangannya dari rambut Kana.
"Bye!" Susan bergegas pergi meninggalkan Kana yang menahan sakit di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Tolong!" Kana berteriak keras, tapi suaranya seperti tertelan di tenggorokan. Kana merasakan nyeri yang tak tertahankan pada bagian perutnya. Badannya tiba-tiba terasa dingin pandangannya perlahan buram, hal terakhir yang dia lihat adalah darah yang merembes di kakinya. Setelah itu semua gelap.
****************