
Adrian melempar kertas yang baru saja dia baca lalu membanting tubuhnya ke kursi kerjanya membuang napas keras-keras. Joddy yang sejak tadi berada di satu ruangan dengan Adrian hanya menatapnya sekilas lalu kembali asik menekuri ponselnya.
"Minta bagian HRD alamat lama Susan!" perintah Adrian pada Joddy yang notabene memang bawahannya.
"Sudah, bahkan gue udah ke sana. Kata tetangganya dia udah lama kan gak ke sana. Alamatnya di kampung kita gak punya. Nomor ponselnya sudah tidak aktif. Rupanya dia sudah mempersiapkan semuanya. Surat pengunduran dia saja sudah diterima bagian HRD kemarin sebelum kejadian Kana." Joddy menyandarkan kepalanya, menghela napas lalu menatap langit-langit ruangan Adrian.
Sekilas bayangan wajah Kana melintas dengan senyum tipis yang dia paksakan. Kana sudah mau bicara, walaupun sesekali dia masih termenung dengan wajah sedih saat matanya menatap perutnya yang kini rata. Masih jelas tergambar kesedihan yang amat sangat di matanya.
Beruntung dia punya dua sahabat yang selalu setia menghibur Kana sehingga sedikit demi sedikit Kana bisa melupakan kesedihannya.
"Lo ada kenalan orang IT kan Jod? Minta tolong saja dia buat ngelacak Susan melalui sosmed-nya," seru Adrian, mampu memgalihkan perhatiannya.
"Yakin banget lo, Susan akan membuka media sosialnya?"Joddy sedikit tak yakin dengan usul Adrian.
"Yakin gue."
"Kenapa kita gak nyewa detektif aja buat nyari dia?" usul Joddy.
"Lo yang bayar!" putus Adrian. Joddy berdecak kesal lalu membuka ponselnya dan mencari kontak temannya. Menyewa orang untuk mencari informasi tidak semudah seperti di dalam cerita novel atau sinetron di televisi membutuhkan biaya tidak sedikit. Bukannya Kana tidak penting, tapi jika harus membuang uang demi wanita seperti Susan, Joddy tidak akan sudi melakukannya.
Joddy sangat yakin tanpa menyewa orang pun mereka bisa menemukan Susan dan mengumpulkan bukti untuk memberi pelajaran pada wanita itu. Tindakannya sudah masuk kriminal. Hampir saja mereka semua juga kehilangan Kana, kalau saja Kana tidak segera dibawa ke rumah sakit.
"Sial! kita harus cari ke mana wanita itu!" Adrian memijat pelipisnya. Dia sangat lelah, kurang makan dan kurang tidur. Di pikirannya hanya ada satu, Kana. Badan Kana memang berangsur pulih. Tapi jiwanya masih terguncang. Kana sudah bisa tersenyum dan bicara tapi matanya masih memancarkan kesedihan. Adrian menaklumi itu. Kana sudah bisa meluapkan apa yang dia rasakan saja Adrian sudah sangat bersyukur.
"Gue udah kirim data tentang Susan ke temen gue. Dia bakalan kasih informasi segera." Joddy menyesap kopi yang tadi dibelinya, dia melirik cup punya Adrian yang masih utuh.
"Lo ngopi dulu, biar pikiran lo tenang."
Adrian beranjak dari duduknya dan membanting tubuhnya ke sofa dekat Joddy. "Thanks, udah bikin Kana bisa senyum lagi," ucap Adrian sesaat setelah menyesap kopinya.
__ADS_1
Joddy menanggapi dengan mengangkat cup kopi-nya lalu menyesapnya kembali.
"Kadang-kadang gue heran, kenapa Kana kalau sama lo selalu nurut?"Adrian menyipitkan matanya meneliti Joddy dari atas sampai bawah. Mengamatinya.
Joddy tersenyum lalu menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Karena bagi Kana gue adalah matahari-nya. Hangat."
Adrian mendelik mendengar apa yang dikatakan Joddy itu. "Dan gue mendung yang bakalan ngalangin lo!" seru Adrian kesal.
Joddy tertawa melihat Adrian sedang cemburu padanya itu. " Just kidding. Kana memang dekat sama gue, karena gue udah kenal lebih dulu dan lebih lama sama dia. Udah kayak kakak lah buat dia. Lo santai saja, sebesar apa gue cinta sama bini lo. Rasa cintanya sama lo jauh lebih besar. "Sekalian sajalah Joddy katakan yang sebenarnya. Yups, dia memang cinta pada Kana. Gadis polos yang selalu ceria. Ketika Joddy bilang dia adalah matahari untuk Kana. Itu tidak benar, karena berlaku sebaliknya. Kana adalah matahari Joddy. Sebenarnya, rasa cinta Joddy sudah berangsur hilang. Tapi melihat apa yang dialami Kana selama ini entah kenapa perasaan asing itu muncul lagi. Jadi yang Joddy rasakan itu cinta atau hanya empati saja?
"Lo cinta sama bini gue?" Adrian memgangkat satu alisnya menatap Joddy sekptis.
"Engga." Joddy malas membahasnya, karena dia sendiri pun masih ragu akan apa yang dia rasakan sebenarnya.
"Kalau pun iya, gue gak bakal ngelepas Kana, sekalipun dia yang memintanya sendiri." Adrian berkata dengan tegas. Sebenarnya Joddy sedikit terluka juga harga dirinya saat memdengar apa yang dikatakan Adrian, tapi dia segera menepis pikiran itu. Sekarang yang terpenting dia harus fokus untuk mencari Susan dan memberinya pelajaran.
Bagaimanapun Joddy tidak pantas untuk lebih jauh masuk ke kehidupan Kana lagi. Ah, sial! Harusnya dulu dia lebih gercep mendekati Kana. Semua gara-gara si kampret Kanda yang malah mengenalkan Kana pada Adrian.
"Shit!!"
*
Di rumah sakit Kana sedang asik bicara dengan mamanya. Moli dan Nea baru saja pulang karena mereka sudah seharian menemaninya.
"Ma, boleh gak Kana pulang ke rumah Mama dulu?" tanya Kana lirih, menatap mamanya sendu. Maya yang sedang mengupas apel itu langsung menghentikan gerakan pisaunya.
"Kenapa?" tanya Maya heran.
Kana tak langsung menjawab dia hanya menunduk dengan jari jemarinya yang saling bertautan. Tangannya terlihat gemetar dan matanya berkaca-kaca. Maya meletakan pisau dan apel yang tadi dia pegang. Lalu duduk di samping Kana merangkul pundak Kana lembut. "Kamu sudah tanya pendapat Adrian?"
__ADS_1
Kana menggeleng pelan lalu memeluk Mamanya erat. "Kana takut Ma, Kana takut." Kana menumpahkan air matanya ke dada mamanya.
"Mama tahu Sayang, kamu jadi trauma karena kejadian itu dan Mama tidak akan pernah melarang kamu untuk pulang ke rumah Mama. Tapi sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan Ian. Kamu belum tanya pendapatnya kan?"
"Ma... aku-" Kana urung melanjutkan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu mendadak tubuhnya tremor jika mengingat kejadian yang menimpanya. Masih terlihat dengan jelas di pikirannya bagaimana wajah Susan yang menendang dan menyakitinya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit karena kehilangan anaknya.
"Semua salah Kana Ma, semua salah Kana." Rasa bersalah itu sungguh menyesakkan dada Kana.
"Bukan salah kamu."
"Salah Kana Ma! Harusnya Kana tidak menantang wanita itu. Harusnya Kana langsung pergi saja dan tidak terpancing setiap omongan yang Susan lontarkan." Kana mencengkram ujung baju mamanya.
"Hei, dengarin Mama!" Maya memegang kedua bahu Kana menatapnya lembut. "Dengar Na, semua bukan salah kamu. Bukan salah siapa-siapa. Ini semua musibah, Na. Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Kamu harus bisa memaafkan dirimu sendiri dan mengiklhaskan anak kamu. Dia yang akan membawamu ke surga nanti, Sayang. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri." Maya mengusap pipi Kana yang basah.
"Bisa kan berhenti menyalahkan dirimu sendiri?" tanya Maya sekali lagi. Kana menatap Mamanya dengan mata yang masih berair lalu mengangguk pelan. Maya tersenyum mencoba meyakinkan anaknya jika semua kejadian yang menimpanya ini akan berlalu dengan cepat.
"Ma, Kana pengen pulang." Kana sudah tidak tahan dengan bau obat. Dia juga selalu merasa was-was jika berada di rumah sakit lebih lama.
"Kalau gitu, kamu bisa mama tinggal sendiri sebentar? Mama mau nanya kamu sudah boleh pulang atau belum? Kemarin kata dokter hari ini kalau kamu sudah enakan, boleh pulang."
Kana hanya memgangguk. "Jangan lama-lama ya Ma. Kana takut."
Maya mengangguk mengusap kepala Kana lalu bergegas keluar dari kamar Kana, meninggalkan Kana sendirian. Kana menatap sekeliling kamar yang dia tempati.
Sepi. Adrian belum pulang dia masih di kantor, sedangkan Kakaknya ada pekerjaan mengambil foto untuk pre-wedding temannya. Apa dia telpon Moli dan Nea saja ya? Ah, tidak mereka kan baru dari sini. Kana tersenyum saat mendengar gagang pintu bergerak, rupanya mamanya sudah kembali.
"Ma, kok su-" Pertanyaan Kana menggantung saat melihat sosok yang sudah berdiri di depannya. Mendadak tubuhnya terasa kaku. Badannya menjadi panas dingin melihat sosok yang kini sudah berdiri menatapnya dengan nyalang.
"Su-san?"
__ADS_1
Wanita berbaju hitam itu tersenyum miring. "Jumpa lagi anak kucing!"
******