Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Jangan dekati lagi


__ADS_3

Jika merasa cerita ini membosankan janga dibaca. Buat yang selalu nunggu dan komen positif, i love u happy reading!


***********


Sebulan setelah kejadian itu, hidup Kana dan Adrian normal kembali. Randu dan Randi masuk penjara dengan hukuman sesuai dengan perbuatan mereka, dan Susan dia di bawa pulang ke kampung oleh orangtuanya dan dirawat di sana.


Sebulan setelah kejadian itu pula Adrian menjadi lebih posesif dibanding sebelumnya. Adrian melarang Kana keluar rumah sendirian. Harus dengan orang yang dikenalnya seperti Moli dan Nea serta Kanda. Joddy? Jangan harap Adrian mengizinkan mereka pergi berdua setelah Kana pernah bilang akan menikah dengan Joddy jika Adrian menceraikannya. Di dunia ini satu-satunya rival terkuat Adrian untuk memperebutkan Kana hanyalah, Joddy.


Itulah kenapa Adrian lebih posesif dua kali lipat dibanding sebelumnya, dia tidak akan pernah membiarkan Kana sendiri bahkan, ketika Kana sidang skripsi, Adrian menyewa 2 bodyguard untuk mengawal Kana karena dia harus datang terlambat. Sungguh berlebihan sekali, membuang uang hanya untuk sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.


Sekarang saja Adrian mengajak Kana ke kantor hanya karena Asisten rumah tangganya sedang pulang kampung selama seminggu. Kebayangkan gimana annoying-nya Adrian di mata Kana. Masa iya ke kantor bawa istri? Disuruh nunggu di kantin pula, tapi Kana nekat saja menunggu di kafe dekat kantor Adrian biarin sajalah Adrian kebakaran jenggot.


"Kana?"


Kana mendongakkan kepalanya menatap pemilik suara yang baru saja memanggilnya. Sepasang pria dan wanita tengah berdiri di hadapannya. Si Pria yang tersenyum manis ke arahnya dan Si Wanita yang menatap Kana tak suka.


"Kak Joddy?" Senyum Kana melebar, dia seperti menemukan oase di gurun pasir yang terik. Bayangkan saja dia harus duduk manis menunggu Adrian selesai bekerja. Membosankan. Tapi saat melihat Joddy sepertinya dia tidak akan kebosanan lagi.


"Ciee, yang habis sidang skripsi sendirian aja. Btw, selamat ya Dek. Udah mau wisuda, " ucap Joddy yang hanya ditanggapi senyum oleh Kana.


"Terimakasih Kak!" seru Kana kemudian.


Joddy tersenyum lalu menatap gadis cantik di sampingnya. " Lian, keberatan gak kalau kita gabung sama Kana?"


Gadis cantik berhidung mancung itu tercenung menatap Kana dan Joddy bergantian sebelum akhirnya tersenyum kaku lalu mengangguk. "Boleh."


Joddy dan Lian lalu duduk di bangku kosong yang ada di depan Kana. Tak lama pesanan mereka datang, Kana sudah pesan lebih dulu karena memang dia datang lebih awal dibanding Joddy dan Lian.


"Level 7, Dek?" Joddy menunjuk mangkuk Kana yang sudah kosong, Kana nyengir kuda poni. Joddy tahu sekali makanan kesukaan Kana jika makan di kafe ini. Ramen dengan tingkat kepedesan di level yang tidak sedikit. Tujuh!


"Kalau suami kamu tahu-"


"Ya jangan sampai tahu lah!" sela Kana cepat.


Joddy terkekeh lalu mulai menyantap makanannya. "Kamu kok gak nunggu di kantin?"


"Bosen. Makanannya itu-itu aja, gak free wifi pula!" sahut Kana.


"Kakak sendiri kenapa makan di sini?" Kana balas bertanya.

__ADS_1


"Lagi bosen juga," jawab Joddy.


"Lagi bosen apa karena pengen berduaan?" goda Kana tersenyum yang Joddy balas dengan senyum tipis.


Kana lalu menatap Lian yang sejak tadi hanya terdiam, kelihatannya tak nyaman dengan situasi ini.


"Mbak Lian rambutnya dicat ya, ihh lucu," puji Kana mencoba membuka obrolan dengan Lian yang sejak tadi makan dengan tak berselera.


Lian menatap Kana kaget lalu tersenyum kikuk. "Eh, iya dicat."


Kana menatap Lian takjub. "Wah, aku dari SMA pengen banget dicat rambutnya Mbak. Tapi gak boleh sama Mama, katanya kalau nanti rambut aku dicat, mau digundulin. " Kana merajuk seperti anak kecil. Anehnya, itu malah membuat Kana terlihat cantik dengan pipi mengembung seperti itu. Kelihatan imut. Lian saja yang perempuan takjub, apalagi Joddy. Lihat saja Joddy yang sekarang sedang menatap Kana takjub dan itu bisa ditangkap oleh Lian. Membuat Lian tak suka.


"Ngapain pake dicat segala, Dek? Natural malah cakep." Joddy menyahut rengekan Kana tanpa sadar, membuat Lian yang mendengar itu merasa dicubit hatinya. Sakit. Perih. Joddy sadar gak sih bicara seperti itu? Ada Lian lho di sampingnya?


Kenapa Joddy masih saja seperhatian itu pada Kana padahal selama ini Lian sudah memberikan perhatiannya pada Joddy. Tapi apa? Semuanya terasa percuma jika sudah dikaitkan dengan Kana.


Kana, Kana , Kana dan selalu Kana.


Istri orang yang sialnya harus Lian akui punya sesuatu yang Lian tak punya. Tapi apa itu, Lian tidak tahu. Lian tidak sejahat Susan yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Joddy. Tidak, tidak, Lian tidak sejahat itu.


"Ah, dicat juga cakep, buktinya Mbak Lian nih, makin cakep rambutnya dicat. Ya kan Kak?" Kana terang-terangan menunjuk Lian lalu mengedip pada Joddy yang hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan makannya membuat Lian sedikit terluka. Padahal jika tidak ada Kana, Joddy pasti akan melayangkan banyak gombalan receh. Tapi jika ada Kana, Joddy seperti bukan Joddy yang biasanya dan itu membuat Lian cemburu.


"Aku angkat telpon dulu ya." Joddy bangkit dari duduknya lalu keluar dari Kafe yang bergaya retro itu.


Sepeninggal Joddy, Lian memberanikan diri menatap Kana yang asik dengan ponsel dan jus alpukatnya. Menilai secara detail seperti apa fiaik Kana. Kana sedabg asik dengan ponselnya. Sesekali Kana tersenyum sendiri seperti sedang asik dengan dunia maya, mulutnya sibuk mengigit kecil sedotan di gelasnya. Inikah tipe cewek yang Joddy gila-gilai sampai tidak bisa move on?


"Kana, bisa bicara sebentar?" Lian memberanikan diri bersuara.


"Eh, iya. Maaf Mbak lagi asik di grup sampai lupa deh ada Mbak Lian." Kana tersenyum canggung lalu meletakkan ponselnya di meja.


"Kamu bisa jaga kelakuan gak?"


Kana mengernyit saat mendengar kata-kata Lian. Maksudnya apa?


"Maksudnya?"


Lian menatap Kana tajam. "Kamu sudah punya suami, kan? Bisa berhenti menganggu Bang Joddy?"


Kana terkesiap. Menganggu Kak Joddy?

__ADS_1


"Maksud Mbak Lian apa?"


Lian mengigit bibir bagian dalamnya, ekor matanya melirik ke arah luar kafe, Joddy masih asik bicara dengan seseorang di ujung telepon.


"Tolong, jauhi Bang Joddy. Jangan dekati dia lagi," pinta Lian lirih, namun masih sangat terdengar di telinga Kana.


"Kenapa?" Kana benar-benar tidak mengerti kenapa tiba-tiba Lian menyuruh Kana menjauhi Joddy orang yang sudah sangat-sangat lama dia kenal bahkan sebelum Lian mengenal Joddy.


"Karena Bang Joddy, masih belum bisa move on dari kamu," ujar Lian cepat.


"Belum Move on? Tapi aku sama Kak Joddy gak pernah ada hubungan apa-apa Mbak. Lagipula selama ini Bang Joddy cuma anggap aku adiknya." Kana tak habis pikir kenapa Lian bisa berpikiran seperti itu.


Lian tertawa hambar. " Kamu ini naif atau bodoh sih? Jelas-jelas Bang Joddy punya perasaan ke kamu. Coba pikir sudah berapa kali dia mengorbankan nyawanya demi kamu, bahkan di saat dia tahu kamu adalah istri orang. " Lian memberi jeda melihat reaksi Kana. Tapi gadis di depannya itu terlihat tenang.


"Jika ada kamu semua perhatiannya teralih. Kana, Kana selalu saja tentang kamu. Jadi tolong jauhi Bang Joddy. Dia butuh move on dari kamu Kana. Rasanya tidak adil kalau dia masih memikirkan kamu, padahal kamu sudah bersuami."


"Mbak, kamu salah paham. Kak Joddy hanya ang-"


"Cukup!" bentak Lian membuat Kana tersentak kaget.


"Tolong jangan jadi murahan. Jangan sok imut dan manja di depan Bang Joddy, itu sangat menggelikan. Pergilah dari kehidupan Joddy. Biarkan dia mencoba membuka hatinya untuk wanita lain." Nada bicara Lian memang biasa tapi sarat dengan intimidasi.


Kana menatap Lian tak percaya. Bisa-bisanya wanita yang terlihat anggun dan lembut di mata Kana itu berubah menjadi sosok yang kasar, dan apa barusan yang dia bilang' Murahan? Lian menyebut Kana murahan?


Kana menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. " Baiklah kalau itu mau kamu, Mbak. Aku tidak akan menganggu Kak Joddy seseorang yang sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri bahkan sebelum Mbak mengenalnya." Kana menyelesaikan kalimatnya, lalu dia buru-buru membereskan ponsel dan memasukkan ke dalam totebag-nya.


"Lho Na udahan?" Joddy yang sudah selesai menelpon itu terlihat keheranan karena melihatnya terburu-buru.


"Iya. Duluan Mbak, Kak." Tanpa banyak bicara Kana beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi.


"Kana kenapa?" tanya Joddy sesaat setelah Kana pergi.


Lian gelagapan lalu tersenyum kaku. "Oh, itu ditelepon Pak Adrian katanya udah ditunggu."


Joddy mengernyit." Tapi barusan yang telepon aku tadi Adrian."


Lian terdiam menunduk saat Joddy menatapnya curiga. Gawat!


******

__ADS_1


__ADS_2