
Kana menggeliat di dekapan suaminya. Lalu Membuka mata dan mendapati Adrian mendengkur halus dengan kedua tangan melingkar di perutnya. Kana tersenyum memperhatikan wajah teduh suaminya. Tanpa sadar tangannya terulur menyentuh bagian wajah suaminya. Hidung mancung, alis tebal dan rahang yang tegas. Kana beruntung mempunyai suami seperti Adrian. tampan, baik hati, bertanggung jawab dan mau menerima Kana apa adanya. Benar kata orang , bahagia memang sederhana. Setiap membuka mata dan melihat Adrian di depannya saja sudah merupakan kebahagian tersendiri.
"Cuma dibelai aja, gak dicium?" Suara khas orang bangun tidur menghentikan tangan Kana yang sejak tadi membelai lembut wajah Adrian. Kana tersentak kaget saat Adrian menangkap jemari Kana lalu menariknya masuk ke dalam pelukkannya. Mendekap erat Kana seolah-olah Kana akan pergi.
"Kak, udah siang aku mau bantu Mbok bikin sarapan," protes Kana saat Adrian membelai-belai punggung Kana dari balik kaosnya.
"Nanti aja, ini kan hari libur."
"Hari libur bukan berarti libur makan juga kan? Lepasin Kak!" Kana berusaha meloloskan diri tapi Adrian tak membiarkannya pergi.
"Kalau gak dilepasin, jangan harap ya Kak aku mau diena-ena lagi!" Ancaman Kana mampu mengendurkan pelukan Adrian. Buru-buru Adrian melepas pelukannya lalu tersenyum manis. Kana mendecih, dasar lelaki kalau urusan bawah perut saja udah langsung bertekuk lutut.
"Tapi masaknya jangan lama-lama ya," pinta Adrian saat melihat Kana beranjak dari tidurnya, menggelung rambutnya asal memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
"Kenapa memang?" Kana menatap suaminya heran.
Adrian berbaring miring menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. "Nanti aku kangen," bisik Adrian seduktif. Kana tersenyum geli lalu melempar bantal ke muka suaminya.
"Wajah kamu gak cocok Kak dibuat manis begitu." Kana mencibir lalu beranjak dari tidurnya.
"Aku tidur lagi ya Na. Buat jaga stamina," goda Adrian saat Kana menutup pintu kamar dengan senyum tertahan di bibirnya. Dasar, om-om mesum!
Kana terpesona saat melihat rumah sudah nampak bersih. Gorden jendela sudah terbuka bahkan lantai sudah mengkilap karena sudah dipel. Mbok Darmi memang asisten rumah tangga yang profesional, Kana benar-benar terbantu dengan adanya Mbok Darmi. Benar-benar pemandangan yang 'indah' saat bangun tidur rumah nampak bersih dan rapi. Kecuali seonggok manusia yang sedang tidur tengkurap di sofa ruang tv dengan mulut sedikit terbuka dan dengkuran yang sungguh sangat merusak suasana nyaman di rumah. Menimbulkan polusi suara saja. Kapan orang itu datang? Kenapa Kana tidak tahu?
"Mbok!" panggil Kana pada Mbok Darmi yang melintas di
depannya dengan kemoceng dan kain lap di kedua tangannya.
"Ya, Mbak?"
"Itu Bang Kanda kapan datang? Kok tahu-tahu sudah ngorok di situ?" tanya Kana sambil bergidik ngeri membayangkan iler Kanda yang mleper di bantal sofanya.
"Tadi Mbak jam 4 pagi,"sahut Mbok Darmi, mulut Kana terbuka sempurna. Wah, pagi sekali. Tumben banget sih tuh orang pagi-pagi ke sini?
"Emang ngapain Mbok, Bang Kanda kemari?"
__ADS_1
"Gak tahu Mbak. Maaf ya Mbak, saya ke dapur dulu," pamit Mbok Darmi lalu bergegas ke arah dapur.
"Bang, bangun! Pindah kamar sana!" Kana menggoncang-goncangkan tubuh kakaknya. Kanda hanya mengeliat lalu mengumam tak jelas dan kembali tidur. Kana memutar bola mata jengah lalu duduk di sisi kosong samping Kakaknya.
"Bang, woiii pindah sana! Lagian ngapain sih pagi-pagi udah ngejogrok di sini?" Kana masih tak menyerah, tangannya mengguncang tubuh kekar Kanda
"Hem, nganter pesenan mama tuh buat lo," racau Kanda dengan mata masih terpejam.
"Pesenan apaan?"
"Gak tau. Aku taruh di sana!" Tangan Kanda menunjuk ke arah jendela dengan asal.
"Ah, ngaco!" Kana mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan dan menemukan sebuah kotak di atas meja ruang tamu. Bergegas Kana mengambil kotak berukuran kardus sepatu itu. Dibungkus rapi dengan kertas kado bermotif batik.
Kana mengamati kado itu, mencari nama pengirimnya. Tapi tidak ada. Nama tujuan memang tertera namanya tapi alamat tujuannya alamat rumahnya yang lama alias rumah orangtuanya.
"Mbak, dapat kado lagi?" tanya Mbok Darmi. Kana mengangguk.
" Apa ya isinya?" gumam Kana lalu mulai membuka bungkus kado itu.
"Hati-hati Mbak!" Mbok Darmi kelihatan was-was saat kuku-kuku Kana mulai mencabik-cabik kertas pembungkus kado itu.
"Ya Allah!!" jerit Mbok Darmi saat tahu isi kotak itu. Kana terdiam menatap isi dari kotak itu dengan pandangan tak percaya. Otaknya tiba-tiba penuh tanya akan siapa yang berani mengirim kado itu.
"Ada apa? Ada apa?" Seperti orang yang mengalami disorientsi, Kanda bertanya dengan sempoyongan kepalanya sedikit pusing akibat terlalu terburu-buru bangun tidur.
"Mas- i-itu," Tangan Mbok Darmi gemetar saat menunjuk kotak kado itu.
Kanda langsung mengambil kado itu lalu melihat isinya. "Shit!"
"Ada apa? Lho Nda, ngapain lo di sini?" Adrian datang tergopoh-gopoh saat mendengar keributan di ruang tamu. Adrian mengernyit saat melihat orang di sekelilingnya hanya terdiam dengan wajah tegang.
"Kamu kenapa Na?"Adrian menyentuh pundak Kana yang tatapan matanya tertuju pada kotak yang dibawa Kanda.
"Apa nih?" tanya Adrian mengambil alih kotak itu untuk melihat isinya lalu terkesiap saat benda itu ada di tangannya.
__ADS_1
"Lagi?" cicitnya membanting benda itu di atas meja, ditatapnya Kana yang kini sudah terduduk di sofa. Adrian membuang napas kasar.
"Siapa sebenarnya yang mengirim ini," gumam Adrian otaknya berpikir keras.
"Itu dikirim ke rumah Mama, kemarin malam. Diletakkan di depan pintu gitu aja, Mama kira itu penting banget buat Kana. Makanya Mama nyuruh gue nganter ke sini pagi-pagi buta. Kalau tahu boneka Voodoo gak bakal gue antar ke sini." Kanda menjelaskan, matanya tertuju pada boneka voodoo yang menurut kepercayaan zaman dulu biasa digunakan untuk menyantet orang. Sebenarnya boneka itu tidak berpengaruh apa-apa pada Kanda, tapi foto Kana yang ditusuk dengan banyak jarum di wajah boneka itu yang membuat Kanda marah.
Apalagi boneka itu disiram dengan darah. Sungguh, itu mengerikan.
"Salah aku apa?" Kana menutup mukanya dengan telapak tangan menangis sesegukan, dia sangat shock karena lagi-lagi mendapat teror dari orang yang sama sekali Kana tidak kenal, padahal selama ini Kana merasa tidak punya musuh.
"Pengirimnya tahu alamat rumah Mama dan juga rumah ini. Dia seperti mengirim pesan kalau dia tahu semua tentang kita." Adrian mengacak rambutnya gusar lalu menatap Kana menghampirinya dan memeluknya erat untuk membuatnya tenang.
"Apa tujuan orang itu? Dan kenapa Kana yang jadi sasaran utamanya?" imbuh Kanda semakin tak mengerti." Oiya, Joddy gimana? Udah ngasih kabar belum?"
Adrian melirik Kana lalu mengeleng pelan dan memberi isyarat pada Kanda agar tidak membicarakan tentang Joddy lagi.
"Lapor polisi sajalah!" putus Kanda dia benar-benar sudah muak dengan berbagai teror yang Kana dapat.
"Jangan!" cegah Kana melepas pelukan Adrian. "Siapapun itu mereka hanya ingin membuat aku ketakutan. Dan dengan melaporkan dia ke polisi malah akan membuatnya merasa menang karena berhasil membuat aku takut," kata Kana.
Adrian dan Kanda saling berpandangan lalu menatap Kana tak percaya, Kanda bahkan terang-terangan menepuk pipinya sendiri memastikan dia tidak sedang bermimpi, karena adiknya bisa bicara sedewasa itu.
"Yakin lo?"
Kana mengangguk. " Daripada sibuk berpikir siapa pelakunya. Bagaimana kalau kita biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau? Dan kita lihat sejauh mana mereka bisa membuat Kana takut." Kana mengepalkan tangannya. Dia sudah lelah dengan semua yang terjadi, dia tidak boleh takut hanya karena teror-teror yang tidak jelas ditujukan padanya. Jika dia merasa takut peneror itu akan terus memberinya teror yang tidak pernah putus. Jadi Kana memutuskan untuk melawan rasa takutnya.
"Kamu yakin?" tanya Adrian dia heran karena beberapa menit yang lalu gadis kecil itu menangis di pelukannya, tapi kini berubah menjadi sosok yang kuat atau sok kuat?
"Asal ada Kakak aku gak takut." Kana tersenyum, mengintip Adrian malu-malu melalui bulu matanya yang lentik. Adrian terkekeh lalu mengecup pipi Kana dengan lembut. Membuat Kanda memdecih karena iri dengan kemesraan pasangan alay di depannya itu.
"Lo kerasukan jin tomang mana apa Na? Kenapa lo jadi pemberani begini?" tanya Kanda keheranan.
"Ya, aku cuma mikir kalau ketakutan terus mereka akan semakin meneror karena itu yang mereka mau. Membuat aku menyerah dengan rasa takut," seru Kana penuh semangat membuat Adrian terkekeh lalu memeluknya.
"Istri yang pintar," bisik Adrian mengecup sudut bibir Kana lembut.
__ADS_1
"Teruuuuuus! Anggap aja gue vas bunga!" celetuk Kanda kesal lalu berjalan ke arah dapur, dia butuh sesuatu yang dingin-dingin untuk mendinginkan kepalanya akibat panas melihat kemesraan kedua insan di depannya.
*******************