
Kana dikenal sebagai gadis yang polos, manja, ekpresif, selalu ceria dan santun. Kana bukan tipikal pemarah apalagi merajuk sampai berhari-hari. Maka dari itu kedua orangtua Kana sangat menyayanginya. Kana tipe anak yang penurut jarang sekali marah walaupun dibuat kesal oleh orang-orang di sekitarnya.
Tapi itu dulu, sebelum dia menikah. Setelah menikah dan hamil dia menjadi sedikit pemarah dan tidak suka terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan suaminya. Tapi, dari sekian banyak hal yang tidak disukai Kana setelah menikah adalah CEMBURU dan CURIGA. Terbiasa selalu dinomorsatukan Kana menjadisedikit egois. Dia tidak suka apabila miliknya diusik. Dan status Susan sebagai tetangga barunya membuat Kana menjadi insecure terhadap Susan. Apalagi alasan yang diutarakan Susan terasa tidak masuk akal untuknya. Kana
memang polos tapi dia tidak bodohuntuk menyadari Susan sedang mendekati suaminya. Dia tidak suka itu, Adrian miliknya dan sampai kapanpun akan tetap menjadi miliknya, Tidak akan Kana biarkan Susan atau wanita manapun mengambil perhatian suaminya.
"Kue artis nih, enak!" Kanda memuji terang-terangan di depan Kana sengaja memancing kemarahan adiknya itu, sambil mengambil sepotong cake yang sengaja dibawa Susan sebagai salam perkenalan sebagai tetangga baru katanya.
Cih,alasan! Bilang saja cari muka! Cari perhatian!
"Dari sekian banyaknya rumah di Jakarta kenapa kamu beli rumah itu?" Kana masih penasaran, dia tidak
percaya begitu saja dengan alasan yang dikatakan Susan tadi.
"Kan aku sudah bilang kalau aku lihat iklannya di internet, terus aku ingat kalau Adrian juga tinggal di perumahan ini. Aku tanya ke Joddy ternyata benar rumah yang di iklan itu dekat sekali dengan rumah Adrian. Ya, sudah aku beli saja." Susan berkata dengan nada yang tenang dan percaya diri membuat Kana makin kesal saja. Adrian dan Kanda memilih diam dan membiarkan Si Ibu Hamil bicara apa saja daripada mereka yang kena amukan mendingan diam. Cari aman.
"Dekat? Bukan cuma dekat tapi berhadapan!" sindir Kana sewot. Susan hanyatersenyum sinis sambil mencuri pandang pada Adrian yang sejak tadi mengenggam tangan Kana. Membuatnya iri saja.
"Hei, Tante!"
"Aku bukan tante-tante ya!" sergah Susan tak terima.
Kana terkikik geli melihat ekspresi marah Susan. "Habisnya kamu kayak tante-tante sih!" gumam Kana melirik Adrian yang menahan senyumnya itu.
__ADS_1
"Alasan kamu sebenarnya bukan mau godain suami aku kan?"tuduh Kana langsung, Adrian mencubit kecil punggung tangan Kana mengingatkan istri kecilnya itu untuk tidak terlalu berlebihan. Bukan apa-apa Adrian tidak enak saja pada Susan. Bagaimanapun dia adalah teman kerjanya otomatis selama 5 hari kerja akan selalu bertemu di kantor.
Kana tak menggubris kode suaminya dia masih menunggu jawaban Susan yang sama sekali tidak terintimidasi dengan kata-kata Kana.
"Kenapa kamu punya pikiran seperti itu? Merasa tersaingi ya?" Susan tersenyum miring membuat Kana mendelik sebal.
"Enggaklah! Aku lebih baik dibanding kamu buktinya Kak Ian lebih milih menikahi aku ketimbang kamu!" Jangan sebut dia keluarga Gufron kalau tidak keras kepala dan mengalah begitu saja.
Kanda melongo saja melihat adiknya yang berapi-api seperti petasan yang meledak-ledak itu. Tidak bisa dipungkiri kehadiran Adrian mengubah banyak hal pada diri Kana. Adik kecilnya yang lucu seperti kucing Anggora berubah jadi garang segarang harimau betina.
"Yah, asal kamu tau saja pria sudah kodratnya mudah tergoda . Ibarat kata pria ituseekor kucing jantan dan seperti yang kita ketahui tidak ada kucing yang menolak ketika disodori ikan asin." Dan jangan panggil Susan jika dia tidak punya cara untuk membalas kata-kata Kana. Susan memang sengaja memukul genderang perang.
Kana melepas tangan Adrian yang sejak tadi mengenggamnya lalu melipatnya di depan dada sebagai bentuk pertahanan diri terhadap ‘serangan’ yang diberikan Susan. “Ikanasin?” Kana mengeluarkan smrik menakutkan membuat Adrian dan Kanda saling berpandangan heran melihat tingkah adiknya itu.
Susan menatap Kana tajam dia tak percaya kata-katanya bisa dibalikan begitu saja oleh gadis yang bahkan usianya lebih jauh darinya.
“Oh iya, satu lagi!” Kana menjentikan jarinya seperti baru saja diingatkan sesuatu. "Walaupun kamu tetangga baru dan rumah kita dekat, tapi kami tidak mau direpotkan. Jadi, kalau kamu butuh bantuan kamu minta tolong saja sama tetangga sebelah kamu itu atau minta tolong pak RT saja." Kana dan hormon kehamilannya ternyata sangat mengerikan, dia memang berkata dengan santai tapi itu cukup melukai kepercayaan diri Susan.
Tetangga yang normal pada umumnya akan menyambut baik kedatangan tetangga baru bahkan biasanya mereka akan berbasa-basi dengan mengatakan 'jika butuh bantuan jangan segan-segan ya minta tolong kita'. Tapi sayangnya, itu tidak berlaku untuk Kana. Konsep bertetangga Kana mungkin tidak seperti itu atau bisa jadi itu hanya berlaku untuk tetangga seperti Susan.
"Tapi Ian, Aku kan baru di perumahan ini? Di sini yang aku kenal cuma kamu saja." Susan menatap penuh harap pada Adrian agar dia membantunya, tapi sayangnya pria berusia matang itu sudah menjadi bucin istri kecilnya. Dia lebih memilih diam saja.
"Makanya, jadi orang jangan ansos dong! Jangan introvert gitu! Gaul, kenalan sana door to door kalau gak mau dibully sama ibu-ibu komplek sini," sambar Kana membuat Kanda yang sejak tadi memperhatikan tingkah adiknya itu menjadi terbatuk-batuk.
__ADS_1
Gila sejak kapan Si Kacrut jadi garang macam begitu?
"Tapi-"
"Kak Ian baru jadi suami siaga, soalnya aku lagi hamil jadi jangan merepotkannya," sela Kana memotong kata-kata Susan yang sudah pasang muka kusut dari tadi, dia tidak menyangka gadis kecil istri Adrian ini akan sangat berani menantangnya. Susan mendengkus lalu menatap Kanda yang sejak tadi asik dengan cake yang dibawa Susan.
"Jangan coba-coba caper sama Kakak aku juga. Walaupun dia jomlo karat tapi dia high quality jomlo bukan jomlo kaleng-kaleng, apalagi kaleng rombeng!" Se-insecure itukah Kana sampai-sampai Susan yang hanya menatap ke arah Kanda saja sudah dia curigai akan menggodanya.
Kanda yang disebut namanya secara tiba-tiba menjadi tak terima. Bisa-bisanya dengan gamblang dan nyata adiknya itu menyebutnya dengan sebutan ‘jomlo kaleng’ di depan cewek cantik lagi. Walaupun Susan ini bukan tipe Kanda tapi tetap saja kata-kata Kana barusan sangat melukai harga dirinya sebagai pria berlevel tampan dan menggoda versi dia sendiri.
Susan mengepalkan tangannya mencoba menahan amarah yang mengebu-gebu. Jadi gadis kecil ini hamil? Anak Adrian, pria yang sudah dia idam-idamkan selama bertahun-tahun? Pria yang selalu saja bersikap dingin padanya?
Tidak mungkin! Tidak bisa dibiarkan.
"Kalau butuh nomor hp Kang Galon, Kang Pulsa, Kang Sayur aku punya jadi kalau kamu perlu tiga barang itu tidak perlu minta bantuan kemari." Kan berkata lugas sambil memperhatiakn kuku-kuku jarinya.
Susan menatap Kana kesal lalu berdiri dari duduknya. "Aku pamit dulu ya, Ian!" pamitnya pada Adrian yang langsung mengangguk itu.
"Terimakasih atas penyambutannya yang baik ini!" serunya pada Kana dengan muka kesal lalu pergi begitu saja keluar dari rumah Kana dan Adrian tanpa menoleh lagi.
"Gila lo !" seru Kanda. Kana hanya tersenyum simpul saat Adrian menggelengkan kepalanya takjub dengan tingkahnya.
*******
__ADS_1