Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Kana Edogawa


__ADS_3

Mantel bulu berwarna pink hadiah ulangtahun Kana ke-17 , kacamata hitam yang hampir menenggelamkan wajahnya, masker bergambar animasi Pororo, topi yang juga dia beli dadakan dan rambut sengaja digerai berharap mampu menyamarkan penampilan Kana. Atas saran Moli dan inisiatif Kana sendiri karena penasaran, Kana memutuskan untuk ke kantor Adrian. Menyelidiki, memantau kegiatan Adrian selama di kantor. Sayangnya tidak mudah untuk melakukan itu, karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam kantor. Lagipula aneh juga kalau Kana tiba-tiba nongol di kantor Adrian tanpa tujuan yang jelas. Jadinya, Kana memilih duduk di kantin sambil menikmati segelas jus jambu sambil melirik kanan-kiri depan-belakang siapa tahu dia melihat Adrian dan Susan.


Kana mengelus perutnya, rasanya masih lapar. Padahal dia tadi juga sudah memesan batagor yang sudah habis dia makan. Sekarang tinggal menunggu mie ayam. Kapan lagikan bisa bebas makan tanpa teguran Adrian yang selalu melarang makan ini dan itu?


Kana melirik ke arah jam tangannya. Jam setengah 12 siang hampir jam makan siang. Kantin kantor Adrian masih terlihat sepi hanya ada beberapa karyawan yang makan. Kana berdoa semoga suaminya tidak mengenalinya. Pastilah tidak akan kenal. Kana sangat yakin penyamarannya tidak akan disadari siapapun walaupun sedari tadi orang yang melihatnya akan mengernyit heran karena hanya orang aneh saja yang memakai mantel berbulu di siang hari yang cuacanya sangat panas.


Kana menatap sekeliling takut-takut ada yang mengenalinya saat semangkuk mie ayam terhidang di meja beberapa detik lalu. Kana melepas maskernya bersiap menyantap makanannya saat sebuah sapaan menghentikan gerakan tangannya yang gemulai dan siap melepas masker Pororo yang dia beli di tepi jalan ketika menuju ke kantor Adrian.


"Kana?"


Kana merapatkan maskernya lalu merapikan geraian rambutnya memastikan dia tak dikenali.


"Kana?"


Kana berusaha tak menoleh ke arah suara yang memanggilnya sedari tadi.


"Hey!"


Kana terkesiap saat melihat seorang pria tampan duduk di bangku kosong di depannya memberi tatapan heran pada Kana.


" Kak Joddy mengenaliku?" Kana bertanya dengan polosnya membuat pria di depannya terkekeh geli.


" Ya kenal lah! Mantel yang kamu pakai itu limited edition, aku beli di Paris sebagai hadiah ulangtahun kamu yang sweet seventeen waktu kamu pengen liburan di Korea pengen ketemu Lee Min Hoo. Tapi gak jadi, inget?"


Kana merengut saat diingatkan kejadian yang membuatnya kesal itu. Dia mendengkus karena baru ingat kalau mantel yang dia pakai adalah hadiah ulang tahun dari Joddy.


Kana membuka maskernya tapi tidak dengan kacamata dan topi yang dia pakai.


"Kamu ngapain Na, pakai beginian siang-siang duduk di sini? Ada janji sama Adrian?" tanya Joddy menatap menyelidik ke arah Kana yang salah tingkah itu.


" Makan Kak." Kana mengaduk mie ayamnya.


"Makan di tempat kerja suami? Yakin cuma makan?" Joddy tersenyum geli melihat ekspresi lucu Kana. Gadis ini benar-benar ya...bikin Joddy teringat yang 'tidak-tidak'.


Kana menatap kesal ke arah Joddy. " Oke, aku jujur! "


Joddy menopang dagu menatap Kana. Menunggu setiap kata yang akan keluar dari bibir merah Kana, istri orang yang pernah membuatnya berdebar tiap kali bertemu.


"Aku ...." Kana menatap ragu ke arah Joddy. Memalukan tidak ya, kalau dia bilang mematai-matai Adrian?


"Jadi detektif dadakkan buat mata-matain Ian?" tebak Joddy membuat Kana tersenyum salah tingkah.


"Kok, Kakak tahu?"


"Ya tau lah. Ngapain tiba-tiba kamu ke sini dengan pakaian ala detektif begini. Kurang kaca pembesar saja sih." Joddy terkekeh geli melihat penampilan Kana.

__ADS_1


" Ihh, harusnya aku gak pakai mantel ini," gerutu Kana.


Joddy melepas topi yang dipakai Kana. Merapikan rambut Kana dan melepas kacamata Kana yang membingkai wajahnya.. Untung Kana cuma menganggap Joddy kakak jadi tidak akan baper dengan sikap lembut Joddy terhadapnya.


"Nah, begini kan cakep." Joddy tersenyum lalu pandangannya jatuh ke semangkuk mie ayam yang ada di meja Kana.


"Bukannya kamu lagi hamil Na? Kok makan itu?"


Kana tak menjawab dia memilih mengambil sumpit lalu memakan mienya.


" Khapan lahgi? Mumphung Kak Ian gahk lhihat."


Joddy tersenyum geli melihat Kana bicara dengan mulut penuh makanan tersebut. " Paling bentar lagi ke sini. Dia tadi lagi hetic."


Kana menelan makanannya lalu menatap Joddy kaget. "Oh ya? Waduh, mana masih banyak lagi." Kana panik melihat mangkuknya masih penuh. Dia khawatir Adrian akan marah melihatnya.


"Bilang aja kamu lagi pengen makan mie ayam. "


"Kak Ian gak akan semudah itu percaya lah," balas Kana lalu memakan makanannya lagi.


"Kalau cuma ingin tahu apa yang dilakukan Ian di kantor. Kamu bisa tanya aku Na. Gak perlu capek-capek ke sini apalagi dandan ala detektif begini."


"Tapi kakak kan temannya Kak Ian. Mana aku tahu kalau Kak Joddy nutupin apa yang dilakukan Kak Ian?"


Kana menatap Joddy skeptis. Membuat Joddy tertawa geli. Dia menyandarkan tubuhnya melipat tangan di depan dada lalu menatap Kana lekat. "Kamu kayak baru kenal aku kemarin saja Na. Ingat, aku ini selalu membela yang benar."


" Dan kamu detektif. Kana Edogawa," balas Joddy tak mau kalah mereka lalu tertawa bersamaan.


"Adrian gak pernah macam-macam Na, dia kalau di kantor selalu profesional. Dia bukan tipe pria yang mudah tergoda dengan wanita, kecuali sama kamu. Dia kan bucinnya kamu." Joddy tertawa sendiri mengingat betapa bucin-nya Adrian pada Kana yang polos. Padahal di kantor banyak wanita yang mendekatinya. Tak sedikit yang menunjukkan langsung rasa ketertarikannya pada Adrian. Tapi tak sedikit juga yang diam-diam memujanya. Tapi anehnya, Adrian yang terkenal dingin pada wanita bisa bertekuk lutut pada Kana. Gadis polos dan ceria.


"Tapi aku sebel Kak sama Tante Ikan Asin!" seru Kana kesal beberapa detik kemudian dia mengelus perutnya sambil berdoa semoga anaknya tidak mirip Susan nantinya.


"Tante Ikan Asin?" Joddy mengernyit heran.


"Susan maksudnya." Kana menambahi membuat tawa Joddy pecah seketika saat tahu Kana menjuluki Susan


'ikan asin'. Ada-ada saja.


"Di kantor ketemu, di rumah juga. Aku kan sebel Kak! Lagian bisa-bisanya dia beli rumah di depan rumah aku, apa coba maksudnya kalau gak buat deketin Kak Ian?"


Joddy menghentikan tawanya yang berderai lalu menatap Kana." Kamu gak percaya sama Ian?"


"Ya ... percaya sih Kak. Tapi-"


" Kamu gak sepenuhnya percaya sama Ian?"

__ADS_1


Kana mengangguk pelan.


"Dalam sebuah hubungan, kepercayaan dan kejujuran itu penting Na. Tanpa kedua hal itu hubungan tidak akan bertahan lama. Kamu mau seperti itu?"


"Kana cepat-cepat menggeleng."Ya engga lah Kak. Amit-amit!"


"Nah, maka dari itu mulai sekarang kamu harus jujur sama Ian ungkapin aja semua ganjalan di hati kamu. Kalau kamu tidak suka Ian terlalu dekat dengan Susan kamu bilang aja langsung biar Ian bisa membatasi diri. Selain itu kamu juga harus percaya sama Ian. Aku kenal Ian sudah lama Na. Dia tidak akan tega menyakiti kamu. kalau itu terjadi aku yang akan turun tangan langsung mematahkan kedua kakinya." Joddy mengepalkan tangannya seperti orang yang akan berkelahi.


"Iya, Kak. Kana coba."


"Dan soal Susan. Kamu tenang saja, Susan akan mundur dengan sendirinya selama Adrian tidak menanggapinya. Jadi, kamu tidak perlu jadi Kana Edogawa lagi. Mending duduk di rumah nonton sinetron hidayah sambil menunggu Adrian pulang."


"Ihh, Kak Joddy! Emang aku emak-emak!" Kana merengut sebal. "Tapi maksih ya Kak. Udah buka mata aku. Aku bakalan percaya kok sama Kak Ian."


Joddy mengangguk." Gitu dong! Ya udah makan gih! Nanti Kakak antar pulang."


Kana mengangguk lalu buru-buru menghabiskan makananya takut Adrian tiba-tiba datang, karena makan dengan cepat dan tergesa-gesa Kana tidak sadar kalau ada saos di sudut bibirnya.


"Saos Na. Makannya pelan-pelan saja," tegur Joddy, tangannya terulur mengusap sudut bibir Kana yang langsung terkejut itu.


"Kana?"


Kana pasti lupa tidak berdoa sebelum makan sehingga Adrian tiba-tiba muncul saat posisi tangan Joddy bisa.membuat salah paham suaminya.


"Kak!?" Kana buru-buru menjauhkan wajahnya dari tangan Joddy. Lalu menatap suaminya.


Adrian berpamitan pada teman-teman yang tadi datang bersamanya. Lalu bergabung dengan Joddy dan Kana."Kamu kenapa ada di sini?"


"A-aku.." Kana menatap Joddy minta pertolongan.


"Kana ke sini buat ngajak kamu makan siang bareng." Joddy yang menjawab pertanyaan Adrian.


"I-iya, Kakak lama sih aku jadi makan duluan." Padahal belum ada lima menit yang lalu Kana berjanji untuk jujur pada Adrian. Tapi lihatlah dia malah dengan mudahnya berbohong.


"Kamu gak nelpon dulu."


"Kejutan!" Kana tersenyum manis menatap Adrian dengan tatapan anak kucing yang minta dielus manja. Membuat Adrian yang sempat kesal karena melihat Joddy memengang sudut bibir istrinya berangsur hilang.


"Kamu ini! " Adrian tersenyum lalu mengacak rambut istrinya. "Kamu gak gerah sayang pakai baju tebel begini?" Adrian menatap heran pada mantel bulu yang dipakai Kana.


Kana mengeleng gugup. " Lagi pengen Kak." Jawaban asal Kana karena tidak mungkin dia bilang sedang menyamar. Adrian manggut-manggut.


"Oh iya. Besok-besok kalau makan pakai saos harus sama aku?" Adrian berkata, matanya melirik Joddy tajam. "Biar gak sembarangan orang bisa menyentuh wajah kamu," imbuhnya dengan maksud menyindir Joddy.


Joddy yang menjadi fokus sindiran itu hanya tertawa melihat atasan sekaligus teman baiknya itu cemburu. "Dasar bucin!"

__ADS_1


************


__ADS_2