
"Sudah bangun Kana Kadella Gufron?"
Kana menegakkan tubuhnya. Kana terbangun dalam keadaan berbaring di sofa."Kamu siapa?" Kana menatap kesekeliling ruangan bercat hijau itu. Matanya benar-benar terbuka saat dia sadar sedang berada di tempat yang asing. Bola matanya bergerak mengamati setiap sudut ruangan. Kenapa dia bisa di sini? Apa dia diculik? Kana berubah panik. Dia berusaha berlari ke arah pintu. Tapi dikunci. Jendela semua bertralis.
"Percuma, semua terkunci."
Kana menoleh ke arah sumber suara. Tubuh tinggi tegap, rahang tegas yang ditumbuhi bakal jambang, hidung mancung dan bola mata hitam pekat adalah gambaran dari sosok yang ada di hadapan Kana sekarang.
Kana lupa dengan apa yang terjadi. Terakhir kali dia sedang duduk di mobil Randu dalam perjalanan ke rumah teman Randu untuk mengambil buku yang akan dia pinjam. Di tengah perjalanan Randu menawarinya minum yang langsung dia minum, kemudian dia tidak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu di hadapannya sudah berdiri seorang pria asing yang baru pertama kali dia lihat.
"Mana Randu?" tanya Kana matanya menatap kesekeliling ruangan berharap Randu di sana.
"Kenapa mencari orang yang tidak ada?"
"Di mana Randu?" tanya Kana sekali lagi.
"Ada aku di sini." Pria itu berjalan mendekati Kana yang langsung memundurkan tubuhnya dan terbentur pintu.
Kana menatap tajam ke arah pria yang sedang tersenyum miring ke arahnya.
"Buka pintunya, aku mau pulang!"
"Kenapa terburu-buru? Kita bicara dulu."
"Aku tidak mau! Buka pintunya! Kalau tidak aku akan-" Kana meraba sisi sampingnya. Tas? Mana Tas?
"Akan apa?" Pria itu tersenyum mengejek.
" Mana tasku?" Kana menatap nyalang ke arah pria itu. Tawa renyah yang terdengar mengejek di telinga Kana itu membuat Kana merinding seketika. Tapi dia tidak boleh terlihat takut dia harus tenang agar bisa berpikir jernih.
"Aku tidak akan menyakitimu kalau kamu mau bekerjasama." Pria itu bicara dengan suara dibuat selembut mungkin.
"Duduk dan mari bicara." Pria itu mengedikkan dagunya ke arah sofa dan bergegas ke sana mendahului Kana. Kana menatap punggung tegap pria itu dengan pikiran penuh tanya.
Siapa dia? Ada hubungan apa dengan Randu? Dan kenapa Randu membawanya ke sini? Jangan..jangan Randu menjualnya ke om-om ini?
"Semakin lama kamu berdiri di situ, semakin lama kamu berada di sini. Atau...mau dengan kekerasan? Aku tidak akan keberatan memggores kulit mulusmu itu." Pria itu menyipitkan matanya mencoba mengintimidasi Kana.
Kana mengalah, dia lalu duduk di sofa berhadapan dengan pria itu.
"Good girl!"
"Kamu siapa?" tanya Kana.
Pria itu menyandarkan tubuhnya, mengangkat kaki kirinya dan menumpukannya di kaki Kanan. Bola matanya yang hitam pekat menatap lurus Kana. "Randi. Namaku Randi."
Randi, Randu? Apa mereka saudara?
"Apa hubungan kamu dan Randu?"
"Seperti yang ada dipikiran kamu. Randu adik bungsuku."
Kana memgernyit, adik bungsu? Jadi, dia masih punya adik selain Randu?
"Apa? Kalian saudara?" desis Kana tak percaya, Randi hanya tersenyum miring. Tiba-tiba semua yang terjadi pada Kana akhir-akhir ini melintas begitu saja.
Bangkai tikus, boneka voodoo dan teror-teror itu...mungkinkah?
"Jadi kamu yang menerorku selama ini?"Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Kana membuat lelaki di depan Kana melebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Pintar!"
"Dan penginapan itu juga kalian sudah rencanakan?"
"Tepat!"
Kana tercengang tak percaya dengan apa jawaban dari pria itu. Jadi benar, semua yang dikatakan Adrian benar. Randu ada hubungan dengan teror yang Kana alami?
"Tujuan kalian apa menerorku?"
Randi menghembuskan napasnya kasar. "Hmm, apa ya? Sebagai peringatan untukmu, mungkin."
Peringatan untuk apa?
"Dan kenapa kalian membawaku kemari?"
Pria bernama Randi itu tertawa hambar seperti menertawakan pertanyaan Kana. "Untuk bernegosiasi."
"Maksud kamu apa?" Kana menatap Randi binggung.
"Aku akan memberikan penawaran padamu."
"Penawaran apa?"
"Suami kamu."
Kana mengernyit. Adrian? Apa hubungannya dengan Adrian?
"Tinggalkan suami kamu, dan aku akan beri apapun yang kamu minta. Uang, rumah, mobil bahkan aku akan memberikan diriku sendiri jika kamu mau." Randi berkata dengan santai seolah-olah sedang menawarkan barang dagangan padanya.
Kana menatap tak percaya dengan apa yang Randi katakan dia menyuruh Kana meninggalkan suaminya? Kenapa? Apa alasannya?
" Maksud kamu apa bicara seperti itu?"
Kana terdiam seketika, tiba-tiba dia seperti menemukan benang merah antara keberadaannya di sini. Randu, lelaki itu dan Susan.
"Kamu-"
"Susan adikku." Randi menyela kata-kata Kana memberitahunya sebelum Kana bertanya siapa dirinya.
"Adik kesayangan yang kalian buat menderita!" Nada bicara Randi sedikit naik, matanya tajam menatap Kana.
"Apa maksudmu? Dia menderita karena ulahnya sendiri!"
Pranggg!!
Randi membanting vas bunga di atas meja hingga pecah menjadi berkeping-keping di depan Kana. Membuat Kana memekik karena terkejut dan refleks menutup telinganya.
"Ulahnya sendiri kamu bilang?!!" Randi menatap Kana dengan nyalang. "Karena kehadiranmu, adikku jadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pria yang dia inginkan, karena kehadiranmu penyakitnya kambuh dan dia makin tak terkendali. Kamu bisa bilang itu karena ulahnya sendiri?!"
Kana menatap Randi tak percaya. Kenapa dia menjadi yang salah dan di pojokan seperti ini? Jelas-jelas Susan menjadi gila karena ulahnya sendiri, karena dia terobsesi dengan suami orang, dia mencintai orang yang yang salah. "Suamiku tidak pernah ada perasaan apapun pada Susan dari awal mereka bertemu. Jadi, jangan pernah menyalahkanku."
Randi tertawa menyeramkan. "Tahu apa kamu? Kalau kamu tidak hadir di kehidupan Adrian. Mungkin saja mereka sudah menikah."
"Atau Adrian akan menikah dengan wanita lain. Susan bukan tipe suamiku, dan tidak akan pernah jadi tipenya." Kana mengigit bibir dalamnya menunggu reaksi yang akan ditunjukan pria di depannya ini.
Anehnya, Randi hanya diam tak menunjukkan reaksi apapun. Tapi dari tatapan matanya pria itu menyimpan kemarahan. "Kamu terima saja tawaranku. Tinggalkan Adrian dan kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau. Semudah itu, kan?"
Kana mengeratkan rahang, tangannya mengepal menahan amarah yang sejak tadi menelusup ke dalam hati . "Kenapa kamu tidak menyusul adikmu saja ke rumah sakit jiwa? Sepertinya kamu juga gila?" Entah dapat keberanian darimana sampai-sampai Kana yang polos berani berkata seperti itu.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Sialan!" Randi melangkah ke arah Kana lalu tanpa Kana duga tangan besar itu menarik kuat rambut panjangnya. Kana mengigit bibirnya menahan perih, kulit kepalanya seperti mengelupas.
"Dari tadi aku sudah mencoba menahan untuk tidak bersikap kasar padamu! Tapi rupanya kamu ingin merasakan kekuatan tanganku ini ya?" bisik Randi di telinga Kana.
"Lakukan saja apa yang kamu mau, karena itu tidak akan membuat adikmu keluar dari rumah sakit jiwa!" tantang Kana, kepalang basah sekalian saja Kana mengeluarkan keberaniannya.
Tentu saja Randi yang mendengar itu semakin marah, dia memperkuat tarikannya membuat Kana menjerit kesakitan, tanpa sadar air mata menetes dari matanya. Randi tersenyum mengejek, lalu tiba-tiba saja dia menjilat airmata yang menetes di pipi Kana membuat Kana jijik lalu mendorong Randi kuat-kuat agar menjauh dari dirinya.
Randi tertawa melihat kemarahan di mata Kana, dengan gaya sensual Randi menjilat bibirnya sendiri. "Air mata kamu ternyata manis ya? Bagaimana dengan darahmu? Pasti lebih manis." Randi mengeluarkan seringai yang menakutkan. Kana sebenarnya takut, dia butuh Adrian di sini. Tapi tidak boleh, dia tidak boleh menunjukkan ketakutannya.
"Mari kita buat kesepakatan." Randi menepuk tangannya beberapa kali lalu menjatuhkan bokongnya di sofa melipat tangannya di depan dada dan menatap lurus ke arah Kana.
"Tawaranku masih sama. Kamu tinggalkan suamimu dan kamu boleh minta apapun dariku," ucap Randi tegas.
Kana terdiam sejenak lalu menatap Randi tajam. "Kamu yakin akan memberikan apapun yang aku minta?"
Randi mengangguk. Dalam hatinya dia tersenyum, wanita ini ternyata gila harta juga.
"Oke, aku akan minta sesuatu darimu." Kana membenarkan posisi duduknya menghadap Randi. Membalas tatapan mata pria itu, menunjukkan bahwa dia tidak takut dengannya
"Jadi, apa yang kamu minta, cantik?" Randi terdengar tidak sabar.
Kana menarik napas dalam-dalam. " Nyawa Susan."
Mendengar jawaban Kana, Randi tercengang. Dia tidak menyangka Kana akan bicara seperti itu. Dengan sekali lompat melewati meja yang membatasi dirinya dan Kana, Randi menerjang tubuh Kana lalu mencekik lehernya.
"Apa yang kamu bilang tadi? Hah?!!" Suara gemertak gigi Randi membuat nyali Kana menciut sejenak, tapi rasa takut itu semua meluap berganti rasa sakit di lehernya. Dia merasa de javu. Susan juga pernah melakukan ini padanya.
"Astaga! Mas Randi jangan!" Seseorang yang belakangan Kana tahu adalah Randu mencoba melepas cengkraman Randi di leher Kana. Kana mencoba meronta bahkan dia memukul-mukul Randi dengan sisa kekuatan yang dia punya. Tapi tak bisa membuat Randi melepaskan tangannya.
"Mas dia bisa Mati! Hentikan!" Randu mencoba menarik tangan Randi.
"Kalau dia mati Mas bisa masuk penjara dan kita tidak bisa menjaga Mbak Susan!" Ajaib, mendengar kata-kata Randu itu cengkraman Randi mengendor lalu perlahan menjauh dari Kana. Secepat mungkin Randu menarik tangan Randi dan menjauhkannya dengan Kana yang tengah menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Aku memintamu menyerahkan suamimu tapi kau malah meminta nyawa adikku. Kau benar-benar tak memikirkan perasaan adikku. Dasar, Wanita Jal**g!!" maki Randi lalu meludah ke arah samping. Kana menatap Randu yang tak berani menatapnya lalu mengalihkan pandangan pada Randi yang menatapnya dengan nyalang. Seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
Kana yang sudah bisa mengatur napasnya itu tersenyum sinis ke arah Randi. "Memikirkan perasaan Susan katamu? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan perasaanku? Karena dia aku kehilangan bayiku. Adik kamu yang menyebabkan anakku meninggal!!" sentak Kana histeris rasa sakit akibat kehilangan bayi yang bahkan belum sempat dia peluk membuat kemarahannya meledak.
Randi dan Randu terdiam tapi terlihat jelas ada rasa tak percaya di mata mereka.
"Jadi, nyawa Susan pantas untuk menggantikan rasa sakitku kehilangan anak. Nyawa dibayar dengan nyawa," kata Kana, mendengar itu Randi beranjak dari duduknya lalu menampar pipi Kana dengan keras.
"Kurang ajar!" Randi mengangkat tangannya bersiap melakukan tamparan kedua, tapi dengan gesit Randu mencegahnya merangkul pundak Randi dan menjauhkan dari Kana.
"Kau-"
"Mas, tenangkan dirimu dulu, baru kita bicara lagi dengannya," bisik Randu menyela kata-kata Randi. Randi menatap tajam ke arah Kana, pipi gadis itu memar sudut bibirnya pun berdarah. Apakah Randi menyesal? Tentu saja tidak, tapi ada sesuatu yang aneh, seperti rasa kasihan pada Kana karena Randi teringat pada Susan adik yang sangat dia sayangi lebih dari nyawanya sendiri.
"Urus dia! Jangan biarkan kabur!" Randi berkata pada Randu lalu bergegas pergi meninggalkan Randu dan Kana.
"Kamu tidak apa-apa?" Randu mendekati Kana mencoba menyentuh pipinya tapi dengan tegas Kana menolak.
"Jangan pernah menyentuhku! Menjauh dariku!!" bentak Kana penuh amarah. Dia tidak percaya Randu akan berbuat ini padanya. Menjebaknya dan memberikan pada kakaknya yang jahat.
"Na, a-aku minta maaf, aku terpaksa melakukan ini ak-"
"Menjauh dariku!!!"sela Kana histeris, Randu terdiam menatap Kana dengan rasa bersalah. Tapi dia bisa apa?
"Aku hanya punya dua pilihan Na, membawamu ke sini atau mati," kata Randu lirih membuat Kana menatapnya kaget.
__ADS_1
Apa yang dia bilang tadi?
***********