
Kana menghela napas sambil matanya sesekali menatap ke arah jam tangannya menghitung berapa lama dia sudah menunggu Adrian. Hari ini dia dan Adrian ada janji makan siang bersama sebagai ganti makan siang tempo hari yang gagal karena Kana terlalu shock mendapat kado indah dari seseorang. Dari kampus Kana langsung meluncur ke kantor Adrian.
Tapi setengah jam menunggu, Adrian belum muncul juga padahal sudah masuk jam makan siang, lelah menunggu dan mulai menjadi.pusat.perhatian Kana memutuskan untuk pergi ke kantin kantor Adrian. Dia memesan minuman dan membeli snack ringan sebagai teman menunggu. Kana sudah mengirim pesan pada Adrian kalau dirinya menunggu di kantin yang terdapat di lantai satu.
Kana memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, agar dia tidak bosan saat menunggu kedatangan suaminya, tapi15 menit berlalu Adrian juga belum muncul membuat Kana bosan saja.
Kana menghela napas lalu mengeluarkan ponsel memasang earphone di telinganya kemudian memutar koleksi lagu dari ponsel sambil jari-jari lentiknya sibuk berselancar di dunia maya. Kana terlalu asik dengan ponselnya kalau saja sebuah ketukan di depan meja tidak mengusiknya. Kana mendongak menatap pemilik tangan itu. Seorang pria tampan dengan kacamata minus membingkai wajah tampannya,sudah berdiri di depannya dengan nampan berisi makanan. Pria itu bicara tanpa suara membuat Kana mengernyit binggung.
"Apa?" Kana dengan wajah polosnya terlihat sangat binggung karena sedari tadi pria itu hanya membuka tutup mulutnya saja.
Tapi Kana tiba-tiba sadar kalau dia sedang mendengarkan musik di kedua telinganya dengan volume yang lumayan tinggi. Buru-buru Kana melepas earphone yang mengganjal telinganya.
"Ya?" tanya Kana menatap pria di depannya dengan binggung.
"Maaf, boleh join di sini gak? Soalnya kursi yang lain nyaris penuh," pinta si pria tampan. Kana mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin dan memang beberapa bangku terlihat penuh walaupun sebenarnya ada beberapa yang masih kosong, hanya di isi 2-3 orang dan rata-rata menyisakan satu kursi kosong yang bisa jadi sudah di pesan teman mereka.
"Silahkan!" Kana tersenyum ramah. Pria berusia di atas 25 tahunan itu tersenyum lalu duduk di kursi kosong yang ada di depan Kana.
"Makan?" tawar pria itu.
"Silahkan. Aku sedang menunggu," tolak Kana halus lalu melirik ke arah jam tangannya. Adrian belum datang juga pesannya juga belum Adrian baca.
"Kamu bukan karyawan sini ya?" tanya si Pria tampan lalu mulai asik menikmati makanannya.
"Iya, nunggu orang aja." Kana menatap sekeliling, kalau-kalau suaminya muncul.
"Maaf ya, kalau bikin kamu gak nyaman. Namaku Randu. By the way." Pria itu mengenalkan dirinya, Kana menatap sejenak pria di depannya menelitinya dari atas sampai bawah. Randu lumayan juga mirip artis. Vokalis band apa gitu, Kana lupa.
"Aku bukan orang jahat santai saja!" Randu tahu Kana seperti tidak nyaman dengan keberadaannya karena kelihatan gelisah. Merasa tersindir Kana tersenyum kikuk.
"Aku Kana." Tidak ada salahnya bersikap ramah, toh pria ini hanya sekedar menumpang makan.
"Kamu karyawan sini?" tanya Kana mencoba rileks dengan berbasa-basi pada Randu. Randu mengangguk karena mulutnya penuh makanan.
"Iya, aku baru seminggu kerja di sini." Randu menelan makanannya dengan cepat.
"Oh, karyawan baru. Divisi apa?" tanya Kana lagi, siapa tahu Randu satu divisi dengan suaminya dan Joddy.
"Pemasaran." Randu tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya ke arah Kana membuat Kana tersipu malu saat melihat senyum manis Randu itu.
Ingat suami Na, ingat suami!
"Kamu masih kuliah ya?"
"Kok tahu?"
__ADS_1
" Tahulah dari penampilan kamu yang masih ke kinian." Randu menunjuk Kana dengan dagunya, sontak Kana melihat ke arah dirinya sendiri. Hari ini Kana dress putih lalu dia tutup dengan Sweater, rasanya biasa saja tidak menunjukan dia anak milenal. Apa karena make up-nya yang ala-ala Korea? Kana suka sekali dengan make up ala Korea yang selalu terlihat natural bila diaplikasikan di kulitnya yang putih.
"Tinggal nunggu sidang skripsi saja sih," sahut Kana, dia sedikit sensi kalau membahas perkuliahan. Pasalnya sampai sekarang dia masih digantung dosen pembimbingnya karena masih harus revisi sana sini. Padahal Kana sudah yakin sekali kalau skripsi dia seharusnya sudah lolos revisi.
"Jurusan apa?"
"Manajemen."
"Wah, keren! Semoga saja nanti kamu bisa kerja di sini ya kalau sudah lulus." Randu terdengar tulus saat mendoakan Kana. Kana hanya tersenyum tipis, mana mungkin suaminya yang posesif itu mengizinkannya kerja, satu kantor pula dengannya.
"Kamu asli sini Kana?"
"Iya, kalau kamu?"
"Aku dari Jogja." Randu menjawab dengan lugas. Mata Kana berbinar saat mendengar nama kota asal suaminya itu.
"Jogja?! Wah!"
"Punya saudara di sana?"
Kana mengangguk. "Tapi aku jarang ke sana terakhir ke sana beberapa bulan lalu itu pun cuma sebentar. Padahal aku belum sempat jalan-jalan ke sana." Kana cemberut saat mengatakannya, membuat Randu termenung melihat ekspresi Kana yang sungguh menggemaskan di matanya.
"Sayang sekali. Padahal Jogja banyak lho wisatanya. Apalagi pantainya keren-keren, wisata kulinernya juga beragam di sana," balas Randu makin membuat Kana cemberut karena hanya bisa membayangkannya saja.
" Aku dulu cuma nyoba gudeg sama sate aja. Padahal belum nyoba makan oseng mercon sama pergi ke pantai yang ada di Gunungkidul itu lho. Wah, jadi kangen Jogja." Kana begitu antusias, matanya berbinar-binar saat mengatakannya membuat Randu terpana melihat Kana. Sungguh, gadis ini menggemaskan sekali.
"Serius?!"
Randu mengangguk. "Serius, hubungi aja aku kalau kamu mau ke sana."
"Boleh, boleh. Nanti aku akan agendakan ke Jogja deh!" Kana tersenyum girang membayangkan dia berada di Jogja bulan madu dengan Adrian menikmati makanan yang enak-enak dan berburu sunset di pantai. Kana benar-benar tidak sabar ingin segera minta pada suaminya.untuk mengambil cuti.
"Oiya, Na. Ngomong-ngomong kamu lagi nunggu siapa sih?" tanya Randu tiba-tiba.
Kana tersenyum. "Nunggu suami lah!" Suara itu tentu saja bukan dari Kana tapi seorang pria yang sudah berdiri di depan mereka menatap garang ke arah Randu. Joddy yang berdiri di belakang Kana itu menahan senyumnya.
"Kak Ian?!" seru Kana lalu tersenyum manis tidak menyadari kalau suaminya itu sudah bertanduk karena melihatnya berdua dengan pria lain.
"Suami?" tanya Randu lalu buru-buru berdiri saat dia melihat Adrian yang dia tahu manajer di divisi pengembangan berdiri di depannya.
"Selamat siang Pak Adrian," ucapnya gugu, gawat! Mana dia tahu kalau gadis cantik di depannya ini sudah bersuami. Atasannya pula. Adrian tak membalas sapaan anak buahnya itu. Dia menatap ke arah piring kosong dan gelas yang isinya sudah tandas punya Randu.
"Kamu anak baru? Kenapa bisa sama istri saya?" tanyanya ketus.
"Maaf Pak, tadi penuh." Randu menjawab dengan nada penuh hormat
"Iya, Kak. Tadi Randu gak dapat tempat duduk, jadi gabung sama Kana. Randu dari Jogja lho Kak. Dia nawarin kita penginapan kalau liburan ke sana. Dapat diskon lho Kak!" seru Kana girang tidak mempedulikan Adrian yang wajahnya makin ditekuk itu. Joddy dan seorang gadis di sampingnya hanya saling pandang lalu menahan tawa melihat Adrian yang wajahnya tegang itu.
__ADS_1
"Anak baru, sudah selesai kan?" tanya Adrian dengan maksud agar Randu cepat pergi dari hadapannya.
"Sudah Pak. Kalau begitu saya duluan. Mari Pak Adrian, Pak Joddy saya duluan," pamit Randu menunduk takjim pada Joddy dan Adrian. "See you Na," imbuhnya pada Kana yang tersenyum sangat manis itu.
"See you. Nanti aku kabari ya kalau ke Jogja, " balas Kana melambaikan tangan ke arah.Randu yang buru-buru pergi itu.
"Kamu ini! Ingat suami!" Adrian dengan kesal menutup mata Kana yang masih menatap ke arah Randu yang kian menjauh.
Kana menepis tangan suaminya pelan. "Ingat Kak, buktinya aku di sini. Lagian kakak lama banget sih! Aku satu jam tahu gak nungguin kamu. Udah kayak jamur kaki Bang Kanda aja nih!" omel Kana membuat Adrian gelagapan. Kenapa jadi dia yang kena omel? Pakai nyebut jamur kaki Kanda pula.
Joddy yang mendengar kata-kata Kana hanya terkekeh lalu menepuk bahu Adrian dan berbisik ." Di kantor Bro. Entar bucin lo keliatan."
Adrian menatap Joddy sengit lalu duduk di samping Kana, diikuti Joddy dan seorang gadis cantik yang sejak tadi menempel pada Joddy.
"Makan di sini dulu ya, nanti sore baru kita cari makan." Adrian memanggil penjaga kantin lalu menyebutkan beberapa pesanan.
"Jadi, ngobrol apa aja tadi sama si Randu kapas itu? Akrab banget sampai manggil nama doang." Kelihatan sekali kalau Adrian benar-benar kesal dan cemburu.
"Banyak Kak. Dia ternyata asli Jogja lho, Kak!" seru Kana tanpa mempedulikan wajah Adrian yang masam sedari tadi. Joddy tersenyum geli. Gadis ini benar-benar tidak peka.
"Sudah, mending kita makan dulu." Joddy menengahi saat melihat Adrian akan membuka mulutnya apalagi makanan pesanan mereka sudah datang.
Kana menatap ke arah gadis cantik di samping Joddy. "Ini siapa? Pacar Kak Joddy ya?"
Gadis itu terlihat kaget dengan pipi bersemu merah. "Aku Berlian. Panggil saja Lian. " Gadis bernama Berlian itu lalu menunduk pura-pura asik dengan makanannya padahal sebenarnya dia gugup.
"Pacarnya Kak Joddy?" buru Kana.
"Temen kantor Dek," sahut Joddy, terlihat perubahan raut wajah Lian saat mendengar jawaban Joddy itu.
"Idih, suka malu-malu gitu. Selamat ya Kak. Udah gak jomlo lagi, pantesan aku jodohin sama Moli gak mau. Ceweknya aja cakep begini. Kak Lian cantik banget sih?"Kana menatap takjub ke arah Lian yang hanya tersenyum itu.
"Makan dulu!" Adrian menyuapkan potongan daging ke mulut Kana yang sejak tadi mengoceh itu.
"Kak Lian beruntung deh jadi pacar Kak Joddy. Maaf ya Kak, tapi dulu waktu SMA aku sempet naksir Kak Joddy lho!" Tuh, tingkat kepekaan Kana memang benar-benar di level paling bawah inti bumi.
Adrian menatap Kana tak suka, diliriknya Joddy yang kaget itu." Beneran Na?"
"Dulu Kak. Sayangnya, Kak Joddy suka cewek yang dewasa. Mana mau sama aku yang ingusan ini." Kana terkikik geli melihat perubahn wajah Lian dan Adrian. Joddy hanya termenung sambil mengumpat dalam hati. Kamu salah Na! Seandainya dia bisa memutar waktu pasti yang jadi suami Kana dirinya. Duh, apes!
"Masa lalu Jod. Jangan baper lo!" Adrian menendang kaki Joddy di bawah meja. joddy gelagapan lalu melirik wajah Lian yang sulit ditebak marah atau biasa saja itu.
"Kak Lian jangan marah ya? Sekarang aku cintanya sama Kak Ian kok," kata Kana lagi mendengar itu membuat Adrian besar kepala. Joddy mendecih lalu mulai asik makan.
"Kak Joddy gak cemburuan kok Kak Lian. Beda sama Kak Ian,"celetuk Kana polos membuat Lian dan Joddy menahan tawa dan Adrian mengeram dalam hati. Untung cinta.
********
__ADS_1