
Adrian menyandarkan kepalanya di kursi kerja. Kepalanya benar-benar pusing. Pekerjaannya kacau. Banyak pekerjaan yang belum diselesaikan Adrian karena dia terlalu sibuk mencari Kana. Ini hari Ketiga dan dia belum bisa menemukan Kana. Adrian sengaja tidak melaporkannya ke polisi karena takut orangtua Kana akan khawatir, bagaimanapun Kana adalah anak kesayangan mereka.
Adrian sudah mencari ke semua tempat yang mungkin Kana datangi bahkan dia menyusuri beberapa rumah sakit dan dia bersyukur tidak ada pasien atas nama istrinya.
"Ian, ini laporan bulan ini."
Adrian menegakkan badan saat sebuah suara membuyarkan lamunannya. "Oke, taruh di meja," sahut Adrian dingin. Susan menatap Adrian tak percaya. Adrian benar-benar marah padanya.
" Baiklah." Susan menaruh sebuah map di meja kerja Adrian matanya mencuri pandang ke arah pria pujaannya itu. Tampan, mapan dan bertanggungjawab, itulah yang membuat Susan menyukai Adrian.Bertahun-tahun ia menjadi rekan kerja Adrian selama itu juga dia berusaha menarik perhatiannya. Tapi sayangnya, Adrian sama sekali tidak meliriknya. Padahal apa kurangnya Susan. Dia cantik, seksi dan cerdas.Tapi kenapa Adrian lebih memilih Kana, gadis kecil yang berhasil merebut semua perhatian Adrian. Susan tidak suka itu.
"Ian, bisa kita bicara?" tanya Susan lalu duduk di depan Adrian yang menatapnya tajam. Mana mungkin wanita ini bertingkah biasa-biasa setelah semua masalah yang dibuatnya?
"Aku mau minta ma-"
"Bicarakan pekerjaan ketika di kantor." Adrian menyela kata-kata Susan. Mengambil map yang tadi dibawa Susan lalu pura-pura membacanya. Hanya untuk menghindari obrolan pribadi dengan Susan. Adrian masih marah, bahkan kalau saja Susan itu laki-laki sudah Adrian buat berbaring di rumah sakit.
"Ian, aku menyesal-"
"Jangan pernah bicara denganku kecuali hal yang berkaitan dengan pekerjaan selama istriku belum ditemukan." Adrian bicara tanpa menatap Susan sama sekali. Membuat hati Susan terasa teriris. Apa istimewanya gadis itu dibandingkan dirinya? Jelas-jelas Susan lebih unggul dibandingkan dengan Kana ataupun wanita lainnya di luar sana. Banyak lelaki yang mengidam-idamkan dirinya. Tapi semua Susan tolak karena Adrian. Tapi apa yang dia dapat? Penolakan bertahun-tahun dari pria ini?
Tidak, tidak!
Susan tidak akan menyerah, dia harus bisa mendapatkan hati Adrian bagaimanapun caranya. Termasuk merusak rumah tangga mereka.
"Silahkan keluar kalau tidak ada yang perlu dibicarakan." Adrian menatap Susan sekilas lalu kembali menyibukkan dirinya, lebih tepat pura-pura menyibukkan dirinya agar Susan segera pergi dari hadapannya.
"Ian kenapa sih kamu gak bisa lihat aku? Kenapa harus gadis it-"
Brakkk!
Adrian menggebrak meja kerjanya membuat Susan menelan kata-katanya kembali.
"Maaf, aku tidak ingin mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi. Jadi silahkan keluar pekerjaanku masih banyak." Adrian menatap ke arah pintu.dengan maksud mengusir Susan.
Susan menatap Adrian kesal lalu beranjak dari duduknya dan pergi dengan langkah yang lebar membawa harga dirinya yang terluka. Di depan pintu dia berpapasan dengan Joddy yang kebetulan juga berkunjung ke ruangan Adrian.
"Lo apain Si Ikan Asin?Kusut amat mukanya?" Joddy bertanya dengan santai saat sudah ada di depan Adrian yang sudah duduk dengan wajah lelah dan murung.
Joddy tersenyum tipis melihat penampilan Adrian yang berantakkan. Pria dewasa yang biasanya cemerlang sekarang terlihat berantakan dengan kantong mata tebal dan bakal janggut yang belum sempat dia cukur. Sungguh, gadis kecil itu membuatnya kalut.
" Ada apa? Kalau bukan sesuatu yang penting keluar sana!" Adrian menatap Joddy. Sikap mereka sudah seperti biasanya walaupun Adrian masih kesal dengan Joddy tapi dia tidak semarah kemarin. Joddy pun sudah melupakan insiden pemukulannya dan menganggap itu hanya bentuk emosi sesaat Adrian.
"Santai Pak nge-gas mulu. Ntar cepat tua lho!" ledek Joddy tertawa geli.
__ADS_1
"Jangan sampai gue bikin lo babak belur ya, Jod." Adrian memperingatkan Joddy yang sejak tadi cengengesan seolah-olah meledeknya
"Gue mau ngajak lo makan siang. Kayaknya lo kurusan, baru ditinggal Kana 3 hari saja udah kurus begini. Gimana nanti kalau Kana jadi gue ambil?" Joddy makin bersemangat menggoda Adrian.
Adrian menatap tajam ke arah Joddy, tangannya mengepal kuat. "Lo pengen banget gue lempar pakai meja."
Joddy terkekeh lalu mendekat ke arah Adrian. "Ayo, kita makan siang. Kanda udah ngomel kayak cewek PMS karena pesannya gak lo baca. Dia udah nunggu di kantin."
Adrian hanya melirik ke ponsel yang lampu notifnya menyala berkedip-kedip sedari tadi. Memang dari tadi dia tidak membuka ponsel karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya dan kembali melakukan pencarian Kana.
"Lewat. Gue lagi gak pengen makan." Adrian sama sekali tidak berniat makan sama sekali baik makan siang ataupun malam yang ada di pikirannya hanya bagaimana menyelesaikan pekerjaannya lalu mencari Kana.
"Yakin? Gue denger Kanda punya informasi tentang Kana."
Ajaib, hanya mendengar nama Kana disebut Adrian lamgsung beranjak dari duduknya lalu tanpa banyak bicara dia bergegas keluar dari ruangannya meninggalkan Joddy yang menatapnya penuh arti.
" Gue gak becanda soal mengambil Kana kalau lo masih gak bisa tegas soal Susan," gumam Joddy lalu tersenyum geli dan bergegas menyusul sahabatnya itu.
Sesampainya di kantin kantor, Adrian sudah disambut tatapan bengis dari Kanda yang sudah terlalu lama menunggunya. Perut Kanda terasa penuh karena sudah menghabiskan 3 gelas jus dan 2 mangkuk mie ayam. Terlalu lama menanti kedua sahabatnya, dia menjadi sangat lapar dan tak sabar menunggu.
"Ini sih bukan makan bareng, makan sendiri lo," seru Joddy duduk di samping Kanda yang meliriknya kesal.
" Kali, gue nunggu lo berdua sampai mati kelaparan!" sungut Kanda kesal.
"Sabar bro, lo pesen makan dulu gih! Wajah lo pucat gitu!" sahut Joddy memanggil penjaga kantin lalu menyebutkan beberapa makanan untuknya dan Adrian.
"Ada info apa dari Kana?"ulang Adrian lagi, setelah penjaga kantin pergi.
Joddy memberi isyarat pada Kanda untuk menjawab saja, takut Adrian membanting barang-barang di kantin.
Kanda mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkan ke arah Adrian dan Joddy yang langsung menerima ponsel Kanda.
"Itu email yang dikirim Kana ke gue tadi malam, dia mengabarkan kalau baik-baik saja. Dia juga menelpon mama dan bilang sementara waktu tidak bisa dihubungi karena ponsel dia rusak. Dia telepon pakai telepon rumah bukan ponsel pintar, ketika gue telepon balik udah gak bisa." Kanda menjelaskan sesaat setelah kedua sahabatnya selesai membaca emailnya.
"Dia bisa kirim email bisa telepon, berarti dia di bantu sama orang. Terakhir kali dia kan gak bawa apa-apa." Adrian meletakkan ponsel Kanda.
"Yups, pertanyaannya siapa yang bantu Kana? Moli sama Nea saja gak tahu Kana di mana," sahut Kanda. Adrian mengacak rambutnya gusar. Kamu di mana sih Na? Kamu harus pulang dan dengar penjelasanku.
"Kalau gitu kita bisa bernapas lega. Kana baik-baik saja, itu poin pentingnya." Joddy yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
Adrian menatap Joddy sekilas. " Lo bisa santai karena Kana bukan istri lo!"
" Bisa kok gue jadiin istri kalau boleh." Joddy menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam lo!" ancam Adrian.
"Jangan kayak bocah kalian, sekarang kita tinggal mikir gimana caranya agar Kana keluar dari persembunyiannya." Kanda melerai kedua sahabatnya.
"Simple. Bikin yakin aja kalau apa yang terjadi adalah salah paham terus yakinkan juga kalau Susan tidak ada hubungan apa-apa sama Adrian. Dan lo Ian, bersikap tegas lah pada Susan jangan karena kasian dan dia wanita, lo lembek sama dia."Joddy berkata dengan santainya.
"Gimana cara yakinin Kana kalau dia aja ngilang?" tanya Kanda.
"Kan dia habis kirim email ke lo. Ya sudah, yakinkan Kana lewat email? Gue yakin Kana pasti akan baca email dari lo," jawab Joddy.
"Yakin banget lo itu akan berhasil?" Kanda mendecih.
"Lo tahu kan firasat gue 95% selalu bener?" balas Joddy sambil mengedipkan matanya ke arah kedua sahabat baiknya. Anehnya, bukannya jijik Kanda dan Adrian memilih manggut-manggut setuju.
Adrian lalu menatap Joddy, tidak bisa dipungkiri sahabatnya ini selalu punya ide yang cemerlang untuk menyelesaikan masalah. "Menurut lo gue harus bersikap tegas seperti apa terhadap Susan?"
"Ya gampang, karena lo gak mungkin ngusir dia dari kantor ini dan dari rumah dia yang sekarang- gimana kalau lo jual rumah lo ke gue dan beli rumah baru," usul Joddy membuat Adrian menatapnya tak percaya.
Sama.
Sama persis yang diinginkan Kana.
"Daripada lo jual ke Joddy mending lo kasih ke gue Ian." 8-) Kanda tersenyum penuh harap.
"Mimpi aja lo,"sahut Adrian pada Kanda lalu kembali menatap Joddy. "Gue pertimbangin," imbuhnya.
"Semakin lama lo pertimbangin semakin lebar kesempatan gue ambil Kana! Auhh, Anj-" Joddy tak jadi melanjutkan kata-katanya dia memilih mengusap keningnya yang baru saja terkena lemparan garpu dari Adrian.
*
"Dia sudah makan?" tanya seorang pria pada pria yamg lebih muda darinya, yang kini sibuk membereskan piring kotor.
"Sedikit, dia katanya pengen makan rujak es krim tuh! Sana cariin!" jawab si pria yang lebih muda. "Kamu gak cari tahu keluarganya saja biar dijemput?"
"Enggak. Selama dia belum minta sendiri. Biarin aja dia tinggal di sini sesuka hati dia."
"Asal tambah aja transferanku"
"Gampang!"
Pria yang lebih tua itu lalu tersenyum lembut saat matanya bertemu dengan mata bening seorang gadis yang perutnya mulai membuncit.
*****
__ADS_1