
Adrian berdecak kesal saat panggilan teleponnya tidak diangkat. Sudah hampir 10 kali Adrian menelepon Joddy, tapi tidak diangkat sama sekali.
"Awas aja kalau kali ini dia tidak angkat telepon, aku kasih SP 2 sekaligus," gerutu Adrian tepat saat deringan terakhir teleponnya diangkat Joddy.
"Apa?"
Suara serak khas orang bangun tidur terdengar di ujung telepon. Sepertinya Joddy sedang tidur. !
"Lo jam segini tidur?" Adrian tak percaya, bisa-bisanya Jodddy tidur di jam efektif seperti ini.
"Gue capek handle kerjaan lo, Kampret!" maki Joddy diujung telepon.
Adrian berdehem salah tingkah. Dia lupa kalau selama cuti kerjaan dia diambil alih oleh Joddy sementara waktu." Jod, gimana hasil investigasi lo soal Susan dan keluarganya?"
"Gak ada basa-basinya lo! Tanya kabar gue dulu kek!"
"Gue tau lo baik-baik aja! Buruan gimana hasilnya?"
Terdengar bunyi berisik seperti kertas yang diobrak-abrik. " Gue udah dapat data detail dari Sania sama temen gue yang anak IT. "
Adrian bernapas lega saat mendengar jawaban Joddy. Sebentar lagi dia akan tahu siapa Susan.
"Tapi sialnya flashdisk gue ketinggalan di ruangan lo! Besok gue kasih."
Adrian mendengus kesal, gagal! Adrian harus menahan rasa ingin tahunya. " Kalau gitu lo cari tahu juga tentang Randu, anak pemasaran."
"Lha, apa urusannya sama bocah itu?"
"Gue curiga dia ada hubungan sama Susan."
Joddy tertawa diujung telepon. " Gimana bisa? Susan itu asli Kalimantan dan bocah itu dari Jogja."
"Lo tau asal bocah itu?"
"Kan, bini lo yang ngomong kemarin."
"Ya kali aja mereka saudara atau apa gitu?"
"Kok lo bisa nyimpulin begitu?"
Adrian menghela napas. Apa dia harus menceritakan pada Joddy, kalau di Jogja pun Kana mendapat teror? Bisa-bisa dia nyusul lagi ke Jogja.
"Kana dapat teror lagi Jod," desah Adrian. Pada akhirnya dia mau tak mau menceritakan tentang teror yang dialami Kana. Mungkin Joddy bisa membantunya. Asal dia tidak menyusul saja ke Jogja.
"What?"
"Ada yang ngirim ular kobra kemari. Pemilik penginapan bilang, barang itu dititipin di tukang ojek."
__ADS_1
"Ya Tuhan. Terus gimana Kana sekarang? Apa perlu gue nyusul kalian?"
"Jangan! Enak aja lo main nyusul!" Mana rela Adrian bulan madunya diusik Joddy. Bisa-bisa Kana mengabaikannya. Jika ada Joddy perhatian Kana kan selalu terpecah.
"Kana baik-baik aja. Dia cuma shock sebentar, ularnya juga udah dibuang sama tukang kebun penginapan. Habis itu biasa aja, dia lagi mandi. Gue mau ajak dia ke pantai dan nginep di rumah eyang," imbuh Adrian.
"Syukurlah. Terus kenapa lo curiga Randu ada hubungan sama Susan?"
"Penginapan ini punya saudara bocah itu dan atas rekomendasi bocah itu juga kami nginep di sini."
"bisa jadi sih, besok gue cari tahu deh."
"Oke, thanks! Gue tunggu!" Adrian mematikan ponselnya tepat saat Kana membuka pintu kamar mandi. Keluar dengan rambut diikat tinggi dan kaos milik Adrian yang kebesaran di tubuh Kana. Terpaksa Kana memakai baju Adrian karena hampir ssbagiab baju yang dia bawa berupa stelan dress yang nyaris semuanya berada di atas lutut. Tentu saja Adrian melarang Kana memakai baju itu.
"Habis telepon siapa Kak?" tanya Kana melipat handuknya lalu memasukkan ke tas anti air. Sekalian hari ini dia berkemas untuk pergi ke rumah nenek Adrian yang letaknya 60 KM dari pusat kota Jogja.
"Joddy, nanya kerjaan." Adrian menghampiri Kana membantu istrinya itu memasukan baju ke dalam koper.
"Kamu yakin Na, mau lanjut ke rumah eyang?"
Kana mengangguk. "Iya, kita juga sudah lama kan gak nengok Om Hanan." Kana menatap suaminya. "Aku juga penasaran apa tukang teror itu bisa mengikuti kita sampai rumah eyang. "
Adrian terkesiap mendengar kata-kata Kana."Kamu...gak takut?"
Kana mengeleng. " Bangkai tikus, boneka voodoo, ular besok apa lagi ya, Kak?" Kana sebenarnya takut tapi dia tidak ingin memperlihatkan pada suaminya. Sedari tadi dia berpikir keras, siapa sebenarnya peneror dirinya. Tidak mungkin semua ini kebetulan, peneror ini bahkan mengikutinya sampai ke Jogja. Tapi bagaimana mungkin dia bisa tahu? Apa mereka mengikutinya?
"Atau mungkin semua sudah terencana?" balas Adrian, dia ingin tahu pendapat Kana tentang Randu.
Kana mengernyit. " Maksudnya?"
"Ya, peneror itu tahu kita mau ke Jogja terus dia nawarin untuk menginap di sini," pancing Adrian, matanya diam-diam memperhatikan gelagat Kana.
Kana termenung. Yang menawari menginap di sini kan Randu. Apa Randu yang menerornya?
"Maksud Kakak, Randu?"
Adrian hanya mengangkat bahunya acuh mendengar nama Randu disebut.
"Tapi Kana kan baru kenal Randu. Gak ada masalah dengannya juga. Untuk apa dia neror Kana?"
"Dia memang tidak ada masalah. Tapi mana tahukan Randu suruhan orang lain?"
Kana lagi-lagi terdiam merenungkan setiap ucapan Adrian. Masa iya Randu yang menerornya, tapi atas dasar apa? Randu terlihat orang baik.
"Satu-satunya yang suka cari masalah dengan Kana cuma Susan.Tapi Susan kan masih di rumah sakit jiwa. Lagipula ...." Kana terdiam seketika. Randu, apa mungkin Randu ada hubungannya dengan ini semua? Orang baru yang dengan senang hati memberi diskon harga sewa. Agak aneh memang.
__ADS_1
"Kak, gimana kalau kita cari tahu?"
"Cari tahu apa?" tanya Adrian was-was.
Kana menutup kopernya lalu meletakkannya di lantai. "Randu. Gimana kalau kita cari tahu siapa Randu?"
"Dengan cara?" Adrian menyipitkan matanya waspada kalau-kalau ide Kana itu bersebrangan dengannya.
"Aku deketin Randu."
Adrian mendelik tak terima. "Enak aja! Enggak boleh!"
Kana mendecak kesal. " Biar kita tahu Randu itu ada hubungan gak dengan Susan."
"Iya tapi tidak harus dengan cara kamu deketin dia kan?" Adrian menatap istrinya kesal.
" Terus Kakak yang deketin dia?"
Adrian gelagapan. "Ya, enggak gitu juga."
"Terus?"
"Biar Joddy yang cari tahu dia. Kamu cukup duduk diam di rumah, selesaikan skripsi kamu dan lulus cumlaude."
Kana cemberut. Adrian ini bicara sudah kayak seorang ayah yang sedang menasehati putrinya saja. Kenapa kuliah dibawa-bawa? Kana sedang sensitif kalau ditanya perihal kuliahnya yang sampai sekarang belum kelar.
"Kak, data bisa dimanipulasi tapi kalau kita cari info langsumg dari orangnya itu akan lebih meyakinkan. Asal hati-hati dan main cantik aja sih."
Adrian ganti mendecak kesal menghadapi istrinya yang keras kepala ini rupanya susah juga. Kana terlalu menganggap enteng teror-teror yang dialaminya. Bangkai tikus dan boneka voodoo masih bisa diremehkan, tapi ular? Sudah sangat berbahaya. Untung saja Kana refleks melempar kotak itu entah apa jadinya kalau Kana sampai terkena gigitan ular berbisa itu.
"Jadi gimana Kak?" Kana menatap penuh harap pada suaminya.
"Enggak!"
"Kak, dekat dalam hal ini maksudnya berteman. Bukan deketin yang cinta-cintaan." Kana berkata dengan gamblang. Dia tahu sekali kalau Adrian ini cemburuan.
Adrian membuang napas kasar, kelihatan sekali dia sangat keberatan dengan ide istrinya itu. Mengijinkannya dekat dengan pria lain? Yang benar saja!
"Kak, ayolah!" bujuk Kana karena melihat suaminya diam saja.
"Biar data dari Kak Joddy makin akurat. Kalau benar Randu ada hubungan dengan Susan kita bisa ambil langkah." Kana mengamit lengan Adrian, menatapnya dengan tatapan andalan yang bisa membuat siapapun luluh.
"Kakak mau ini gak selesai-selesai? Dan aku kena teror terus?" Kana masih tak mau menyerah dia terus saja memprovokasi Adrian dan sepertinya berhasil karena kelihatan sekali Adrian mulai goyah.
"Terserah kamu! Asal jangan naksir saja!"
Akhirnya walaupun dengan muka ditekuk Adrian mengijinkan Kana juga untuk melanjutkan misinya.
__ADS_1
"Siap!" Kana tersenyum, dia benar-benar penasaran dengan peneror dirinya selama ini. Dia penasaran apa tujuan yang sebenarnya dari peneror itu. Kana akan cari tahu semuanya.
*************