
"Kamu kenapa sih, Na?" Adrian terheran-heran menatap istrinya karena tiba-tiba saja dia acuh pada Joddy saat menyapa mereka berdua ketika berpapasan di basement kantor.
"Kenapa apanya?" Kana menjawab pertanyaan Adrian dengan pertanyaan juga. Tangannya sibuk dengan ponsel asik berselancar di dunia maya.
Adrian yang asik menyetir itu melirik istrinya." Sama Joddy kok acuh begitu?" tanya Adrian penasaran. Tidak biasanya Kana bersikap dingin pada 'Kakak Ketemu Gede'-nya itu.
Kana menghentikan gerakan jarinya saat mendengar pertanyaan Adrian." Bukannya harusnya Kakak senang kalau aku sama Kak Joddy jauhan?" Kana menatap suaminya itu sekilas lalu kembali fokus ke arah ponselnya.
Adrian berdehem salah tingkah. Iya, juga sih. Dia memang akan menyambut suka cita kalau benar Kana menjauh dari Joddy. Tapi kenapa sedrastis ini?
Walaupun terus terang saja Joddy sangat banyak membantu mereka dan Adrian sebenarnya tidak keberatan kalau Joddy dekat dengan Kana, dengan catatan: salah satu di antara mereka tidak ada yang 'pernah' menyimpan perasaan.
"Kamu lagi marahan sama Joddy?" tanya Adrian.
Kana menggeleng pelan. "Kana gak mau aja dicap 'murahan' udah punya suami masih ngerecokin pria lain."
Adrian tersentak kaget saat mendengar jawaban Istrinya. "Lho, memang ada yang bilang begitu?" Yang pasti bukan Adrian. Mana mungkin dia menyebut istrinya ini murahan. Kana itu mahal. Dia tidak bisa dinilai dengan mata uang negara manapun. Kana paket lengkap. Cantik, polos, cerdas, manja dan yang pasti masih perawan sewaktu Adrian menikahinya.
"Kali aja ada," sahut Kana, dia tidak akan menceritakan kejadian di kafe tadi siang. Kana bukan anak kecil lagi, yang sedikit-sedikit mengadu. Lebih baik dia simpan untuknya sendiri.
"Aku sih sebenarnya gak masalah kamu dekat dengan Joddy, Sayang. Toh, kamu juga anggap Joddy sekedar Kakak. Lagipula, kalian kan udah kenal jauh sebelum kamu menikah denganku, yang penting kamu sama dia benar-benar gak lebih dari teman." Kalau lebih dari itu, aku benar-benar akan membawamu jauh dari Joddy. Adrian meneruskan dalam hati.
"Coba aja Mbak Lian punya pemikiran sama," gumam Kana lirih, sambil melempar pandangan ke arah luar mobil. Untunglah Adrian tidak mendengar gumamannya, karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Jadi kamu akan menjauhi Joddy?" tanya Adrian hati-hati, melirik Kana melalui ekor matanya.
"Enggak menjauh juga, tapi membatasi." Karena bagaimanapun Joddy sangat berjasa untuk Kana. Dari dulu Joddy selalu ada buat Kana. Tidak tahu diri jika Kana menjauhinya.
Bibir Adrian berkedut menahan senyum bahagia.
Yes! Yes!
Adrian bersorak dalam hati, membatasi diri bolehlah yang penting mereka tidak intens berinteraksi saja itu sudah cukup. Kana milik Adrian sepenuhnya. Tidak ada yang boleh mengambil perhatian Kana darinya. Memang sebucin itu seorang Adrian jika berkaitan dengan Kana.
*
Kana membuktikan omongannya, dia benar-benar membatasi diri dari Joddy. Jarang membalas pesan Joddy, juga bicara seperlunya sewaktu Joddy berkunjung ke rumah. Begitupun jika Kana berpapasan dengan Joddy di tempat umum, maka sebisa mungkin Kana akan menghindarinya.
Salah satu contohnya. Hari ini, Joddy dan Kana belanja di mini market yang sama. Kana yang sadar lebih dulu sedang berada di tempat yang sama dengan Joddy memilih menghindar. Ketika Joddy sibuk mengamati harga mie instan maka Kana akan sembunyi di sisi lain yang tidak akan terlihat Joddy. Kana mengendap-endap sambil mengintip Joddy dari balik barang-barang yang berjajar rapi di rak. Berdoa, Joddy segera pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya lalu pergi lebih dulu.
"Lagi ngintip siapa?" tanya sebuah suara di belakang Kana.
"Kak Joddy," jawab Kana lalu buru-buru menutup mulutnya saat sadar dia sedari tadi hanya sendiri. Kana refleks membalikkan badan, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok yang berdiri di belakangnya.
"K-kak Joddy?" desis Kana tertahan.
__ADS_1
Joddy tersenyum geli. "Menghindar, eh?"
Kana menegakkan tubuhnya, lalu menatap Joddy kikuk. "Hehe, ketahuan ya?" kekehnya.
"Kopi?" Joddy mengedikan dagu ke arah luar mini market, di sebrang jalan ada semacam tempat makan mirip seperti kafe.
Kana terdiam sejenak berpikir, sebelum akhirnya mengangguk.
*
"Jadi, bisa kamu jelaskan padaku kenapa kamu harus menghindar?" Joddy menyodorkan satu cup latte kesukaan Kana.
Kana mengambil cup itu lalu menyesapnya. "A-aku gak menghindar."
"Bohong. Kamu lagi bohong, Dek." Joddy menatap lurus ke arah Kana yang langsung salah tingkah itu. Kana lupa, Joddy bukan sehari dua hari mengenal Kana dia tahu pasti kebiasaan Kana jika sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa aku punya salah sama kamu?"
Kana menggeleng.
"Terus kenapa kamu menghindar kalau ada aku?"
"Aku cuma gak enak sama Kak Ian aja, Kak," jawab Kana, dan Joddy tahu bukan itu alasan Kana yang sebenarnya.
"Ayolah, Dek. Aku tahu bangetlah bukan itu alasan kamu."
"Aku cuma ngerasa kita terlalu dekat, Kak." Kana menunduk saat mengucapkannya. Joddy yang mendengar kata-kata Kana itu menatapnya tak percaya.
"Terlalu dekat? Kita bahkan tidak sering ketemu Kana. Kalaupun kita bertemu pasti ada suami sama kakak kamu. Jadi, aku yakin alasan -kita - terlalu- dekat adalah bukan alasan yang sebenarnya." Joddy menyanggah kata-kata Kana.
"Aku cuma gak mau dicap murahan, Kak!" Kana menatap Joddy tajam, dia mendadak kesal karena ingat kata-kata Lian yamg menyebutnya murahan.
"Murahan? Siapa yang bilang kamu murahan?"
Kana menutup mulutnya rapat-rapat. "Aku udah punya suami gak pantas aku ganggu pria lain." Kana cepat-cepat menambahi. Joddy mengernyit heran. Kenapa gadis ini bisa berpikiran seperti itu?
"Siapa yang bilang kamu murahan?"
"Gak ada."
Joddy menghela napas lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, ke arah Kana. "Dek, lihat aku!"
Refleks Kana menatap Joddy yang menatapnya tajam seperti mencari kebenaran di mata Kana.
"Apa yang membuatmu menghindariku atau lebih tepatnya siapa
__ADS_1
yang membuatmu menghindariku?" Joddy mengunci tatapannya pada Kana.
Kana menelan ludah beberapa kali, entah kenapa mendadak tenggorokannya terasa kering. "Eng-enggak ada. Ini inisiatif aku sendiri!" sahut Kana lalu menyeruput latte-nya menyamarkan kegugupannya. Jangan sampai Kana kelepasan.
Joddy menghembuskan napas kasar-kasar. "Pasti orang itu juga ngancem kamu kayak Susan kan? Awas aja tuh orang, habis sama aku." Joddy mengepalkan tangannya tapi ekor matanya melirik Kana berharap pancingannya berhasil.
"Enggak! Mbak Lian gak ngancem aku, kok!" Kana lalu menutup mulutnya rapat-rapat dia meruntuki kebodohannya karena masuk ke perangkap Joddy yang tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menjebak Kana agar berkata jujur.
"Oh, jadi karena Lian?" tanya Joddy. Kana tak langsung menjawab dia memilih menunduk sebagai jawabannya karena Kana tahu, Joddy tidak terlalu bodoh untuk mengartikan keterdiamannya.
"Lian ngomong apa saja sama kamu, Na?" Joddy jadi ingat ketika mereka bertemu di kafe, apa karena itu Kana buru-buru pergi dengan wajah kesal? "Kamu mau jawab atau aku tanya langsung pada Lian sekarang?" imbuh Joddy memberi pilihan pada Kana.
"Ih, Kak Joddy apaan sih! Ya wajarlah Mbak Lian begitu karena dia sayang sama kamu, Kak," sahut Kana kesal.
"Sesuka apapun dia sama aku. Dia gak berhak untuk menyuruhmu menjauh apalagi menyebutmu murahan. Kami hanya berteman. Aku sama dia tidak punya komitmen apa-apa."
Kana menyipitkan matanya saat menatap Joddy. " Pasti Kakak udah Php-in dia?"
Joddy gelagapan. " Php apaan? Enggak kok. Aku kan memang selalu baik sama kamu, sama semua orang."
"Nah, itu dia Kak. Kebaikan kamu yang kadang bikin orang salah paham mengartikan lebih," balas Kana.
"Termasuk kamu?" tembak Joddy, Kana mendecih, kenapa jadi dia juga disangkut-pautkan? Salah sendiri dulu tidak jujur kalau suka, kalau jujurkan bisa Kana pertimbangkan.
"Kak...mungkin benar apa yang dibilang Mbak Lian. Aku terlalu dekat sama kamu dan itu yang buat kamu gak bisa buka hati untuk wanita lain." Astaga Kana ingin tertawa, kepedean sekali ya kedengarannya, masa iya Joddy nge-jomlo gara-gara dia?
"Na, dengerin aku. " Joddy memaksa Kana menatapnya. " Aku tahu kapasitas aku sebagai teman kamu sama Adrian. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk masuk ke dalam hubungan kalian berdua. Kalian berdua sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. " Joddy memberi jeda, menunggu reaksi Kana.
"Urusan apa yang aku rasain, itu urusanku. Bukan urusan Lian ataupun orang lain." Aku masih sayang kamu atau bahkan cinta itu juga urusan hati aku Na. Kamu tidak perlu memikirkannya karena itu tanggung jawabku. Joddy meneruskan dalam hati.
"Jadi kalau kamu menjauhi aku itu malah akan membuktikan kalau apa yang dikatakan Lian itu benar."
"Enak saja! Aku bukan wanita murahan yang genit ya Kak!" sambar Kana gemas.
"Nah, makanya. Bersikaplah secara wajar."
Kana terdiam memikirkan semua yang Joddy katakan itu ada benarnya. Lagipula selama ini Joddy tidak menunjukkan gelagat aneh saat bersama dirinya.
"Tapi sampai sekarang kenapa Kakak belum nikah?" Kana tergelitik untuk bertanya.
Nunggu kamu janda! Joddy ingin menampar mukanya sendiri karena itu sama saja mendoakan Kana yang buruk.
"Karena belum ada yang pas di hati Kana, lagipula umurku baru 33 tahun untuk ukuran pria, masih muda." Jawaban yang sama setiap Joddy ditanya pertanyaan yang sama oleh orang lain.
"Kirain karena nunggu aku," kikik Kana, sungguh Kana hanya bercanda tapi tak menyangka Joddy menanggapinya serius.
__ADS_1
"Memang!"
**********