Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Red Alert


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 12 siang. Matahari tepat di atas kepala. Sinarnya menghantarkan panas yang terasa sampai ke tubun-ubun, di keadaan seperti ini kebanyakan orang akan berdiam diri di rumah dengan pendingin ruangan. Atau berteduh di bawah pohon dengan segelas minuman dingin.


Sayangnya, semua itu tidak berlaku untuk tiga gadis yang salah satunya sudah tidak gadis itu. Moli, Nea dan Kana sedang berpanas-panas ria di halte bus dekat kampus mereka menunggu Kanda yang sejak tadi selalu menjawab on the way Ketika ditanya keberadaannya.


Kanda yang sudah dibayar Adrian itu jelas harus bersedia mengantar dan mengawal kemanapun Kana pergi. Dan tujuan mereka kali ini adalah refreshing ke mall. Sengaja Kana memilih mall karena sudah lama sekali mereka bertiga tidak hangout menghabiskan waktu bersama. Tapi untuk kali ini Kana tidak meminta izin pada Adrian. Toh, tidak minta izin pun Adrian pasti mengizinkan asal ada Kanda bersamanya.


"Gak tahu diri banget sih tuh ... Tante Ikan Asin. Dasar bit*h!" Moli dan Nea menatap Kana terkejut saat mendengar cerita tentang Susan Moli terdengar sangat marah, bahkan dia ikut-ikutan Kana memanggil Susan dengan sebutan Tante Ikan Asin.


Nea tersenyum masam saat mendengar umpatan Moli itu. Untuk solidaritas melawan 'kekerasan' dan ketidak adilan, Moli adalah juaranya.


Di bangku SMA saja dulu dia mendapat julukan 'mafia wanita' karena keberaniannya pada siapa saja tidak pandang bulu. Guru BP yang terkenal killer saja tidak ingin mencari masalah dengan Moli, karena terlalu malas untuk meladeni argumen Moli yang selalu bisa mematahkan argumennya. Salah satu kelemahan Moli hanya satu, pria bernama Raihan. Tetangga depan rumah Moli yang usianya hanya selisih satu tahun dengan Moli. Pria yang Moli idam-idamkan sejak dia masih memakai diapers atau bisa jadi sejak mereka masih berbentuk zigot. Sayangnya, Raihan tidak pernah mengangap Moli lebih dari 'tetangga yang merepotkan'. Poor you, Moli!


"Wah, kamu harus waspada Na!" Moli menepuk pundak Kana yang asik memperhatikan kendaraan yang lalu lalang dengan mulut yang tak berhenti mengunyah keripik kentang.


Kana berhenti mengunyah menatap Moli heran. " Waspada? Kenapa?"


Moli mengambil keripik Kana lalu memakannya. " Tante Ikan Asin. Kamu harus berhati-hati karena dia bisa jadi ancaman untuk rumah tanggamu. Apalagi mereka sekantor, kan?"


"Tapi aku rasa Adrian tipe yang setia. Buktinya dia tetap sabar nunggu dapat malam pertama Kana?" Nea yang paling 'waras' di antara ketiganya mencoba berpikiran positif.


"Benar. Si Tante Ikan Asin itu kan kerja bareng Kak Ian jauh sebelum aku sama Kak Ian pacaran. " Walaupun terdengar ragu, tapi Kana tetap mencoba berpikir positif seperti Nea.


Moli menepuk pahanya sendiri karena gemas. "Justru itu! Seperti batu yang kena tetesan air, lama-lama akan terkikis juga. Nah, Adrian saat ini bisa jadi belum tertarik. Tapi Kita kan tidak tahu ke depannya."


"Benar!!" seru Kana, tangannya tanpa sadar mencengkram bungkus keripik sampai terdengar suara patahan-patahan keripik di dalamnya. Membuat kedua sahabatnya saling berpandangan lalu bergidik ngeri membayangkan keripik yang hancur adalah mereka.


" Makanya Na, kamu harus selalu pantau Adrian kalau perlu sesekali kamu datengin tuh Adrian ke kantornya," usul Moli.


"Enggak perlu segitunya juga kali! Itu berlebihan." Nea tak setuju dengan usul Moli.


Kana mengangguk setuju dengan Nea. " Benar Kata Nea. Kayaknya gak perlu deh sampai ke kantor Kak Ian."

__ADS_1


Moli berdecak kesal. " Aku cuma bilang sesekali. Kalau cuma sekali gak masalah."


"Ya, intinya sih Na. Kamu harus lebih hati-hati saja. Kalau denger dari cerita kamu kayaknya Si Tante yang kamu bilang kayak ikan asin itu tipe wanita ambisius. Buktinya, terang-terangan dia datang ke tempat kalian malah beli rumah pula di depan rumah kalian."


"Bukan cuma ambisius tapi juga nekat tuh pelakor. Gemes dah aku! Kalau saja Adrian suamiku, sudah aku jambak-jambak tuh cewek. Masa udah tahu punya istri, masih saja nekat deketin." Moli menambahi dengan tangan mengepal seolah-olah yang dibicarakan berada di depannya.


Kana mendesah pasrah lalu mengelus perutnya dengan sayang.


"Pengen deh ngomong kasar. Tapi kata mama, wanita hamil gak boleh ngomong kasar. Selain itu juga kalau benci sama orang katanya mirip sama yang dibenci. Ish, gimana dong kalau anak aku besok mirip Tante Ikan Asin??" Kana tiba-tiba berubah panik membayangkan anaknya lahir perempuan dan mirip Susan. Membayangkannya saja udah bikin bulu kuduk merinding


"Jangan lupa ajalah bilang 'amit-amit' kalau ketemu tuh Tante," balas Moli.


"Iya, dan jangan terlalu benci sama Susan," imbuh Nea. Kana manggut-manggut lalu tersenyum saat melihat mobil Kanda melaju pelan ke arah mereka.


"Tuh, sopir aku udah datang!" seru Kana menunjuk Kanda yang membuka jendela mobil.


"Sopir, ghundul-mu! Buruan masuk!" perintah Kanda membuat Kana terkikik geli lalu mengajak teman-temannya untuk masuk ke dalam mobil.


Mereka memesan steak, tentu saja Kanda yang akan mentraktirnya. Kapan lagi, kan? Mumpung Kanda sedang baik hati. Sambil menunggu pesanan, mereka berempat asik mengobrol kecuali Kanda yang lebih memilih tak banyak bicara dan duduk manis menatap ke arah Nea.


Kanda cukup lelah juga dia merasa, seorang body guard yang harus mengikuti langkah ketiga gadis itu mengawasi mereka satu persatu, dan benar kata orang wanita dan belanja kalau sudah bertemu membuat waktu terasa lebih lambat berjalan. Bayangkan saja, hanya untuk memilih satu baju mereka bisa menghabiskan nyaris 1 jam. Kalau bukan karena misi mendapatkan hati Nea mana mau Kanda mengikuti mereka belanja. Mending di ruman main PUBG.


Kana menatap kakaknya yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Nea yang terkesan cuek. Sepertinya Kanda benar-benar menyukai Nea terbukti sejak tadi Kanda selalu memperhatikan Nea lalu tersenyum salah tingkah waktu mata mereka bertemu.


Kanda juga tidak seusil dan sejahil biasanya. Bicaranya pun terkesan irit seperti sedang menjaga image. Padahal jika tidak ada Nea beuuhhh... usilnya setengah hidup.


Tuk...


Kana menendang kaki Kanda di bawah meja, isyarat agar dia tidak memperhatikan Nea terus menerus. Sayangnya, Kanda mengabaikan isyarat Kana dia terus saja melihat ke arah Nea yang asik membicarakan menu makanan yang tersedia di tempat makan mereka.


Tuk...

__ADS_1


Kana tak mau menyerah, lagi-lagi dia menendang kaki kakaknya menatap kesal karena merasa diabaikan. Kanda membalas tatapan Kana dengan mata melotot sebagai isyarat tanya kenapa dia menendang kakinya?


Kana menatap Nea sebentar lalu kembali menatap Kanda dan menggeleng pelan. Kanda mendecih , melotot sebal ke arah Kana agar berhenti menganggunya menikmati kecantikan Nea.


Brakkk...!


Semua orang yang duduk di meja bersama Kana tersentak kaget lalu melihat ke arah Moli si pelaku pemukul meja dengan keras.


"Kenapa sih? Bikin kaget saja!" Nea memegang dadanya menenangkan debar jantungnya.


"Iya nih Moli bikin kaget saja. Untung aku gak shock!" balas Kana.


"Red alert!" sery Moli tiba-tiba berdiri dari duduknya dengan buru- buru sampai kursi yang dia duduki nyaris terjungkal, matanya membulat saat menatap ke arah luar food court .


"Ngapain sih nih bocah?" Kanda ikut-ikutan kesal.


"Yang namanya Susan tinggi, putih dan rambut panjang?" tanya Moli matanya terpaku ke arah luar.


" Ih, Moli kok tau?" tanya Kana.


Moli menatap Kana prihatin. " Tuh, lagi belanja tas di sebelah sama Adrian." Moli menunjuk dengan arah matanya. Refleks ketiga orang mengarahkan pandangannya ke luar food court.


Kana menutup mulutnya terkejut saat dia melihat seorang wanita dan pria sedang berbelanja di toko tas dengan merk terkenal yang terletak tepat di depan mereka makan.


"Ya Allah, Kak Ian." Kana tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Astagfirullah!" seru Nea tertahan


"Cari perkara emang itu bocah!" Kanda menepuk jidatnya.


Firasatnya mengatakan sebentar lagi badai Catrina akan tiba.

__ADS_1


**********


__ADS_2