Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Iya, aku pulang


__ADS_3

Kana meletakkan hasil masakannya di depan pria yang usianya dua tahun lebih muda darinya itu."This is it Capcay goreng ala Kana. Dimakan ya Fer."


Si Pria Muda bernama Ferddy itu menatap takjub ke arah hasil masakan Kana.


"Akhirnya, seminggu numpang di sini ada gunanya juga kamu Kak!" sindir Ferddy menyendok capcay goreng buatan Kana. Hmm, lumayan. Enak juga!


Kana cemberut lalu duduk di kursi kosong depan Ferddy. "Jadi menurut kamu selama ini aku gak guna?" Kana tak terima.


Pria bermata minus itu terkekeh geli. "Ya habisnya, kemarin-kemarin cuma bengong-nangis-bengong-nangis gitu aja terus. Untung negara api belum sempat menyerang udah sadar kamu, Kak. Dapat hidayah dari mana?" Ferddy mulai mengambil nasi dan menyendok lauk banyak-banyak mumpung kakaknya sedang kerja atau malah pacaran entahlah Ferddy tidak akan ambil pusing, yang penting dia makan enak.


Kana mendecih tangannya mengambil pisang untuk dia makan.


Iya, juga sih. Sejak dia kabur dan tinggal di sini dia cuma diam dan menangis. Makan, minum dan mandi pun harus diingatkan Ferddy. Adik pemilik rumah yang dengan senang hati menjaganya. Selain tentu saja karena dibayar oleh sang Kakak.d


Hidayah?


Bukan dapat hidayah, tapi dapat email dari Kanda yang isinya menjelaskan tentang kejadian tempo hari. Katanya Adrian hanya membantu Si Ikan Asin membetulkan kran air kamar mandi, dia sengaja tidak membangunkan Kana karena Kana terlihat kelelahan.


Lalu bajunya kelihatan sedikit basah karena kena cipratan air. Dan wajahnya terlihat lega karena dia berhasil membetulkan krannya. Kejadian itu Susan gunakan untuk membuatnya cemburu pada Adrian. Jadi, dia sengaja mengirimkan pesan seperti itu pada Kana untuk memancingnya datang ke rumah dan melihat semuanya. Lalu salah paham. Jika dirunut memang masuk akal jika semua itu rekayasa. Tapi apa benar mereka tidak ada hubungan?


"Ah, pusing!" Tanpa sadar Kana menepuk-nepuk jidatnya sendiri sebagai ekspresi jengah dengan apa yang terjadi.


"Kamu kenapa Kak?" tanya ferddy heran. Kana cepat-cepat menggeleng lalu mengalihkan perhatian.


"Oiya Kak, bukan apa-apa nih- kamu gak kangen sama suami?" tanya Ferddy sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kangen." Tanpa pikir panjang Kana menjawab lugas. Kana jadi ingat, beberapa hari lalu ketika pagi-pagi dia kabur dari rumah karena terlalu shock dengan apa yang dia lihat, dia tidak berkata-kata apapun bahkan dia tidak membawa apa-apa kecuali benda yang menempel di tubuhnya saat itu. Ya, bayangkan sajalah melihat suami keluar dari kamar wanita lain dalam keadaan kusut, istri mana yang tidak kalang kabut melihatnya?


"Terus gak mau minta dijemput?"


Kana tak langsung menjawab. Minta dijemput? Dia saja belum mendengar apapun dari Adrian. Tapi gimana Adrian mau menjelaskan kalau dia saja kabur dari rumah?


"Kamu gak suka aku tinggal di sini?" Kana menatap ferddy dengan tatapan mata anak kucing. Ferddy terpaku sesaat, dia menghentikan kunyahannya dan tangannya yang sejak tadi asik menyendok makanan terhenti saat dia melihat tatapan Kana yang bening dan polos. Benar kata kakaknya, gadis ini berbahaya. Hanya dengan tatapan puppy eyes-nya saja bisa membuat jantung berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Kampret! Freddy buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah makanannya. Ingat Ferd, kamu sudah punya pacar. Gadis ini sudah punya suami dan dia cuma bagian masa lalu dari kakak kamu.


"Bu-bukannya gitu. Ya, kali aja kan itu anaknya yang di dalam perut kangen gitu." Ferddy bernapas lega, akhirnya dia punya jawaban yang tepat. Kana menatap perutnya yang mulai membuncit lalu mengelusnya perlahan.


"Emang udah bisa kangen bapaknya?" tanya Kana polos. Ferddy mengangguk lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bisa gawat kalau dia terus menatap mata Kana.


"Namanya juga ikatan darah, Kak."


Kana manggut-manggut. "Nanti aku tanya pendapat kakak kamu dulu deh!"


"Nanya apa?" Ini bukan Ferddy yang menjawab tapi seorang pria yang lebih tua dari Ferddy alias Kakak Ferddy, yang baru pulang dari kantor.


Ferddy menatap Kakak lelakinya. "Kalian ngobrol deh, aku udah selesai makan mau balik ke kamar." Ferddy mengambil piring kotor bekas dia makan lalu membawanya ke dapur.


"Dia kenapa?" tanya Pria yang baru datang itu. Dia heran kenapa adiknya itu seperti salah tingkah.


Kana menggeleng tidak tahu." Gak tahu tuh Kak. Habis makan makananku dia jadi aneh, apa masakkanku gak enak ya?" Kana mengambil sendok dan piring bersih lalu mengambil capcay buatannya sendiri.


"Enak kok." Kana memuji masakannya sendiri.


Kana mengangguk lalu mengambil piring bersih dan mengambilkan pria itu makanan."Nih, Kak. Cobain deh pasti enak," kata Kana menyodorkan makanan pada pria itu.


"Makasih." Pria tampan itu tersenyum lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Enak. Kamu udah pinter masak. Dulu bedain rendang sama lengkuas aja gak bisa."


"Hehe, itu kan dulu. Kata mama kalau udah nikah harus pinter nyenengin suami salah satunya masak. Jadinya aku belajar deh masak dari mama sama mama mertua."


"Wah, seneng dong suami kamu dimasakin tiap hari."


Kana menunduk. "Iya, sebelum kejadian kemarin," gumam Kana lirih.


"Jadi gimana?" tanya pria itu menatap Kana hati-hati. Seperti tahu arah pertanyaan pria itu, Kana mengambil ponselnya membuka sebuah aplikasi lalu menyodorkannya pada pria berhidung mancung itu.


Pria itu mengernyit lalu mengambil ponsel Kana dan membacanya.

__ADS_1


"Email dari kakakku. Menurutmu gimana Kak?"


"Kamu udah yakin belum?"


"Yakin untuk?"


"Yah, yakin mau maafin suami kamu. Di situ kan sudah dijelasin semuanya, kalau itu memang di sengaja sama wanita itu agar kamu cemburu."


"Iya, tapikan aku gak denger langsung dari Kak Ian. Bisa jadi itu bohong, biar aku pulang. Kak Ian sama temen-temennya kan gitu. Suka kongkalikong!" tuduh Kana membuat pria di depannya gelagapan.


"Gimana suami kamu mau jelasin. Sekarang aja kamu masih di sini?"


Kana termenung sejenak. "Oh, iya ya," cengir Kana lalu terkikik geli.


"Jadi gimana?"


"Gimana apanya?" Kana balik nanya.


"Kamu mau hubungi suami kamu minta dijemput gak?"


Kana terdiam lalu menatap pria di depannya. " Jadi Kakak juga gak suka aku tinggal di sini?" Persis, sama yang ditanyakan Ferddy tadi.


"Bukan gitu Na, maksudnya kan kamu udah hampir seminggu di sini. Suami kamu pusing nyariin." Selain itu lihat kamu di rumah tiap hari bisa bikin sakit jantung. Bisa-bisa aku rebut kamu dari suami kamu.


"Tapi aku masih kesel."


"Kamu dengerin dulu penjelasan dia. Kamu kan lagi hamil jangan jauh-jauh dari keluarga. Lagipula Na, pergi tanpa izin suami itu dosa, bisa masuk neraka."


Kana terkesiap mendengar apa yang dikatakan pria di depannya itu. " Masa sih Kak?"


Si Pria mengangguk membuat Kana bergidik ngeri membayangkan dirinya masuk neraka, tubuhnya dilalap api."Iya, aku pulang." Pada akhirnya Kana menjawab dengan lirih. Pria di depannya tersenyum lega. Akhirnya dia berhasil membujuk Kana.


"Tapi Kak Joddy anterin aku pulang ya."

__ADS_1


Senyum lega Joddy seketika hilang mendengar permintaan Kana.


********


__ADS_2