Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Pertarungan sedarah


__ADS_3

Haiii terimakasih yang sudah menunggu kelanjutan cerita ini. Please, kalau tidak suka, atau ngerasa bosen dan menganggap cerita ini tidak jelas jangan dibaca. Buat yang selalu positif berkomentar, aku cinta kalian, dan cerita ini tinggal beberapa part lagi. happy reading!!


***********


"Randu!!! Arghhh....!!" Randi seketika tumbang dengan kaki yang berdarah-darah. Peluru yang menembus kulitnya itu berasal dari senjata api yang ada di tangan Randu, adiknya sendiri. Randu menatap nanar ke arah Randi dan pistol di tangannya bergantian. Tangannya gemetaran keringat dingin membasahi keningnya dengan wajahnya terlihat pias.


"A-apa yang kamu lakukan? Bodoh!" seru Randi menahan sakit di kakinya. Randu menunduk dengan pistol masih berada di tangannya.


"Maafkan aku, Mas." Suara lirih permintaan maaf Randu terdengar menyayat hati di telinga Kana, karena Kana tahu jalan cerita mereka berdua versi Randu.


Kana menatap tak percaya pada Randi, pertanyaan Adrian menanyakan keadaannya pun Kana acuhkan. Kana masih bertanya-tanya dalam benaknya. Kenapa Randu sampai tega menembak kakaknya sendiri? Padahal dia bilang sangat menyayanginya.


"Kenapa kamu lakukan ini? Aku Kakakmu!!" Randi menahan rasa sakit yang ada di kakinya, tapi amarahnya masih terlihat menggebu-gebu.


Randu mengangkat kepalanya lalu menatap Sang Kakak yang wajahnya mulai pucat karna menahan rasa sakit. " Kakak?" Randu tertawa hambar, lalu berjalan mendekati kakaknya sambil memutar-mutar revolver yang sejak tadi ada di tangannya. Wajah yang semula sedih berubah menjadi wajah penuh seringai. Wajah yang terlihat polos menjadi wajah penuh dendam dan itu semua terbaca oleh Kana.


"Kakak macam apa yang tega menyakiti adiknya secara psikis? Yang selalu saja menganggap adiknya sendiri sampah yang menjijikan? Itu Kakak yang kamu maksud? Hah!" Randu menendang kaki meja sebagai ungkapan kemarahannya.


Randi terlihat terkejut dengan sikap Randu yang tiba-tiba berubah menjadi kasar, padahal dia tahu betul Randu adalah anak yang lembut dan baik hati bahkan setelah dia dan Susan menyakiti Randu berkali-kali tapi adik bungsunya itu tetap baik padanya.


Randu tersenyum lalu berjongkok ke arah Randi yang sejak tadi memengang kakinya. "Kakakku yang baik, bagaimana rasanya ditikam dari belakang? Sakit bukan?" Randu memukul-mukul pelan pipi Randi dengan ujung revovel-nya. Randi menatap Randu tajam. Dia makin membenci adiknya ini. Anak yang lahir dari rahim wanita yang dia benci.


"Aku masih ingat dengan jelas sekali waktu kamu dan Mbak Susan mengurungku di gudang gelap tanpa memberiku makan. Padahal kamu tahu umurku berapa? 10 tahun!" Randu seperti meluapkan kemarahan yang dia pendam selama ini. Memberi sajian drama keluarga kepada ke-empat orang yang berada satu ruangan dengannya.


"Dari dulu kalian tidak pernah menyukaiku, bahkan ketika aku sudah melakukan banyak hal buat kalian tapi tetap saja kalian tidak pernah menerimaku dan itu membuatku muak. Muak karena kalian memperlakukanku seperti anjing peliharaan kalian!" teriak Randu histeris. Melihat adiknya yang sejak tadi meluapkan kemarahan pada dirinya itu, Randi tersenyum sinis tidak ada rasa takut di matanya, walaupun beberapa detik yang lalu dia sempat merasa harga dirinya terluka, namun sekarang kepercayaan diri Randi muncul lagi.


"Anak anjing mulai berani." Randi tertawa terbahak-bahak. "Asal kamu tahu saja dari dulu sampai sekarang kamu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Damara." Randi berkata dengan tenang walaupun sebenarnya terlihat tangannya gemetar.


"Gue ngeri lihat drama keluarga ini. Mending kita pulang yuk?" bisik Kanda pada Joddy yang diam tak bergeming tetap memperhatikan kedua saudara yang masih perang d


saudara. Kanda memutar bola mata malas kenapa kedua sahabatnya tidak mau pergi, apalagi tadi Kanda sempat mengira kalau Adrian yang tertembak karena dengan dramatis iparnya itu memengang dada.

__ADS_1


"Anak anjing sampai kapanpun akan tetap jadi anak anjing. Jadi, lebih baik tetap setia saja pada tuanmu karena kamu tidak punya pilihan selain itu." Randi tertawa di akhir kalimatnya.


Pletak!!


Randu memukul pelipis kakaknya dengan gagang revolver. Darah segar menetes dari pelipis Randi namun bukannya kesakitan, Randi malah tertawa.


"Hanya segini saja yang bisa kamu lakukan anak anjing?" Randi tersenyum mengejek, dia sengaja menyerang Randu secara mental dan sepertinya berhasil. Randu terpancing amarahnya. Tangannya yang bebas mengepal, rahangnya mengeras tatapan matanya menghunus ke arah Randi.


Tiba-tiba Randu mengarahkan senjata apinya tepat ke kening Randi yang langsung terkesiap tak percaya. Randu tersenyum dengan kepala dimiringkan. "Jangan pernah menantangku." Randu siap menarik pelatuk senjata apinya.


"Jangan Randu!" teriak Kana tanpa sadar, lalu berjalan mendekati Randu berdiri satu meter di belakangnya, mengabaikan Adrian yang berusaha mencegah. "Kamu orang baik Ndu, jangan kamu kotori tangan kamu dengan membunuhnya!"


Randu terdiam tak bergeming tapi jemarinya mengendur dan matanya tetap lurus ke arah Randi yang tersenyum mengejek. " Kenapa berhenti? Takut?" Randi masih saja berusaha menyerang Randu secara psikis.


"Aku- tidak pernah takut, lagipula ada yang bilang padaku kalau aku akan baik-baik saja tanpa kamu dan Susan," balas Randu tersenyum, ekor matanya melirik Kana yang berdiri tak percaya, karena Randu menggunakan kata-katanya untuk menyerang balik Randi.


"Kalau begitu lakukan!" tantang Randi tak gentar sama sekali. Randu terdiam lalu bersiap menarik pelatuknya walapun


jarinya sedikit gemetar.


"Na, menjauh." Adrian merangkul bahu Kana dan menariknya menjauh dari Randu.


"Lakukan sekarang, tunjukkan kalau kamu bukan seekor anak anjing yang lucu dan menggemaskan tapi sudah berubah menjadi anak singa!" Randi tersenyum miring.


"Jangan dengarkan dia Randu! Kamu orang baik jangan lakukan itu! Biarkan polisi yang menghukumnya." Kana tak menyerah untuk membuat Randu mengurungkan niat untuk membunuh kakaknya sendiri dan pertarungan sedarah ini harus segera berakhir.


"Lakukan! Jangan jadi seorang pecundang!"


"Jangan!"


Suara Kana dan Randi yang bersahutan membuat konsentrasi Randu terpecah dan kesempatan saat Randu lengah itu Randi gunakan untuk merebut senjata api yang sejak tadi ujung senjata itu menempel di keningnya.

__ADS_1


Randu terkejut saat Randi mendorong tubuhnya ke belakang, untuk ukuran orang yang sedang terluka energi yang dimiliki Randi cukup kuat dan itu membuat orang-orang yang berada


di ruangan itu menatapnya tak percaya.


"Anak anjing tetaplah anak anjing!" seru Randi lalu ganti mengarahkan senjata api ke arah Randu yang membelalak tak percaya.


"Ian, bawa Kana keluar dari sini," bisik Joddy memberi isyarat untuk keluar dari rumah itu. "Kanda sudah menghubungi polisi."


Adrian mengangguk lalu menarik tangan Kana mengajaknya keluar dari rumah itu, tapi entah bagaimana bisa Randi yang berjarak cukup jauh dari Kana mampu berlari dengan satu kaki terluka lalu menarik tangan Kana dan mengalungkan tangannya ke leher Kana. Adrian yang tak siap terkejut dan tak percaya Kana bisa berpindah tempat secepat itu.


"Jangan mendekat atau wanita ini mati," ancam Randi menempelkan ujung pistol ke pelipis Kana saat melihat hampir semua orang di ruangan itu melakukan pergerakkan.


"Jangan!" seru Adrian, dia tidak boleh gegabah karena nyawa Kana bisa terancam kapan saja. Sial! Kenapa Adrian bisa ceroboh.


"Kita selesaikan yang tadi. Talak Kana atau aku bunuh saja dia," ancam Randi tak main-main.


Adrian menatap Kana yang menggeleng, membuat Adrian binggung harus bagaimana. Haruskah dia benar- benar menalak Kana? Tidak! Bagi Adrian, Kana adalah belahan hatinya, sampai kapanpun dia tidak akan meninggalkannya. Tapi kalau dia tidak menalak Kana, nyawa Kana yang jadi taruhannya.


"Lakukan!!!" bentak Randi tak sabar.


"Jangan!"


"Aku benar-benar akan menembak wanita ini kalau kamu tidak melakukan apa yang aku minta." Randi bersiap menarik pelatuknya kalau saja Kana tidak mengigit tangannya.


"Arghhh!" Randi merasa kesakitan ditambah Kana menginjak kakinya yang tertembak, merasa Randi lengah Kana melepas tangan Randi yang sejak tadi mengalung di lehernya lalu berlari ke arah Adrian sayangnya, Randi yang cepat sadar itu langsung mengarahkan pistolnya ke arah Kana lalu menarik pelatuk senjata apinya dan....


Dorr!!


Seperti dejavu dengan suara tembakan dan darah Kana terkesiap saat Adrian memeluknya dan Joddy yang berlari menerjang Randi.memukulnya bertubi-tubi.


"Adrian?!"seru Kanda.

__ADS_1


Kana tak percaya dengan apa yang terjadi tangannya berlumuran darah. " Kak?" Kana menatap nanar ke arah suaminya yang tersenyum dengan pandangan meredup.


*******************


__ADS_2