
warning!!!
please banget part ini memgandung konten dewasa, yang di bawah 18 tahun harap mundur ke belakang heheh happy reading!
************
Kana tersenyum saat menemukan suaminya sedang berdiri bersandar pada dinding balkon. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Orangtua dan teman-teman Adrian juga Kana sudah berpamitan pulang. Tinggallah Kana, Adrian dan Mbok Darmi yang sudah beristirahat di kamarnya.
"Kak, ngapain di sini?" Kana menghampiri Adrian yang sedang berada di balkon menikmati semilir angin malam yang berhembus lembut. Adrian tersenyum lalu memberi isyarat istrinya untuk mendekat.
"Udah malam Kak. Di luar dingin," kata Kana setelah berdiri menjajari suaminya. Adrian tersenyum, tangannya menarik pinggang Kana mendekat sampai Kana berdiri di depannya.
"Gak apa-apa dingin. Kan, ada kamu yang ngangetin," bisik Adrian lalu mengecup bahu Kana yang terbuka. "Kamu sendiri gak dingin pakai baju ini?" Adrian menelusupkan tangannya ke perut Kana dari bawah baju tidur Kana yang tipis, mengelus kulit mulus Kana. Kana hanya tersenyum melingkari tangan suaminya yang memeluk perutnya erat.
"Enggak dingin, di dalam panas. Ac-nya mati," keluh Kana, sudah berkali-kali Kana meminta Adrian untuk segera memanggil tukang servis AC karena AC di kamarnya mati, sebab itu Kana memilih tidur di kamar tamu dengan mamanya yang malam ini sudah pulang ke rumahnya sendiri.
"Iya, besok aku minta tukang AC-nya kemari."
"Beneran ya! Jangan lupa terus." Kana merengut karena akhir-akhir ini Adrian jadi sering lupa pada hal-hal kecil mungkin karena dia terlalu banyak pekerjaan di kantor. Adrian memang sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat karena dia ada rencana cuti dan mengajak Kana liburan, sudah lama sekali mereka tidak bepergian bersama liburan ke luar kota, karena kesibukan Adrian dan kejadian yang menimpa Kana menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran mereka. Sehingga mereka berdua benar-benar butuh waktu untuk refreshing.
"Kak, makasih ya."
Adrian mengeratkan pelukannya, menempelkan dagunya di bahu Kana saat mendengar suara lembut Kana yang lirih. " Untuk?"
"Untuk semuanya. Untuk selalu ada buat aku dan untuk rumah ini. Maaf ya udah nguras tabungan kamu." Kana terkikik geli saat mengatakannya.
"Kamu gak perlu minta maaf, udah kewajibanku untuk membuat kamu bahagia, Na. Aku yang seharusnya berterimakasih sama kamu karena sudah hadir di hidup aku." Adrian membalikkan badan Kana sampai menghadapnya, tangan kanannya menangkup satu sisi wajah Kana.
__ADS_1
"Semenjak kenal kamu hidup aku yang semula monoton jadi lebih berwarna. Kepolosan kamu, kelembutan kamu semua yang ada di diri kamu mengubah segalanya Na. Dan aku sangat bersyukur sekali bisa punya istri kayak kamu. Terimakasih ya." Adrian menarik dagu Kana lalu mencium keningnya lembut. Kana memejamkan mata merasakan lembutnya bibir Adrian.menyapu keningnya.
Mereka bertatapan saat Adrian melepas ciumannya meninggalkan rasa hangat di kening Kana
yang tersenyum lalu memeluk Adrian, mendekapnya erat mencium aroma after shave yang menguar dari tubuh Adrian.
"Aku juga bersyukur banget nikah sama kamu Kak. Udah ganteng, baik, karir cemerlang kurang apa coba? Yah, walaupun udah om-om sih!" Kana terkikik geli di akhir kalimat, membuat Adrian merengut dibuatnya.
"Om-om gini juga banyak yang mau, kok!" balas Adrian bahkan sampai ada yang terobsesi padanya, enak saja!Dia masih muda baru 34 tahun. Wajah juga ganteng. Masa dibilang om-om?Ya, walaupun memang sudah masuk kategori om-om sih!
Kana memdecih lalu ingatannya beralih ke Susan. Wanita yang terobsesi pada suaminya sampai tega melakukan berbagai cara agar Adrian mau menjadi kekasihnya. Beruntung Adrian tidak tertarik pada wanita itu.
Kana menghela napas kasar, lalu mengeleng kuat menghapus semua ingatan yang berkaitan dengan Susan. " Kana juga banyak yang suka kok di kampus. Walaupun mereka tahu Kana udah punya suami masih aja ada yang kirim salam." Kana tak mau kalah membuat Adrian kesal karena apa yang dikatakan Kana benar. Banyak pria yang tertarik pada istrinya. Siapa juga yang tidak tertarik pada gadis secantik Kana. Sahabatnya sendiri saja rela bertaruh nyawa demi istrinya ini. Siapa lagi kalau bukan Joddy. Mengingatnya bikin Adrian cemburu saja.
"Termasuk Joddy kan?" dengus Adrian, jelas sekali ada nada tidak suka saat dia bertanya. Kana mengurai pelukannya hanya untuk menatap wajah Adrian yang terlihat kesal itu.
Adrian tak langsung menjawab, tapi dari raut wajahnya Kana tahu suaminya itu sedang kesal atau selalu kesal jika nama Joddy disebut. "Ya ampun Kak! Aku sama Kak Joddy itu gak punya perasaan apa-apa ya dulu sempet sih Kana naksir waktu SMA-"
Wajah Adrian terlihat kaget saat mendengar penuturan Kana. Membuat Kana buru-buru meralat ucapannya. " Dulu, tapi sekarang udah biasa saja. Kak Joddy cuma anggap Kana adik begitu pula sebaliknya. Mana mungkin Kak Joddy naksir Kana selera dia kan wanita dewasa."
Adrian meringis dalam hati. Tidak tahu saja Kana, kalau sebenarnya Joddy naksir berat padanya bahkan sampai sekarang susah move on. Tapi syukurlah Kana tidak menyadari itu, dan menyangka Joddy hanya menganggapnya adik. Padahal lebih dari itu.
"Tapi kamu kelihatan dekat sekali dengannya." Nurut pula! Siapa yang gak cemburu?!
"Ya wajar Kak. Kak Joddy udah kayak kakak keduaku. Dari dulu kalau aku berantem sama Bang Kanda. Kak Joddy selalu jadi penengah dia selalu menasehati aku sama Bang Kanda."
"Tapi aku gak suka kalian terlalu dekat. Aku cemburu!" Adrian cemberut seperti anak kecil yang tidak kebagian permen membuat Kana gemas dan ingin mencubit pipinya, tapi takut dibilang chessy.
__ADS_1
Kana tersenyum lalu mengenggam tangan Adrian yang memeluk pinggangnya. "Ya udah, Kana janji bakal membatasi diri. Lagian ngapain cemburu sih Kak? Jelas-jelas aku udah nikah sama Kakak. Itu berarti aku udah milik Kakak."
Adrian tersenyum, udah pintar merayu rupanya istri kecilnya ini.
"Benar juga. Kamu kan sudah jadi milikku. SEUTUHNYA."Adrian tersenyum penuh arti. Tangannya yang bebas menangkup satu sisi wajah Kana. Menyelipkan anak rambut Kana yang menutupi keningnya.
Adrian tersenyum lalu mencium bibir Kana bertubi-tubi, hanya berupa kecupan ringan bukan ciuman yang menuntut. Adrian ingin memastikan lebih dahulu apakah Kana sudah siap jika nantinya dia melakukan lebih dari sekedar ciuman.
"Kangen Na," bisik Adrian lalu mengecup bibir Kana lagi.
"Setiap hari yang dipikiranku cuma kamu." Lagi Adrian mengecup bibir Kana.
Kecupan-kecupan kecil Adrian membuat wajah Kana terasa panas, ada gelenyar aneh yang mulai dia rasakan. Wajah Kana menjadi merah semerah tomat. Dia menunduk malu saat Adrian menatapnya intens membuat Adrian gemas dan ingin melakukan lebih.
Kana menjerit kecil saat tangan Adrian mendarat di pinggangnya lalu mengangkat tubuh mungilnya, refleks Kana melingkarkan kakinya ke pinggang Adrian sebagai bentuk pertahanan agar dia tidak jatuh.
Keduanya saling bertatapan mesra. Tatapan mereka saling terkunci memberikan sinyal-sinyal penuh cinta. Adrian tersenyum lalu mengecup sudut bibir Kana dan berbisik mesra." Udah boleh belum sih, Na?" Sungguh, Adrian merasakan rindu yang teramat dalam. Rindu melihat wajah Kana yang berkeringat di bawahnya, rindu desahan dan jeritan Kana saat mereka sama-sama mencapai puncak. Astaga, kenapa Adrian jadi liar seperti ini?
"Sayang?"panggil Adrian karena Kana tidak langsung menjawab, diangkatnya dagu Kana agar tatapan mereka sejajar.
Kana menatap Adrian lalu mengangguk pelan. " Udah boleh, Kak," jawab Kana lirih tapi begitu jelas di telinga Adrian membuat Adrian semakin bersemangat.
"Jadi,boleh ya, Na?" Adrian menyatukan kening mereka memberi waktu untuk Kana menghirup napas dalam-dalam.
Kana menatap mata Adrian yang sudah menggelap menahan menahan sesuatu yang minta untuk segera dituntaskan. "Bo-" Belum selesai menjawab Adrian sudah mencium bibir Kana dengan satu ciuman yang panjang. Refleks membuat Kana merangkul leher Adrian karena takut terjatuh.
Adrian tersenyum lembut saat melakukan kewajibannya sebagai suami. Hingga saat penyatuan itu terjadi yang terdengar hanyalah desahan mereka yang saling bersahutan.
__ADS_1
***********