Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Menangislah


__ADS_3

"Maaf."


Sudah puluhan kali kata itu keluar dari bibir pucat Kana. Tidak ada kata lain selain satu kata itu. Selain itu, Kana hanya diam. Tatapan matanya kosong dia tidak menangis ataupun berteriak histeris. Keadaannya itu membuat orang-orang di sampingnya khawatir.


Mereka tahu, Kana pasti merasakan sakit yang luar biasa pasca melahirkan. Namun, dia hanya diam tidak merintih ataupun mengeluh sakit. Ya, janin yang ada di perut Kana terpaksa dilahirkan karena Kana mengalami pendarahan hebat akibat tendangan keras yang dia alami. Janin berkelamin perempuan itu tidak bisa diselamatkan.


"Sayang menangislah, jangan diam seperti ini." Mama Kana memeluk anaknya yang setengah berbaring dengan tatapan kosong itu. Mama Kana tidak kuasa membendung tangisannya. Hatinya hancur melihat putri kesayangan terpukul karena kehilangan janin.


Tidak ada sahutan dari Kana. Tatapannya lurus ke depan. Mata yang biasanya berbinar itu kini meredup. Tidak ada senyum ceria di wajah cantik Kana. Membuat hati siapa saja yang melihatnya akan sakit.


"Sayang, bicaralah sesuatu!" Wanita paruh baya itu tak menyerah berusaha membuat putrinya bicara atau paling tidak bereaksi terhadap apa yang sudah terjadi padanya. "Na!"


"Sudah, biarkan Kana istirahat." Gufron menarik lembut istrinya menjauh dari Sang Putri. Mama Kana mengusap air matanya lalu mengikuti langkah suaminya keluar dari ruang rawat Kana meninggalkan Kana dan Adrian yang setia mendampingi istrinya.


Adrian yang sedari tadi tidak meninggalkan Kana itu berusaha tidak menangis. Dia tidak tega melihat keadaan istrinya. Kana terlalu shock dia sedikit terguncang dengan apa yang menimpanya. Mereka harus kehilangan bayi yang mereka tunggu-tunggu tanpa sempat mendengar tangisannya.


"Na, mau minum atau makan sesuatu?" Adrian memcoba menarik perhatian Kana. Mengenggam jemari Kana erat menyalurkan energinya. Kana tak bergeming.


"Na, bicaralah sesuatu Sayang. Jangan diam saja. Anak kita akan sedih melihat ibunya seperti ini." Adrian menangkup wajah Kana agar Kana menatapnya. Sayangnya, tatapan mata Kana masih sama. Kosong.


"Maaf." Suara lirih Kana terdengar memilukan, Adrian mengigit lidahnya yang kelu. Diapun sama seperti Kana.


Hancur.

__ADS_1


Adrian juga ingin menangis atau berteriak, hatinya sakit menerima kenyataan kalau dia harus kehilangan calon bayinya dan melihat istrinya seperti ini. Tapi dia harus kuat tidak boleh memperlihatkan kesedihannya, dia harus tegar demi Kana.


Adrian mengecup pipi Kana lalu memeluknya erat. "Ini bukan salah kamu Na. Ini salahku," bisik Adrian di telinga Kana mengusap punggung Kana perlahan. "Jadi, marahlah padaku pukul aku jika perlu sumpah serapahi aku. Jangan diam saja seperti ini." Adrian masih berusaha membuat Kana bereaksi.


Sayangnya, masih sama. Kana masih diam dengan tatapan kosong membuat hati Adrian sakit. Dia ingin Kana-nya kembali. Adrian berjanji akan menuruti apapun kemauan Kana. Setelah ini dia akan menjaga Kana lebih baik. Dia tidak akan pernah menyakiti apalagi meninggalkan Kana, asal Kana kembali seperti Kana yang dia kenal.


"Ian."


Adrian menatap ke arah suara yang memanggilnya. Dilihatnya Kanda dan Joddy menghampiri dengan buket bunga dan sekeranjang buah di tangan masing-masing.


"Gimana?" Kanda meletakan keranjang buah di atas nakas ranjang rumah sakit, matanya menatap ke arah Kana yang diam saja dengan wajah pucat. Mendadak hati Kanda terasa diiris melihat keadaan adiknya itu. Gadis kecilnya yang selalu ceria dan bermulut pedas tiap kali dia menjahilinya itu kini hanya diam saja tak ubahnya seperti patung es, dingin. Keceriaan hilang darinya.


"Masih sama." Adrian melepas pelukkannya, menatap sayang ke arah istrinya.


" Dia terlalu terguncang, dia butuh waktu," sahut Kanda lalu menatap Adrian.


"Apa harus gue?" tanya Adrian dengan suara gemetar.


"Iya, lo kan bapaknya." Kanda menepuk bahu Adrian. "Lo pasti kuat."


Adrian menghela napas berat lalu menatap Kana. "Na, Aku akan mengantar anak kita dulu ya. Doakan dia dari sini." Adrian mengelus puncak kepala Kana lalu mencium keningnya. Sayangnya, tidak ada respon dari Kana.


"Kalian pergilah, gue yang akan jaga dia." Joddy menatap Kana prihatin. Adrian sebenarnya berat meninggalkan Kana dan Joddy hanya berdua saja. Tapi dia tidak ada jalan lain, kedua orangtua Adrian sedang keluar kota, orangtua Kana harus ikut mengantar kepemakaman. Adrian harus mengesampingkan rasa cemburunya, ini bukan saat yang tepat untuk cemburu.

__ADS_1


Siapa tahu dengan Joddy, Kana mau bicara.


"Gue titip Kana. Tolong ajak dia bicara. Siapa tahu sama lo dia mau bicara." Adrian menatap Joddy penuh harap yang ditanggapi Joddy dengan senyum tipis.


Joddy menghela napas lalu duduk di samping ranjang Kana. Diletakkannya buket bunga lili kesukaan Kana di nakas bersebelahan dengan keranjang buah yang tadi Kanda bawa


.


"Bunga Lily kesukaan kamu Dek." Joddy mulai mengajak Kana bicara. Dia tidak peduli sekalipun Kana tak menatap ke arahnya.


"Dulu kamu bilang, bunga yang paling cantik buat kamu itu Lyli putih. Aku jadi tahu alasannya. Lily putih itu ternyata mempunyai nilai filosofi. Tulus dan penuh cinta, kayak kamu ya? Jangan tanya aku tahu dari mana, googling saja. Mudah kan?" oceh Joddy, sayangnya tidak ada reaksi apapun dari Kana. Joddy menarik napas dalam-dalam lalu meraih jemari Kana dan mengenggamnya erat.


"Aku tahu kamu terluka. Kamu hancur dengan apa yang kamu alami, Na. Tapi diam seperti ini malah akan membuat luka kamu semakin mengangga." Joddy mengusap pipi Kana dengan satu tangannya yang bebas. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri Kana. Ini bukan salah kamu dan tidak ada yang menyalahkanmu karena kamu sudah menjaga anak kamu dengan baik. Kamu ibu yang baik." Joddy tersenyum saat Kana memberikan reaksi dengan menggerakkan jemarinya.


"Anak kamu sudah bahagia Na. Dia adalah malaikat kecil yang akan menarikmu ke pintu surga nantinya. Anak kamu akan bersedih lihat ibunya seperti ini. Jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri dan teruskan hidup. Adrian butuh kamu. Semua orang butuh kamu." Aku juga butuh senyum kamu, Joddy meneruskan dalam hati.


"Semua orang sayang sama kamu. Mereka lebih sedih lagi karena melihatmu seperti ini. Berhenti menyalahkan dirimu. Luapkan semua kesedihanmu Na. Jangan simpan sendiri. Ada Adrian, Kanda, teman-teman kamu dan orangtua kamu yang akan selalu memelukmu. Jadi, menangislah, Sayang!" Joddy tersenyum saat mata Kana mulai bergerak ke arahnya lalu pecahlah tangisnya kemudian.


"Se-mua sa-salahku. Maaf-kan a-ku, " lirih Kana di sela-sela isak tangisnya. Bahunya terguncang seiring dengan air mata yang mengalir deras dari dua matanya yang bening.


"Ma-afkan a-ku," lirih Kana. Joddy meraih Kana, memeluknya erat mencoba menenangkannya.


"Menangislah Kana. Menangislah."

__ADS_1


*********


note: please jangan judge Kana istri yang tidak baik karena luluh dengan Joddy. mereka punya cerita sendiri, nanti di 'i'm not badboy'. terimakasih untuk yang selalu setia baca.


__ADS_2