Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
IGD


__ADS_3

Di lorong rumah sakit di depan ruang IGD terlihat 2 pria dewasa yang sedang terlibat pertengkaran. Suara keras mereka menarik perhatian para perawat dan orang yang berlalu lalang.


Adrian mengusap sudut bibirnya yang berdarah, kepalanya sedikit berdenyut saat Joddy memukulnya tanpa aba-aba. Joddy merasa sangat kesal dengan apa yang dialami Kana. Gadis manis yang dia anggap adik tengah menderita di ruang IGD.


Melihat apa yang dialami Kana selama beberapa bulan ini Joddy berubah pikiran untuk menganggap Kana lebih dari sekedar adik. Kalau perlu, Joddy akan merebut Kana dari Adrian. Peduli set*n dengan namanya persahabatan, jika Kana terus disakiti secara tidak langsung.


"Jod, lo gila?" Kanda berdiri di tengah-tengah antara Joddy dan Adrian berjaga-jaga jika Adrian melakukan pembalasan. Tapi sepertinya tidak, terbukti Adrian hanya terduduk lemas di lantai. Dia masih shock mendengar Kana ditemukan tak sadarkan diri oleh ojek on line yang Kana pesan sebelumnya. Merasa curiga karena tak kunjung keluar rumah, ojol berinisiatif melihat keberadaan penumpangnya, dan menemukan Kana berbaring meringkuk dengan darah dan luka dibeberapa bagian tubuhnya.


Kanda menarik mundur lengan Joddy yang masih berdiri dengan muka tegang dan tangan mengepal kuat sampai buku-buku jarinya terlihat memutih.


"Kejadian ini gak bakalan terjadi kalau lo bisa tegas sama Susan!" seru Joddy dengan rahang mengeras menahan amarah membuat Kanda menatapnya binggung, karena Joddy terlihat sangat murka. Padahal kalau dipikir-pikir yang saudara kandungnya itu dia, bukan Joddy. Tapi kenapa yang sangat marah malah Joddy? Apa Joddy masih menyimpan perasaan pada Kana? Hmm... masuk akal.


"Susan sudah janji pindah rumah. Dan gue ngasih waktu sebulan. Gue gak nyangka kalau dia akan-" Adrian tak melanjutkan kata-katanya dia tidak tega membayangkan keadaan Kana. Adrian menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Dia sangat menyesal karena menuruti permintaan Kana untuk tidak meminta Kanda menemaninya. Andai saja Adrian menyuruh Kanda untuk segera datang ke rumah pasti keadaannya tidak akan begini.


"Harusnya lo yang ngejauh, lo bawa Kana pindah dari rumah itu! Jangan egois!" Joddy masih meluapkan kemarahannya. Adrian tak menampik kata-kata Joddy.


Benar yang dibilang sahabatnya itu, harusnya dia yang pindah. Dia harusnya tidak egois hanya karena sejarah rumah itu. Toh, Kana juga pernah memintanya untuk pindah. Astaga! Adrian baru sadar, kalau dia memang egois dan tidak peka pada perasaan Kana yang tidak suka dirinya terlalu dekat dengan Susan.


"Harusnya lo juga tidak percaya gitu aja sama Susan. Harusnya lo tahu tipe seperti apa Susan itu. Astaga, Ian!" Joddy mengacak rambutnya gusar. Dia benar-benar tak habis pikir kenapa Adrian bisa percaya begitu saja pada Susan. Adrian hanya diam, menyesali semua yang terjadi.

__ADS_1


"Lo paham betul bagaimana Susan. Dia terobsesi sama lo. Dia gak akan berhenti ganggu rumah tangga lo selama dia gak dapat perhatian dari lo. Gue rasa lo gak buta buat menyadari itu." Joddy membuang napas kasar berharap kemarahannya ikut terbuang. Joddy sendiri heran kenapa dia bisa semarah ini mendengar apa yang terjadi pada Kana padahal dia bukan siapa-siapa untuk Kana. Entah kenapa ada satu bagian di hatinya yang tidak terima jika Kana terluka. Mungkin rasa itu masih ada? Tidak, tidak pasti hanya rasa empati saja yang Joddy rasakan saat ini.


Joddy menggeleng kuat-kuat menampik perasaan asing yang tiba-tiba dia rasakan.


Kanda yang sejak tadi memilih diam, hanya memperhatikan kedua sahabat yang sama-sama kalut karena adiknya. Tidak bisa dipungkiri, adiknya itu memang seperti magnet, punya daya tarik tersendiri. Cantik, polos, jujur, baik hati dan mudah dicintai.


Tak heran kedua sahabatnya sama-sama kalut saat adiknya terluka.


"Sudah, Jod. Jangan menyalahkan Ian terus, ini bukan sepenuhnya salah Ian. Tidak ada satu orang pum berharap melihat Kana terbaring di rumah sakit. Anggap ini musibah. Mereka pindah rumah pun tidak akan menjamin Susan berhenti menganggu mereka." Kanda akhirnya bersuara setelah dirasa keduanya tenang.


"Tapi paling tidak ini akan membu- Ah, sudahlah!" Joddy urung melanjutkan ucapannya, dia memilih diam karena Adrian sama sekali tidak menanggapi celotehannya sedari tadi.


"Ian, gimana Kana?" Perhatian ketiga pria dewasa itu teralih saat seorang wanita setengah baya berlari dengan panik ke arah mereka. Di belakangnya berjalan seorang pria dengan wajah tegang dengan tanda tanya yang jelas terlihat di kedua mata pria paruh baya itu.


"Baru ditangani Ma," sahut Adrian berusaha tenang dan tidak terlihat gelisah agar ibu mertuanya tidak tambah panik. Adrian tahu betul, Kana ibarat permata di keluarga Gufron. Kedua orangtuanya pasti hancur saat mendengar anak perempuan satu-satunya yang mereka manja sejak kecil terluka. Apalagi jika mereka tahu Kana sempat pergi dari rumah selama beberapa hari. Adrian tak bisa bayangkan.


"Kenapa bisa terjadi?" tanya Gufron, Ayah kandung Kana. Adrian dan kedua temannya hanya saling berpandangan menunggu salah satu dari mereka berinisiatif untuk menjawabnya.


"Apa kalian tahu pelakunya?" Gufron bertanya lagi.

__ADS_1


"Ceritanya panjang Pa, nanti lah Kanda ceritain. Sekarang kita tunggu dokter dulu." Kanda yang akhirnya bersuara.


"Ya Allah , putri kecilku. Semoga kamu baik-baik saja sayang." Mama Kana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya panik. Air mata menetes dari matanya.


"Maafin Adrian Ma, kurang baik menjaga Kana,"ucap Adrian lirih.


Gufron menepuk pundak Adrian sebagai tanda kalau itu bukan salahnya lalu dia mengalihkan perhatiannya pada sang istri yang menangis sesegukkan.


"Berdoa Ma, semoga Kana kita dan calon cucu kita baik-baik saja." Gufron meraih pundak istrinya dan membawa kepelukannya. Mengelus punggung istrinya pelan, memberi kekuatan agar tetap tenang.


Pemandangan itu mau tak mau membuat hati Adrian mencelos, bagaimana tidak? Kana adalah anak perempuan kesayangan keluarga Gufron. Bayi prematur yang bahkan dulu divonis tidak akan bertahan hidup yang pada akhirnya tumbuh menjadi gadis cantik, ceria penurut dan sederet sikap baik yang dia punya lainnya. Kini harus berjuang sendirian menahan rasa sakit di dalam sana. Dan Adrian tidak bisa berbuat apa-apa. Adrian yang membuat Kana seperti ini. Benar yang Joddy bilang, keegoisannya lah yang membuat Kana seperti ini. Harusnya dia menuruti permintaan Kana untuk segera pindah rumah, paling tidak akan membuat Kana tenang dan Susan tidak akan menganggunya.


Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur yang Adrian rasakan saat ini adalah penyesalan yang teramat dalam. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Kana saat mendapat siksaan dari Susan. Mengingat nama itu, Adrian berjanji akan membuat perhitungan dengan wanita jahat itu. Dia sungguh tidak menyangka Susan akan tega berbuat seperti itu. Selama ini dia diam karena menghormati Susan sebagai wanita, tapi setelah kejadian ini sepertinya rasa hormat itu hilang berganti benci.


Pintu ruang IGD terbuka, seorang wanita yang memakai jas putih dan menggenakan masker keluar, membuat orang-orang yang sedari tadi menunggu kabar berlari menghampirinya.


" Bagaimana Dokter anak saya?" Mama Kana yang lebih dulu bertanya menatap dokter itu penuh harap. Adrian mengepalkan tangan dia gelisah menanti jawaban dari dokter, dia berharap dalam hati Kana baik-baik saja. Tapi entah kenapa perasaan Adrian tidak enak saat dokter wanita itu memengang pundak ibu mertuanya lalu menggelengkan kepala.


********

__ADS_1


__ADS_2