
Kana menatap malas ke arah sebungkus nasi padang yang Randu belikan untuknya. Rasa lapar Kana menguap entah ke mana, yang ada di pikirannya saat ini adalah cara bagaimana dia bisa keluar dari rumah ini. Semoga saja Adrian membaca pesan yang dia kirim, karena tadi Randi keburu datang sehingga Kana buru-buru mengembalikan ponselnya tanpa tahu sudah terbaca atau belum oleh Adrian.
"Makanlah Na, dari tadi kamu belum makan." Randu menuangkan segelas air putih untuk Kana.
"Biarkan saja dia mati! Jadi, Susan akan lebih cepat bersama Adrian!" sahut Randi yang sedari tadi mondar -mandir mencari sesuatu. Pasti dia sedang mencari ponselnya yang jatuh di bawah sofa. Untung tadi Kana bisa mengembalikan ponsel itu ke tempatnya semula sebelum Randi melihatnya.
"Makanlah." Randu tersenyum lalu mendorong piring ke arah Kana.
Kana mendecih. "Gak usah pura-pura baik," gumam Kana tapi tangannya tetap meraih sendok dan mulai makan.
Randu tersenyum tipis melihat tawanan cantiknya menyantap makanan. Pandangannya lalu terarah pada Randi yang terlihat sibuk. "Mas kamu nyari apa sih? Dari tadi mondar mandir?" Akhirnya Randu memberanikan diri bertanya, tak peduli jika akan mendapat tanggapan yang tak menyenangkan dari Randi.
"Hp-ku enggak ada. Kamu lihat?" Randi membuka satu persatu bantal sofa. Wajah Kana menegang, tapi dia buru-buru menutupi dengan berpura-pura sibuk memakan makanannya.
"Enggak, aku gak liat," sahut Randu tapi tatapan matanya mengarah pada Kana yang langsung menunduk itu. Apa jangan-jangan Randu curiga kalau Kana tahu keberadaan ponsel Randi?
"Coba kamu telepon!" perintah Randi pada adiknya. Gawat! Kalau sampai Randi menemukan ponselnya secepat ini, karena tadi Kana belum sempat menghapus pesan yang dia kirim pada Adrian, belum lagi kalau Adrian membalas pesan yang dia kirim.
Kana melirik Randu dari ekor matanya, pria berkacamata itu menempelkan ponsel ke telinganya membuat Kana mengigit bibir dalamnya berharap ponsel Randi kehabisan baterai sehingga tidak akan bisa dihubungi.
"Aktif sih Mas! Tapi kenapa gak kedengeran ringtonenya ya?" Randu menatap kakaknya binggung.
"Oh, aku silent." Randi menghempaskan badannya ke sofa. Kana melirik ke arah bawah sofa yang diduduki Randi karena tepat di bawah sana ada ponsel milik Randi. Kana berdoa dalam hati, semoga saja Randi tidak sadar kalau ponselnya ada di bawah kakinya.
"Na, kamu tahu hp Mas Randi?"
Kana berjengit kaget mendengar pertanyaan Randu, menatap ke arah si penanya takut-takut. " Enggak. Bodho amat," sahut Kana pura-pura cuek padahal dalam hati Kana cemas kalau-kalau mereka tahu tadi Kana memakai ponsel Randi.
"Ah, sial! Jatuh di mana ya?" Randi menghela napas gusar.
Randu menatap ke arah Kana yang sejak tadi menunduk.
"Coba telepon sekali lagi!" perintah Randi. Randu mengangguk lalu menelepon ke nomor Randi lagi. Randi menatap adiknya memberi isyarat untuk tidak memutus panggilannya.
Randi menunduk mencari sesuatu di bawah sofa karena dia merasakan seperti ada benda bergetar di sana. "Ketemu!"
Kana terkesiap. Gawat! Semoga saja Randi tidak sadar kalau ponsel miliknya dia pergunakan untuk menghubungi Adrian.
Kana mencengkram ujung kemejanya di bawah meja, semoga saja Randi tidak sadar paling tidak sebelum Adrian menemukannya.
"Ini dia!" Randi berhasil meraih ponselnya itu. Kana mempereat cengkraman di tangannya keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Kenapa bisa ada di sana ya?" Randi bergumam tapi jarinya sibuk mengotak-atik ponselnya.
Kana mengigit bibir dalamnya. Saat Randu memperhatikannya secara seksama, sepertinya Randu mulai menaruh curiga pada Kana.
"Apa-apaan ini!" Randi nyaris berteriak wajahnya menegang kaku matanya tajam menatap ke arah ponselnya. Akhirnya ketahuan juga. Randi menatap nyalang pada Kana lalu sedikit berlari dia menghampiri Kana dan menarik rambutnya.
"Kamu benar-benar mencoba bermain denganku rupanya, ya?" Randi mengeram dengan mata merah menahan amarah. Kana merintih kesakitan kulit kepalanya seperti mengelupas akibat tarikan kuat Randi.
"Mas, jangan!" Randu mencoba membujuk Randi agar melepas tangannya.
"Diem! Kamu gak tahu kan apa yang sudah jala*g ini lakukan?" Randi menatap Randu sengit. Randu menatap Kana, dia tidak bodoh untuk menebak apa yang sudah Kana lakukan. Pasti Kana sudah menggunakan ponsel Randi, karena sedari tadi Randu perhatikan Kana terlihat panik setiap kali Randi menyebut ponselnya.
__ADS_1
"Kamu-"
Randu urung bersuara saat terdengar pintu diketuk dia menatap Sang Kakak yang menatap ke arah pintu dengan pias.
"Biar aku yang buka!" Randu berinisiatif membuka pintu karena Sang Tamu yang kedengaran tidak sabar, terdengar dari ketukan pintu yang berubah menjadi gedoran tak sabar.
"Anj***!"
Tubuh Randu terhuyung ke belakang begitu membuka pintu. Makian itu adalah kata pertama yang dia dengar bersamaan dengan pukulan keras di rahang yang membuatnya merasa tulang rahangnya patah.
"Kurang ajar lo udah bawa adik gue!" Dan makian serta pukulan keras itu adalah hasil karya Kanda yang benar-benar kalap karena Sang Adik hilang dan disekap oleh orang yang baru dia kenal.
Randu mengusap sudut bibirnya yang berdarah matanya menatap Kanda kesal karena pukulannya terasa meremukan tulang rahangnya.
"Lepasin Kana!" seru Adrian yang melihat Kana meringis kesakitan karena jambakan Randi semakin keras.
Randi tertawa bahagia saat mendengar suara Adrian yang terdengar panik. " Cepat juga kalian ke mari. Begitu berartinya ya wanita ini?" Randi menarik tangan Kana, merangkul lehernya dari belakang.
"Lepasin Kana!" Adrian bersiap berlari ke arah Kana tapi urung saat tiba-tiba Randi mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya.
"Cobalah mendekat, dan pisau ini akan menggores kulit mulus istrimu." Randi menampilkan wajah jahat, seringainya menandakan dia sedang mengancam.
Adrian mengepalkan tangannya, kalau saja pria itu tidak membawa pisau dia akan berlari menghajarnya.
"Dia kakaknya Susan kita harus hati-hati," bisik Joddy. Adrian tersenyum sinis, jelas saja dia tahu. Pria itu ada di foto yang Joddy berikan kemarin.
"Mau kamu apa?" Adrian bertanya dengan tenang dia tidak akan terpancing emosi dan membuat Kana semakin terancam. Dia harus tampak tenang karena pria yang sedang menyandera istrinya itu terlihat seperti psycho.
"Simpel, aku cuma mau kita bertukar tempat. Bagaimana?"
"Suamimu tidak sabaran sekali," decak Randi ke arah Kana. "Aku mau kamu ceraikan Kana dan menikah dengan Susan."
Ketiga pria yang baru datang itu melongo tak percaya bahkan Kanda yang terlihat paling emosional langsung mengumpat dan membuang ludah ke samping.
"Gila!"
"Gak waras!"
Joddy dan Kanda refleks mengumpat sedangkan Adrian memberi tatapan membunuh pada Randi. Permintaan apa itu? Sama saja mempermainkan pernikahan yang sakral dan Adrian tidak akan pernah melakukan itu.
"Aku tidak sudi menikah dengan adikmu!" Adrian berkata dengan tegas dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang ini menyuruhnya menceraikan istri dan menikah dengan adiknya? Benar-benar tidak waras, sama seperti adiknya. Dua-duanya sama-sama psycho!
"Baiklah kalau kamu tidak mau." Randi tersenyum miring, lalu menelusuri garis wajah Kana dengan pisau yang dia pegang. Tubuh Kana menegang, dinginnya mata pisau membuat Kana bergidik dan memejamkan mata, ngeri saat membayangkan pisau itu menyayat ke dalam kulit mulusnya.
"Bagaimana kalau kita coba satu goresan dulu? Di leher mungkin?" Randi menggesekkan pisau itu ke leher Kana.
"Sekali kulit Kana tergores aku akan membunuhmu!" desis Adrian ke dua tangannya mengepal kuat-kuat.
Randi tertawa terbahak-bahak. " Wow! Susan tidak salah pilih mencintai orang. Hemm, kamu talak dia sekarang atau aku akan gores lehernya?" ancam Randi menatap Adrian dengan tatapan menghunus.
"Aku tidak ada alasan untuk melakukan itu. Jadi, lupakan saja!"
Adrian tak menggubris permintaan Randi itu.
__ADS_1
"Oke, baiklah!" Randi tersenyum miring lalu menekankan pisau itu ke leher Kana yang langsung menjerit kesakitan itu.
"Arghhh..!" jerit Kana, darah segar menetes dari leher jenjangnya.
"Berhenti!" seru Adrian. Kanda yang melihat adiknya kesakitan bersiap menerjang Randi, tapi tangan Joddy mencegahnya karena itu bisa membahayakan nyawa Kana.
Randi tertawa lalu menjauhkan pisaunya dari leher Kana. "Hmm, sudah kuduga darah istri kamu memang manis." Randi menjilat sisa darah Kana yang menempel di pisau.
"Orang gila!" maki Kanda sudah tak tahan ingin meremukan tulang-tulang Randi.
"Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Susan. Gara-gara kalian dia berada di tempat yang seharusnya bukan tempat dia. Susan satu-satunya yang berharga buatku jadi kalian harus bertanggungjawab! Terutama kamu Adrian!!"
Randi berkata dengan amarah yang meletup-letup.
"Aku tidak punya kewajiban untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Susan, dia berada di tempat itu karena ulah dia sendiri. Aku tidak pernah menyimpan perasaan apapun pada adik kamu itu. Tapi dia, dia yang salah mengartikan kebaikanku. Jadi dia berada di tempat itu, karena ulah dia sendiri!"
Randi menendang kursi yang ada di depannya sampai terjungkal saat dia mendengar apa yang sudah Adrian katakan, dia tidak terima jika adiknya diabaikan begitu saja olehnya. "Talak Kana sekarang atau aku akan mengoreskan pisau ini ke kulitnya!" Randi menempelkan pisau itu ke kulit wajah Kana.
"Jangan!" seru Adrian ketika tangan Randi bersiap menekan pisau itu.
"Lakukan!Talak dia!" teriak Randi.
Adrian terpaku di tempatnya. Matanya menatap lurus Kana yang jelas sedang menahan sakit akibat luka di lehernya. "Aku-" Tenggorokan Adrian tercekat. Bagaimana mungkin dia bisa menceraikan Kana hanya demi wanita gila itu? Tapi jika Adrian tidak melakukannya Kana akan menderita jika terus bersamanya.
"Lakukan sekarang!" Pisau yang terlihat mengkilap itu membuat pertahanan Adrian semakin goyah. Dia merasa tertekan.
"Kana maaf-"
"Kalau sampai kamu menceraikan aku. Aku akan menikah dengan Kak Joddy!" teriak Kana histeris membuat Adrian terkesiap dan Joddy yang merasa namanya disebut ikut terkejut.
"Apa?" Adrian menatap Kana tak percaya, lalu menatap Joddy yang berdiri salah tingkah. Astaga, Jod bukan waktu yang tepat untuk salah tingkah.
"Lakukan sekarang!" seru Randi
"Jangan!" Kana mengeleng pelan ke arah Adrian, mengabaikan rasa perih karena luka di lehernya.
"Lakukan atau aku akan merusak wajah cantik ini," ancam Randi, tangannya menelusuri wajah cantik Kana dengan ujung pisau.
"Hentikan!" Adrian mengangkat tangannya isyarat agar Randi tidak melakukan lebih jauh. "Aku akan menuruti perintahmu asal kamu jauhkan dulu pisau itu."
Kana melotot ke arah Adrian, tidak terima dengan ucapannya barusan. Apa benar mereka akan bercerai secepat itu? Setelah mereka melakukan banyak hal.
"Kak! Kamu akan menceraikan aku?!" tanya Kana tak percaya.
Adrian tertunduk. "Aku-"
Dor!
Suara tembakan itu menghentikan kata-kata Adrian, dia meraba dadanya tak percaya? Kana tersentak kaget dia melepas tangan Randi yang sejak tadi mengalung di lehernya lalu berlari ke arah Adrian saat melihat darah itu mengucur deras di depan matanya.
*****************
Hai baca yuk story terbaruku. Siapa tahu aja suka lho!
__ADS_1