Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
terkuak


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah wajah Adrian yang sejak bangun dari tidur senyum manis tak lepas dari bibirnya. Apalagi kalau bukan karena ibadah surganya bersama Sang Istri berjalan dengan lancar bahkan Adrian berhasil membujuk Kana untuk melakukannya sampai tiga kali.


Walaupun setelahnya Adrian harus mengabulkan permintaan Sang Istri agar memberinya izin bertemu dengan Randu untuk sekedar meminjam buku.


Adrian menuruni anak tangga dengan bersenandung kecil dilihatnya Kana dan Kanda sedang menikmati sarapan pagi mereka dalam hening di dapur minimalis mereka. Kanda asik menyuapkan makanan sambil memengang ponsel sedangkan Kana lebih memilih menikmati makanannya dalam diam.


"Pagi, semua!" sapa Adrian dengan wajah yang berseri-seri mengambil tempat duduk di samping Kana, semua mata menoleh ke arah Adrian.


Jika Adrian terlihat bahagia berbanding terbalik dengan Kana yang kelihatan kesal. Bagaimana tidak kesal? Kalau semalaman Adrian membuatnya terjaga, padahal dia ada janji dengan dosen untuk bimbingan skripsinya. Walhasil dia harus mengatur ulang jadwal dengan Sang dosen menjadi siang hari. Untung dosen pembimbingnya sedang baik hati.


Kanda yang pagi itu bertamu pun dibuat heran oleh tingkah adik iparnya itu. "Sehat Ian?" Kanda yang melihat perbedaan pada raut wajah adik dan iparnya itu mengernyit heran.


Adrian tersenyum. "Sehat walafiat bahagia dunia akhirat. Aminn! Makanya nikah biar tahu rasanya!" Adrian berkata dengan nada jumawa membuat Kanda merasa dicubit karena sampai sekarang dia belum nikah juga. Antara kedua sahabatnya, kisah percintaan Kanda memang paling apes.


Sakit-disakiti-sakit-disakiti jadi dia memilih untuk sendiri dulu sampai benar-benar menemukan seseorang yang menurutnya tepat untuk dijadikan pasangan.


"Lo kenapa Na wajah lo burem kayak TV tahun 80an?"Pertanyaan Kanda beralih pada Sang Adik yang cemberut sedari tadi.


Kana melirik suaminya kesal. "Gara-gara Kak Ian tuh aku jadi telat ke kampus!"


Adrian yang sedang mengambil nasi goreng itu balas melirik Kana salah tingkah. Gawat kalau Kana sampai memberi tahu Kanda tentang semalam.


"Lo diapain emang?" tanya Kanda penasaran. Senyum jahil terbit di wajah saat dia melihat Adrian yang mulai panik. Wah, pasti ada apa-apanya nih!


Kana menatap suaminya yang menggeleng pelan, kode agar Kana tidak mengatakan apapun pada Kanda. Kana mendecih, mengiris ayam goreng di piringnya dengan kuat-kuat karena menahan kesal. "Pokoknya Kak Ian nyebelin!" Kana memilih tidak menjawab pertanyaan Kanda. Selain menjaga 'kehormatan' suaminya, dia juga masih kesal kalau ingat kejadian semalam. Sebenarnya bukan sesuatu yang 'wah' tapi tetap saja Kana kesal.


Adrian tersenyum miris, tapi dalam hati dia merasa lega karena Kana tidak memberitahu tetang aktivitas mereka semalam.


"Lo emang diapain Na?" Kanda masih penasaran. Dia harus bisa membuat Kana bicara, karena itu bisa Kanda jadikan senjata untuk Membuat Adrian malu.


"Aku-"


"Habisin dulu sarapannya Sayang!" tegur Adrian menyela Kana. Membuat Kanda mendelik kesal. Gagal deh!


"Oiya, Nda. Tumben lo ke sini?" Adrian sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Kanda tidak terlalu banyak bertanya sehingga memancing Kana untuk bicara tentang kejadian semalam.


Kanda mendecih. Pengalihan nih!


"Iya, gue mau ngambil titipan gue dari Jogja kemarin."


Ah, iya Adrian baru ingat kalau kakak iparnya ini memesan banyak sekali souvenir dari Jogja, katanya untuk teman-temannya di kantor. Padahal yang liburan bukan dia, tapi list belanjaan malah yang paling banyak. "Oh."


"Eh, lo mau gue anterin Na?" Kanda mengalihkan perhatiannya pada Kana.


"Tumben!" sahut Adrian dan Kana bersamaan.


"Biasanya diminta dulu." Kana menatap kakaknya heran. Adrian mengangguk setuju. Tidak biasanya kakak iparnya ini berbaik hati menawarkan bantuan tanpa dimintai tolong lebih dulu.


Kanda berdehem, lalu menatap adik dan iparnya bergantian. "Gue tuh khawatir sama lo! Kena teror mulu, ke Jogja aja kena teror. Makanya gue punya inisiatif ngejagain lo!" Kanda menunjuk Kana dengan garpu di tangannya.


Kana mencibir. "Mau ngejagain aku atau ngedeketin Nea?"

__ADS_1


Sindiran Kana itu membuat Kanda gelagapan tangannya bergegas mengambil gelas berisi air putih yang disediakan di sampingnya meminumnya segera hanya untuk sekedar menutupi kegugupannya.


"Ngejagain lo lah!" Kampret! Tahu aja nih bocah alasan gue sebenarnya!


"Nea? Kenapa tiba-tiba jadi ke dia?" Adrian yang memang belum tahu cerita tentang Kanda yang sedang melancarkan aksi pendekatan pada Nea itu mengernyit keheranan.


"Kak Ian belum tahu? Bang Kanda ini kan na-"


"Diem lo! Buruan, gue anterin lo ke kampus! Ganti baju sana!" sela Kanda cepat mengalihkan perhatian Adrian. Jangan sampai Adrian tahu kalau dia memang sedang mendekati Nea. Adrian pasti akan menertawakannya karena sudah menelan ludahnya sendiri. Dulu Kanda pernah menertawakan Adrian Karena jatuh cinta pada Kana yang usianya jauh di bawahnya. Bahkan Kanda menuduh Adrian pedofil. Ternyata, sekarang dia malah melakukan hal yang sama jatuh cinta pada gadis yang usianya jauh di bawahnya.


"Ihh, makannya belum selesai!" Kana menunjuk piringnya yang masih tersisa separuh makanan.


"Kan lo ada janji sama dosen jam 10."


"Sekarang baru jam 8, Kak Ian aja belum ngantor." Kana mengedikkan dagunya ke arah Adrian yang menatap keduanya binggung.


"Lo kenapa jadi salah tingkah begitu Nda?" Adrian penasaran kakak iparnya itu kelihatan cemas hanya mendengar nama Nea. Apa jangan-jangan...


"Lo naksir Nea?" tembak Adrian langsung. Kanda terkesiap, tebakan Adrian memang tepat, tapi Kanda tak menyangka Adrian akan langsung benar menebaknya. Apa jangan-jangan kelihatan sekali ya?


"Bener tuh Kak! Auhh..." Kana merintih di akhir kalimatnya karena tendangan kaki Kanda di bawah meja cukup keras mengenai mata kakinya.


Adrian menyeringai. Kena kau! Makan tuh omongan sendiri!


"Berisik lo!" seru Kanda pada Kana, lalu melirik Adrian yang tengah menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Kana kan jujur," balas Kana membuat seringai di bibir Adrian makin lebar dan Kanda mengumpat dalam hati.


*


"Gak tau. 15 menit yang lalu sebelum hp aku mati, dia bilang baru di jalan. Sekarang gak tahu deh sampai mana, hp aku mati." Kana menunjukan ponsel hp yang layarnya gelap.


"Jam makan siang hampir habis lho." Nea mengingatkan, dia makin gelisah saat melihat layar ponselnya berkedip-kedip menandakan ada panggilan masuk. Duh, dari temannya yang


kerja satu bimbel.


"Eh, itu dia!" tunjuk Kana ke arah pintu masuk kafe. Seorang pria berjalan setengah berlari ke meja mereka.


"Sorry, telat." Kata pertama yang diucapkan Randu saat berhenti tepat di depan Kana. "Tadi harus ke kantor pajak dulu," imbuhnya.


Kana tersenyum. "Gak papa, santai saja. Eh iya, kenalin teman aku, Nea."


Nea menyambut uluran tangan Randu yang lebih dulu berada di depannya lalu saling menyebutkan nama masing-masing.


"Jadi mana bukunya Ndu?" Kana memperhatikan Randu yang datang dengan tangan kosong itu.


Randu menyeret kursi di samping Kana lalu mendaratkan bokongnya dengan santai. "Itu dia Na. Buku sama skripsi yang aku mau pinjemin ketinggalan di tempat temen aku. Tadi sebelum aku berangkat ke kantor mampir dulu ke rumah temen. Eh, malah ketinggalan." Randu memberitahu dengan wajah bersalah membuat Kana tidak tega untuk marah padanya.


"Yah, terus gimana dong?" Kana terlihat sangat kecewa, karena selain mengejar target lulus kuliah tahun ini, untuk mendapat izin bertemu dengannya saja sulit. Si Pencemburu itu akan terbakar api kalau dia bertemu Randu lagi.


"Gimana ya?" Randu berpikir keras. "Gimana kalau sekalian aku antar pulang kalian, kita ambil dulu bukunya. Rumahnya deket kok," usul Randu. Kana melirik Nea yang sejak tadi gelisah,

__ADS_1


"Duh, gimana ya. Aku hari ini harus ngajar bimbel. Ini udah di tunggu." Nea gelisah dalam duduknya, menatap Kana dengan tatapan memohon.


"Ya, udah kamu ke bimbel aja sekarang. Biar aku perginya..berdua sama Randu." Kana menatap Randu. "Tapi aku ikut pulang kamu ke kantor aja ya Ndu biar pulang bareng Kak Ian?" pinta Kana. Randu tertegun sejenak lalu mengangguk tanda setuju.


"Sorry ya Na. Sorry banget ,biar nanti aku kasih tahu Kak Ian." Nea beranjak dari duduknya berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya beranjak pergi.


"Ya udah yuk, makan siang kamu hampir abis kan?" Kana melirik jam tangannya, lalu menyuruh Randu untuk segera bergegas.


"Sorry ya Na," ucap Randu tak enak hati ketika mereka sudah sampai dalam mobil Randu. Kana yang sedang sibuk memasang seltbelt itu mengangguk.


"Santai saja!"


Di tempat lain Adrian tersentak kaget saat Joddy sudah ada di ruangannya sekembalinya dia dari makan siang. Mereka memang tidak makan siang bareng karena Joddy ada urusan keluar.


"Kemana ajao?Hp lo kenapa gak bisa dihubungi?" serbu Joddy setelah Adrian menutup pintu.


"Tuh, lagi charge!" tunjuk Adrian dengan arah dagunya. "Kenapa lo?" Adrian duduk di kursi kerjanya merapikan bajunya bersiap untuj bekerja.


"Gue ada info penting!"


"Apa?"


Joddy menyodorkan tumpukan kertas ke arah Adrian yang menerimanya dengan kening berkerut. "Apa ini?" Adrian memberi tatapan bertanya pada Joddy.


"Itu data tentang Susan."


Adrian mengernyit. Lalu membaca dengan teliti kertas-kertas di depannya.


"Data yang ada di HRD, Susan anak bungsu dari dua bersaudara. Tapi ternyata dia anak kedua dari tiga bersaudara. Susan dan kakaknya hanya terpaut tiga tahun." Joddy menunjuk satu kertas.


"Lalu kemana adiknya? Meninggal?"


Joddy menggeleng."Adikny Masih hidup." Joddy memperhatikan Adrian yang masih serius membaca setiap huruf yang tertulis di kertas.


"Adiknya diadopsi oleh sebuah keluarga yang sudah lama menantikan seorang anak. Maka dari itu data yang ada di HRD hanya tertulis nama dia dan Kakaknya," jeda Joddy, menunggu reaksi Adrian yang dari tadi hanya terpusat pada kertas-kertas di depannya.


"Kakak Susan laki-laki namanya Randi." Sampai di situ perhatian Adrian beralih, dia menatap Joddy dengan tatapan penuh arti. Mereka seperti saling bicara dengan pikiran masing-masing sampai menemukan kesimpulan yang sama.


"Tepat, seperti yang ada di pikiran lo. Adik Susan memang Randu anak baru di bagian pemasaran."


Adrian mencengkram kertas yang ada di tangannya. "Jadi dugaan gue benar?" Akhirnya semua ini sedikit terkuak.


Joddy mengangguk. "Bisa jadi."


Adrian bergegas mengambil ponselnya. "Hari ini Randu bertemu dengan Kana di kampus." Adrian buru-buru mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi Kana dan memperingatkan Kana agar berhati-hati.


"Ah, Pantas anak baru itu minta izin keluar," gumam Joddy .


Adrian tersentak kaget saat membaca pesan dari Nea yang mengabarkan jika Kana pergi dengan Randu. Mendadak perasaannya tidak enak karena Kana tidak bisa dihubungi.


"Shit!"

__ADS_1


********************


hai,hai terimakasih untuk yang selalu baca cerita abal-abal ini. maaf jika berbelit-belit.. terimakasih untk yang selalu koment positif. ay lop u all


__ADS_2