
Kana berdecak kagum saat melihat interior di penginapan yang dia sewa bersama Adrian. Interior yang ada di penginapan berkonsep homestay itu rata-rata terbuat dari kayu jati. Halaman depan ditumbuhi pohon perindang dan tanaman hias memberi kesan asri rumah tersebut apalagi letaknya agak jauh dari pusat kota Jogja.
Kana beruntung karena mendapat harga sewa miring karena potongan harga yang diberikan oleh pemiliknya. Walaupun dapat diskon tapi tak membuat wajah Adrian yang sejak keberangkatan mereka terlihat muram menjadi tersenyum. Membuat Kana sedikit merasa bersalah karena memaksanya untuk menginap di homestay milik saudara Randu ini
"Kak, masih kesel?" Kana memeluk Adrian yang sedang berdiri di blakon kamar mereka melihat langit Jogja siang hari yamg biru. Tidak ada sahutan, tapi kedua tangan Adrian bergerak memeluk tangan Kana yang melingkari perutnya. Kana tersenyum lega, itu berarti kemarahan Adrian hanya di level 2.
"Ya, udah. Kita nginep di sininya semalam aja terus besok kita nginep tempat saudara." Kana mencoba bernegosiasi. Adrian menghela napas lalu membalikkan badan menghadapnya.
"Maaf ya Sayang, bukannya aku tidak suka kita menginap di sini tapi aku hanya sedikit keberatan karena...." Adrian tak melanjutkan kata-katanya.
Masa iya, aku harus bilang aku tidak suka karena cemburu pada bocah ingusan itu?
Adrian tertawa dalam hati, betapa tidak dewasanya dia. Tapi entah kenapa Adrian merasa ada sesuatu pada Randu. Pria muda itu seperti menyukai istrinya, terlihat dari cara dia menatap Kana, semacam tatapan ingin memiliki. Adrian tidak akan sudi istrinya dilirik pria lain. Sayangnya, sifat Kana yang mudah bergaul itu membuat banyak orang menyukainya.
Berbeda dengan Adrian yang tipe introvert Kana kebalikannya. Kana seorang ekstrovert, dia mudah beradaptasi dengan orang atau tempat baru. Kemarin saja, Kana bisa seakrab itu dengan Randu. Berhasil mendapat diskon penginapan pula. Adrian makin was-was dibuatnya. Kehadiran Joddy saja sudah cukup membuatnya pusing. Ditambah kehadiran anak baru itu.
"Karena?" Kana masih menunggu kelanjutan kalimat Adrian yang sempat terpotong itu, lebih tepatnya Adrian yang sengaja tidak meneruskan kata-katanya karena takut Kana akan menganggapnya suami pencemburu.
"Ya.. karena.. karena..." Mata Adrian bergerak ke sembarang arah mencari jawaban yang tepat.
"Karena kita kalau mau ke Malioboro terlalu jauh. Iya, terlalu jauh." Adrian tersenyum tipis, menertawakan dirinya sendiri yang memberi alasan sekenanya.
Kana mendongakkan kepala menatap suaminya. " Yakin? Bukan karena Kakak cemburu?" Kana menyipitkan matanya tidak percaya begitu saja dengan alasan yang dibuat Adrian.
Adrian mengaruk kepalanya salah tingkah. Sial, kenapa istrinya ini sudah tidak sepolos dulu?
"Ya, wajarlah Na. Randu itu pria, usianya hampir sebaya sama kamu ya... aku takut kamu..." Adrian enggan meneruskan kata-katanya karena dia tahu kalau Kana tahu maksud dari ucapannya barusan.
"Tertarik sama Randu? Ya, enggaklah Kak! Sama Kak Joddy yang udah kenal lama aja aku biasa aja. Apalagi sama Randu yang orang baru. Lagian Kakak ini gak percayaan diri sekali. Kakak itu pria paling hebat di galaksi ini. Tidak usah khwatir istri kamu yang cantik ini berpaling dari kamu. Kecuali kalau kamu nakal." Kana tersenyum manis meyakinkan suaminya.
Adrian berdecak pelan. Bukannya, waktu SMA dia pernah naksir Joddy?
"Percaya sama aku Kak. Aku akan selalu setia sama kamu. Kecemburuan hanya untuk mereka yang tidak percaya diri, dan suamiku bukanlah orang seperti itu."
Adrian bernapas lega. Seharusnya dia percaya pada Kana. Dan tidak perlu menyalahkan pria manapun untuk meyukai istrinya. Hanya sekedar suka untuk lebih dari itu, jangan harap. Kana adalah miliknya, hanya dia yang berhak atas Kana. Lelaki manapun tidak akan bisa mengambil Kana karena Adrian akan menjaganya sampai darah titik penghabisan.
"Iya, Sayang." Adrian menangkup satu sisi wajah Kana. "Maafin aku ya? Harusnya aku percaya sama kamu. Aku hanya takut kehilangan kamu saja." Adrian tersenyum jemarinya berpindah ke dagu Kana. Ibu jarinya menelusuri bibir lembut Kana lalu menariknya mendekat ke wajah Adrian. Bibir mereka menempel beberapa detik.
"Yuk,"bisik Adrian seduktif saat melepas ciumannya.
__ADS_1
"Yuk apa?" Kana mengerjap binggung.
Adrian tersenyum penuh arti menatap Kana intens. "Naik-naik ke puncak gunung," bisik Adrian membisikan kode jika mereka akan beribadah surga. Wajah Kana memerah seketika.
"Dasar om-om mesum!"
**
Adrian mengatupkan rahangnya lalu menatap ke arah sekelompok pemuda pejalan kaki yang memandangi istrinya dengan senyum dan tatapan jahil mereka. Semenjak turun mobil yang mereka sewa, sampai sekarang mereka berjalan menyusuri totoar Malioboro banyak pasang mata yang menatap ke arah Kana. Tak bisa dipungkiri penampilan Kana memang memukau. Rambut dia ikat asal. Memakai dress model sabrina di atas lutut memperlihatkan pundak dan kaki jenjang Kana yang putih bersih. Adrian sungguh menyesal kenapa dia mengijinkan Kana memakai baju sedikit terbuka seperti itu.
Tapi dia bisa apa? Kalau dia tidak mengijinkan, mood Kana bisa hancur seharian. Semua gara-gara dirinya meminta Kana beribadah surga di siang hari. Kana yang tidak terbiasa melakukan di siang hari bolong itu meminta syarat setelah melakukan 'itu' dia mau belanja sepuasnya di Malioboro. Adrian yang sudah kepalang basah itu mengiyakan saja. Kalau tahu begini, dia tunda saja ibadahnya itu.
"Kak , ayo buruan jalannya!" Kana menarik tangan Adrian yang sejak tadi sibuk memindai orang-orang di sekitarnya yang tengah asik memperhatikan Kana itu. Ingin rasanya Adrian berteriak kalau gadis di sebelahnya adalah miliknya hanya dia yang berhak menikmati semua yang ada di diri Kana. Ah, sial! Harusnya tadi dia membawa jaket untuk menutupi pundak Kana yang sudah menjadi santapan mata banyak pria.
"Cepat beli yang kamu butuhkan terus kita balik ke penginapan." Adrian sengaja merangkul pundak Kana saat berbisik, mengisyaratkan kalau Kana adalah miliknya.
Kana menoleh ke arah suaminya binggung. "Kan, perjanjiannya Kana belanja sepuasnya," protes Kana. Dia tidak terima jika hanya diberi waktu sebentar karena sangat banyak barang-barang yang harus dia beli. List titipan Moli dan Nea saja hampir satu meter panjangnya masa dia hanya diberi waktu sebentar. Tahu gitu tadi Kana menolak saat Adrian meminta sekali lagi. Dasar!
"Kalau baju kamu tidak seperti ini semalam suntuk juga ayo. Masalahnya, para pria di sini menatap kamu terus Na. Aku tidak suka itu. Aku cemburu!" Adrian terdengar seperti anak kecil yang merajuk meminta mainan. Kana mengernyit lalu menatap dirinya sendiri. Memang apa yang salah dengan baju yang dia pakai? bajunya tidak ketat juga tidak terlalu terbuka.
Kana mendesah lalu menatap suaminya. "Ckk, ya sudah buruan!" Kana memilih menuruti kemauan suaminya. Dia sedang malas untuk berdebat.
"Beli yang banyak Kak, buat teman kantor Kakak juga," bisik Kana.
"Teman aku banyak Na. Mereka nanti biar aku beliin bakpia. Beli buat kakak sama temen-temen kamu aja," balas Adrian.
Kana mengangguk lalu asik memilih-memilih baju. "Mintenan Bude?" Adrian bertanya dengan bahasa Jogja.
Ayahnya asli Jogja jadi, wajar saja kalau bisa bicara dengan Bahasa Jawa halus.
"50.000 Mas," jawab Si Ibu dengan ramah, ciri khas orang Jogja. Salah satu yang Kana kagumi dari masyarakat Jogja adalah keramahannya. Mereka akan saling menyapa meskipun tidak saling kenal.
"30 ya budhe, kulo badhe tumbas katha." Adrian masih mencoba bernegosiasi. Kana yang tidak begitu paham dengan bahasa Adrian hanya tersenyum santun saat si ibu sesekali meliriknya.
"35 nggeh Mas? Saestu niku sampun murah," jawab Si Ibu penjual baju. Senyum ramah tak lepas dari wajahnya.
" Tiga puluh lima ribu Na. Mau?" bisik Adrian.
__ADS_1
Kana manggut-manggut. " Iya sudah saya mau 20!" seru Kana membuat penjual baju itu tak percaya, dari tadi pagi belum ada satu baju yang terjual, ini malah langsung diborong. Rejeki memang gak kemana.
"Banyak amat?" tanya Adrian.
"Kan teman aku banyak," cengir Kana lalu merogoh dompetnya untuk mengambil uang guna membayar baju yang baru saja dia beli. Adrian hanya geleng-geleng kepala. Wanita dan belanja seperti maga pisau yang sama tajamnya.
"Maturnuwun ya Mas, Mbak! Moga rejekinya lancar," Si Ibu penjual baju sangat bahagia ketika menerima lembaran rupiah yang Kana sodorkan. Doa yang diucapkan penjual baju itu terdengar tulus, membuat hati Kana terasa hangat saat melihat betapa bahagiannya wanita itu. Kana dan Adrian tersenyum lalu berpamitan pergi untuk mencari oleh-oleh yang lain.
Setelah satu jam lebih berkeliling seputaran Malioboro dan mendapatkan barang yang Kana inginkan mereka memutuskan untuk pulang ke penginapan sekedar membersihkan diri dan berniat keliling Jogja untuk wisata kulinar. Berbekal hasil review food vlogger di aplikasi youtube Kana sudah banyak menulis tempat-tempat makan di Jogja yang recommend untuk dicoba. Adrian sampai takjub membaca list yang ditulis Kana di agendanya itu sebelum mereka berangkat kemarin. Bukan masalah banyaknya uang yang akan Adrian keluarkan tapi lebih ke arah, apa mereka ada waktu untuk mendatangi semua tempat makan itu? Apalagi mereka juga harus mampir ke rumah saudara Adrian yang letaknya cukup jauh dari pusat kota.
"Capek!" Kana membanting tubuhnya di ranjang sesampainya di kamar penginapan. Adrian yang sedang sibuk melepas kancing kemejanya itu mengeleng pelan melihat kelakuan istrinya.
"Mandi dulu Sayang, jangan tidur!" Adrian memperingatkan. Kana mengganti posisi tidurnya menjadi miring dengan satu tangan menopang kepalanya menatap suaminya dengan mimik menggoda. " Emangnya kalau mandi kita mau lanjut ronde ketiga?" Kana melipat bibirnya menahan tawa yang nyaris keluar saat melihat wajah suaminya yang kaget saat Kana menggodanya.
"Jangan membangunkan singa tidur ya, Na!" Adrian melirik Kana melalui ekor matanya membuat Kana terkikik geli dan berniat menggoda suaminya lebih lama lagi.
"Hem, kayaknya masih ada waktu nih, buat ronde ketiga. Mumpung Kak," pancing Kana lagi.
Wajah Adrian terlihat merah, dia sepertinya masuk ke dalam perangkap Kana. Terbukti dengan tatapan Adrian yang lebih intens dari sebelumnya.
"Kamu nantangin aku ya? Baiklah kalau itu mau kamu!" Adrian berkata tepat saat dia melepas satu kancing terakhirnya.
Kana menegakkan tubuhnya. Dia menelan ludah saat Adrian melepas kemeja dan melemparnya ke sembarang tempat lalu berjalan mendekatinya.
"Kak, aku cuma... cuma... becanda!" Keputusan Kana untuk menggoda Adrian itu ternyata salah. Tentu saja Adrian akan senang hati melakukannya.
"Tapi aku mandi dulu, jangan coba-coba kabur!"
Kana menghela napas lega saat Adrian berjalan ke arah kamar mandi. Dia masih punya waktu untuk membuat Adrian lupa akan tantangannya tadi.
Lalu dia memutuskan untuk merapikan barang belanjaanya sambil menunggu Adrian selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Ketukan pintu menarik perhatiannya. Kana buru-buru beranjak dari duduknya menghampiri pintu ukir itu.
"Eh, Mbak. Ada apa ya?" Kana tersenyum ramah pada wanita pemilik homestay yang dia sewa.
"Ini Mbak ada titipan, katanya dari temannya." Wanita bernama Endang itu menyodorkan kardus untuknya. Kana mengernyit heran. Pasalnya dia tidak merasa punya teman di kota ini. Apa saudara Adrian ya?
"Makasih Mbak!" Kana mengambil kotak itu lalu menutup pintu kembali setelah pemilik home stay-nya pergi.
"Wah, apa ya ini?"Kana mengguncang-guncangkan kotak itu lalu dengan penasaran membuka tutup kadonya. Matanya membelalak lebar, refleks dia melempar kotak itu ke sembarang tempat.
__ADS_1
"Kak, Ian!!" jerit Kana naik ke atas kasur, matanya nanar menatap benda yang keluar dari kotak itu.
********