Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Pilihan


__ADS_3

Adrian duduk di kursi kebesarannya. Tatapan matanya lurus menatap kedua orang yang duduk di hadapannya itu.


"Kalian tahu kenapa dipanggil ke sini?" Adrian bertanya dengan nada tegas. Joddy mengangguk dan Lian hanya menunduk takut-takut dia sadar kali ini kesalahannya sudah fatal.


Adrian menghela napas lelah, ada saja masalah yang menghampirinya. Kali ini bahkan sudah melibatkan banyak orang. Rupanya ada yang mengabadikan adegan Lian melabrak Kana di kantin kemarin. Kemudian disebar di grup WA kantor untunglah dengan cepat Adrian bisa menghentikan dan menyuruh orang yang pertama kali mengunggah video itu untuk cepat-cepat menghapus video adegan Lian melabrak Kana, sehingga hanya kalangan dalam saja yang tahu isi video itu.


"Kalian tahukan peraturan di kantor ini? Dilarang mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan, dan kalian sudah melanggarnya. Parahnya lagi kali ini banyak pihak yang terlibat, termasuk saya. " Adrian mengubah posisi duduknya meletakan kedua tangannya di atas meja lalu menatap Joddy dan Lian bergantian.


"Karena masalah ini saya mendapat SP 1. Jadi, sanksi apa yang seharusnya diberikan pada kalian?"


"Saya minta maaf Pak karena sudah mencampur adukan masalah pribadi ke ranah pekerjaan, dan saya juga menerima sanksi apapun dari kantor." Joddy berkata lebih dulu dia ingin menunjukkan pada Lian jika dia adalah pria yang bertanggungjawab.


Adrian mengalihkan pandangannya pada Lian yang sejak tadi menunduk dengan jemari saling bertautan menunjukkan jika dia sedang gelisah. "Kamu bagaimana, Lian?"


Lian tergeragap dia mengangkat kepalanya dan menatap Adrian takut-takut. "Saya juga minta maaf Pak."


"Jadi kenapa kamu melanggarnya?" tanya Adrian. Lian hanya menunduk dia terlihat takut menjawab pertanyaan Adrian.


"Begini saja, kita anggap sedang tidak berada di kantor. Kita bicara sebagai teman saja jika itu akan membuatmu nyaman." Adrian kembali menyandarkan tubuhnya di kursi lalu mencoba bersikap santai.


"Jadi Lian.... kenapa kamu melabrak istri saya dan menyebut dia sebagai wanita murahan dan berselingkuh dengan Joddy? Kamu ada bukti mereka berselingkuh?" tembak Adrian langsung.


Lian menggeleng pelan. "Maafkan saya Pak. Saya cemburu karena Bang Joddy selalu menyangkut pautkan istri Bapak di dalam kehidupan pribadinya. Saya emosi, karena Bang Joddy tidak memilih saya. Saya benci pada istri Bapak karena dia selalu mendapat perhatian dari Bang Joddy. Padahal selama ini saya yang selalu ada di sisi Bang Joddy tapi istri Bapak selalu menjadi prioritasnya." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Lian, seperti ungkapan perasaan yang selama ini dia pendam dan wajah Liam terlihat lega saat mengatakannya.


Adrian melirik Joddy yang menatap Adrian dengan bibir berkedut menahan senyum seperti berkata ' Lo liat kan Bro pesona gue?'


Adrian mengumpat dalam hati kalau masalah itu sih aku juga cemburu!


"Kamu ada perasaan pada Joddy?" tanya Adrian menatap Lian tajam. Lian tercenung lalu menatap Joddy. " Iya Pak. Saya- " Lian terlihat ragu saat melihat Joddy tak bereaksi apa-apa. " Saya menyukai Bang Joddy lebih dari yang dia tahu," lanjutnya.

__ADS_1


Adrian menghela napas. " Masalahnya kamu melakukan tindakan bodoh itu di wilayah kantor Lian. Kamu tidak profesional karena mencamour adukkan masalah pribadi di pekerjaan. Dan kamu tahu sendiri ini perusahaan BU*N peraturannya ketat. Jadi , maaf. Saya terpaksa memberi kalian sanksi tegas."


Lian menatap Adrian cemas.


"Joddy, urusan kamu mau bermain-main dengan wanita itu bukan urusan perusahaan. Kami tidak mau tahu sepak terjangmu selain di dunia kerja. Dan tolong jaga sikap kamu, sebagai wakil saya bersikaplah layaknya seorang pemimpin. Kamu akan diskorsing selama seminggu dan mendapat SP 1," putus Adrian. Joddy menghela napas lalu mengangguk.


Adrian mengalihkan tatapannya pada Lian yang menunduk dengan tangan mengepal di atas kedua pahanya. Hatinya harap-harap cemas menunggu keputusan dari Adrian.


"Untuk kamu Lian. Saya akan beri dua pilihan." Adrian memberi jeda lalu menatap Lian yang kali ini berani mengangkat kepalanya untuk beradu pandang dengan Adrian. " Silahkan mengundurkan diri atau mutasi ke Papua karena kantor di sana membutuhkan karyawan. Gimana?"


Lian tercengang begitupula dengan Joddy. Papua? Sejauh itu?


"Pak, apa kesalahan saya sefatal itu sampai harus dimutasi ke Papua?" Lian sungguh tak bisa membayangkan harus pergi ke tempat sejauh itu. Sendirian tanpa sanak saudara di sana? Bagaimana kalau tempat kerjanya jauh dari perkotaan? Lian tidak mau itu.


"Maaf Lian itu sudah keputusan dari atasan langsung. Bukan seberapa fatal kesalahan kamu. Hanya kami ingin memberi efek jera sehingga karywan yang lain tidak menganggap remeh peraturan yang kami buat ," ujar Adrian.


"Pak saya mohon beri saya kesempatan. Silahkan skorsing atau potong gaji tapi jangan mutasi saya ke Papua," mohon Lian dengan suara memelas. Matanya mulai berkaca-kaca menandakan sebentar lagi air mata akan menetes dari pelupuk matanya.


"Maaf Lian, tidak bisa. Keputusannya sudah final," putus Adrian tetap pada pendiriannya. "Jika kamu keberatan kamu bisa mengambil pilihan yang pertama. Silahkan menyerahkan surat pengunduran diri kamu ke bagian HRD," imbuh Adrian membuat tangis Lian pecah seketika.


Lian menangis sesegukan dia tidak menyangka tingkah kekanakannya kemarin akan berakibat fatal seperti ini.


"Aku yang akan pergi ke Papua." Refleks Adrian dan Lian menatap ke arah Joddy.


"Apa?" Adrian berharap dia salah dengar.


Joddy menghela napas lalu menatap Adrian. "Tukar posisi. Kasih dia sanksi gue, gue yang akan pergi ke Papua."


Lian terperangah dia menatap Joddy tak percaya. Benarkah yang dia dengar ini? Joddy rela bertukar posisi dengannya? Padahal Lianlah yang membuat kekacauan ini.

__ADS_1


"Tidak bisa Jod, kamu di si-"


"Entar gue yang ngomong ke Pak Demian," sela Joddy.


Adrian tercenung, lalu menatap Lian. "Lian silahkan keluar dulu tunggu informasi selanjutnya."


Lian menatap Joddy sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


"Lo gila?" tanya Adrian setelah Lian keluar dari ruangannya.


"Bukankah lebih baik? Dengan begitu lo gak perlu khawatir gue tikung di sepertiga malam," canda Joddy sayangnya, candaan Joddy itu malah membuat Adrian kesal. Memang seharusnya dia lega jika Joddy benar-benar ke Papua karena dengan begitu Kana tidak akan berhubungan dengannya lagi. Tapi rasanya Adrian tidak rela. Selain rekan kerja Joddy adalah sahabat terbaiknya. Dia juga satu-satunya orang yang mampu membuat Kana menurut ketika Kana dalam mode 'ngeyel', ibarat kata Joddy adalah pawang Kana di saat tertentu. Rasanya Adrian berat jika sahabatnya ini harus pergi.


"Lo harus tetap di sini. Kantor ini masih butuhin lo!" Adrian tidak akan egois.


"Come on Ian. Lo bisa angkat Kevin buat gantiin gue. Itu anak selain songong juga pekerjaannya paling rapi."


Adrian mengeleng. " Enggak. Lo gak perlu ngorbanin diri kayak gini. Biar Lian yang bertanggungjawab atas perbuatannya."


" Lian gak salah Ian. Gue lupa kalau gak semua cewek gak baper sama gue . Dan Lian adalah korban gombalan gue. Dia bersikap seperti kemarin juga karena salah gue. Gue anggap ini hukuman gue karena suka PHP in anak orang."


Adrian memijit pangkal hidungnya, mendadak kepalanya terasa berdenyut. " Sorry Jod. Lo ngomong sendiri sama Pak Demian, gue gak bisa, karena gue gak setuju lo pergi."


"Iya, nanti gue yang akan bilang sendiri." Joddy mencoba tersenyum, terus terang dia berat harus meninggalkan kota ini. Tapi mungkin lebih baik seperti ini. Mungkin dengan dia menjauh dari Kana, perlahan-lahan bayangan tentang Kana akan pergi dan dia bisa membuka hati untuk yang lain.


"Lo tahu, Kana tidak akan suka dengan ini," gumam Adrian lirih. Joddy hanya tersenyum tipis.


Aku pun sama.


********

__ADS_1


Tinggal beberapa part lagi!


__ADS_2