Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Kembalinya Sang Putri


__ADS_3

"Kenapa Kakak kasih nama Azura?" Kana menatap nanar pada batu nisan yang bertuliskan Azura di depannya. Gundukan tanah itu masih basah dengan bunga-bunga yang bertabur di atasnya menandakan jika makam itu masih baru. Perlu kekuatan untuk Kana bisa mengunjungi makam anaknya. Walaupun sudah dua minggu berlalu tapi kejadian itu masih melekat kuat diingatannya.


"Azura artinya langit biru. Aku ingin, walaupun dia sudah tidak bersama kita dia akan tetap menjadi langit biru yang bisa kita lihat kapan saja." Adrian merangkul bahu Kana menatapnya penuh cinta.


Kana mengelus perlahan batu nisan, merapalkan doa dalam hati untuk putrinya yang tidak akan pernah dia dekap. "Maafin mama Sayang, gak bisa jaga kamu. Maafin Mama. Tunggu Mama dan papa di surga nanti ya, Nak. Jadilah penerang kami," bisik Kana mencium batu nisan itu dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Adrian memeluk Kana mencoba menenangkan istrinya itu.


"Kamu ibu yang baik, Na. Azura pasti bangga punya ibu seperti kamu. Kita doakan saja ya anak kita, jangan merasa bersalah lagi, Azura akan sedih melihat ibunya seperti ini."


Kana mengangguk dalam dekapan Adrian lalu mengusap pipinya yang basah.


"Kita pulang, sudah sore. Kita bisa ke sini lagi besok." Adrian membimbing Kana beranjak dari duduknya ketika angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya.


Kana mengusap sekali lagi batu nisan sebelum mengikuti langkah Adrian meninggalkan makam Sang Putri.


Mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orangtua Kana sementara waktu, sambil menunggu rumah Adrian laku terjual dan mereka akan membeli rumah baru. Lagipula Adrian tidak mau Kana terus-terusan bersedih. Dia tidak boleh sendiri karena dipastikan Kana akan selalu teringat semua kejadian buruk yang menimpanya. Jika di rumah orangtuanya, Kana akan lebih tenang dan terhibur karena ada orangtua dan kakaknya yang super jahil. Mereka pasti akan lebih perhatian pada Kana. Seperti makan malam kali ini misalnya, semua perhatian hanya tertuju pada Kana.


Adrian meletakan piring yang sudah Adrian isi dengan nasi di depan Kana. Setengah memaksa sebenarnya, karena Kana awalnya menolak makan dengan alasan tidak selera. Tapi Adrian memaksanya karena takut Kana akan sakit.


"Udang mau?" Adrian menunjuk sepiring udang goreng saus telur asin hasil kreasi mama mertuanya. Kana hanya mengangguk tak bersemangat, Adrian tersenyum lalu menaruh dua potong udang ke piring Kana.


"Makan Na." Mama Maya yang melihat Kana seperti kurang tertarik dengan makanannya itu lalu berinisiatif menaruh sepotong ayam goreng ke piring Kana. Kana hanya mengangguk dengan lesu dia masih malas makan, nafsu makannya hilang entah ke mana. Padahal Maya sudah membuatkan makanan kesukaannya ini dengan susah payah.


"Pakai sayurnya." Gufron tak mau kalah, dia menyendokkan tumis sawi menaruhnya di piring putri kesayangannya itu.


"Makasih Pa." Kana tersenyum tipis menatap piringnya yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pauknya. Kanda yang sejak asik dengan makanannya itu tidak sadar tiga pasang mata menatap ke arahnya kecuali Kana yang sibuk menatap piringnya sendiri. Merasa diperhatikan Kanda menghentikan kunyahannya menatap penuh tanya ke arah orang-orang yang tengah memperhatikannya.


"Apa?" tanya Kanda tanpa suara.


Ketiga orang itu kompak menatap ke arah Kana memberi kode agar giliran Kanda memberi perhatian pada Kana. " Makan Na,"seru Kanda lalu asik mengunyah lagi membuat ketiga orang di ruangan itu kompak menghela napas melihat Kanda yang tanpa rasa bersalah asik makan sendiri.


"Jadi rumah kamu belum laku Ian?" tanya Gufron membuka obrolan. Adrian tersenyum santun pada ayah mertuanya itu lalu menggeleng pelan.

__ADS_1


"Udah jual aja sama Joddy!" sambar Kanda mengambil sepotong ayam goreng lagi.


"Iya, lagi dipikirin ke situ juga." Adrian menyahut, ekor matanya melirik Kana yang bersikap biasa saja, asik melahap makanannya dengan malas. Adrian kira Kana akan antusias mendengar nama Joddy disebut, tapi nyatanya dia biasa saja malah terkesan tak peduli.


"Gue sih mau aja beli, asal harganya miring. Atau lo kasih aja ke gue gratis. Gue mah yakin dah, lo bisa beli tanpa jual rumah tabungan lo kan segunung, manajer gitu lho! Punya istri dua pun gue yakin lo mampu." Kanda terkekeh geli, ajaibnya mendengar kata-kata kakaknya itu Kana mengangkat kepalanya menatap Sang Kakak tajam.


"Mulut!" seru Kana tak terima, matanya menatap Kanda jutek. Ketiga orang yang sejak tadi khawatir dengan sikap Kana yang dingin itu pelan-pelan bernapas lega. Berarti Kana sudah bisa kembali seperti semula.


"Lha gue ngomong jujur lho Na. Laki lo ini banyak duitnya. Ah, gue yakinlah lo juga tahu it-" kata-kata Kanda terhenti seketika saat Kana mengacungkan garpu ke arah Kanda yang refleks memundurkan tubuhnya seakan-akan garpu itu akan menusuk matanya.


Bukannya menegur sikap tidak sopan Kana, tapi orangtua Kana malah tersenyum lega putri kesayangannya mulai kembali seperti semula.


"Cari yang dekat sini aja Ian, biar kalau Mama kangen bisa langsung nyamperin," usul Maya menatap penuh harap menantunya, padahal alasan sebenarnya agar Maya bisa mengawasi Kana. Maya takut putri kesayangannya terluka lagi. Maya tidak rela melihat putrinya menderita.


"Iya Ma, nanti diusahakan." Adrian mengangguk patuh. Walaupun sebenarnya jarak dari komplek rumah Kana ke kantor Adrian lumayan jauh. Tapi demi kebaikan istrinya rasanya tidak masalah.


"Gak sekalian aja tinggal di sini?" sindir Kanda, dia sedikit khawatir juga kalau harus serumah dengan iparnya ini, karena pasti Adrian akan diistimewakan di sini dan pasti akan dijadikan pembanding. Adrian yang beginilah, begitulah. Tidak serumah aja Kanda selalu dibandingkan dengan adik iparnya itu, gimana kalau serumah? Gak mau lah yaw!


" Kamar Kana kan luas. Kalau kurang luas nanti kita bikinkan di samping. Ya kan, Pa?" imbuh Maya meminta dukungan dari Sang Suami yang hanya tersenyum itu.


"Kalau Papa sih terserah mereka saja, Papa juga setuju mereka tinggal di sini." Gufron tersenyum lembut pada Kana. " Gimana Na?" imbuh Gufron.


Semua mata refleks tertuju pada Kana. Jika kedua orangtua Kana berdoa dalam hati semoga Kana bersedia tinggal di rumah mereka kembali, berbeda dengan kakak dan suami Kana. Keduanya berharap Kana memilih tinggal terpisah dengan orangtua.


Jika Kanda tidak mau dibandingkan dengan suami adiknya lain halnya dengan Adrian yang tidak ingin tinggal di rumah mertua karena 'kebebasannya' pasti akan sedikit terkekang. Tidak mungkin Adrian akan bangun jam 9 pagi padahal ayah mertuanya sudah berkebun di halaman belakang ketika libur. Dan yang utama kegiatan uwuuwu mereka akan terganggu. Adrian tidak mungkin akan bebas mengekspresikan diri ketika beribadah surga dengan Kana nantinya.


"Kana tinggal di rumah baru saja Ma, Pa."Jawaban Kana itu membuat kedua orangtuanya mendesah kecewa, tapi tidak untuk Adrian dan Kanda yang mendesah lega. Keduanya bersorak dalam hati bahkan Kanda sampai mengepalkan tangan ke bawah dan bersorak girang tanpa suara.


"Yakin?" Maya memastikan siapa tahu Kana akan goyah. Kana mengangguk.


"Ya, sudah. Tapi kalau bisa kalian cari rumah yang dekat sini ya?" pinta Maya. Kana dan Adrian hanya mengangguk lalu kembali asik dengan makanannya sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana perkembangan kasus Susan?" tanya Gufron tiba-tiba, Kana mendadak menghentikan gerakkan sendoknya. Bola matanya bergerak ke kiri dan kanan tak beraturan. Tangannya yang bebas mengepal kuat di bawah meja. Menyadari reaksi Kana yang seperti ketakutan. Adrian mengambil tangan Kana dan mengenggamnya erat. Kana menoleh ke samping dan tersenyum kaku pada suaminya itu.


Gufron sebenarnya menyadari jika Kana masih punya trauma jika menyangkut Susan, tapi bagaimanapun dia harus melawan ketakutannya sendiri jika tidak, dia akan tetap dibayangi kejadian itu selamanya.


"Sementara akan diperiksa kejiwaannya, karena waktu sekolah dulu dia punya riwayat bipolar." Adrian menjawab dengan hatj-hati avar Kana tidak menjadi panik mendengar berita itu.


"Waduh, pantas saja dia garang banget! Gila ternyata," celetuk Kanda tangannya tak lupa mencomot sepotong udang lagi tak peduli dengan tatapan Maya yang memberi isyarat untuk berhenti mengambil makanan.


Gufron mengernyit. " Kalau begitu, jika dia terbukti gila maka dia.bebas dari hukum?"


Adrian menatap Kana lalu mengangguk. Membuat Kana mengigit bibirnya panik.


"Iya, dia akan direhabilitasi di rumah sakit jiwa jika memang terbukti punya penyakit kejiwaan." Adrian mengeratkan genggaman tangannya.


"Kamu tidak perlu cemas, aku akan pastikan Susan berhenti menganggu kehidupan kita." Adrian mengangkat genggaman tangan Kana lalu mengecup punggung tangan Kana, membuat Mama dan papa Kana saling bertukar senyum dan Kanda mendecih iri melihat kemesraan keduanya. Nasib jomlo karat!


"Benar Na, kamu tidak perlu takut kami semua akan menjagamu dengan baik. Jadi, kamu jangan pikirkan yang tidak-tidak ya." Maya ikut menenangkan putrinya.


"Iya, Ma. Kana cuma masih suka keingat saja."


"Gimana kalau kalian liburan saja?" usul Gufron tersenyum manis ke arah anaknya.


"Benar, kamu ambil cuti aja Ian. Seminggu. terus liburan keluar kota, Kana butuh refreshing sekalian kalian bulan madu," imbuh Maya mendukung ide suaminya.


Adrian mengangguk antusias. Benar juga Kana butuh refreshing agar pikirannya kembali tenang dan dia lebih bersemangat menghadapi hari-harinya.


"Percuma bulan madu Kana kan masih nifas," celetuk Kanda membuat seisi ruangan menatapnya tajam, Kanda gelagapan lalu menatap ke arah mereka salah tingkah karena terlalu frontal bicara. Adrian menggaruk kepalanya. Benar juga ya, Kana kan masih masa nifas, masih harus menunggu sekitar dua minggu lagi.


"Emang kenapa kalau aku masih nifas? Emang nifas gak boleh travelling ke luar kota?" tanya Kana polos, membuat Adrian tersedak ludahnya sendiri sedangkan Gufron menahan tawanya. Maya memilih pura-pura makan dan Kanda tersenyum miris ke arah Adrian.


Kanda tiba-tiba berdiri lalu bertepuk tangan dengan heboh sendiri. "Kita sambut kembalinya Sang Putri!" seru Kanda terkikik geli membuat Adrian tersenyum salah tingkah dan Kana menatap binggung ke arah kakaknya yang bertingkah absurd.

__ADS_1


*******************


__ADS_2