
Betapa terkejutnya Adrian ketika masuk ke dalam kamar rawat Kana dan mendapati Susan tengah menindih Kana dan mencek*k lehernya. Nyaris Kana kehilangan kesadarannya kalau saja Adrian dan Joddy tidak buru-buru datang. dan menjauhkan Susan dari Kana yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman Susan.
Adrian hampir saja menerjang Susan kalau saja dia tidak ingat Susan seorang wanita. Dia hanya membiarkan Susan menjerit kesakitan karena kepalanya membentur kaki ranjang saat Adrian yang baru datang itu menarik tubuh Susan menjauh dari Kana dan mendorongnya begitu saja.
"Lo gila hah!!" bentak Joddy pada Susan lalu memberi isyarat pada Adrian agar mengurus Kana yang terbatuk-batuk dengan wajah merah.
"Na, kamu gak apa-apa?" Adrian mengangkat tubuh Kana lalu membawanya kembali ke ranjang. Kana menghirup napas dalam-dalam, tangannya memeluk lengan Adrian ketakutan. Adrian membalas memeluk Kana erat meyakinkan kalau semua sudah aman.
"Ian!" seru Susan berusaha mendekati Adrian tapi tangan Joddy mencengkram pergelangan tangannya lalu mendorong menjauh dari Adrian yang tengah menenangkan Kana.
"Lo benar-benar udah gak waras?!" sentak Joddy gusar, kalau saja Susan bukan perempuan udah Joddy bikin babak belur.
"Bukan urusan kamu!" balas Susan menghempas tangan Joddy lalu menatap Adrian memelas.
"Ian, please. Jangan begini sama aku. Ak- "
"Cukup! Jangan bicara apa-apa lagi." Adrian menyela kata-kata Susan, dia sudah tidak peduli dengan semua yang keluar dari mulut Susan.
"Selama ini aku sudah berusaha untuk diam karena menghormati kamu sebagai wanita. Tapi ternyata itu semua menyakiti hati istriku. Aku sudah berusaha memberi batasan agar kamu menjauh dariku tapi nyatanya kamu sama sekali tidak paham. Entah aku yang terlalu bodoh dengan situasi ini, atau kamu yang terlalu bebal untuk mengerti." Adrian berkata tanpa memperdulikan perasaan Susan yang jelas saja teriris-iris.
Susan mengeleng pelan. " Tapi Ian, selama ini aku sayang sama kamu. Aku menolak semua pria yang mendekatiku demi kamu. Apa kamu tidak bisa memberikan sedikit hati kamu buat aku?"
Adrian membuang napas kasar melepaskan pelukan Kana lalu menatap Susan tajam. " Berhenti berharap apapun dari aku San. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa memberikan hatiku untuk kamu ataupun wanita lainnya. Jadi, tolong berhenti San. Berhenti mengharap apapun. Tidak ada kesempatan untukmu bahkan untuk sekedar mendapatkan perhatian dariku."
__ADS_1
Susan terkesiap mendengar apa yang Adrian katakan. Hatinya terasa diiris sembilu. Sakit. Perih, namun tidak berdarah. "Ian, kamu gak bisa seperti ini sama aku Ian! Ini terlalu menyakitkan buat aku!"
Adrian mengepalkan kedua tangannya. "Menurutmu apa yang kamu lakukan pada Kana tidak menyakiti kami? Aku dan Kana harus kehilangan bayi. Bayi yang bahkan belum sempat melihat dan merasakan dekapan hangat kedua orangtuanya. Kamu pikir ini tidak menyakitkan buat kami?!!" Habis sudah pertahanan Adrian untuk tidak marah pada Susan.
"Aku melakukan ini semua untuk kamu Ian-"
"Bukan, bukan untuk aku. Tapi semua kamu lakukan hanya untuk memenuhi egomu," sangkal Adrian. "Apa yang kamu rasakan padaku bukan cinta. Tapi hanya obsesi yang membuatmu menjadi ambisius. Jadi, tolong berhenti Susan. Berhenti menganggu kami!" putus Adrian, sama sekali tidak peduli dengan wajah Susan yang pasi karena terlalu terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Adrian, lelaki yang terkenal santun dan selalu menjaga perasaan orang di balik sikapnya yang terkadang dingin dan kaku.
Susan terdiam , menunduk dengan bulir-bulir air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.
"Kamu masih bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik yang bisa mencintai kamu dengan tulus." Adrian menarik napas kasar. "Cukup sampai di sini. Berhenti mengharapkan apapun dariku, Susan. Jika kamu masih seperti ini terus jangan salahkan aku jika aku benar-benar mengabaikanmu."
Susan mendongakkan kepalanya menatap Adrian tajam. "Tidak! Aku tidak akan pernah berhenti Adrian. Kamu harus bisa aku miliki Bagaimanapun caranya."
Susan mengalihkan pandangan pada Kana." Sekalipun harus menyingkirkannya." Susan berkata dengan lirih namun sangat jelas di telinga Adrian.
Adrian berjalan mendekat pada Susan. "Jadi, belajarlah. Belajarlah untuk menghargai oranglain San, jika kamu tidak mau kehilangan semuanya."
Susan mengeleng pelan lalu mengusap air matanya dengan kasar. "Tidak! Seorang Susan tidak akan pernah kalah. Aku tidak akan berhenti Ian."
Dengan gusar Susan lalu berlari ke arah Kana dan menarik tangan Kana tanpa bisa dicegah Adrian ataupun Joddy. "Semua karena kamu wanita ******! Kalau saja kamu tidak hadir di kehidupan Ian dia tidak akan pernah membenciku. Semua salahmu!!"
"Cukup!" Adrian melepas cengkraman Susan lalu mendorongnya menjauh dari Kana.
__ADS_1
"Orang yang tidak pernah bisa menghargai keberadaan oranglain maka dia harus diajari bagaimana rasanya kehilangan. Jangan pernah masuk ke dalam kehidupan kami. Jika berani menyentuh Kana, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran yang lebih menyakitkan dari ini." Adrian memberi isyarat pada Joddy untuk mendekati Susan.
"Tolong urus dia Jod!" Adrian berkata dengan tegas, Joddy yang sejak tadi diam lalu tersenyum sinis pada Susan dan memilih menyeretnya keluar dari kamar rawat Kana.
"Lepaskan! Aku akan membalas semua ini wanita sial!" Susan mencoba melepaskan cengkraman tangan Joddy tapi semua percuma karena kekuatan Joddy berkali lipat darinya.
"Wanita manapun tidak akan bisa mendapatkan Adrian!!! Aku akan merebutnya darimu wanita sial!!" teriak Susan tepat saat Joddy menutup pintu kamar rawat Kana.
Adrian menghela napas lelah lalu memeluk Kana yang badannya masih gemetaran. "Maafkan aku Na, datang terlambat. Kamu gak apa-apa kan? Apa perlu aku panggilkan dokter?" Adrian menangkup pipi Kana lalu memeriksa tubuh Kana kalau-kalau ada luka yang Susan tinggalkan.
"Jangan pergi Kak, tolong jangan pergi!" seru Kana memeluk Adrian erat seakan-akan Adrian akan meninggalkannya. Ketakutan yang Kana tahan sedari tadi dia tumpahkan melalui tangisannya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Na. Aku tidak akan pergi ke tempat yang tidak ada kamu. Jadi, tenanglah. Semua sudah aman. Aku akan selalu menjaga kamu, Na." Adrian mengusap punggung Kana lembut memberinya kekuatan agar tetap tenang.
"Ta-pi Susan?" Kana mendongak menatap suaminya.
"Joddy akan membawanya ke kantor polisi. Susan harus bisa belajar menghargai oranglain dan bertanggungjawab pada apa yang sudah dia perbuat." Adrian mengusap pipi Kana yang basah karena air mata. "Jangan takut lagi. Aku pastikan Susan tidak akan pernah menganggu lagi. " Adrian mengecup kening Kana.
"Aku mau pulang ke rumah mama saja." Kana berkata lirih dia benar-benar tidak ingin pulang ke rumah mereka berdua. kejadian itu masih melekat kuat dipikirannya.
"Iya, kita bicarakan nanti. Sekarang, istirahatlah dulu aku akan menelepon Mama dulu."
Kana hanya mengangguk.
__ADS_1
*******
Aduh, maafkan part ini benar-benar garing, dan gak ada greget. untuk part yang dobel kemarin itu benar-benar tidak disengaja, sempat eror ternyata malah ke posting dua kali heuheu.. Maaf kan buat yang nunggu cerita abal-abal ini. Aku sedang benar-benar dipusingkan dengan pekerjaan di dunia nyata. terimakasih, I love u all