Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Tetangga baru


__ADS_3

Kehamilan Kana sudah menginjak usia 6 minggu atau hampir dua bulan. Kana tidak merasakan mual atau muntah dia hanya mudah lelah dan sering mengantuk serta nafsu makan bertambah. Kebalikan dengan Kana, Adrian terkadang masih suka mual dan muntah. Tapi tidak separah sebulan lalu, nafsu makan Adrian pun sudah kembali seperti semula. Hanya saja, selain posesif Adrian juga berubah manja.


Setiap ada waktu luang dia selalu bermanja-manja pada Kana. Seperti memeluk Kana dari belakang dan mengendus-endus saat Kana memasak, mencium kening Kana di dalam mobil saat lampu merah atau seperti sekarang tidur dengan kepala berbaring di pangkuan Kana sambil menonton tv sesekali Adrian mencium dan mendusel-duselkan hidungnya ke perut rata Kana sampai Kana terkikik kegelian.


"Kak, udahan dong! Kaki Kana mati rasa nih! Kasian juga si dedek, " keluh Kana pada Adrian yang saat ini sedang fokus menonton film kartun. Satu lagi keanehan Adrian, dia lebih suka menonton acara kartun ketimbang acara dewasa yang biasa mereka tonton.


"Iya, maafin ayah ya sayang." Adrian mencium perut Kana yang masih rata. Wajah Kana menghangat saat mendengar Adrian menyebut 'ayah' pada dirinya sendiri.


"Jadi nanti anak kita manggil kakak 'ayah' ?"


"Dan manggil kamu bunda. Ayah-bunda," balas Adrian beranjak dari tidurnya menatap Kana lekat.


"Kenapa tidak mama dan papa aja Kak? Atau mommy daddy?"


Adrian tersenyum lalu menggeleng pelan. " Terlalu ke barat-baratan. Ayah bunda aja kayak orang tua kakak."


"Mama- papa aja biar kayak mama sama papa Kana." Kana gak mau mengalah.


"Ayah-bunda saja sayang."


"Mama-papa saja!"


"Ayah-bunda."


"Mama-papa."


Mereka terus berdebat sampai akhirnya Kana yang mengalah lebih dulu, karena Adrian benar-benar berubah menjadi keras kepala sekali.


"Terserah deh!" Kana cemberut lalu memalingkan wajah ke arah lain. Adrian yang melihat istrinya cemberut menjadi tidak enak, dengan lembut dia meraih Kana dan membawa kepelukannya.


Adrian heran sejak Kana hamil kenapa dirinya yang berubah menjadi kekanakan dan keras kepala? Karena biasanya ibu hamil yang berubah kebiasaan. Tapi kenapa malah dia sendiri yang mood-nya selalu berubah-ubah.


"Iya sudah, biar anak kita besok memanggil kita dengan sebutan mama-papa seperti orangtua kamu." Adrian mengalah , takut mood Kana akan memburuk karena masalah sepele ini.


Kana menoleh cepat ke arah Adrian dengan mata berbinar. " Seriusan Kak?"

__ADS_1


Adrian mengangguk meyakinkan Kana. " Iya sayang." Terlalu labil jika hanya karena panggilan saja mereka berdua harus berdebat tak penting. Toh, anak dalam perut Kana masih berupa gumpalan darah.


"Makasih." Kana mencium pipi Adrian lalu tersipu malu saat Adrian menatapnya kaget.


" Cium pipi aja, Na?"


Kana menatap suaminya dengan wajah polos. "Emangnya Kakak mau dicium apa?"


Mendengar pertanyaan Kana yang lebih mirip sebuah tantangan itu membuat Adrian tergoda untuk meminta lebih. Iuiu misalnya. Toh, tidak ada larangan dari dokter untuk melakukan itu. Asal hati-hati dan tidak perlu memakai gaya bebas seperti gaya gergaji atau parahnya gaya nge-bor. Kata dokter, cukup yang biasa saja.


Adrian tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya ke arah Kana yang refleks memundurkan kepalanya. "K-kak? Ma-mau ngapain?"


"Mau cium kamu. Kangen nih," bisik Adrian dengan nada seduktif membuat jantung Kana berdebar lebih kencang. Walaupun ini bukan yang pertama kali mereka lakukan tapi, tetap saja Kana gugup.


Kana mendadak kaku saat bola mata Adrian menatap tepat di manik matanya, hembusan napas halus Adrian menyapu kulit wajahnya. Kana menelan ludah beberapa kali saat Adrian mulai mendekat. Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 saat bibir Adrian menempel lembut di bibirnya.


Merasa tidak mendapat penolakan dari Kana, Adrian berinisiatif menggerakkan bibirnya ke atas dan bawah menikmati manisnya bibir Kana yang beraroma jeruk. Aroma yang selalu memabukkan untuk Adrian. Tangan Adrian baru saja membuka kancing teratas baju Kana saat tiba-tiba pintu depan terbuka dan muncullah Kanda dengan kantong plastik di kedua tangannya.


"Halah, selalu saja pintu tidak dikunci kalau mau pada berbuat senonoh." Kanda tanpa rasa bersalah apalagi sungkan duduk dengan santai di sofa samping dua orang yang duduk dengan wajah merah karena menahan malu itu. Kana buru-buru merapikan bajunya.


"Iya nih! Kebiasaan banget dah masuk gak salam atau ketuk pintu dulu!" sambar Adrian tak kalah kesal karena ibadah surganya tertunda.


" Ye, kan lo sendiri yang bilang suruh anggap rumah sendiri." Kanda melempar bantal kursi ke arah Adrian yang dengan sigap bisa dia tangkap.


"Kalian yang terlalu ceroboh pintu rumah tuh selalu di kunci walaupun kalian di rumah. Apalagi kalian tinggal di perumahan yang sepi begini," imbuh Kanda lalu membuka salah satu bungkusan dan mengeluarkan isinya.


"Apaan itu?" Kana bertanya dengan mata berbinar saat melihat tumpukan Tupperware warna hijau yang sangat dia tahu itu milik mamanya.


"Mama masakin kita tumis cumi, perkedel sama sop iga. Kanda menjelaskan lalu membuka satu persatu tutup Tupperware.


"Kita??Aku kali yang dimasakin," cibir Kana lalu mengambil sepotong perkedel lalu melahapnya.


" Gue juga lah, gue kan yang nganterin ke sini. Cepat sana ambil piring!" perintah Kanda.


"Makan jangan di sini capek aku bersihinnya." Kana mengambil Tupperware lalu membawanya ke arah meja makan. Diikuti dua pria yang dengan setia mengekor sang nyonya rumah.

__ADS_1


"Oya, Ian? Rumah yang di depan udah laku dijual ya? " tanya Kanda mengambil piring yang disodorkan adiknya lalu mulai menyendok nasi dan lauk pauknya.


Adrian yang sedang menikmati sop buntut itu menatap Kanda heran. "Oh, ya? Gue malah gak tahu."


"Kayaknya udah ada tuh yang nempatin. Ada mobil pickup yang lagi nurunin barang," sahut Kanda.


Tak percaya dengan apa yang dikatakan Kanda. Kana berinisiatif melihat dan membuktikan langsung, apa benar ada tetangga baru yang menempati rumah kosong yang ada di depan rumahnya?


Kana berdecak kagum saat melihat petugas ekpedisi tengah sibuk menurunkan barang-barang dari mobil dan membawanya ke dalam rumah yang sudah sejak Adrian tinggal di perumahan ini rumah itu sudah kosong.


" Benar Kak, udah ada yang nempatin." Kana memberitahu suaminya yang sama sekali tidak tertarik itu.


"Oh, Ya bagus lah. Rumah tidak baik dibiarkan kosong." Adrian menyodorkan potongan kecil daging ke mulut Kana, yang langsung Kana makan dengan lahap. Kanda hanya mendecih saat melihat adegan romantis itu.


"Semoga saja ya, tetangga kalian itu cewek cantik, tinggal sendiri dan masih single." Doa Kanda yang tidak akan pernah Kana amini.


"Gak boleh!?" tolak Kana mentah-mentah.


"Idih kenapa?" tanya Kanda.


"Entar Bang Kanda tiap hari ke sini lagi. Mending cowok aja deh! Cakep, single dan baik hati. Buat cuci mata gitu," kikik Kana geli membuat muka Adrian merah padam mendengarnya.


"Gak boleh!" Kali ini Adrian yang menolak mentah-mentah doa Kana. " Tentangga kita itu pasangan kakek nenek yang menghabiskan masa tua mereka."


Kana dan Kanda saling berpandangan tepat saat bel pintu rumah berbunyi.


" Biar aku yang buka." Kana buru-buru berdiri menghindar dari tatapan Adrian yang tajam untuk membuka pintu.


Mata Kana membulat sempurna saat membuka pintu dan mendapati seseorang berdiri di sana dengan kantong plastik bertuliskan brand kue terkenal di Jakarta.


"Hai. Aku tetangga baru kalian!" Senyum ceria wanita di depan Kana membuat Kana menganga tak percaya. Mimpi apa dia semalam mempunyai tetangga baru dia.


"Susan?"Adrian yang sudah ada di belakang Kana terkejut.


"Wuidih! Doa jomblo teraniya terkabul nih!" seru KandA membuat Susan tersenyum manis.

__ADS_1


*****


__ADS_2