
"Nih, jahe hangat. Siapa tahu bisa bikin lo rileks." Kanda menyodorkan secangkir jahe hangat yang dia minta dari Mbok Darmi. Kanda tidak tega melihat adiknya yang pucat pasi dengan tangan gemetar setelah mendapat teror kado berupa bangkai tikus yang berdarah dengan isi perut terburai. Sehingga ketika Kana menelponnya dan menceritakan apa saja yang baru dia alami, Kanda buru-buru datang ke rumah Adrian.
Apalagi ini?
Kana meneguk jahe hangatnya sambil berusaha mengalihkan pikirannya dari teror itu, Kana masih saja ingat dengan jelas bentuk dan bau dari bangkai tikus itu membuatnya tak enak makan dan setiap mengingat itu membuat perutnya terasa mual.
Adrian membuang napas kasar lalu duduk di samping Kana yang sejak tadi hanya termenung. Adrian bergegas pulang untuk memastikan istrinya baik-baik saja, saat Kanda menelponnya dan menceritakan tentang teror yang dialami Kana.
"Jadi kado itu tidak ada nama pengirimnya?" tanya Adrian pada istrinya, Kana mengangguk.
"Aku kira kado dari kamu, Kak." Kana menatap suaminya. Adrian mengambil tangan Kana lalu mengenggamnya erat mencoba membuat istrinya nyaman dan melupakan semua yang terjadi.
"Terus kira-kira siapa ya?" tanya Joddy yang sejak tadi diam berpikir.
"Su-san?" Satu nama yang Kana lontarkan dengan terbata membuat ketiga pria di ruangan itu kontan menatap Kana.
"Bukannya dia masih direhab di RSJ?" tanya Kanda.
"Iya, kemarin anak kantor nengok dia, dan memang masih di sana bahkan katanya diisolasi karena Susan masih belum stabil masih ngamuk-ngamuk." Joddy menjelaskan dengan kening berkerut, kalau bukan Susan lalu siapa?
"Lo ada musuh lain kali Na," celetuk Kanda pada Kana yang menggeleng itu.
"Aku bukan kamu ya, Bang!" Kana tak terima dengan celetukan Kanda itu.
"Enak aja lo, gue gak punya musuh woi!" balas Kanda juga tak terima. Kedua kakak beradik itu saling menatap sengit lalu melengos saat tatapan mereka saling bertemu.
"Menurut lo siapa, Ian?" Joddy mengabaikan Kanda dan Kana yang masih saling sewot itu. Adrian mengedikkan bahu, dia merasa tidak punya musuh selama ini.
__ADS_1
"Bisa saja orang iseng sengaja mengirimnya karena kalian orang baru di komplek sini," ujar Joddy.
"Kalau iseng saja kenapa atas nama Kana? Sepertinya bukan hanya sekedar iseng. Tapi memang ada niatan meneror, bangkai tikus lho ini," sahut Adrian. Mendengar Suaminya menyebut kata 'bangkai' membuat perut Kana serasa diaduk-aduk. Buru-buru dia meminum air jahenya.
"CCTV kan ada, kita bisa lacak dari plat nomornya siapa tahu dia bukan kurir cuma orang iseng saja," usul Kanda. Adrian berdehem sejenak saat keempat pasang mata menatapnya curiga.
"Jangan bilang lo belum pasang CCTV," tebak Kanda. Adrian tersenyum kikuk, menandakan kalau dia memang belum memasang CCTV.
"Gila, Rumah seorang manajer gak dipasangi CCTV." Kanda menggeleng tak habis pikir.
Adrian mengusap tengkuknya salah tingkah. "Iya, rumah ini kan sama pemilik rumah yang lama belum dipasang CCTV. Belum sempat juga."
Kanda dan Joddy mendesah kesal, seandainya saja ada CCTV di rumah ini pasti mereka punya petunjuk untuk tahu siapa pengirim kado itu.
"Ya, sudahlah Kak, mungkin benar cuma orang iseng. Susan saja ada di rumah sakit jiwa mana mungkin juga dia yang neror. Musuh Kana kan cuma Susan." Kana menatap para pria di sekelilingnya.
"Idih, pede banget musuh lo cuma Susan!"sambar Kanda dengan tatapan mengejek ke arah Kana.
"Perlu gak kita lapor polisi?" tanya Joddy.
"Iya, polisi pasti bisa melacaknnya." Adrian menambahi.
"Gak perlu lah Kak. Kayaknya cuma orang iseng. Gak perlu diperpanjang." Kana memilih menghentikan rasa penasaran mereka. Walaupun sebenarnya Kana takut jika teror ini awal dari masalah baru. Tapi Kana mencoba menepis pikiran buruk itu karena Kana sudah cukup banyak merepotkan semua orang yang ada di sekitarnya.
Joddy yang orang luar pun jadi ikut masuk ke dalam semua masalah yang terjadi pada Kana. Jadi, kali ini Kana akan menganggap kalau ini semua hanya orang iseng dan semoga tidak akan ada kejadian teror-teror seperti ini.
"Tumben lo? Biasanya masalah sepele aja lo takut." Kanda menatap Kana ragu. Ya, walaupun Kanda tahu, adiknya ini sudah banyak berubah tapi tetap saja Kanda merasa aneh karena perubahan adiknya ini sungguh dahsyat. Apa karena kematian anaknya?
__ADS_1
"Diam ajalah, Bang! Berisik banget ih, bikin keingetan bangkai tikus itu lagi!" seru Kana kesal membuat Kanda melotot tak terima karena dia disamakan dengan bangkai.
"Eh, Kunyuk! Enak aja lo nyamain gue sama 'kado terindah' lo!" Kanda melempar bantal kursi ke arah Kana, tapi dengan gesit ditangkap oleh Adrian.
"Kalian ini udah gede juga masih kayak anak kecil aja!"Adrian lama-lama juga jengah melihatnya, apalagi di saat yang.bisa dikatakan cukup serius.
"Abisnya, Bang Kanda tuh, Kak. Udah kayak kompor meleduk nyamber mulu!" rengek Kana memeluk lengan Adrian yang langsung mengelus tangan Kana dengan penuh cinta membuat kedua pria di depan mereka menahan untuk tidak berkata kasar melihat kemesraaan mereka yang terlihat berlebihan.
"Tadi bangkai tikus, sekarang kompor meleduk. Heran, gak ada baik-baiknya gue di mata lo!" cetus Kanda melipat tangannya lalu bersandar di sofa dengan wajah ditekuk seperti anak kecil yang kalah berebut mainan. Joddy menahan tawa melihat tingkah kakak beradik yang walau sering bertengkar tapi sebenarnya mereka saling merindukan ketika jauh. Dasar, pengungkapan rasa sayang yang aneh di mata Joddy.
"Sudah, sekarang mendingan kita terusin yang tadi, mau lanjut atau udahan dan anggap ini semua cuma iseng?"Joddy yang masih waras di antara keempat temannya itu akhirnya mengiring ke topik utama.
"Kalau Kana sih, cukuplah Kak. Paling juga cuma orang iseng yang mau bikin Kana dan Kak Ian gak betah tinggal di sini." Kedengaran aneh memang, alasan yang dikemukakan Kana, tapi ketiga pria itu tak berani membabil apalagi setiap melihat mata Kana yang bening itu.
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Semoga saja ini bukan awal dari masalah baru." Adrian tersenyum lalu mengecup pipi Kana. Adegan yang tak luput dari perhatian Joddy dan Kanda itu membuat keduanya menahan diri untuk tidak memutar bola mata jengah.
"Ya udah kalian aku buatkan makanan dulu ya." Kana tersenyum mencoba mengenyahkan pikiran tentang kado itu. Kana tersenyum pada suaminya lalu melepas tangan Adrian yang sejak tadi mengenggam jemarinya lalu pergi ke dapur untuk membantu mbok Darmi membuatkan makanan untuk ketiga pria yang masih duduk dengan penuh tanya di benak mereka masing-masing.
"Jod, gue minta tolong sama lo bisa?" tanya Adrian lirih setelah yakin Kana menjauh.
"Apa?"
Adrian menatap ke arah pintu dapur waspada kalau-kalau Kana muncul dan mendengar apa yang akan dia katakan. "Lo cari tahu semua tentang Susan. bisa?"
Joddy mengernyit. "Lo ragu kalau ini bukan sekedar orang iseng?"
Adrian memgangguk. " Walaupun Kana nyuruh kita berhenti tapi alangkah lebih baiknya kalau kita cari tahu secara diam-diam."
__ADS_1
Joddy dan Kanda mengangguk setuju dengan ide Kanda. Jika benar ini ada sangkut pautnya dengan Susan maka benar- benar tidak ada ampun untuk wanita itu.
*******