Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Cerita Randu


__ADS_3

hai, sebelum kalian baca part ini aku mau minta maaf, karena part ini benar-benar gak ada feelnya. Aku sedang berada di titik jenuh karena kesibukan di dunia nyata. Jadi sebelum kalian koment part ini, ' gak jelas' ,'ngebosenin' mending kalian skip. terimakasih iluvu!!


**************************


"Buat kompres memar kamu." Randu menyodorkan kompres es ke arah Kana yang dengan ragu menerimanya.


"Oh," ucap Kana lalu menempelkan kompres ke pipinya yang memar, rasa dingin di pipi menyamarkan perih yang sejak tadi Kana rasakan akibat tamparan keras Randi.


"Maafin Mas Randi."


Kana tak menanggapi permintaan maaf Randu, dia masih kesal karena Randu sudah membohonginya bahkan menjebak dan membawanya ke rumah ini.


"Apa maksud kamu tadi dengan hanya punya pilihan membawaku ke sini atau mati?" Kana menatap lurus ke arah Randu. Mencari kebenaran di mata pria itu, dia berkata sebenarnya atau hanya membuat drama agar dirinya aman.


"Mas Randi mengancam akan menyakitiku kalau tidak membawamu padanya. Bukannya aku egois, tapi aku harus tetap hidup untuk memastikan kedua kakakku tetap waras." Randi tersenyum, meyakinkan Kana bahwa yang dikatakannya itu benar.


"Maksud kamu apa?" Kana tak paham dengan apa yang Randu katakan itu.


"Seperti yang kamu tahu, satu kakakku pengidap bipolar dan satu lagi bisa dikatakan mengidap sister complex. Mereka bisa berbuat sesuatu yang orang waras tidak akan pernah lakukan. Seperti teror-teror yang terjadi padamu."


Kana tercenung mendengarkan apa yang dikatakan Randu. Sister complex? Itu kan seperti sikap over protective pada adik perempuan. Pantas saja Si Randi kayak kesetanan waktu Kana bilang menginginkan nyawa Susan. Jadi karena itu?


"Tapi bukankah kamu adiknya juga? Kenapa dia tega menyakitimu?" Kana semakin tidak paham dengan cerita keluarga Randu.


Randu tersenyum. "Karena- kami tidak satu ibu."


Kana mengernyit. "Maksudnya?"


"Aku anak dari istri muda ayah mereka. Ibuku meninggal usai melahirkanku. Lalu karena istri pertama ayah yang juga ibu mereka tidak menginginkanku, ayah menyerahkanku pada temannya untuk diadopsi. Aku diadopsi di usia 2 tahun. Walaupun begitu ayah tidak pernah melupakanku, setiap liburan sekolah ayah menjemputku pulang ke Jakarta, dan di situlah aku merasakan gimana rasanya jadi 'saudara'. " Randu membentuk tanda kutip dengan kedua tanggannya, mengisyaratkan jika dia diperlakukan cukup buruk oleh saudara-saudaranya.


"Mereka berdua selalu menganggapku yang menyebabkan ayah dan ibu mereka sering bertengkar. Mereka juga menganggap ibuku dan aku hanya ingin menguasai uang ayahku." Randu menatap ke arah atas dengan tatapan menerawang.


"Aku sayang sama mereka walaupun mereka tidak pernah menganggapku benar-benar ada. Kedengarannya egois, tapi aku minta maaf untuk apa yang sudah kami lakukan ke kamu. Sungguh, kalau aku bisa menghentikan mereka pasti aku akan hentikan." Randu menatap Kana kembali mengucapkan permintaan maaf pada Kana. Sayangnya, mendengar semua cerita Randu tidak membuat Kana tersentuh apalagi memaafkan mereka. Semuanya tidak semudah yang Randu pikir. Menjual cerita sedih pada Kana agar dimaafkan? Tidak semudah itu.

__ADS_1


"Kamu tahu apa yang sudah Susan lakukan padaku?" Kana menatap Randu tajam. Randu terdiam, bukannya Randu tidak tahu tentang semua kejahatan yang dilakukan kakak perempuannya itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Dia yang membuat bayiku meninggal! Dia yang menyakitiku!" seru Kana gusar ingin rasanya dia mencaci maki Susan seandainya yang di depannya saat ini adalah dia.


"Dan kamu pikir aku bisa memaafkan dia begitu saja? Kalian memang egois!" Kana melempar kompres ke arah Randu yang berhasil Randu tangkap.


Randu menghela napas berat. Dia binggung harus bagaimana. Di sisi lain dia tahu apa yang dilakukannya salah. Tapi dia hanya ingin kakaknya mengakui dia sebagai saudara. Maka dari itu dia bersedia ke Jakarta dan membantu kakaknya membalas perlakuan Kana walaupun dia tidak tega, karena Kana gadis yang baik. Tapi demi sebuah pengakuan dan menarik kedua simpati kakaknya itu, Randu rela mengorbankan Kana dan Kana tidak boleh tahu masalah ini.


"Aku bukan tumbal kamu Randu! Jadi lepaskan aku sekarang, atau kamu akan masuk penjara!" ancam Kana yang hanya ditanggapi senyum tipis oleh Randu.


"Maafkan aku Kana. Aku tidak bisa melepasmu. Jadi, tunggulah sebentar, aku janji akan melepaskanmu kalau kakakku sudah selesai berurusan denganmu." Randu beranjak dari duduknya dia harus bergegas pergi kalau tidak, dia akan terpengaruh oleh gadis di depannya ini.


"Kasihan." Kana mendesis perlahan membuat Randu menatapnya heran.


"Kasian?" Randu memastikan kalau dia tidak salah dengar, untuk apa Kana mengasihaninya?


"Iya, aku kasian sama kamu Ndu. Hanya untuk mendapatkan pengakuan dari saudara kamu saja, kamu rela berbuat seperti ini. Kamu tidak sadar saja kalau kakak kamu hanya memanfaatkan kamu. Padhal sebenarnya, tanpa mereka pun hidup kamu akan baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik."


Randu tercenung, harus diakui kata-kata Kana menohok ulu hatinya dan dia membenarkan dalam hati. Sadar tidak sadar dia memang sedang dimanfaatkan oleh kakaknya. Tanpa sadar Randu mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya mengeras, ada perasaan tidak terima saat Kana berkata seperti itu.


"Daripada menawariku makan, bisa kamu kembalikan tasku?" pinta Kana.


"Itu di atas meja." Randu menunjuk ransel milik Kana di atas meja yang terletak di belakang Kana dengan arah dagunya'." Tapi percuma, ponsel kamu mati kehabisan daya," imbuh Randu.


Kana mengumpat dalam hati, dia baru ingat kalau ponselnya kehabisan batre dan dia tidak membawa charge.


Sial!


"Aku akan carikan makanan. Kamu tetap tinggal di sini kalau tidak mau kaki atau tangan kamu patah oleh Kakakku." Nada bicara Randu memang santai tapi penuh intimidasi. Randu tersenyum sebelum akhirnya dia keluar dari rumah itu dan pergi dengan mobilnya.


Merasa keadaan sudah aman, Kana bergegas mencoba membuka handle pintu dan ternyata dikunci. Kana mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan berharap dia menemukan cara untuk bisa keluar dari rumah ini.


Sayangnya tidak ada pintu yang bisa dibuka, semuanya dikunci. jendela rumah pun bertralis. Astaga, Kana harus bagaimana?

__ADS_1


Kana terduduk lemas bersandar pada kaki sofa di ruang tamu tempat dia disekap. Hari makin sore, semoga Adrian bisa menemukannya. Pandangan Kana tertuju pada sebuah benda yang jatuh di bawah sofa.


Bentuknya kotak seperti.... ponsel! Iya benar itu ponsel! Yes itu pasti punya Randu yang terjatuh sewaktu dia menyerang Kana.


"Ceroboh sekali kalian!" gumam Kana tangannya merogoh kolong sofa untuk mengambil ponsel yang jatuh itu. Kana bersorak saat dia berhasil meraih benda itu.


Matanya memicing saat melihat wallpaper tersebut adalah foto Susan dan Randi yang saling berangkulan. Apa benar mereka ini saudara kandung? Kana menggeleng pelan mengabaikan pertanyaan yang tidak penting yang melintas dibenaknya.


Yang lebih penting adalah ponsel Randi tidak bersandi. Benar-benar ceroboh!


Kana bergegas menekan layar ponsel untuk menelepon ke nomor suaminya tapi tidak diangkat. Pasti Adrian mengira nomor orang asing, karena suaminya itu punya kebiasaan tidak pernah mengangkat telpon dari nomor baru Lebih baik dia mengirim pesan saja. Dan membagi keberadaannya sebelum Randi dan Randu kembali.


Di tempat lain tiga orang pria sedang berkumpul mencari Kana, Kanda sejak tadi mondar mandir, Joddy yang sibuk dengan ponselnya dan Adrian yang duduk dengan wajah pias karena memikirkan Kana yang belum mereka temukan.


"Nda, lo bisa gak sih gak mondar-mandir kayak setrikaan begitu?!" tegur Joddy pada akhirnya, setelah terlalu lama melihat Kanda yang mondar mandir sejak tadi.


"Ini gue lagi mikir!" Kanda membela diri


"lo gak harus mondar mandir begitukan?"


Kanda berdecak sebal lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Adrian yang sejak tadi hanya diam berpikir. Dia sudah mencari Kana ke mana-mana tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Ke mana Randu membawa Kana pergi?


" Ian, hape lo bunyi tuh! Gak lo angkat?" Joddy menunjuk ponsel Adrian yang berbunyi sejak tadi.


"Paling juga sales kartu kredit." Adrian menatap malas ke arah ponselnya.


Ponsel Adrian berbunyi lagi kali ini menandakan ada pesan masuk. "Coba dilihat, mana tahu itu Kana." Joddy mengedikkan dagunya ke arah ponsel Adrian.


Dengan malas Adrian mengambil ponselnya matanya terbelalak lebar saat membaca pesan di ponselnya. "Kana, dia share loc keberadaan dia!" seru Adrian dengan mata berbinar.


Joddy dan Kanda menegakkan tubuhnya menatap Adrian tak percaya. "Serius?"


"Iya, ayo kita ke sana!"

__ADS_1


********


__ADS_2