Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Kana hilang


__ADS_3

"Kok bisa?" Itu pertanyaan pertama yang diajukan Kanda saat tiba di rumah Kana. Adrian yang menelponnya mengabarkan jika Kana hilang. Pergi dari rumah.


" Kana salah paham. Dia ngeliat gue keluar dari kamar Susan."


Adrian membanting tubuhnya ke sofa.


Kanda mendelik ke arah Adrian." What? Ngapain lo ke rumah wanita itu?"


" Pagi-pagi Susan telpon gue, dia panik karena kran kamar mandi rumahnya jebol. Dia takut kamarnya kebanjiran karena air krannya gak mau berhenti. Gue ke sana gak bilang Kana karena masih tidur. Dan ternyata Susan mengirim pesan yang isinya ngawur." Adrian menjelaskan, tangannya terulur menyerahkan ponsel Kana yang tertinggal di rumah. Kanda mengambil ponsel Kana lalu membaca pesan yang ada di dalamnya.


"Itu cewek beneran ngawur! Lagian ngapain lo bantu ke sana . Lo kan tahu Kana gak suka sama itu cewek."


" Gue tahu. Tapi gue juga gak tega kalau beneran kamarnya kebanjiran, bagaimanapun Susan temen kantor gue. Kalau tau begini gue juga gak sudi ke rumah Susan." Adrian mengacak rambutnya gusar. Dia benar-benar marah pada Susan, bahkan dia sempat memaki Susan dengan kata-kata kasar sebelum pergi dari rumahnya.


"Ingat ya Ian, gue gak akan tinggal diam kalau Kana kenapa-napa. Lo tau sendiri Kana kesayangan keluarga Gufron. Ini aja gue gak ngasih tau mama sama papa. Kalau mereka tahu bisa ngamuk-ngamuk."


"Gue juga nyesel. Gue udah cari ketempat yang kemungkinan Kana datangi. Tapi nihil." Adrian menatap kosong ke arah pintu masuk rumahnya berharap istrinya tiba-tiba muncul di depan pintu itu.


Kanda duduk di samping Adrian menatapnya kasian. Walaupun dia sempat kesal dengan kebodohan iparnya itu, tapi dia tidak tega juga melihat Adrian kalut. Adrian dan jiwa sosialnya tidak bisa dipisahkan. Adrian selalu membantu siapapun. Kebaikan hatinya itulah yang kadang disalahgunakan orang.


"Kana gak bawa hp?"


" Dia bahkan tidak ganti baju sebelum pergi."


"****. Kana naik apaan Ian?"


Adrian memijit pelipis. Kepalanya mendadak pening setelah seharian berputar-putar mencari istrinya. " Dia naik motor tukang galon yang kebetulan lewat."


"Lha kenapa lo gak nanya itu Abang galon?"


"Udah. Tapi katanya, Kana naik taksi lagi yang kebetulan lewat juga."


"Lo gak nyoba nanya taksinya?"


"Kalau gue tahu yang mana taksinya juga udah gue tanya." Adrian lama-lama kesal juga dengan pertanyaan Kanda.


Apa iya dia harus tanya sopir taksi satu persatu padahal taksi di kota ini jumlahnya bukan cuma satu?


"Temen-temennya?"


"Nihil. Moli dan Nea gak tau di mana Kana." Adrian menyandarkan kepalanya. Dia harus mencari Kana di mana lagi? Rumah orangtuanya tidak ada? Kana tidak bawa uang bahkan baju yang dia pakai pun masih baju yang semalam dia pakai. Ditambah Kana sedang hamil. Adrian makin khawatir kalau terjadi apa-apa pada Kana dan calon anaknya.

__ADS_1


Astaga!


Susan benar-benar keterlaluan. Selama ini dia menghormatinya karena Susan adalah seorang wanita dan dia teman sekantornya. Tapi kalau kejadian seperti ini rasa hormat Adrian bisa hilang berubah menjadi rasa tak peduli lagi.


Bisa-bisanya dia menjebak dan membuat Kana salah paham sampai pergi dari rumah. Apa kata mertuanya nanti kalau tahu Kana hilang?


"Lapor polisi jangan?" tanya Kanda.


"Belum 24 jam. Gue berharapnya Kana pulang hari ini." Adrian menghela napas lelah.


"Coba ya Ian, kita tuh CEO kaya raya kayak di novel -novel, kita bisa sewa detektif buat nyari Kana," gumam Kanda berandai-andai. Adrian yang mendengar itu hanya melirik Kanda sekilas, tanpa ingin menanggapi kakak iparnya itu.


Di pikirannya hanya ada istri dan calon anaknya. Adrian benar-benar khawatir. Kana tidak membawa apapun kecuali baju yang melekat di tubuhnya. Dompet dan hp tertinggal di rumah tidak sempat Kana bawa karena terlalu shock dengan apa yang dia lihat. Kana pergi tanpa mendengar penjelasan darinya.


"Mungkin gak sih dia keluar kota?" Kanda mencoba berspekulasi.


"Gue rasa enggak. Kana tidak bawa uang."


"Atau dia dibantu sama orang?" balas Kanda membuat Adrian menatapnya. Iya, bisa jadi Kana dibantu seseorang tapi siapa? Teman-teman dekat Kana tidak ada yang tahu keberadaan Kana. Moli dan Nea yang notabene sangat dekat pun tidak ada yang tahu.


"Kira-kira siapa orang yang bisa dimintai tolong Kana?"


"Joddy," gumam Adrian, entah kenapa tiba-tiba saja pikirannya mengarah ke sana.


"Ah, iya. Kana kan juga deket sama itu kampret." Kanda membenarkan dugaan Adrian.


" Kita ke sana!"


***


Joddy menatap Adrian tajam. " Kana hilang? Terus kalian nyari ke sini?" Joddy menatap ke arah dua temannya yang tiba-tiba datang dan bertanya keberadaan Kana."Kalian waras?"


" Lo kan deket sama Kana. Jod," sahut Kanda


" Iya, tapi gue bukan suaminya yang harusnya bisa jagain dia!" Joddy melirik ke arah Adrian berniat menyindirnya.


" Lo nyindir gue?" Adrian sedikit tak terima dengan kata-kata Joddy.


"Syukurlah kalau lo ngerasa Ian," balas Joddy dengan wajah galak. Bukan apa-apa, Joddy kesal saja Kana menghilang dan alasan menghilangnya Kana adalah Susan. Wanita yang terobsesi dengan Adrian.


"Kok lo dari tadi nge-gas sih Jod?" Kemarahan Adrian mulai terpancing mendengar nada bicara Joddy yang tinggi itu.

__ADS_1


"Gimana gue gak nge-gas kalau alasan Kana pergi dari rumah karena sesuatu yang harusnya bisa lo hindari. Harusnya lo bisa membatasi diri Ian. Lo harusnya bisa lebih tegas pada Susan. Kana istri lo dan Susan cuma temen lo. Harusnya lo bisa membedakan mana prioritas mana bukan."


Joddy menatap nyalang ke arah Adrian. Dia benar-benar kesal gadis polos itu menghilang dan pergi entah ke mana. Dalam keadaan hamil pula. Harusnya Adrian tidak menanggapi Susan yang hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya pada Adrian. Harusnya Adrian lebih peka dan bisa menjaga perasaan Kana.


Adrian hanya diam tidak menyangkal semua yang dikatakan Joddy, karena itu semua benar. Adrian yang tidak bisa menjaga Kana, perasaan Kana. Dia juga tidak bersikap tegas pada Susan dengan pertimbangan dia adalah wanita.


" Kana itu beneran cinta sama lo. Dia bahkan ke kantor buat mata-matain lo itu bukan karena dia posesif tapi karena dia takut kehilangan lo! Lo ingat kemarin dia di kantor ngajak lo makan? Dia sengaja ke kantor buat nyari tau aktivitas lo!Karena dia takut lo itu berpaling dari dia karena apa? Karena lo gak peka perasaan Kana, lo terlalu lembek sama Susan!" oceh Joddy kekesalan sudah sampai ubun-ubun.


"Kalau lo gagal jagain Kana sampai terjadi apa-apa sama dia. Gue gak segan-segan ngambil Kana dari lo Ian! " seru Joddy membuat Kanda dan Adrian tersentak kaget dengan kata-kata Joddy.


"Lo ngomong apa barusan?" Adrian menatap Joddy nyalang dengan rahang mengeras.


"Lo suka adek gue Jod?Ya emang cakep sih adek gue,"gumam Kanda di akhir kalimatnya.


Joddy tersenyum dalam hati, biar saja Adrian tahu kalau dia pernah menaruh hati pada Kana. Dan biar Adrian tahu, Kana tidak pantas untuk disakiti dan dia lebih bisa menjaga Kana.


"Bisa lo jelasin ke gue atas apa yang lo omongin tadi?"


"Kenapa? Lo gak terima kalau gue ambil Kana dari lo? Makanya jaga dia! Jangan lo buat nangis!"


Adrian beranjak dari duduknya lalu menerjang Joddy memukul wajah Joddy sampai terhuyung ke belakang. Adrian tidak terima dengan apa yang Joddy katakan. Ngambil Kana? Langkahi dulu mayat Adrian.


" Woy, kok malah pada berantem sih?" Kanda berdiri di tengah-tengah berusaha menghalangi keduanya. Apalagi Joddy sudah bersiap membalas Adrian. Joddy mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


" Lo Jod! Lo gak pantes ngomong gitu di situasi kayak gini. Dan lo Ian, gak usah tanggepi omongan si Joddy! Lo kayak gak hafal ini bacot bocah," seru Kanda menatap kedua sahabatnya bergantian.


" Mending sekarang kita lanjut cari Kana lagi, udah mau malam!" imbuh Kanda menepuk pundak keduanya bersamaan.


Adrian mematap Joddy. " Gue gak akan minta maaf buat pukulan tadi." Selesai bicara Adrian keluar dari rumah Joddy.


Mendengar itu, Joddy hanya terkekeh membuat Kanda keheranan.


"Bro, lo seriusan naksir adek gue?"tanya Kanda penasaran, pasalnya Joddy tidak pernah menunjukan gelagat pendekatan pada Kana. Sepenglihatan Kanda, kedekatan Joddy dan Kana hanya sebatas adik kakak.


"Menurut lo?" Joddy sengaja melempar kembali pertanyaan pada Kanda.


"Ngawur lo!"


Joddy hanya mengeluarkan smrik andalannya. Biar Adrian tahu, Kana terlalu berharga untuk disakiti.


*******

__ADS_1


__ADS_2