Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Dapur panas


__ADS_3

Adrian membuka matanya lebar-lebar saat terdengar bel pintu rumahnya berbunyi. Dia segera terjaga dari tidurnya, mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Terlalu terburu-buru bangkit dari tidurnya, membuat tulang kering Adrian terbentur kaki meja dan terpaksa dia berjalan dengan satu kaki yang pincang. Adrian bergegas membuka pintu, senyum penuh harap jelas tercetak di bibirnya. Berharap yang datang adalah Kana.


Senyum Adrian pudar saat melihat bukan Kana yang datang melainkan seorang wanita yang sama sekali tidak Adrian harapkan kedatangannya.


"Pagi Ian," sapa Susan, bibirnya membentuk senyum semanis mungkin. Berharap Adrian akan terpesona.


"Ada perlu apa?"


Dingin dan kaku itulah yang Susan rasakan saat Adrian bersuara. Susan tak peduli, dia akan tetap berusaha mendapatkan hati Adrian. "Ini aku buatkan sarapan nasi goreng. Kamu belum sarapan, kan?"


Adrian menatap dingin ke arah tupperware yang dibawa Susan. "Tidak, terimakasih. Aku gak lapar."


Susan tercenung. Sikap Adrian padanya benar-benar dingin. " Ian, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal atas apa yang aku lakukan. Aku minta maaf." Masa bodho dengan harga diri. Kalau perlu dia akan bertekuk lutut demi mendapatkan perhatian dari Adrian.


"Ian, aku tahu aku salah. Aku sangat menyesal. Maafkan aku Ian. Aku janji setelah ini aku gak akan ganggu kehidupan kalian lagi. " Adrian menatap Susan, mencari kesungguhan dari tatapan matanya, dan Adrian belum menemukan itu.


"Aku tahu apa yang aku rasain ke kamu ini salah. Dan aku akan berusaha untuk menghilangkan perasaan ini. Tapi please, kasih aku waktu Ian. Semua tidak bisa langsung begitu saja, karena bukan hanya sehari dua hari aku menyimpan perasaan ini. Jadi, tolong beri aku waktu," pinta Susan dengan mata berkaca-kaca.


Adrian membuang napas."Tahu darimana aku kalau janjimu ini tidak palsu?"


Susan menunduk, memegang tupper-nya dengan kuat. "Aku akan pindah rumah, tapi kasih aku waktu untuk cari rumah baru."


Adrian mengernyit, menatap lekat-lekat Susan. Siapa tahu saja kan wanita ini hanya berbohong untuk menarik simpatinya semata? Tapi, siapa tahu saja benar dan Adrian akan memastikannya dan menunggu pembuktian ucapan wanita ini.


"Oke, aku tunggu kamu pindah rumah. Secepatnya."


Hati Susan terasa dicubit keras saat mendengar kata-kata Adrian. Sebenci itukah Adrian padanya?


Tidak, tidak! Susan tidak akan mudah menyerah. Dia harus bisa mengambil simpati Adrian dan membuat Adrian bersikap baik lagi padanya.


Susan mengangguk pelan. "Jadi, kamu mau kan terima makanan ini? Anggap saja sebagai ucapan permintaan maafku. Walaupun aku tahu ini tidak sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan," pinta Susan dengan nada penuh harap.


Adrian menatap Susan dan makanan yang dia bawa bergantian. Dia memang sedang marah dengan wanita di depannya ini. Tapi orangtuanya mengajarkan untuk menghargai usaha dan jerih payah seseorang sekecil apapun. Maka dari itu, Adrian memutuskan menerima makanan dari Susan walaupun makanan itu mungkin akan dia berikan pada satpam komplek.

__ADS_1


"Baiklah." Tangan Adrian terulur untuk mengambil makanan yang ada di tangan Susan. Tapi entah kenapa Susan malah menjauhkannya. Membuat Adrian menatapnya heran.


"Maaf Ian, boleh aku langsung ganti Tupperware aku sama piring di rumah kamu? Soalnya ini Tupperware kesayangan aku," pinta Susan.


Tanpa curiga Adrian hanya mengangguk lalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar memberi akses Susan untuk masuk. Dia terlalu malas untuk sekedar mengganti piring atau urusan dapur lainnya. Sejak Kana pergi Adrian sudah tidak peduli dengan keadaan rumahnya. Adrian bahkan memilih tidur di ruang tv, dengan harapan Kana segera pulang.


"Aku langsung ke dapur ya?" Tanpa bisa Adrian cegah Susan sudah berjalan ke arah dapur dia sepertinya sudah hafal dengan letak dapur di rumah Adrian.


Adrian menghembuskan napasnya kasar, lalu menyusul Susan yang sudah lebih dulu berjalan ke arah dapur. Pintu depan Adrian sengaja biarkan terbuka mencegah prasangka-prasangka yang mungkin akan timbul karena kedatangan Susan.


" Berantakan sekali." Susan mengeleng-ngelengkan kepalanya saat melihat dapur rumah Adrian berantakan. Piring kotor yang menumpuk dan sisa-sisa makanan yang belum sempat dibuang Adrian, menjadi hal yang merusak pemandangan.


"Masih ada piring bersih. Kamu tinggal pindah aja makanannya," sahut Adrian malas. Susan melirik Adrian sekilas lalu mengambil piring bersih di rak. Memindahkan makanan yang dia bawa lalu meletakkannya di atas meja.


"Ini Ian. Kamu makan, mumpung masih hangat. Mau aku buatkan kopi atau teh?" tawar Susan tersenyum manis.


"Gak perlu. Kamu bisa pulang sekarang," usir Adrian tanpa menatap Susan sama sekali. Susan cemberut. Bisa tidak sih Adrian ini sedikit lebih baik padanya?


"Kamu bisa pulang sekarang San. Terimakasih untuk sarapannya." Dan Adrian pun tetap pada pendiriannya menyuruh Susan pulang.


Susan menghela napas mendekati Adrian yang memilih berdiri kaku di depannya. "Kamu kelihatan pucat dan kurus. Aku hanya mengkhawatirkan kamu." Memasang senyum manis tangan, Susan terulur menyentuh pundak Adrian yang refleks menjauh itu.


"Pergilah!"


"Tapi Ian-"


"Kamu ini budek apa tuli sih?! Disuruh pergi malah keukeuh tinggal. Gak tahu diri banget." Itu bukan Adrian yang bicara. Melainkan seorang gadis yang sudah tidak gadis itu, berdiri di depan mereka dengan muka ditekuk. Adrian terperangah melihat sosok yang tengah berkacak pingang, menatap mereka dengan tatapan marah.


"Kana?" Ada semacam perasaan membuncah saat Adrian melihat kembali istri kecilnya. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan, tubuhnya refleks mendekat ingin memeluk Sang Istri yang seminggu ini tidak menemani tidurnya. Sayangnya, Sang Istri memberi isyarat penolakan. Kana mundur beberapa langkah saat Adrian hendak memeluknya sengaja memberi jarak sebelum dia tahu kenapa wanita ini ada di istananya. Adrian paham dan memilih menunda memeluk Kana.


Adrian menatap ke arah dua pria yang berdiri di belakang Kana seperti bodyguard, tengah menatapnya dengan tatapan menghakimi.


Susan sempat terkejut beberapa saat, dia tak percaya melihat Kana berdiri di depannya. Kenapa dia harus pulang sih?

__ADS_1


"Pagi-pagi udah ada di rumah orang, ngapain kamu?" Pertanyaan itu Kana tujukan pada Susan yang sudah bisa menguasai diri.


Susan menelan ludah melirik ke arah Adrian. Dia tidak boleh terpancing emosi, dia harus tetap tenang jika mau Adrian simpati padanya. "Kana, aku minta maaf ya atas kejadian kemarin. Aku ke sini hanya untuk mengantar sarapan untuk Adrian tidak lebih."


Maaf? Enak saja minta maaf setelah apa yang dia lakukan. Pandangan Kana terarah pada sepiring nasi goreng di meja makan. Lalu dia mendecih. "Suamiku tidak suka kalau nasi gorengnya dikasih kecap. Bawa kembali."


Tangan Susan mengepal menahan amarah. Tapi sebisa mungkin dia tahan, karena jika dia terpancing, bisa-bisa Adrian makin membencinya. Maka saat ini dia memilih menjadi seorang korban yang tersakiti.


" Aku hany-"


"Pintu keluarnya di sana," sela Kana, menunjuk ke pintu dengan arah matanya.


Sial! Gadis kecil ini benar-benar membuat emosi Susan naik tapi dia harus bisa menahannya. Jika tidak, Adrian akan semakin membencinya. Tak apalah harga dirinya terluka,asal dia mendapat kan kepercayaan Adrian kembali.


"Tunggu apa lagi?" Kana seperti mengingatkan Susan untuk segera pergi dari rumahnya.


Susan menatap Kana dengan percaya diri hanya untuk menutupi harga dirinya yang terluka." Kalau begitu aku pamit dulu." Memaksakan senyum, Susan berpamitan lalu berjalan pergi. Meninggalkan empat pasang mata di dapur panas itu.


"Kana.." Adrian memghampiri Kana tapi dengan gesit Kana menghindar dan bersembunyi di belakang Joddy yang terlihat kaget melihat tingkah Kana.


"Na?" Adrian tak suka dengan sikap Kana yang memilih mendekat pada Joddy itu.


"Bersihkan dan rapikan rumah dulu!" perintah Kana lalu berlari ke kamarnya.


"Kana," lirih Adrian binggung dengan sikap Kana


"Rasain!" ejek Kanda sedangkan Joddy meringis melihat Kasian ke arah Adrian.


Apa iya harus gue ambil beneran istri lo, Bro?


******


Maapkeeun kalau kurang greget karena yang nulis baru sibuk di dunia nyata. makasih ya buat yang udah setia baca ini. i love you

__ADS_1


__ADS_2