Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Si Pencemburu terbakar api


__ADS_3

Jika ada yang bilang cemburu itu bumbu-bumbu cinta dalam suatu hubungan maka antar dia ke depan Adrian sekarang juga, karena bagi Adrian cemburu itu bukan bumbu cinta tapi sesuatu yang bisa merusak suatu hubungan. Seperti yang dirasakan Adrian hari ini. Dia harus merelakan makan siangnya berjalan tidak seperti biasanya. Nasi soto yang biasa dia makan terasa enak, kali ini terasa hambar. Adrian bahkan hanya mengaduk-aduk kuah sotonya tanpa berniat menyantapnya.


Bagaimana mau makan enak kalau dari jarak 100 meter dia bisa melihat istrinya sedang ber-haha-hihi dengan pria lain. Sungguh, rasanya Adrian ingin membalikan gedung di kantor saking kesalnya. Bayangkan saja, dengan alasan ingin membalas kebaikan Randu, Kana tiba-tiba datang ke kantor Adrian dan meminta izin untuk makan siang sekalian investigasi seperti yang Kana bilang tadi. Dan Adrian, pria pencemburu itu mengabulkan permintaan Kana, daripada Kana ngambek dan mendiamkannya seharian Adrian memilih mengalah dan meuruti Kana. Tidak lucu saja, mereka baru pulang liburan dari Jogja kemarin masa sudah berantem. Lagipula Adrian tidak begitu saja membiarkan Kana makan berdua dengan Randu. Adrian mengizinkan dengan syarat mereka hanya makan di kantin kantor dengan Adrian yang akan mengawasinya dari jauh.


"Udah jangan diliatin segitunya, mereka bisa terbakar kalau lo ngeliatin dengan tatapan berapi-api kayak gitu. " Joddy yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu mencoba menegur.


"Lo gak tau rasanya kayak apa!" Adrian menjawab tanpa menatap Joddy.


"Kalau gue jadi lo, gue bakalan percaya aja sama Kana. Secara Kana itu bukan tipe cewek yang mudah berpaling dari orang yang dia sayang. Dia tidak mudah silau dengan gemerlap ketampanan pria." Buktinya saja dia biasa aja sama gue, jangankan berpaling tergoda aja enggak. Joddy meneruskan dalam hati.


Adrian berdecak kesal dia membanting sedikit sendoknya hingga menimbulkan dentingan yang cukup keras. "Apa sih yang mereka obrolin, lihat tuh...mereka...ketawa-tawa coba!"


Joddy menoleh ke arah Kana yang sedang asik mengobrol bahkan kadang dia ketawa cekikikan terlihat sangat terhibur dengan topik yang mereka obrolkan.


Pemandangan itu membuat Joddy mendesah dalam hati. Pantas saja Adrian seperti kebakaran jenggot melihat istrinya itu. Tidak bisa dipungkiri Kana memang seperti magnet, dia punya daya tarik yang bisa membuat siapapun jatuh cinta padanya atau paling tidak nyaman ketika bersamanya.


"Lagi ngobrolin cuaca hari ini kali!" Joddy menyahut asal.


Adrian menatap sahabatnya itu tajam. "Jadi dia anak tunggal?" Adrian mulai membuka topik pembicaraan, perhatiannya mulai teralih.


Joddy mengangguk. "Dia berasal dari Jogja dan penginapan yang dia tawarin kemarin itu punya sepupu dia yang tidak ada sangkut pautnya sama Susan. Dan seperti yang kita tahu, Susan masih dalam masa karantina di RSJ." Joddy mulai menjelaskan.


"Nama lengkapnya Randu Pramudiya, usia 25 tahun lulusan UPN jurusan manajemen bisnis persis kayak bini lo! Jadi, lo siap-siap mendidih aja karena gue yakin Kana bakalan minta bantuan itu cowok buat skripsinya." Joddy menahan senyum melihat wajah tegang atasan sekaligus sahabatnya itu.


Joddy tahu betul siapa Kana. Anak itu rasa ingin tahunya besar terhadap hal-hal yang baru. Kana tidak akan segan-segan meminta tolong pada orang yang menurutnya bisa.


"Sial!" Adrian mengeram, tangannya mengepal kuat di atas meja.


"Masih mau dengar gak tentang Randu?" Joddy terlihat was-was antara ingin melanjutkan hasil investigasinya atau menyudahi, karena aura Adrian benar-benar gelap. Tingkat kebucinannya sudah melebihi level dewa, hingga memicu rasa cemburu yang berlebihan.

__ADS_1


"Lanjut!" putus Adrian.


"Randu anak pejabat, bokap dia seorang anggota dewan daerah, nyokap dia seorang pengusaha butik di Jogja. Klop kan sama bini lo yang doyan fashion?" Terlanjur basah ya sudahlah sekalian saja dia buat Adrian panas dingin.


Adrian tak berkomentar tapi dia terlihat tidak suka dengan kenyataan yang baru dia dengar dari Joddy. Rupanya anak itu bukan bocah ingusan yang bisa disepelekan. Dia harus berhati-hati dengan anak itu.


"Jadi menurut lo dia ada hubungan sama Susan gak?" tanya Adrian.


"Bisa iya, bisa tidak. Tapi gue belum nemu bukti yang mengarah ke situ. Randu tidak main sosmed, susah buat ngelacak aktivitas dia di dunia virtual. Kecuali dia pakai id palsu." Joddy mengangkat bahu lalu meminum jusnya.


Adrian menghela napas lalu menatap ke arah istri dan pria muda yang tengah asik berbincang itu .


"Gue heran, kenapa Kana yang jadi sasaran teror. Kenapa gak gue?"


" Ada dua alasan yang kemungkinan terjadi. Pertama, tujuan utama teror memang Kana, karena dia punya dendam tersendiri pada Kana atau yang kedua...." Joddy memberi jeda pada ucapannya.


"Kenapa gak langsung ke gue kalau memang gue yang dia incar?"


Joddy tersenyum tipis." Si tukang teror ini tahu kelemahan lo adalah Kana jadi, dia menggunakan Kana sebagai alat untuk membuat lo menderita. Pelakunya bisa jadi memang masih berhubungan dengan Susan. Atau oranglain yang punya tujuan tersendiri sama lo. Yang pasti bukan gue. Kalau gue sih sekalian aja rebut Kana." Joddy hanya becanda di akhir kalimat, tapi lihat saja muka Si Pencemburu sudah merah seperti terbakar api.


"Mimpi lo! Kana itu punya gue, sampai bumi jadi bundar pun dia akan tetap jadi milik gue!" seru Adrian menatap tajam Joddy yang sejak tadi hanya cekikikan itu.


Ya, siapa tahu saja Kana kilaf dan naksir gue lagi! Tentu saja Joddy hanya berani bicara dalam hati, nyawanya terlalu berharga untuk diambil pria yang sedang terbakar api cemburu. Bucin, posesif dan apa lagi ya, julukan yang pantas disandang Adrian?


"Akhirnya kelar juga mereka," gumam Adrian saat melihat Randu beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi setelah berpamitan pada Kana. Adrian tahu karena Randu melambaikan tangannya pada Kana.


"Kana kemari, ayo pura-pura makan!" Adrian memberi kode pada Joddy lalu membenarkan posisinya, yang semula sibuk memperhatikan Kana kini pura-pura asik makan. Joddy sungguh ingin tertawa melihat tingkah temannya itu, Adrian yang terkenal dewasa itu berubah seperti ABG yang alay karena cinta.


"Senang ngobrol berdua?" sindir Adrian setelah Kana bergabung dengan dua sahabat itu. Kana yang tidak bisa menangkap kekesalan di kata-kata Adrian itu bersikap biasa saja dia bahkan dengan santainya mengambil sepotong gorengan di piring lalu memakannya.

__ADS_1


"Emang belum kenyang makan BERDUA? " Adrian menekankan kata terakhir, sayangnya Kana memang dilahirkan dengan tingkat kepekaan abu-abu.


"Tadi aku cuma makan somay Kak, makanan di kantin sini lumayan ya?" Kana tersenyum ke arah suami dan Joddy yang berusaha keras menahan tawanya. Kana benar-benar tidak peka atas kekesalan Adrian.


"Terus gimana Dek? Dapat informasi apa?" tanya Joddy mengabaikan Adrian Si Pencemburu yang terbakar api.


Kana menelan makanannya. " Untuk mengarah dia ada hubungan apa tidak dengan Susan kayaknya belum.Dia anak tunggal keluarganya tinggal di Jogja semua. Orangtuanya pejabat sama pengusaha butik." Kana mulai melaporkan hasil investigasinya.


Adrian mendengus rupanya datanya sama persis dengan data yang dimiliki Joddy. Dan apa tadi cowok itu pamer pada Kana? Jelas, kelihatan sekali cowok ingusan itu pamer pada Kana. Kalau cowok low profile tidak mungkinlah cerita-cerita kalau dia anak pejabat. Dia pikir Kana akan tertarik? Adrian lebih keren, dia mapan dengan usahanya sendiri.


"Dia dulu anak manajemen bisnis, lulus cumlaude dan lulusan terbaik pula di angkatannya. Wah, pantesan ya dia bisa masuk ke perusahaan ini dengan gampang," puji Kana dengan mata berbinar kagum, Adrian menatap Kana tak suka.


Sungguh tega sekali Kana memuji pria lain di depan suaminya yang sedang terbakar api cemburu. Awas, gadis kecil ini! Adrian akan menghukumnya sampai rumah nanti.


"Jurusannya sama kayak kamu, dong Dek?" Joddy benar-benar sengaja menyiramkan bensin ke dalam api yang berkorbar, lihatlah Adrian mukanya makin ditekuk.


Kana mengangguk. " Besok dia mau minjemin buku sama skripsi dia. Yah, lumayanlah buat referensi." Kana terlihat antusias.


Joddy mematap ke arah Adrian seperti berkata. Benar kan bro apa yang gue bilang?


Tringg!!


Kana tersentak kaget saat Adrian sengaja membanting sendoknya dengan keras.


"Kak, kenapa? Tangannya licin? Kana bawa tissu. Bentar


aku ambil." Kana sibuk mengobrak-abrik isi tasnya mengabaikan Adrian yang menatapnya tak percaya dan Joddy yang berusaha menahan tawanya agar tidak menghambur keluar.


****************

__ADS_1


__ADS_2