
Adrian menatap Kana yang asik menyantap es krimnya itu. Rumah sudah bersih bahkan Adrian sudah memesan makanan untuk mereka berempat. Kanda yang paling lahap menyantap makanannya, sejak tadi menatap Kana dan Adrian bergantian. Kedua pasangan itu hanya saling berpandangan tanpa berkata-kata. Padahal Kanda tahu keduanya tengah menahan rindu yang amat dalam. Hanya keduanya masih saling kesal saja. Kana kesal karena melihat Susan ada di rumah berdua dengan suaminya dan Adrian kesal karena tahu Kana mengginap di rumah Joddy dan menurut Adrian itu tidak boleh apalagi Joddy berbohong tidak tahu keberadaan Kana.
"Kenapa kalian berdua kayak orang baru kenal sih?" Kanda yang sudah tidak tahan dengan suasana hening akhirnya bersuara hanya untuk memecah keheningan yang menyelimuti ruang makan di rumah itu.
"Jadi bisa jelasin sekarang kenapa kamu memilih tinggal di rumah Joddy?" Adrian mengabaikan pertanyaan Kanda menatap istrinya lekat-lekat.
"Bisa jelasin juga kenapa pagi-pagi Si Ikan Asin itu ada di sini? Di saat aku tidak ada di rumah?" Kana membalas pertanyaan Kana dengan pertanyaan juga.
Hening sesaat. Tidak ada jawaban dari keduanya. Adrian dan Kana hanya saling tatap. Kana menunggu Adrian menjawab pertanyaannya. Begitupun sebaliknya. Joddy dan Kanda hanya saling lirik. Mencari amannya saja.
"Dia berjanji akan pindah rumah dan akan berhenti menganggu kita. Itu tadi makanan permintaan maaf darinya." Adrian mengalah, memilih menjawab lebih dulu.
Kana mendecih, lalu tersenyum skeptis. Permintaan maaf apa? Adanya juga modus itu!
"Halah, paling juga cuma modus. Kita lihat aja dia beneran pindah atau tidak kalau dalam waktu satu bulan dia tidak pindah rumah, aku yang mau pindah." Kana mengancam tegas. Dia tidak boleh memberi celah pada wanita manapun. Apalagi Susan. Susan harus ditempatkan di list 'wanita berbahaya' nomor satu.
Adrian menelan ludah, dia berharap Susan pindah rumah sehingga dia tidak perlu menjual rumah ini. Kalaupun terpaksa menjual, akan dia jual pada Joddy. Jadi, sewaktu-waktu dia bisa beli kembali.
"Lalu kenapa kamu sembunyi di rumah Joddy?" todong Adrian.
Tangan Kana yang siap menyuapkan es krim ke mulutnya mengambang di udara. Kana melirik Joddy yang berdehem salah tingkah.
"Ya, soalnya wajah Kak Joddy yang kebayang pertama kali waktu aku binggung mau kabur ke mana." Jawaban Kana membuat ketiga pria di sekeliling Kana menatapnya kaget.
"Kok Joddy?Bukan gue gitu?" Kanda merasa tersingkir. Heran, dari dulu Kanda selalu saja terlihat 'rendah' di mata Kana kalau sedang bersama dengan Joddy. Semua yang baik-baik selalu di Joddy, bahkan Kana memanggilnya dengam sapaan 'kak' bukan 'bang' seperti saat Kana memanggil dirinya. Ini yang saudara kandung dia atau Joddy sih? Kenapa Kanda selalu diKakak-tirikan oleh Kana?
"Karena Kak Joddy itu kalau aku ada masalah gak pernah nge-judge . Dia selalu pakai logika. Kalau aku kabur terus ke Bang Kanda sih, paling juga diomelin terus diceramahin tujuh hari tujuh malam. Ibarat kata Kak Joddy itu seperti malaikat dan Bang Kanda itu iblis," oceh Kana dengan santai, membuat Joddy menggaruk kepalany salah tingkah sedangkan Kanda dan Adrian menatap dengam tatapan tak suka.
__ADS_1
"Durhaka lo sama kakak dan suami!" seru Kanda.
"Kalau suaminya gak tegas sama ngasih ruang buat cewek lain sih gak bisa dikatakan durhaka," sindir Kana melirik Adrian yang gelagapan itu.
"Terus kamu di rumah Joddy tidur sama siapa?" tanya Adrian kesal. Dia cemburu buta membayangkan Joddy sekamar dengan Kana.
"Sebenarnya, Kana tinggal di rumah Ferddy," ralat Joddy.
"Tidurnya sendiri. Kak Joddy tidur sama adeknya," imbuh Kana.
"Terus kenapa lo bilang ke gue sama Kanda gak tau soal Kana?"tanya Adrian ketus pada Joddy.
"Aku yang nyuruh. Habisnya, aku kesel banget sama kamu Kak. Pagi-pagi udah ada di rumah wanita lain. Tanpa izin pula. Kamu kan bisa bangunin aku," sambar Kana.
"Iya, aku minta maaf soal itu. Tapi kan kamu harusnya nanya dulu bukan langsung kabur." Adrian tak mau kalah.
Kana cemberut. "Ya wajarlah. Kana waktu itu gelap mata. Istri mana coba yang gak marah waktu ngeliat suaminya keluar dari kamar wanita lain, pagi-pagi dan dengan tampilan kusut pula." Kana membela diri.
Adrian membuang napas, astaga bocah ini. "Kamu terlalu berasumsi." Harusnya kamu dengar dulu penjelasanku.
"Sekarang gini deh Kak. Apa yang akan Kakak pikirkan pertama kali, seandainya Kakak lihat aku keluar dari kamar Kak Joddy dengan tampilan kusut di pagi hari?" tanya Kana dengan sedikit melotot membuat ketiga pria di sekelilingnya gelagapan mendengar pertanyaan Kana.
Joddy meringis tak enak karena merasa namanya disangkut pautkan. Kanda melongo dengan mata menerawang, membayangkan apa yang dikatakan adiknya sedangkan Adrian melirik Joddy kesal lalu menatap Kana dan membenarkan apa yang dikatakan Kana. Tentu saja Adrian akan berpikiran sama jika di posisi Kana saat itu.
"Iya, ya. Ya, sudah aku minta maaf. Aku yang salah." Adrian lagi-lagi memilih mengalah dia sudah cukup lelah dengan hilangnya Kana dan terlalu capek jika harus ditambah dengan beradu argumen dengan Kana. "Tapi kamu salah juga karena menginap di rumah laki-laki lain hampir seminggu pula." Adrian merengut, melirik Joddy yang tersenyum tak enak itu.
"Daripada Kana luntang lantung, terus disakitin sama orang di jalan atau daripada kabur ke rumah orangtua kita mending juga ke rumah Kak Joddy, di sana juga ada Ferddy yang masakin Kana. Kalau ke rumah Moli sama Nea kan mereka masih tinggal sama orangtua." Bukan Kana kalau dia tidak keras kepala dan mengalah begitu saja dalam sebuah perdebatan.
__ADS_1
"Jadi, gini Ian. Jangan salah paham dulu. Benar yang dibilang Kana. Dia tidur sendiri dan aku tidur sama Ferddy. Lagipula kalau di rumah kami selalu bertiga. Jadi tenang saja. Selama Kana tidak lo sakiti semua aman. Dan gue setuju gak bilang soal Kana ada di rumah gue, itu agar lo bisa tegas bersikap sama Susan." Dan Joddy tetaplah Joddy. Dia tahu Kana tak akan pernah jadi jodohnya, tapi dia akan selalu ada di saat Kana membutuhkannya. Seperti sekarang saja dia tetap membantu Kana menjelaskan apa yamg terjadi, hanya untuk melindungi Kana dari kesalahpahaman yang mungkin akan timbul.
Adrian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap lekat ke arah Joddy. Sepertinya Adrian tidak.main-main dengan ancaman Joddy, yang akan mengambil Kana darinya. Jangan, jangan Joddy pernah punya perasaan lebih pada Kana atau sekarangpun masih? Karena Joddy lebih dulu mengenal Kana dibanding dirinya. Adrian merasa perhatian Joddy pada Kana lebih dari sekedar kakak-adik. Kana juga lebih dekat dengan Joddy ketimbang kakaknya sendiri.
"Ya sudah, aku minta maaf ya Na. Aku janji akan lebih bersikap tegas pada Susan baik di rumah maupun di kantor." Adrian memilih mengalah lebih dulu. Dia sudah terlalu lelah untuk berdebat.
Adrian lalu menatap Joddy. "Gue juga minta maaf sama lo Jod. Udah ngira lo yang tidak-tidak. Thanks, udah jagain Kana gue." Adrian sengaja menekankan kata 'Kana gue' di akhir kalimatnya, sebagai isyarat jika Kana adalah miliknya dan tidak akan pernah jadi milik lelaki lainnya. "Dan lo tenang saja , gue.gak.akan nyakitin Kana lagi," imbuh Adrian.
Joddy tersenyum lalu.mengacungkan ibu jarinya sebagai isyarat setuju dengan kata-kata Adrian.
"Kana juga minta maaf ya Kak udah pergi dari rumah dan nginep di rumah Kak Joddy. Tapi tenang saja, aku tidak ada hubungan apa-apa dengam Kak Joddy kok. Kak Joddy udah aku anggap Kakak pertamaku." Kana tersenyum pada Joddy yang meringis sambil menghibur dirinya sendiri dalam hati. Saat mendengar Kana hanya menganggapnya kakak. Tidak lebih. Not more!
Berbeda dengam Joddy yang merasa sedikit tergores hatinya, Adrian merasadi atas angin. Kata-kata Kana barusan menandakan dia lebih memilih dirinya ketimbang Joddy.
"Bentar! Lo anggap Joddy sebagai kakak pertama lha gue lo anggap apa?" celetuk Kanda tak terima
"Kakak tiri," jawab Kana asal, membuat Kanda melotot sebal ke arahnya.
Tapi Kana acuh saja dia memilih menatap Sang Suami. "Jadi di maafin gak?"
Adrian tersenyum lembut."Dimaafkan. Sini!" Adrian merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut Sang Istri jatuh ke dalam pelukkannya. Kana tersenyum lalu meringsek ke dalam pelukkan sang suami.
"Syukurlah. Gitu dong baikan! Kana lagi hamil Ian. Kata nyokap kalau wanita hamil lebih sensitif dari ketika dia belum hamil. Kalau sebelum hamil dia harimau, sekarang udah jaguar!" seru Kanda lalu membuat gerakkan seperti akan menerkam membuat Kana kesal dibuatnya.
"Ingat ya Kak. Sebulan Susan belum pindah kita jual rumah ini!" Kana memperingatkan membuat Adrian menelan ludah dalam-dalam.
*******
__ADS_1
maafkan jika cerita ini mulai ngebosenin. Plisss, maafkan karena aku punya penyakit moody jadi agak tersendat idenya ditambah lagi hetic di dunia nyata. Terimakasih yang udah setia dan selalu ngasih komentar positif. I love you pokoknya.