
"Kamu wangi banget." Rutinitas Adrian setiap pagi adalah memeluk Kana dari belakang ketika sedang asik membuat sarapan untuknya. Kebiasaan baru Adrian itu kadang membuat Kana kesal juga. Pekerjaan yang membutuhkan waktu singkat menjadi lebih lama karena tingkah Adrian yang selalu bermanja-manja pada Kana. Selalu ingin menempel pada Kana. Tak jarang Kana mengusir Adrian karena pekerjaannya menjadi membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya membuat pekerjaan lainnya menjadi terbengkalai.
"Geli!"Kana mengeliat kegelian saat Adrian memberi kecupan-kecupan kecil di sepanjang lehernya ditambah tangan jahil Adrian yang tidak segan-segan bergerilya ke bagian sensitif Kana.
"Kak, kamu mau sarapan cuma pakai nasi sama kerupuk doang?" Kana menepuk punggung tangan Adrian yang sedang mengelus perutnya yang masih terlihat rata,
"Gak masalah. Asal sebagai gantinya aku sarapan kamu," bisik Adrian di telinga Kana lalu mengecup cuping telinga Kana. Membuat Kana yang sedang sibuk membuat omlet untuk Adrian itu merasa terganggu. Kana takut tidak fokus dan membuat masakannya gagal. Padhal Kana harus bangun pagi buta dan pergi ke tukang sayur di ujung jalan komplek rumahnnya demi mendapatkan bahan-bahan membuat omlet karena persediaan sayuran di rumah sudah habis dan Adrian tidak memperbolehkannya pergi berbelanja bulanan. Untunglah tadi Adrian masih tidur karena kelelahan setelah semalaman mengajak Kana begadang 'mendaki gunung'
"Ihh, Kakak pikir aku ini makanan? Lagian Kakak kenapa sih suka banget nempel-nempel kayak lintah begini!" Kana merengut kesal tangannya kesulitan saat harus membalik omlet di teflon agar tidak hangus.
"I like your smell." Adrian berbisik seduktif,membuat Kana memutar matanya jengah lalu memilih mematikan kompor dan mengangkat omletnya yang sudah matang memindahkannya ke piring keramik bermotif Doraemon lalu berbalik menghadap Adrian.
"Kakak jadi manja. Padahalkan aku yang hamil kenapa malah Kak Ian yang jadi manja?" Kana menatap Adrian keheranan.
Adrian tersenyum saat melihat mata bening Kana mengerjap binggung. "Mungkin seperti apa yang dokter bilang kemarin, *cauvade syndrome." *
Ah, Iya Kana jadi ingat kata-kata dokter kemarin yang mengatakan apa yang dialami Adrian bisa jadi karena Covade syndrom atau kehamilan simpatik di mana suami akan merasakan gejala kehamilan karena perubahan hormon di mana kadar testosteron pada pria menurun menyebabkan kadar estrogen tidak seimbang yang menyebabkan timbulnya gejala seperti wanita hamil. Tuh, Kana ingat semuanya karena walaupun dia lemot terhadap hal-hal tertentu tapi daya ingatnya lumayan.
"Tapi selain itu ada alasan lain sih kenapa aku suka nempel-nempel kayak perangko begini." Adrian mengembalikan fokus Kana yang sempat terbagi.
"Kamu sejak hamil berbeda." Adrian menyambung, membuat Kana mengernyit binggung.
"Beda gimana?" Yang ada juga kamu Kak, yang beda.
Adrian mengecup ujung hidung mancung Kana. "Lebih nyummy,"
* "Nyummy?* Kayak makanan aja*. Nyummy* gimana*?"*
Adrian menempelkan bibirnya di dagu Kana. "Gak bisa dijelaskan dengan kata-kata harus dipraktekkan." Belum juga Kana bertanya lebih dalam, Adrian sudah membungkamnya dengan ciuman di bibir manis Kana. Kana yang merasa belum siap mendapat serangan dari Adrian itu hanya pasrah saja saat suami tercintanya mengeksplor ke dalam mulutnya.membuat Kana lambat laun menjadi lupa diri dan terhanyut dengan ciuman Adrian yang selalu memabukkan. Ciuman mereka tidak akan berhenti kalau saja bel rumah Adrian tidak berbunyi nyaring. Ingatkan Adrian nanti untuk mencopot bel rumahnya.
"Awas,aja ya kalau yang datang itu Kakak kamu," gerutu Adrian sesaat setelah ciuman mereka terlepas tentu saja dengan tidak rela karena terlihat jelas Adrian sangat ingin melanjutkan ke tahap yang lebih, karena sungguh istri kecilnya ini benar-benar seperti heroine untuknya , mengandung candu.
__ADS_1
Memabukkan.
Kana menahan senyumnya melihat wajah 'kesakitan' Adrian. Kana yang polos saja tahu kalau Adrian sedang menahan sesuatu yang menuntut di bawah sana. "Biar aku saja yang buka." Kana berinisiatif untuk membuka pintu, guna menhgindari hal yang tidak diinginkan jika benar yang datang itu Kanda. Tapi untuk apa Kanda pagi-pagi datang ke rumahnya? Atau mungkin saja mamanya yang menyuruh untuk mengantarkan sarapan? Asik! lumayan dapat tambahan sarapan.
Sayangnya, Kana harus menelan kekecewaan saat membuka pintu. Bayangan Kanda berdiri di depan pintu dengan setumpuk tupperware.hilang begitu saja. berganti dengan wanita cantik yang berdiri di depan pintu dengan menjinjing kotak makanan entah apa isi di dalamnya.
" Selamat pagi tetangga baru!" sapa Susan dengan suara sengaja dikeraskan dengan tujuan Adrian mendengar lalu keluar untuk menemuinya. Kana tersenyum sinis, tidak semudah itu Fergusso.
"Eh, Tante ikan asin. Kami lagi nangung sana pulang!" usir Kana judes.
"Anak kucing, ramah banget sih sambutannya," sindir Susan tersenyum merendahkan saat melihat penampilan Kana yang masih memakai piyama lusuh dengan rambut basah. Ah, bukan saingan gue banget!
Kana membulatkan matanya saat mendengar Susan memanggilnya anak kucing. *What? Anak kucing? Woi, Gue rubah! *
*"*Ada perlu apa? Kami lagi sibuk?" tanya Kana melipat tangan ke depan dada jumawa.
"Ak-"
Kata-kata Susan urung saat Adrian berteriak. "Siapa, Yang?"
Belum juga Kana membalas teriakan Adrian, Susan meringsek masuk ke dalam rumah tanpa sempat Kana cegah. Ingin rasanya Kana menyeret Susan keluar tapi dia cukup waras untuk melakukan sesuatu yang bisa saja membahayakan mahkluk mungil di dalam rahimnya.
"Pagi, Ian. Nih, aku bawakan salad buat sarapan." Dengan percaya diri Susan menghampiri Adrian yang sekarang sudah duduk di kursi.
Kana mengepalkan tangannya menahan amarah saat melihat Susan menarik kursi kosong di sebelah Adrian lalu membuka tutup kotak makannya daan meletakkan di depan Adrian yang menatap ke arah Susan kaget.
"Susan? Kamu ngapain?" Refleks Adrian menggeser kursinya sedikit menjauh, apalagi Kana sudah berdiri di depannya dengan wajah merah padam.
Susan tak peduli dengan tatapan tajam Kana dia santai saja saat mengambil sendok makan dan meletekan di kotak makannya. "Ini salad Ian, sarapan sehat untuk kamu." Sengaja sekali suara Susan dibuat manja dan mendesah seperti artis yang doyan banget bicara dengan suara manja-manja lejeh itu. Adrian menatap ke arah kotak makan Susan dan menelan ludah. Kelihatannya enak.
"Kak Ian tidak perlu sarapan dari kamu. Aku sudah membuatkannya omelet." Kana menggeser kotak makan Susan menjauh dari Adrian lalu menggantinya dengan sepiring omelet buatannya. Lagi-lagi Adrian menelan ludah. Lalu mengambil sendok dan siap memakan omelet yang disajikan Kana. Tapi urung saat Susan menggeser piring Kana menjauh, lalu menarik kotak makannya ke hadapan Adrian lagi.
__ADS_1
"Sarapan salad sayur ini lebih sehat, Omelet itu mengandung minyak yang belum tentu melalui proses dua kali." Susan melirik Kana.
*Dih, Sok tahu! Omelet itu digoreng pakai olive oil, woi! *
Kana mendengkus lalu menggeser salad Susan menjauh dari Adrian lagi. "Kak Ian kan kerjanya sampai sore, dia butuh kalori yang lebih dan di omelet ini sudah mengandung kalori yang cukup buat dia." Kana mendekatkan piring omeletnya lagi. Adrian menyandarkan tubuhnya memijit pangkal hidungnya. Lelah meladeni kedua perempuan di depannya.
"Tapi kemarin kamu bilang lagi pengen makan salad kan, Ian?" Susan menatap Adrian, tersenyum sok lembut.
Wajah Adrian menjadi pucat saat melihat Kana menatapnya dengan tatapan bertanya.Susan tahu darimana dia ingin makan salad kemarin? Dia kan hanya bilang pada Joddy? Dan Joddy bukan tipe pria ember.
Susan tersenyum penuh kemenangan saat melihat Adrian yang diam binggung mau menjawab apa. Dan dia merasa di atas angin saat melihat wajah Kana yang merah padam karena menahan amarah. Sepertinya usaha Susan untuk membuat Kana kesal, berhasil.
"Kakak pengen makan salad?" selidik Kana, Adrian menelan ludah membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Iya, tapi itu kemarin," jawab Adrian membuat hati Kana mencelos karena dia malah tidak tahu jika Adrian menginginkan salad, tapi siluman ikan asin ini malah tahu. Duh, maafin mama Nak, Karena bicara kotor.
"Dan Kana gak tahu," gumam Kana lirih tapi Adrian sempat mendengarnya membuatnya merasa bersalah.
"San, makasih sekali untuk salad sayurnya, Aku kemarin memang ingin sekali makan salad sayur dan aku heran kenapa kamu bisa tahu? Padahal aku hanya mengobrol dengan Joddy tentang ini. .
Sekali lagi terimakasih. Tapi Mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak perlu mengantar makanan ke rumah ini. Tolong hargai istri aku. dengan kamu mengantar sarapan untuk aku itu sudah membuat istriku salah paham." Adrian menatap susan tajam dan bicara dengan nada tegas berharap Susan berhenti menganggunya. Karena terus terang saja Adrian merasa terganggu dengan tingkah Susan. Dia diam karena menghormati Susan sebagai wanita sekaligus teman satu kantornya.
Mendengar kata-kata Adrian Susan terdiam tapi bukan berarti dia akan berhenti. Lihat saja nanti Adrian pasti akanmemperhatikannya. "Oke, gak apa-apa. Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu. Sampai nanti di kantor." Susan beranjak dari duduknya, menepuk pundak Adrian lalu bergegas pergi setelah memberi senyuman sinis pada Kana.
"Kenapa Kakak gak bilang kalau pengen salad? Kenapa Tante Ikan Asin itu malah tahu?"Oceh Kana dengan mata yang berkaca-kaca. Adrian bergegas berdiri lalu memeluk istrinya. "Maaf Sayang. Kemarin aku memang ingin sekali makan salad dan aku hanya bilang pada Joddy, aku juga tidak tahu kenapa Susan bisa tahu,"
"Beneran Kakak cuma bilang sama Kak Joddy?" tanya Kana membalas pelukan suaminya.
"Iya, telpon saja Joddy kalau kamu gak percaya."
"Jadi saladnya mau dimakan apa enggak?" Kana mengangkat kepalanya mendongak menatap Adrian yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
Adrian tersenyum lalu mengusap bibir merah Kana dengan ibu jarinya. "Makan kamu aja gimana?" bisiknya dengan nada menggoda membuat Kana tertunduk dengan wajah nerah karena malu.
*********