Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Tembok aja dicemburuin


__ADS_3

Nea dan Moli berdecak kagum melihat rumah baru Kana. Rumah minimalis dua lantai yang sengaja Adrian beli untuk Kana. Pada saat Kana diajak melihat rumah ini pertama kali dia langsung jatuh cinta, selain bentuk rumah yang minimalis dan tidak terlalu besar juga rumah ini masih dekat dengan rumah orangtua Kana. Sehingga ketika Adrian dinas ke luar kota dia tidak perlu khawatir Kana akan sendirian. lagipula ada bibi yang menemani sekarang, orang kepercayaan ibu Rahayu, ibu Adrian yang diminta untuk membantu dan menemani Kana mengurus rumah. Namanya Mbok Darmo usianya sudah 40 tahun tapi masih lincah dan gesit mengurus rumah. Walaupun terus terang Adrian harus menguras tabungannya tapi tidak masalah yang penting istri kecilnya bahagia.



Malam ini sengaja Adrian dan Kana mengadakan syukuran rumah baru mereka. Mereka hanya mengundang teman dan kerabat dekat saja. Setelah acara pengajian selesai dan kerabat dekat sudah pulang, mereka memilih untuk bersantai. Para orangtua sedang mengobrol di ruang tamu sedangkan Kana dan teman-temannya asik mengobrol di gazebu taman yang ada di bagian belakang rumah Kana.


Ada Kanda dan Joddy sedang mengobrol di dapur karena Kanda masih menikmati sisa makanan yang katanya mubazir bila sisa. Padahal memang Kanda saja yang perutnya terbuat dari karet elastis.


"Jadi Si Ikan Asin itu direhabilitasi di RSJ?" Moli membulatkan matanya tak percaya saat mendengar penuturan Kana mengenai nasib Susan setelah sebulan lebih kejadian itu berlalu. Kana mengangguk menyesap teh manisnya. Trauma itu masih ada, hanya saja Kana lebih yakin jika semua akan baik-baik saja. Suami dan keluargany selalu ada untuknya.


"Gak adil banget, harusnya dia di penjara bukan cuma di RSJ." Moli mengepalkan tangannya emosi.


"Ya, kalau memang terbukti dia gila gak bisalah di hukum," sahut Nea matanya melirik ke dalam rumah, wajah Nea langsung merah saat tatapannya bertemu dengan Kanda. Semenjak Kana masuk rumah sakit karena keguguran kemarin Nea dan Kanda akhirnya dekat. Memang awalnya Nea menjaga jarak bila berhubungan dengan Kanda karena Nea merasa risih dengan tingkah Kanda yang usil. Namun seiring dengan intensitas komunikasi mereka yang lebih sering, benih-benih cinta tumbuh di hati Nea walaupun belum ada ungkapan cinta di antara keduanya.


"Ne, kenapa wajah kamu merah begitu?"tanya Moli menatap Nea dengan tatapan curiga. Nea yang merasa diperhatikan Moli dan Kana itu buru-buru mengalihkan pandangannya.


"Kedinginan aja," alibi Nea, lalu menyesap minumannya, bukan karena benar-benar haus tapi hanya sebagai bentuk kamuflase rasa gugupnya.


"Kamu ngerasa dingin Mol?" tanya Kana pada Moli. Moli mengeleng, Nea masuk angin kali makanya ngerasa dingin. Ini bukan dingin, tapi sejuk.


"Eh, Na terus gimana, kamu betah di sini?" Nea sengaja mengalihkan topik pembicaraan menghindari jika Moli bertanya lagi.


Kana tersenyum, lalu mengangguk. Seminggu sudah dia tinggal di sini dan dia merasa nyaman apalagi mamanya masih menemani hanya sampai seminggu. "Enak di sini. Ramai kalau sore banyak anak-anak. Lucu-lucu mereka. " Kana tiba-tiba terdiam. Wajahnya berubah muram. Dia teringat bayinya sudah meninggal.


Menyadari perubahan itu Moli dan Nea saling sikut. "Kamu liburan aja dulu. Kayaknya kamu butuh hiburan deh, Na." Nea yang lebih dulu mengalihkan topik agar Kana tidak merasa sedih karena teringat putri kecilnya.


"Bener Na. Ke Eropa aja," usul Moli, Kana hanya tersenyum.


"Ke Eropa biayanya mahal. Belum kalau kalian nitip oleh-oleh," sahut Kana. Moli dan Nea yang mendengar jawaban Kana itu hanya terkikik geli. Ya, tentu sajalah. Kalau Kana benar pergi ke Eropa Moli dan Nea tidak akan melewatkan untuk titip oleh-oleh paling tidak souvenir khas negara yang Kana kunjungi.


"Kak Ian belum ambil cuti. Katanya masih ada proyek yang belum selesai jadi ya belum bisa liburan." Kana menatap ke dalam rumah dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan suaminya yang selalu teduh dan menenangkan dari balik kaca. Adrian tersenyum ke arah Kana yang menunduk malu-malu. Terus terang saja mereka belum beribadah surga lagi. Padahal sebenarnya Kana sudah selesai nifas seminggu yang lalu, dan Adrian belum tahu itu mengira Kana masih nifas karena memilih tidur ditemani mamanya.




Menyadari perubahan wajah Kana itu Moli mengernyit heran. " Kamu kedinginan sekarang Na. Wajahmu juga merah?" tanya Moli heran. Tadi Nea sekarang Kana. Apa kedua sahabatnya ini sedang masuk angin?


"I-iya lagi dingin," kekeh Kana melirik ke arah Nea yang bibirnya berkedut menahan senyum itu.


" Kalian mau aku buatin susu hangat?" tawar Kana pada dua sahabatnya.

__ADS_1


Nea mengeleng dan Moli mengangguk. "Aku udah kenyang." Nea mengembungkan pipinya menunjukan kalau dia sudah cukup kenyang.


"Aku mau dong! Kamu minta bibi kamu aja Na suruh buatin." Moli menaikturunkan alisnya. Kana terkekeh lalu berpamitan masuk ke dalam rumah untuk mencari asisten rumah tangganya. Sampai di dapur Kana mengernyit heran melihat Adrian dan Kanda sudah tidak berada di sana tinggal Joddy yang sedang asik bermain gadget.



"Kak Joddy sendirian?" tanya Kana menatap sekeliling dapur.


"Iya, nih. Suami kamu sama mbok Darmi lagi keliling nganterin kue-kue. Abang kamu lagi terima telpon di luar,"sahut Joddy meletakkan ponselnya di meja lalu mengalihkan perhatiannya pada Kana.


"Yah, mbok lagi keluar ya?" Kana mendesah kecewa.


"Bentar lagi juga balik. Tadi katanya di komplek sini aja kok." Joddy tersenyum, tangannya mengetuk-ngetuk meja. Tangan satunya menopang dagu dengan mata menatap lurus pada Kana yang malam ini sangat cantik dengan hoddie merah dan rambut terurai. Mumpung suaminya sedang keluar, boleh lah dia sedikit nakal menatap istri orang.


"Ya udah deh aku tunggu." Kana duduk di depan Joddy memberi isyarat pada Moli melalui jendela kaca untuk menunggu sebentar.


"Nea ada something ya sama kakak kamu?" tanya Joddy melirik ke arah Nea dari jendela kaca yang bisa melihat keberadaan Nea.


"Masa sih?"


"Hem iya, dari tadi liat-liatan." Joddy sedari tadi sebenarnya beberapa kali melirik ke luar dapur hanya untuk memastikan Kana tersenyum. Eh, malah dia memerogiki Kanda dan Nea yang sedang bertatapan dengan wajah merah.


"Aku malah baru tahu. Biarin ajalah. Kasian juga Bang Kanda jomlo karat." Kana tersenyum manis, membuat Joddy mengumpat dalam hati karena sudah lancang merasakan sesuatu yang aneh di dadanya secara tiba-tiba saat melihat senyum Kana.


Bukan tipe Joddy. Joddy tidak terlalu suka cewek yang nyablak. Dia lebih suka yang manja, polos dan lucu kayak- Astaga Joddy!


Sadar, Kana udah jadi istri orang.


"Belum kepikiran Dek," sahut Joddy lalu mengangkat cangkir kopinya bersiap minum.


"Kirain karena belum move on dari Kana."


Uhuk..uhuk..


Kata-kata Kana itu membuat Joddy tersedak kopi yang baru saja dia minum. Ditatapnya Kana yang cekikikan.


"Becanda Kak. Mana mungkin Kak Joddy naksir sama aku yang lemot ini." Kana terkekeh geli, karena merasa berhasil menggoda Joddy.


Joddy berdehem salah tingkah. Tapi becandaan kamu ini pas Na. Pas banget ngena di hati. Tahu aja kalau aku belum move on dari kamu.


"Siapa bilang kamu lemot, Dek?" Kamu itu istimewa Sayang. Duh, untung waktu di rumah sakit aku keceplosan bilang sayang Kana gak sadar.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan Bang Kanda." Kana cemberut mengingat Kakaknya yang selalu bilang kalau dia itu lemot. Joddy tersenyum lega, akhirnya gadis kecilnya sudah kembali seperti semula. Ceria. Semoga saja selalu begini.


"Jangan dengerin Kakak kamu Dek. Dia cuma iri sama kamu karena kamu banyak yang sayang," tutur Joddy.


Kana tersenyum. "Harusnya kamu yang jadi kakak Kana, Kak. Soalnya Kak Joddy selalu baik sama aku gak pernah usil." Entah kenapa mendengar kata-kata Joddy ada perasaan tak terima dalam hati Joddy.


Lebih dari Kakak juga boleh lho Na.


"Kanda juga baik Na. Dia sayang banget sama kamu kok. Salah satu cara buat ungkapin rasa sayang dia ya dengan usil sama kamu." Joddy membela Kanda bagaimana pun Kanda kan memang kakak Kana.


"Iya juga sih. Tapi Kak, Kana mau bilang makasih ya, selama ini selalu saja bantu Kana. Dari nolong ngurus kasus Susan, ngebeli rumah Kak Ian, sampai negoin rumah ini biar dapat harga miring." Kana lagi-lagi tersenyum membuat Joddy terpaku di tempatnya. Sial, senyum aja sudah bikin jantung mau copot.


"Lagi pada ngobrolin apa nih serius amat berdua," Adrian tiba-tiba muncul menatap ke arah Kana dan Joddy dengan wajah kesal.


Joddy tersenyum geli. Adrian kayaknya cemburu nih!


"Banyak Kak!" seru Kana girang. Membuat Adrian kesal dibuatnya. Tapi dasar Kana tidak peka dia malah memanggil Mbok Darmi dan menyuruhnya membuatkan susu hangat untuk Moli yang sudah menunggu sejak tadi.


Adrian membuang napas kasar. Kalau ada Joddy selalu saja dirinya tersisih. Heran, kenapa sih Kana bisa sampai segitunya pada Joddy? Apa coba bedanya dia sama Joddy? Ganteng sama.


Kaya- lebih kaya dia.


Pinter, jelas lebih pinter Adrian.


Ah, sial!


Kenapa sih Adrian malah membandingkan dirinya sendiri dengan Joddy? Dan juga kenapa dia selalu cemburu jika melihat Kana dekat dengan Joddy.


"Kak, Kenapa?" Kana mengenggam tangan Adrian yang tersentak dari lamunannya itu.


"Enggak, Kenapa-kenapa," sahut Adrian melirik Joddy kesal.


"Cemburu lah," sindir Joddy terkekeh geli.


"Siapa yang cemburu Jod?" sahut Kanda yang ikut bergabung di dapur.


"Siapa lagi? Tuh!" Joddy menunjuk Adrian dengan ekor matanya.


"Oh, Adrian. Dia mah tembok aja dicemburuin," goda Kanda yang langsung berhigh-five dengan Joddy, membuat Adrian mengumpat dalam hati melihat kedua temannya kongkalikong membuatnya kesal. Kana yang melihat para lelaki itu hanya mengernyit binggung.


*************************

__ADS_1


hay, terimakasih ya buat yang selalu nunggu cerita ini. I love you all. Untuk yang enggak suka cerita ini gak masalah. karena setiap tulisan punya pembacanya sendiri hihihihihihi. Terimakasih. maaf banget ya kalau visualisasinya ngeganggu.


sumber gambar: google**


__ADS_2