
Terimakasih ya Ian. Udah nemenin," ucap Susan siap membuka pintu mobil. " Maaf ya Kana, tadi suaminya dipinjam tanpa izin."
Susan menatap ke arah Kana yang tidak menolehnya sama sekali. Sejak mereka tanpa sengaja bertemu di mall sampai Adrian menghentikan mobilnya di depan rumah Susan, Kana sama sekali tak bersuara. Susan mengangkat bahu acuh. Membuka pintu dan keluar dari mobil Adrian dengan senyum licik tersungging di bibir, yang tentu saja Adrian tidak sempat melihatnya.
Kana masih tak bergeming bahkan ketika mobil sudah masuk garasi dan dia memilih keluar tanpa menunggu Adrian membukakan pintu untuknya seperti biasa.
Dia memilih menahan diri untuk tidak bicara apapun. Membuat Adrian merasa sangat bersalah padanya. Jika tahu akan bertemu Kana dan dia salah paham, Adrian lebih memilih melewatkan traktiran Joddy yang sedang berulangtahun dan memilih makan siang di kantor, tapi penyesalan selalu datang belakangan.
"Na, jangan diam saja dong!" bujuk Adrian berjalan di belakang Kana yamg sedang menuju dapur.
"Sayang, aku kan sudah jelasin semuanya. Kalau tadi aku pergi ke mall buat makan-makan karena Joddy ulangtahun. Dan aku minta izin sebentar untuk beliin kamu tas. Kamu bilang kemarin ingin tas merk ini." Adrian masih berusaha membuat Kana bicara dia meletakkan paper bag berisi tas di atas meja. Tas model ransel kecil yang sudah sempat dia beli tadi sebelum Kana memergokinya. Matanya tak lepas mengawasi pergerakkan Kana. Mencuci tangan, mengambil jus dingin dari kulkas dan meminumnya semua terekam di pandangan Adrian.
Adrian tersentak kaget saat tiba-tiba Kana membalikkan badan mendekati meja makan lalu mengambil paper bag mengeluarkan isinya lalu membolak-baliknya melihatnya secara detail. Wajahnya datar bahkan bisa dikatakan tidak ada ekspresi.
"Yakin ini buat aku? Bukan buat Tante Ikan Asin?" Kana meletakan tas itu kembali ke tempatnya. Tas Asli. Harganya bisa buat beli ponsel pintar seperti punya kakaknya.
"Buat kamu Na, ngapain aku beli buat Susan," sahut Adrian, dalam hati dia ingin tertawa waktu Kana menyebut Susan dengan sebutan ikan asin. Tapi sebisa mungkin dia tahan bisa makin ngamuk istrinya yang sedang merajuk ini.
" Kan, ke tokonya berdua," sindir Kana tajam. Adrian mengaruk kepalanya binggung mau menjelaskan bagaimana lagi.
"Tadi waktu aku bilang mau beli tas, Susan tiba-tiba memaksa ikut. Dia ngomongnya di depan anak-anak. Mau nolak gak enak."
"Kalau dia minta dinikahin di hadapan anak buah, juga gak Kakak tolak karena gak enak?"
Adrian menghela napas. " Kok, Kana mikirnya sejauh itu?"
Kana menarik kursi lalu duduk matanya menatap suaminya galak. "Bisa saja keseringan dirayu, Kakak jadi tergoda sama Tante itu." Kana tak lupa mengelus perutnya pelan sambil mengucapkan pamali setiap menyebut nama Susan. Takut mirip.
" Kalau niat tergoda udah dari dulu. Aku gak akan tergoda. Ngapain makan ikan asin kalau ada salmon di rumah?" Adrian mencoba bergurau. Tapi hanya ditanggapi dingin oleh Kana.
"Kakak samain aku sama ikan?!" Kana memdelik kesal membuat Adrian terkesiap lalu menggaruk kepalanya
__ADS_1
Kemarin kamu malahan samain aku sama kucing jantan. "Ehm, itu cuma analogi."
"Tadi Kakak bilang 'kalau tergoda udah dari dulu'. Berarti Tante itu godain kamu kalau di kantor??" Ah, tentu saja! Di rumah saja dia agresif.
Adrian mengacak rambutnya binggung lalu menatap Kana dan tersenyum lembut. "Ya, intinya aku gak akan tertarik sama Susan atau wanita manapun. Di rumah kan udah ada bidadari yang dengan setia menungguku setiap hari." Adrian berdoa dalam hati, semoga rayuannya ini berhasil membuat Kana luluh. Dia tidak mau kalau harus tidur di sofa.
Kana merengut kesal, pura-pura tidak suka dengan rayuan Adrian padahal dia binggung bagaimana cara menutupi semburat merah di pipinya yang mulai chubby.
"Jadi kamu maafin aku kan, Sayang?" bujuk Adrian, dia benar-benar tidak mau kalau harus tidur tanpa Kana.
Wajah Kana menghangat saat mendengar Adrian memanggilnya dengan kata 'sayang' dengan nada yang mesra. Sebenarnya Kana sudah tidak marah ketika mendengar penjelasan Adrian. Di tambah penjelasan dari Joddy, orang yang omongannya bisa dipegang. Awalnya memang dia cemburu berat, membayangkan Adrian dan Susan bersisihan saat di mall bahkan tertawa bersama rasanya ingin mencabik-cabik Susan tapi dia sadar diri harus tetap waras karena ada mahkluk kecil di dalam perutnya.
Lagipula jika dia mengamuk seperti saran Moli yang memintanya menangkap basah Adrian dan Susan di depan umum, malah akan menujukkan kalau dia memang belum dewasa. Kana tidak mau dianggap kekanak-kanakan oleh
Adrian. Dia harus bisa berpikir dewasa. Berpikir sebelum bertindak.
"Dimaafin gak?" Adrian memastikan, mendekati Kana.
" Engga." Adrian menjawab dengan tegas.
"Dia kan cantik."
"Cantikan juga kamu." Sungguh, Adrian tidak bermaksud untuk menggombal karena buat Adrian, Kana adalah wanita paling cantik. Bibir mungil, hidung mancung, mata bening dan kulit putih halus seperti pualam nyaris sempurna di mata Adrian. Bagaimana mungkin dia melirik wanita yang untuk Adrian tidak ada apa-apanya dibandingkan istri kecilnya ini?
"Gombal!" Kana tersipu malu mengintip Adrian dari balik bulu matanya yang lentik. Adrian sedikit lega sepertinya Kana sudah tidak marah padanya.
"Tapi Kakak di kantor ketemu dia terus. Terus di rumah juga ketemu dia lagi!" Kana merengut mengingat Susan ada disekeliling Adrian. Di tempat kerja dan di rumah, Susan 'berkeliaran' seperti hantu saja.
Adrian menarik kursi kosong di samping Kana. Lalu duduk menatap Kana lembut. " Yang penting kan aku pulangnya ke rumah. Makan dan tidur sama kamu. Kalau perlu mulai sekarang mandi juga sama kamu."
Kana menatap Adrian kaget lalu mencubit perut Adrian karena malu membayangkan kata-kata terakhir Adrian, tentang mandi bersama.
__ADS_1
Adrian menangkap tangan Kana yang semula mencubit perutnya lalu mencium punggung tangan Kana dengan pandangan lembut. Kana menunduk malu-malu dengan pipi merona. Cantik sekali.
" Kamu cantik banget sih, Sayang. Kayaknya cintaku makin hari makin bertambah."
"Kak Ian sekarang pinter deh nge-gombal!"
"Tapi kamu suka kan?"
Kana mengangguk cepat dengan senyum menghias bibirnya. Ah, ternyata benar kata teman-teman di kantor Adrian. Kalau wanita itu suka sekali dengan hal-hal romantis. Termasuk digombalin. Padahal kalau boleh jujur Adrian tidak punya bakat untuk menggombal. Dia saja tidak tahu apakah yang dikatakannya masuk ke dalam kategori merayu atau tidak. Dia sih, berusaha jujur. Kana memang cantik dan Adrian sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada Kana.
"Aku cinta.kamu Na."
Kana menatao Adrian kaget sepertinya dia salah dengar. " Hah? Apa Kak?"
"Aku cinta kamu Kana Fradella Gufron lebih dari yang kamu tahu," ujar Ardrian tulus membuat Kana menunduk malu. Adrian mengangkat dagu Kana agar menatapnya.
"Balas dong!"
Kana tersenyum malu-malu. " I love you more, Kak!" balas Kana dengan senyum merekah.
" of course," balas Adrian lalu mencium bibir mungil Kana yang lembut. Mereka saling berbalas pagutan menimbulkan suara-suara decakan yang memenuhi ruangan. Adrian sudah yakin semua pintu terkunci rapat dia yakin kali ini tidak ada yang bisa menganggu kegiatan intim mereka. Mumpung badai Katrina berbalik arah dia bisa meminta haknya pada Kana. Dan dia yakin kalau pun Kanda datang tidak akan bisa masuk sesuka hati karena Adrian yakin semua pintu terkunci.
Tangan Adrian merayap ke atas mengelus punggung Kana bersiap untuk step selanjutnya.
Memang Adrian sudah mengunci pintu tapi dia lupa gangguan bukan hanya berasal dari pintu. Dan lupa mematikan ponsel atau sekedar men-silentnya adalah bentuk lain dari gangguan itu. Adrian terpaksa melepas ciumannya untum sekedar mengambil ponsel yang berdering nyaring.
"Shit!" umpat Adrian lirih saat membaca nama si penelpon.
"Kakak kamu benar-benar tidak tahu sitkon!" gerutu Adrian menatap Kana yang tersenyum geli dengan wajah merah itu.
********
__ADS_1