
Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, permintaan Joddy untuk bertukar posisi dengan Berlian disetujui oleh atasan mereka, begitupun dengan Lian. Sanksi tegas tetap diberikan padanya, Lian tetap dimutasi ke kota lain tapi masih dalam satu pulau yaitu Bandung.
Lian sungguh menyesal untuk kesalahan yang dia lakukan dan menyebabkan Joddy harus pergi jauh. Seandainya dia bisa menahan egonya mungkin hari ini dia masih bisa berusaha mengambil hati Joddy. Tapi penyesalan memang selalu datang belakangan.
Hari ini dia akan meminta maaf dan berterimakasih pada mantan atasannya itu, karena Joddy kepergian Lian ke Papua pun dibatalkan.
"Bang!" Lian berteriak memanggil Joddy ketika melihat pria itu keluar dari ruangan HRD. Joddy yang berniat pulang itu urung saat melihat Lian berlari kecil ke arahnya, rambut panjang ungu tua yang diikat ekor kuda berayun-ayun. Lian terlihat cantik, tapi tetap saja Joddy hanya menganggapnya teman tidak bisa lebih dari itu.
"Ada apa?"
Lian berhenti tepat di depan Joddy, dia mengatur napasnya yang terengah-engah. " Bang, bisa bicara sebentar?" tanyanya setelah napasnya normal.
Joddy mengangguk lalu menunjuk kursi tunggu yang berada tak jauh dari mereka berdiri.
Lian mengikuti Joddy duduk di sampingnya. "Bang, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal bertingkah kekanakan seperti itu. Ak-aku terlalu egois, harusnya aku gak maksain perasaan aku ke kamu, Bang. Maafkan aku, kekacauan ini benar-benar karena aku. Dan seharusnya kamu gak perlu berkorban sejauh ini Bang."
Joddy menatap Lian lalu tersenyum. " Jadi kamu memilih resign?"
Lian tersentak kaget lalu menggeleng. "Maafin aku, Bang. kedengarannya egois, tapi aku juga gak bisa resign. Aku butuh kerjaan ini. Maafin aku, Bang." Lian tertunduk, pipinya sudah basah dengan air mata.
"Aku tau Lian. Tidak mudah menjadi kamu. Kamu tidak perlu merasa bersalah, yang penting adalah kamu mau mengakui kalau kamu salah dan mau minta maaf, aku berharap kamu tidak akan mengulangi hal yang sama." Nasehat Joddy membuat hati Lian menghangat. Lian pikir Joddy masih marah padanya, tapi ternyata benar yang dibilang teman-teman kantornya. Joddy orang yang baik dan Lian tidak menyesal telah jatuh hati padanya.
"Aku pergi ke Papua bukan karena kamu, tapi mungkin ini cara agar aku tidak terlalu stag pada orang yang sama. Lagipula Papua itu tempat yang unik. Aku suka segala sesuatu yang unik. Ya, siapa tahu saja ada anak kepala suku yang jatuh cinta padaku." Joddy terkekeh.
"Kapan berangkat?" tanya Lian.
"Seminggu lagi."
"Secepat itu?"
Joddy mengangguk, kantor mendesak karena memang butuh karyawan dan mau tidak mau Joddy harus segera berangkat.
"Semoga sukses ya, Bang! Jaga diri kamu baik-baik Bang." Mata Lian mulai berkaca-kaca rasanya seperti orang yang baru saja patah hati karena putus cinta.
"Kamu juga." Joddy mengusap kepala Lian, rasanya Lian ingin sekali mengenggam jemari Joddy merasakan kehangatannya. Tapi, dia cukup tahu diri untuk tidak melakukan itu.
"Baik-baik di Bandung. Jangan mudah percaya dengan pria yang baru kamu kenal, karena di luar sana masih banyak 'Joddy-Joddy' lainnya yang lebih berbahaya." Joddy ingin tertawa mendengar nasehatnya sendiri.
"Tetaplah jadi Berlian yang bersinar sekalipun jatuh di lumpur. Kamu sudah seperti adikku sendiri. Aku berharap adik perempuanku ini bahagia dan bisa mendapatkan pasangan yang tulus. Maaf juga ya atas kesalahanku, "sambung Joddy. Lian mengusap air mata yang lolos membasahi pipinya.
__ADS_1
"Terimakasih, Bang. Maafin Lian. Semog Bang Joddy bisa segera membuka hatinya untuk wanita lain. "Lian berharap wanita itu dirinya. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi karena baru saja dia tahu Joddy hanya menganggapnya adik. Tidak lebih dari itu. Sakit. Perih. Tapi dia harus ikhlas, karena di suatu tempat jodohnya sedang menunggu. Meskipun dalam hati Lian berharap jodohnya adalah Joddy.
Joddy mengangguk lalu menepuk pundak Lian beberapa kali. "Oya, sebelum pergi boleh aku minta sesuatu?" tanya Joddy. Lian buru-buru mengangguk. Apapun akan Lian kabulkan.
"Minta maaf pada Kana sebelum kita sama-sama pergi, "pinta Joddy membuat Lian terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum manis.
"Terimakasi Lian."
*
Hal yang paling Joddy benci adalah mengucapkan perpisahan. Perpisahan itu memaksa, dan memaksa itu menyakitkan. Sama ketika dia harus menghadapi kenyataan kalau dia sebentar lagi akan pergi meninggalkan Jakarta. Meninggalkan Kana. Gadis istimewa di hatinya yang kini sedang menatapnya tajam seperri seorang hakim yang bersiap menghakimi terdakwanya, saat Joddy sengaja berkunjung ke rumah Adrian dan Kana untuk berpamitan.
Joddy sengaja meminta waktu berdua dengan Kana mengabaikan Adrian dan Kanda yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari ruang makan. Awalnya Adrian menolak keras sewaktu Joddy meminta izin bicara dengan istrinya. Mana ada coba, seorang suami yang rela istrinya berduaan dengan pria lain? Tapi sialan memang Joddy, dia punya cara jitu untuk membuat Kana membujuk Adrian agar mengizinkan Kana bicara dengannya. Dan lihatlah sekarang, Adrian dengan gelisah memperhatikan istri dan sahabatnya yang sudah 30 menit lalu hanya saling diam.
Di luar ekspektasi mereka. Mereka pikir saat Kana mendengar berita Joddy akan pindah ke Papua dia akan menangis sesegukan tapi ternyata dia hanya diam saja.
"Berani taruhan, begitu Joddy buka mulut bakalan digampar sama Si Kuya," bisik Kanda, Adrian melirik sekilas lalu hanya diam tak tertarik dengan kata-kata Sang Kakak Ipar. Adrian lebih tertarik pada dua orang yang sedang terdiam dan saling pandang itu.
"Dek ak-"
Plakk
"Benarkan yang gue bilang Ian? Kana bakalan nampar Si Kampret," bisik Kanda. Adrian cukup takjub juga dengan tebakan Kanda yang benar itu. Dia juga tidak menyangka Kana akan menampar Joddy.
Joddy memegang pipi yang ditampar Kana. " Dek?" Bertahun-tahun mengenal Kana baru kali ini dia mendapat tamparan, bahkan Joddy yakin sekali Adrian pun belum pernah ditampar oleh Kana.
"Aku benci sama kamu Kak! Kenapa gegabah begitu sih? Kenapa Kak Joddy minta tukar posisi dengan Mbak Lian? Padahal dalam hal ini Kakak tidak salah. Tapi aku dan Mbak Lian yang salah!" Kana mengatakannya dengan emosional dia tidak menyangka gara-gara dia Joddy harus menanggung akibatnya.
"Kamu sama Lian gak salah Kana. Aku mengambil keputusan untuk pindah ke Papua bukan sepenuhnya karena masalah ini. Tapi memang aku harus pindah agar aku bisa berkembang, tidak begini-begini aja." Bohong! Joddy berbohong, faktanya dia ingin melarikan diri dari kenyataan kalau dia menyukai istri orang, dan adanya masalah Lian kemarin hanyalah 'tiket' agar dia punya alasan untuk pergi.
"Tapi kenapa harus Papua Kak? Itu jauh sekali!" Mata Kana sudah berkaca-kaca dia tidak terima jika harus kehilangan orang sebaik Joddy, yang selalu ada buat dia, yang selalu menuruti kemauannya, yang selalu mendukung dia dan yang selalu mengerti dia di saat Kana dalam keadaan terpuruk sekalipun.
Joddy selalu ada.
"Karena memang kebetulan kantor di sana sedang butuh karyawan, Kana." Joddy mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan diri untuk tidak memeluk gadis di depannya ini, karena wajah sedih Kana sungguh menyiksanya.
Apa Joddy salah karena dalam waktu yang sama dia membuat dua orang wanita bersedih? Astaga, Joddy benar-benar ingin memeluk Kana.
Ingat Jod, dia milik orang. Lo gak berhak apa-apa!
__ADS_1
"Maafin aku Kak, semua gara-gara aku!" Kana menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya menangis sesegukan, Joddy ingin sekali menarik pundak Kana dan memeluknya erat tapi sepasang mata tajam di pojok sana mengurungkan niatnya. Si Pencemburu itu bisa saja membuat kaki dan tangannya patah.
"Hei, jangan menangis, Na." Joddy menarik tangan Kana yang menutupi wajah. Lalu mengusap sudut mata Kana yang berair. Adrian yang melihat itu hanya bisa mendengus sambil matanya berkata, 'Oke, masih gue pantau'.
"Aku cuma ke Papua Na. Bukan kutub selatan kita masih bisa ketemu kan, kalau kamu sama Adrian liburan ke Raja Ampat?" Joddy mencoba menghibur Kana. Dalam hati dia bahagia juga, karena Kana menangisi kepergiannya. Itu berarti Joddy lumayan penting untuk Kana.
"Gak mungkin!" seru Kana kesal membuat Joddy mengernyit.
"Kenapa begitu?"
"Biaya ke Raja Ampat kan mahal banget mending sekalian ke Eropa!" sahut Kana, membuat Joddy tertawa kecil lalu melirik Adrian yang menepuk jidatnya tak habis pikir dengan kepolosan Kana yang masih saja sering muncul.
"Kak, kalau Kak Joddy pergi siapa malaikat pelindungku?"
Hah, malaikat pelindung? Boleh gak sih Joddy bersorak karena dianggap sebagai malaikat oleh Kana?
"Masih ada Adrian dan juga Kanda. Mereka akan selalu menjaga kamu, Na," balas Joddy, dia mengurungkan niatnya untuk melakukan celebrate atas pengakuan Kana yang menganggapnya sebagai malaikat.
"Iya, tapi kalau Kana lagi kesel sama mereka larinya ke mana kalau Kakak saja pergi."
"Kamu bisa hubungi aku. Lewat telepon, pesan, sosial media atau email. Kalau Adrian sampai nyakitin kamu, AKU AKAN BAWA KAMU KE PAPUA !" Sengaja Joddy mengeraskan suaranya di kalimat terakhirnya membuat Adrian mengumpat lalu berteriak," Langkahi dulu mayat gue, Kampret!"
"See. Suami kamu yang posesif dan cemburuan itu akan menjaga kamu dengan baik dan percaya Na dia tidak akan menyakitimu." Joddy mengambil tangan Kana lalu mengenggam jemarinya mengabaikan suara gebrakan meja di ujung sana.
"Kamu baik-baik, ya. Jaga kesehatan, jangan makan makanan pedas biar aku cepet dapat ponakan lagi."
Kana mengangguk pelan. "Kakak juga. Jaga kesehatan. Jangan suka PHP-in anak orang lagi. Dan nikahnya buruan, dapat orang sana juga gak papa."
"Kamu ini!" Joddy terkekeh lalu mengacak rambut Kana. Kebiasaan yang akan selalu dia rindukan. "Boleh peluk gak sih Na?" tanya Joddy, Kana tersenyum lalu menghambur ke pelukan Kana. Membuat kesabaran Adrian habis segera dia beranjak dari duduknya bersiap menerjang Joddy tapi untung dengan sigap Kanda mencegahnya.
"Udah, biarin aja. Kasian Si Kampret cintanya gak kesampaian masa peluk sebagai tanda perpisahan aja gak boleh?" bisik Kanda. Adrian mendengus lalu duduk kembali.
"Kamu harus bahagia ya, Na." Aku akan selalu menjagamu dalam doa. Joddy meneruskan dalam hati. Dia menghirup aroma mint yang menguar dari rambut Kana. Harum ini akan selalu dia ingat. Kan Joddy simpan baik-baik di memorinya.
"Kak Joddy juga. Sayonara, Kak!"
Joddy memejamkan mata memeluk Kana erat. Jika ada kehidupan lain, semoga kita dipertemukan sebagai jodoh.
************************
__ADS_1