Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Kusut


__ADS_3

"Kak..." panggil Kana pada Adrian yang sejak tadi fokus pada laptop di depannya dengan setumpuk map yang Kana tidak ingin tahu apa isi dari map-map tersebut.


"Hem." Hanya itu jawaban Adrian matanya tetap fokus pada laptop di depannya, jari-jarinya sibuk menari-nari di atas keyboard. Kana mendengkus saat tidak mendapat respon memuaskan dari Adrian yang memilih sibuk dengan pekerjaannya.


Padahal kan janjinya kerjaan kantor tidak dibawa ke rumah, ini apa??


"Kak,"


"Ya."


"Kak Ian.." Kana mulai menoel-noel bahu Adrian.


"Kenapa Sayang?" Adrian tak menatap Kana sama sekali. Membuat Kana kesal. Padahal hari ini dia ingin sekali bermanja-manja dengan suaminya itu


"Kak! Aku di sini bukan di situ," rengek Kana meminta perhatian. Adrian terkekeh memutuskan mematikan laptop meletakkannya di meja lalu duduk di samping Kana yang wajahnya sudah cemberut.


"Kamu lagi pengen makan sesuatu?"


Kana mengeleng pelan."Kakak sibuk terus sih? Ini kan akhir pekan harusnya kita senang-senang."


Adrian mengangkat sebelah alisnya. "Senang-senang? Seperti..." Adrian menggantungkan kalimatnya lalu menaik turunkan alisnya.


Kana mengernyit heran. " Apa Kak maksudnya gini-gini?" Kana menirukan Adrian menaik turunkan alisnya. Adrian berdecak lalu merangkul bahu Kana.


"Maksudnya .... itu lho Na, jenguk adek bayi." Tangan Adrian perlahan mengelus perut Kana.


'


Kana makin binggung dengan kode yang disampaikan Adrian dia masih belum paham jika Adrian meminta haknya sebagai suami. "Adek bayi siapa?"


Adrian mengaruk tengkuk lehernya. Susah memang kalau punya istri yang 'lemah kode'. Adrian mendekat ke telinga Kana lalu berbisik pelan membuat mata Kana membulat seketika. " Ihh, Kak Ian! Maluu.." Kana memukul dada Adrian pelan.


"Kenapa harus malu? Udah halal ini. Lagian kita kan udah sering." Adrian tersenyum manis, berusaha membujuk Kana.


" Tapi... Kana boleh minta sesuatu tidak?"


Adrian berdecak kesal, kenapa harus pakai syarat sih?


"Apa?"


Kana sedikit ragu tapi dia harus mengatakan keinginannya. Bukankah Joddy bilang, dia harus jujur dan mengungkapkan ganjalan hatinya?


"Kak, pindah rumah yuk?"


Adrian menatap Kana kaget. Kenapa istrinya ini tiba-tiba minta pindah rumah? Apa karena rumahnya ini terlalu kecil? Atau kurang luas?


"Lho, kenapa harus pindah? Memang kamu gak betah di sini? "


Kana cemberut lalu memilin-milin ujung kaos Adrian. " Betah sih Kak, betah bangeeet malah. Tapi-" Semua berubah sejak negara api menyerang. Sejak ikan asin tinggal di depan rumah kita. Kana meneruskan dalam hati.


"Tapi?"


"Tapi bosen Kak," sahut Kana asal. Dia takut dikatakan kekanakan jika alasan utama ingin pindah rumah adalah karena Susan.


Adrian tersenyum lalu memengang kedua bahu Kana. Menatapnya lebih dalam. "Yakin karena bosan alasannya? Bukan karena Susan?"


Kana terkesiap saat mendengar apa yang dikatakan suaminya. Jadi Adrian tahu alasan sebenarnya Kana ingin pindah rumah?


"Ehm, karena Susan." Kana mengangguk pelan. Sekalian sajalah biar Adrian tahu alasan yang sebenarnya.

__ADS_1


Adrian menarik dagu Kana agar menatapnya. "Segitu cintanya kamu sama Kakak?"


Muka Kana memerah malu saat mendengar apa yang dikatakan Adrian. "Ihh, Kakak! Pede banget!"


Adrian terkekeh lalu mengusap pipi Kana lembut. "Percaya sama aku Na. Aku sama sekali tidak tertarik pada Susan atau wanita lainnya. Aku sudah berjanji pada Papa kamu untuk menggantikan tanggung jawab menjagamu. Jika aku menyakitimu itu sama saja menyakiti orangtua kamu dan melukai kepercayaannya. Jadi, berhenti khawatir Na. Aku akan selalu menjaga hati aku buat kamu. "


Adrian meraih tangan Kana lalu menempelkan di dadanya. "Di sini cuma ada kamu. Sudah tidak ada ruang untuk oranglain lagi. Kecuali tentu saja untuk anak kita." Adrian berdehem, sudah romantis belum ya kira-kira apa yang dia katakan barusan.


Wah, sepertinya Adrian harus banyak belajar merayu dari Kanda dan Joddy. Karena untuk urusan merayu, gombal dan romantis kedua sahabatnya itu memiliki jam terbang lebih tinggi dibandingkan dirinya yang terkesan kaku. Pacaran saja Adrian belum pernah, hanya sekedar dekat. Tak urung kisah percintaannya hanya sampai batas friendzone tidak berani naik ke level yang lebih tinggi lagi. Satu-satunya mantan Adrian ya hanya Kana yang sekarang sudah jadi istrinya.


Kana tersenyum, mau tak mau dia merasa tersanjung juga dengan kata-kata Adrian. "Gombal!" Lalu tangannya mencubit perut Adrian menyamarkan perasaan malunya.


"Kok gombal sih, Na?" Padahal Adrian hanya berusaha jujur pada Kana. Urusan gombal-menggombal dia masih harus banyak belajar lagi.


"Kak Ian kan gak pernah romantis!"


"Masa sih? Kalau gitu mulai sekarang aku akan belajar romantis."


"Jangan!" tolak Kana tegas.


Adrian mengernyit." Kok jangan?"


Kana menempelkan jari telunjuknya ke dada Adrian membuat pola-pola abstrak di sana." Nanti makin banyak yang naksir sama Kakak. Kakak gak usah romantis kayak sekarang aja Kana udah sayaaaaang banget."


Adrian menangkap tangan Kana yang sejak tadi bergerak-gerak tak beraturan di dadanya membuatnya makin gelisah saja. " Kalau gitu aku romantisnya di depan kamu saja ya? Gimana?"


Kana tersenyum malu, lalu mengangguk. " Nah, kalau itu boleh banget."


Adrian mencium tangan Kana. "Kalau yang 'itu' boleh juga gak?" tanya Adrian tersenyum penuh arti.


"Itu apa sih Kak?"


Pipi Kana memerah menahan malu. Tapi tiba-tiba dia menatap Adrian serius. " Terus gimana sama pindah rumahnya?"


Yah, masih ingat saja masalah pindah rumah. "Iya, Kakak akan pertimbangkan Sayang. Cari rumah kan gak mudah." Lagipula rumah ini bentuk perjuangan Adrian. Hasil jerih payah Adrian tanpa bantuan orangtuanya. Kok rasanya terlalu berat ya kalau harus pindah dari sini. Tapi kalau tidak pindah Kana bisa kepikiran terus sama Susan.


"Benar ya, Kak?" Kana memperingatkan.


"Iya. Sekarang udah boleh kan?" Adrian benar-benar sudah tidak sabar. Harus Adrian akui sejak hamil Kana beda. Dia jauh lebih berani di ranjang. Ternyata benar kata teman-teman kantornya, libido wanita hamil akan meningkat tajam dari sebelum hamil. Duh, Adrian makin pusing mengingatnya, sesuatu di bawah sana minta segera untuk dipuaskan.


"Na..."


"Iya, boleh." Kana menunduk dengan wajah merah dan Adrian bersorak dalam hati, akhirnya pusakanya akan segera bertemu tempatnya.


******


Kana mengeliat lalu meraba tempat di sampingnya.


Kosong!


Kana membuka matanya lebar-lebar lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


Sepi. Adrian kemana?


Kana mengambil piyama yang jatuh tak beraturan karena ulah Adrian tadi pagi yang meminta 'babak' kedua, tentu saja dengan tingkat kehati-hatian level dewa mengingat kandungan Kana masuk akhir trimester awal. Mengingat itu Kana malu sendiri.


Apalagi semalam dia sempat meminta sesuatu yang belum pernah dia lakukan sejak menikah dengan Adrian. Kana bergegas memakai baju lalu mengelus perutnya mengucapkan permintaan maaf karena semalam kedua orangtuanya terlalu bersemangat. Kana beranjak dari tidurnya memanggil suaminya tapi tak ada sahutan. Membuka pintu kamar mandi dan ternyata kosong, Adrian tidak menggunakan kamar mandi. Kana bergegas keluar kamar untuk mencari Adrian, pasti dia sedang membuat sarapan untuknya.


"Kak..."

__ADS_1


Kosong.


Dapur masih bersih sama persis dengan terakhir ketika Kana membersihkannya dan mematikan lampunya untuk pergi tidur.


Ah, ruang tv. Kana beranjak ke ruang tv mungkin saja Adrian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda semalam.


Tapi ternyata sama, Adrian tidak ada di sana. Apa Adrian pergi ke kantor? Ah, rasanya tidak. Ini hari Minggu, dan kalaupun Adrian pergi ke kantor tidak mungkin sepagi ini. Ini masih jam 6 pagi. Kunci mobilnya pun ada di rumah itu berarti Adrian tidak pergi. Tapi ke mana?


"Ah, iya mending aku telpon saja."


Kana kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Ponsel Kana menyala tepat saat Kana membuka pintu kamarnya.


Ada pesan masuk rupanya. Kana buru-buru membuka pesan dari nomor baru.


081324567895 : Anak kucing!


Anak kucing? Satu-satunya orang yang memanggil Kana 'Anak Kucing' adalah Susan. Jadi ini Susan? Tahu darimana dia nomor Kana?


081324567895 : cari suami kamu? Dia ada di sini sama aku. Kyaknya dia kurang puas sama kamu smp hrs datang ke rumah pagi-pagi buta untuk minta jatah aku.


Kana terperangah membaca pesan dari Susan. Apa benar suaminya memcari Susan? Apa benar mereka melakukan 'itu' ?


Tidak, tidak.


Kana : Jgn ngomong sembarngan Tante!


Kana membalas pesan Susan dengan kesal.


081324567895 : Klo tidak percaya dtg aja ke sini pintu g ak knci kok


Kana melempar ponselnya begitu saja ke kasur lalu keluar dari kamarnya. Dia akan memastikan apa yang dikatakan Tante Ikan Asin itu bohong. Adrian bukan pria semacam itu, bahkan semalam dia berjanji untuk menjaga hatinya.


Langkah Kana terhenti di depan pintu rumah Susan yang tidak dikunci terlihat dari celah pintu yang terbuka sedikit. Kalau Adrian tidak ada di dalam sana Kana akan cabik-cabik Susan.


Kana menarik napas dalam-dalam. Di lubuk hatinya dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Adrian. Tidak mungkin Adrian berbuat seperti itu. Kana membuka pintu rumah Susan.


Terlihat sepi.


Pasti di kamar, mereka.pasti sedang ada di kamar. Kamar Susan. Kana harus mencari kamar Susan dan menangkap basah Adrian.


Langkah Kana terhenti saat pintu sebuah ruangan di rumah Susan terbuka. Kana terperanjat, matanya membulat refleks Kana menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Adrian keluar dari ruangan yang sepertinya kamar Susan. Di belakangnya ada Susan. Rambut Adrian terlihat kusut bajunya terlihat sedikit basah karena keringat. Tapi wajahnya terlihat lega.


Tak jauh beda dengan Adrian. Baju tidur Susan yang tipis terlihat kusut. Rambut Susan pun berantakkan. Keduanya benar-benar terlihat Kusut. Apa benar mereka melakukan itu?


Kana memgigit bibir dalamnya kuat-kuat. Lidahnya kelu bahkan untuk sekedar memanggil nama suaminya.


"K-kak." Dengan susah payah Kana memanggil suaminya.


Adrian tersentak kaget saat melihat istrinya berdiri dengan tubuh gemetar di depannya.


"Kana?"


Kana menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Kalian jahat!"


Kana hanya mampu memgatakan itu karena detik berikutnya.Kana sudah berlari pergi tanpa sempat Adrian memcegahnya.


********

__ADS_1


__ADS_2