Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
I love you


__ADS_3

1 tahun kemudian....


Bagi Kana menikah muda bukan cita-citanya bahkan tidak ada di pikirannya sama sekali. Tapi sejak mengenal Adrian, 'menikah muda' adalah merupakan tujuan utama dalam hidupnya. Adrian mampu merubah semua hal yang ada di dalam diri Kana.


Bagi Kana, Adrian adalah segalanya begitupun sebaliknya bagi Adrian, Kana adalah dunianya. Mereka saling melengkapi satu sama lain.


Adrian ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan istrinya itu sewaktu dia berkunjung ke rumah Kana. Di mata Adrian saat itu Kana hanyalah gadis kecil yang manja dan polos, yang selalu bertengkar mengenai hal-hal sepele dengan kakaknya. Awalnya, Adrian tidak tertarik sama sekali pada gadis yang baru lulus SMA dan hobi memakai piyama lusuh bergambar Doraemon, yang selalu mengeluarkan puppye eye setiap kali merajuk itu.


Tapi seiring waktu pertemuan mereka yang intens, Adrian merasa ada yang berbeda dengan gadis kecil itu. Kana tidak pernah marah hanya merajuk, itupun masih di batas wajar. Kana yang dia lihat selalu tersenyum dengan binar-binar di matanya, membuat orang yang melihatnya jatuh cinta, termasuk dirinya. Yah, dia jatuh cinta pada akhirnya dengan Kana. Kana berhasil membuat hari-hari Adrian yang monoton menjadi berwarna. Kana berhasil membuat Adrian selalu memikirkannya setiap jam, menit bahkan detik. Kana berhasil mengubah Adrian yang apatis menjadi lebih sensitif padanya bahkan cenderung bucin. Kana adalah dunia Adrian, dan Adrian tidak tahu akan jadi apa dirinya bila tanpa Kana. Kana miliknya dan akan selalu begitu sampai maut memisahkan.


"Kakk." Tepukan lembut di pundak Adrian menyadarkannya dari lamunan. Dilihatnya gadis kecil yang kini sudah menjadi wanita dewasa itu tersenyum manis ke arahnya.


Adrian tersenyum lalu menepuk bagian kosong di sampingnya, isyarat agar Kana duduk di sebelahnya.


Kana trsenyum lalu duduk di samping suaminya. "Ngelamunin apa?"


Adrian tersenyum lalu mengambil jemari Kana dan mengenggamnya erat. "Kamu."


"Aku?" Kana menunjuk dirinya sendiri, kenapa Adrian harus melamunkan dirinya, memang dia kenapa?


"Aku kenapa?"


"Kamu cantik." Adrian mencium punggung tangan Kana membuat pipi Kana merona karena perlakuan manis Adrian itu.


"Entah apa yang merasukimu Kak. Tapi, aku suka diromantisin sama kamu." Kapan lagi kan, mendapat perlakuan manis dari Adrian? Jujur saja, Adrian jarang bersikap romantis karena terlalu disibukan dengan pekerjaannya. Apalagi sejak Joddy dipindahkan ke Papua setahun lalu, pekerjaan Adrian berkali-kali lipat lebih banyak membuatnya jarang berdua dengan Sang istri kecuali di hari libur.


Bicara tentang Joddy, sudah setahun ini mereka jarang berkomunikasi, tidak se-intens awal-awal Joddy berada di Papua. Selain karena kesibukan masing-masing yang menguras tenaga ditambah Kana sekarang sedang berbadan dua alias hamil anak kedua mereka setelah menunggu satu tahun, membuat perhatian tentang Joddy menjadi teralih. Apalagi kehamilan yang kedua kali ini Kana lebih sensitif. Hampir tiap hari selama trimester pertama Kana mengalami mual dan mutah bahkan pernah dirawat di RS karena dehidrasi. Masuk trimester kedua semuanya kembali normal . Kana sudah tidak pernah mual dan makan apa saja bisa. Walaupun begitu Adrian dan Kana pasti menyempatkan diri untuk menyapa Joddy paling tidak seminggu sekali. Kadang-kadang, Kanda juga ikut nimbrung.


"Na, maafin aku ya kalau belum bisa jadi suami yang baik. Aku minta maaf karena akhir-akhir ini aku terlalu disibukkan dengan pekerjaan sehingga kamu pasti merasa kesepian." Adrian sadar diri banyak waktu yang dia habiskan untuk bekerja. Terkadang dia terpaksa menelpon Kanda dan meminta agar kakak iparnya itu menemani Sang Istri.


"Kakak ini bicara apa sih?" Kana tersenyum lalu mengenggam erat tangan suaminya. " Kakak itu suami dan ayah yang baik. Kakak, sibuk juga demi aku dan Si Kecil ini. Jadi, tidak perlu meminta maaf untuk waktu yang kakak gunakan untuk berjuang demi kami berdua. " Kana tersenyum lalu membawa tangan suaminya ke atas perutnya yang sudah membuncit.


"Aku malah yang harus berterimakasih pada Kakak. Kakak selalu ada buat aku. Kakak juga sudah banyak berkorban untuk aku. Jadi terimakasih ya, Kak untuk semuanya. Untuk cinta, waktu dan pengorbanan kamu."


Adrian menatap Kana takjub, istrinya ini benar-benar sudah banyak berubah. Semakin ke sini dia semakin dewasa. Apakah ini yang dinamakan naluri calon ibu? Tangan Adrian bergerak naik-turun di atas perut Kana mencoba menyapa Si Kecil yang 3 bulan lagi baru akan bisa dia peluk dan gendong. Ah, Adrian sudah tidak sabar ingin bertemu dengan juniornya ini. Segala keperluan sudah dia siapkan. Mulai dari kamar, baju sampai perlengkapan mandi dan makan sudah ada dan mereka simpan di ruang khusus.


"Terimakasih Sayang untuk pengertiannya. Kamu tahu gak sih, Na? Makin hari makin ke sini. Aku tuh makin cinta sama kamu. I love you!"


"Hahah, jangan gombal Kak. Gak pantes tahu sama muka om-om kamu."


Adrian cemberut, padahal dia tidak bermaksud menggombal hanya bicara jujur. "Malah dibilang gombal."


Kana hanya tertawa mendengar gerutuan Adrian itu. Lalu dia buru-buru mengambil ponselnya. "Nih, kalau mau ngegombal, belajar sama masternya." Kana menekan sebuah nomor kontak yang foto profilnya tidak asing bagi Adrian.

__ADS_1


Adrian mendecih saat panggilan video call mereka tersambung, lalu seraut wajah tampan terlihat di layar ponsel Kana.


"Hai Dek!" sapanya dengan senyum mengembang. Kana tersenyum lalu melambaikan tangannya.


"Hai Kak!"


Kana lalu mengarahkan ponselnya ke arah Adrian yang pasang wajah ditekuk itu.


" Suami kamu kenapa Na? Gak kejatah semalam?" Joddy menahan tawa saat Adrian menatapnya sengit.


"Diem lo Kampret!" seru Adrian yang langsung dihadiahi cubitan di pipi oleh Kana.


"Jangan marah di depan anak kita," tegur Kana lalu mengelus perutnya, Adrian tersentak kaget lalu buru-buru tangannya mengelus perut Kana.


"Maafin Ayah ya, Sayang." Adrian mendekatkan bibirnya ke arah perut Kana lalu mengecupnya lembut, Kana tersenyum hangat mereka lupa kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan hati tersayat.


"Jomlo jangan iri," ledek Adrian begitu sadar ada Joddy yang memperhatikan mereka. Pria tampan itu hanya memutar bola matanya jengah.


"Jadi, keponakan aku laki-laki atau perempuan?" Joddy bertanya dengan senyum hangatnya.


"Perempuan."


"Laki-laki."


Adrian dan Kana menjawab bersamaan lalu saling pandang tak suka saat mereka sadar jawaban mereka berbeda.


"Perempuan Jod!" sahut Adrian tak terima, Kana menatap sengit ke arah Adrian.


"Laki-laki Kak, hasil USG-nya," balas Kana tak mau kalah.


Adrian mendecih."Alat buatan manusia itu tidak selalu akurat, banyak kasus hasil USG berubah saat lahir. Jadi anak kami, perempuan. Aku udah siapin nama, Queensha."


"Aku juga udah siapin nama, Kenzo." Kana pun tak mau kalah.


Joddy yang melihat perdebatan kecil suami istri itu hanya menggeleng pelan. "Woii! Laki atau perempuan Kenzo atau Queensha itu sama aja yang penting dia sehat."


Adrian dan Kana langsung diam dan berhenti berdebat saat mendengar teriakan Joddy di ujung telepon.


"Benar juga," gumam Adrian dan Kana keduanya saling lirik lalu menahan tawa.


"Maaf ya, Kak. Jadi ngeliatin drama kami." Kana menutup mulutnya dengan tangan karena geli melihat wajah jengah Joddy.


" Gak papalah Na, jomlo karat mana ngerti sih drama keluarga bahagia kita. Auhh!" Adrian mengaduh di akhir kalimat saat Kana menghadiahinya sikutan di perut.

__ADS_1


"Bagus Na, jangan cuma sikut perutnya, kepalanya kamu sleding sekalian!" Joddy tersenyum penuh kemenangan ke arah Adrian.


"Lagian sok tau banget suami kamu, Na! Emang aku jomlo?!" Joddy tersenyum penuh misteri.


"Eh, Kakak udah punya pacar di sana?" tanya Kana antusias, akhirnya Joddy punya pacar juga.


"Alah, itu cuma pencitraan aja Na. Mana mungkin dia bisa move on dari kamu!" sindir Adrian membuat Joddy gelagapan.


"move on dari siapa, Kak?" tanya Kana keheranan Joddy mengutuk Adrian dalam hati, bisa-bisanya dia bicara begitu.


"Jangan dengerin suami kamu Na! Dia suka ngasal!" Joddy buru-buru mengalihkan perhatian Kana agar tidak memaksa Adrian menjawab.


"Ya udah ya, aku ada janji. Bye!" Joddy buru-buru mematikan panggilan teleponnya.


"Tuh, Kak Joddy marah! Kakak sih!" Kana menepuk pundak Adrian yang hanya tertawa.


" Tenang saja, Joddy tidak akan bisa marah sama kita. Karena kita udah kayak keluarga buat dia."


Kana tersenyum. " Aku bangga punya suami kayak Kakak. Aku kira silaturahmi kalian akan terputus karena jauh, ternyata enggak."


"Kamu cuma bangga doang? Cintanya enggak?"


Kana tersenyum geli. " I love you too, Kak!"


Adrian termenung sebelum akhirnya memeluk Kana erat. "I love you more, more , moree!! Terimakasih sudah hadir di hidup aku Kana." Adrian mengecup Kana berulangkali sebagai ungkapan betapa bahagianya dia karena Kana ada di sampingnya. Menemani menjalani beratnya hidup. Adrian berdoa dalam hati, semoga saja mereka akan selalu bersama sampai maut pun enggan memisahkan.


Di belahan bumi lain, ada seorang pria yang tersenyum tipis tepat saat layar ponselnya mati. Pria itu meraba dadanya sendiri merasakan degup jantungnya. "Rasa itu masih ada."


"Jadi sampai mana kita tadi Jod?" Seorang wanita cantik yang sejak tadi memperhatikan Joddy itu bertanya.


Joddy menatap pemilik wajah bak bidadari tanpa cela itu. " Gedung. Sewa gedung." Joddy tersenyum dan wanita itu membalasnya dengan gengaman erat di jemari Joddy.


************


Tamat.


**Terimakasih teman-teman yang udah selalu baca story abal-abal ini terimakasih ya untuk komen positif, like dan vote-nya. I love you all!!! Cerita ini sudah aku tamatin. terimakasih ya udah mau baca!


Tapi...kalian mau baca gak**.....


Ini MPK yang berbeda dengan MPK 1. Mulai dari POV,.alur.sama karakter Kana jauh berbeda. walaupun begitu aku berharap kalian suka ya. Gampang Kok tinggal cari di pencarian dengan kata kunci ' Malam pertama Kana' kenapa ada kata ' malaikat tanpa sayap' jawabannya ada di dalam storynya. terimakasih!


__ADS_1


sayonara.... semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.


Parenggg**


__ADS_2