
Gugur satu akan tumbuh seribu, itu hukum alam percintaan
~Malam Terkutuk~
Tere berdiri di depan restoran menunggu angkutan umum lewat. Setelah pekerjaannya selesai, Tere pun berniat langsung pulang karena tak mau berlama-lama berada di satu ruangan dengan Vita dan Arya.
Tanpa sadar Tere melamunkan kembali kejadian beberapa menit lalu, tentang tunangan Arya yang bernama Vita, tentang Arya yang selalu mengejarnya dengan label tanggung jawab namun sudah memiliki tunangan.
"TINN!"
Tere mengusap dadanya saat suara klakson motor mengagetkan dirinya lalu matanya menatap tajam pria yang tertawa di atas motornya.
"Kau mengagetkan Theo, dasar gila untuk aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke."
Theo terus saja tertawa melihat reaksi Tere, sedangkan Tere mendengus sebal.
"Kau sedang apa berdiri di sini sendirian? Mana malam lagi, hati-hati di sini banyak penghuninya loh," ucap Theo yang langsung mendapat pukulan Tere.
"Diam kau, aku sedang menunggu, angkutan umum. Mau pulang habis pulang kerja."
"Oh, bareng yuk, kan satu jalan dari pada keluar uang cuma buat ongkos," ucap Theo menatap penuh harap Tere.
Tere diam sejenak memikirkan tawaran Theo, sambil menoleh ke kanan dan kiri, berharap ada angkutan umum yang lewat namun nihil tak ada satu pun.
Tatapan Tere tertuju pada Arya yang sepertinya baru keluar dari restoran, tempatnya bekerja. Arya pun sedang menatap dirinya dan Theo.
Tere langsung mengalihkan tatapannya ke arah Theo, tangannya saling bertautan menandakan bahwa dia gelisah dan itu pun tak luput dari tatapan Theo.
"I... Iya Theo, aku ikut kau saja."
__ADS_1
Senyum Theo melebar saat mendengar jawaban Tere, membuat Tere merasa bersalah telah memanfaatkan kebaikan Theo untuk keegoisannya.
"Ayo naik."
Tere hendak menaiki motor berwarna merah itu. Namun tidak jadi saat tangannya ditarik kasar oleh seseorang. Tere dan Theo menatap orang tersebut dan tatapan tajam Arya yang pertama dilihat oleh keduanya.
"Pulang denganku!" ucap Arya menekankan setiap kata dalam ucapannya, sedangkan Tere menghempaskan tangan Arya dari tangannya dengan kasar.
"Tere pulang bersamaku," ucap Theo setelah cukup lama menatap interaksi keduanya.
"Iya, aku pulang dengan Theo," jawab Tere menatap tajam Arya tanpa ada ketakutan di matanya. Arya mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak meninju wajah cantik di depannya ini.
"Kau pulang dengan aku, bukan dengan dia."
Theo baru akan protes dengan perkataan Arya, namun ucapannya seakan tersumbat di tenggorokannya saat melihat tatapan tajam Arya yang tertuju padanya.
Arya menarik tangan Tere dengan kasar ke arah mobilnya tanpa mengatakan apa pun, Tere berusaha meronta, meminta pertolongan Theo. Namun pria Theo hanya diam menatap dirinya.
"DASAR PRIA PENAKUT!" teriak batin Tere.
"Arya lepas, Arya aku ingin pulang dengan Theo!"
Arya melepaskan pegangan tangannya pada tangan Tere dengan kasar.
"Kau mau pulang dengan dia?" tanya Arya dengan nada datar, sambil menunjuk Theo yang menunduk tak berani menatap Arya.
Tere meringis dalam hati melihat Theo yang ketakutan hanya dengan tatapan tajam Arya. Tere pun mengangguk ragu.
"Pria itu bahkan tidak berani mencegah diriku membawa dirimu Tere, APA YANG KAU LIHAT DARI PENGECUT ITU!"
__ADS_1
Tere mundur beberapa langkah saat mendengar bentakan Arya. Tanpa Tere sadari air mata mulai menetes dari matanya. Tere menunduk takut tak berani menatap Arya.
"Dia mungkin pengecut, namun dia bukan pembohong."
Hati Arya seakan tercubit mendengar ucapan lirih Tere, Arya tahu Tere menangis dan dia adalah penyebabnya.
"Kau bilang apa yang aku lihat dari pengecut itu?" tanya Tere lalu memberanikan dirinya menatap Arya.
Arya diam terpaku menatap mata indah Tere yang berkaca-kaca.
"Aku melihat ketulusan dari matanya, setidaknya bukan seperti dirimu yang penuh dengan kepalsuan. Pergilah dengan tunanganmu, kau tidak perlu khawatir, aku akan melukai anak ini. Karena aku akan merawatnya sampai anak ini lahir, lalu memberikannya padamu. Sesuai kesepakatan."
Arya menarik tangan Tere hingga jarak antara keduanya terkikis, Tubuh Tere bergetar saat Arya mendekatkan bibirnya pada telinga Tere hingga menyentuh telinga Tere.
"Vita bukan tunanganku! Dia hanya segelintir wanita licik yang ingin memiliki diriku dengan cara kotor! Jangan mudah percaya dengan apa yang terlihat Tere."
Tere diam mematung mendengar ucapan Arya yang entah kenapa membuat hatinya tenang. Namun Tere menyembunyikannya dengan pandai lewat tatapan datarnya.
"Lalu siapa dia?"
Tere merutuk mulutnya yang tidak sinkron dengan akal sehatnya. sedangkan Arya tersenyum melihat Tere yang mulai peduli dengan kehidupannya.
"Hanya orang asing, perlu kau ingat satu hal Tere, jika ada wanita mengatakan dia tunangan, kekasih, atau pacarku. Jangan pernah percaya, karena mereka hanya wanita satu malam sebelum aku bertemu denganmu."
Arya menggenggam tangan Tere lalu menciumnya membuat pipi Tere merona karena malu, Tere langsung melepaskan tangannya dari tangan Arya karena salah tingkah.
"Tere jangan pernah menganggap Arya adalah kebahagiaanmu, kau harus ingat impianmu. Jangan pernah menaruh perasaan lebih padanya! Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Arya kalau kau mencintainya karena nyatanya kau dan Arya adalah air dan minyak. Yang tak akan bersatu," ucap hati Tere.
Tangerang, 20 September 2019
__ADS_1