Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (18): Menyesali Perbuatan


__ADS_3

Saya terbiasa hidup di bawah perlindungan Anda,


sampai aku melupakan hukum alam


"Yang Kuat yang Bertahan Hidup"


~Tere Queenera~


Tere memeluk dirinya sendiri, isak tangis memilukan keluar dari bibir tipisnya. Berkali-kali Tere merutuki tindakan bodohnya, yang pergi dari kamar hotel pada malam hari yang berada bukan di negara asalnya.


Manik cokelat madu itu, hanya bisa menatap nanar kesibukan ibu kota China yang padat penduduk, ingin rasanya ia menangis sekencang mungkin dan memanggil nama Arya, namun ia tak mau dianggap wanita hamil gila.


Lihat sekarang, hasil dari kebodohannya semalam. Ia tersesat di negara orang lain, tak mampu bicara bahasa China, bahkan tak memegang selembar uang pun untuk mengisi perutnya yang terus berbunyi dan tenggorokannya yang kering.

__ADS_1


"Kau di mana Arya? Aku takut hiks, hiks.”


"Aku harap kau mencariku saat ini, aku... mungkin ingin lari darimu tapi bukan sekarang hiks, hiks."


Kakinya yang terasa sangat sakit dan hampir patah kalau ia terus melanjutkan melangkah entah ke mana, membuat Tere duduk di halte bus sambil menangis sesenggukan.


Beberapa orang memperhatikannya bahkan memberi tatapan prihatin, namun Tere tak peduli dan terus menangis memanggil nama Arya.


"Kenapa kau tak ada saat aku membutuhkanmu, tolong cari aku Arya. Tolong hiks, hiks."


"Kau mau ke mana?! Aku bukan pengemis bodoh!" teriak Tere saat orang itu berlalu setelah tersenyum padanya, Tere melempar uang itu dengan kasar lalu menatap pakaiannya yang mulai lusuh dan mungkin wajahnya pun lusuh.


"Dasar orang bodoh! Apa matanya rabun, tak bisa membedakan mana orang tersesat dengan pengemis! Aku tak butuh uangmu bodoh!"

__ADS_1


Setelah berteriak, mengeluarkan unek-unek dalam dirinya. Tere kembali dibuat kesal oleh orang sekitar, yang menatap prihatin dan kasihan padanya.


Apalagi wajah Tere yang sangat berbeda dengan orang China, yang sipit dan putih pucat. Sedangkan dirinya tak sipit, bentuk wajahnya pun beda, pokoknya Tere sangat berbeda dengan mereka. Lalu mengapa mereka menatap Tere bagai Tere ini adalah pengemis?!


Tere lebih memilih kembali melanjutkan jalannya namun bunyi perutnya yang kelaparan, membuat Tere berpikir sejenak dan menatap uang yang baru ia lempar.


Pertama kalinya, Tere merutuki dirinya yang bodoh karena tak bisa berbahasa mandarin. Ia tak pernah bermimpi menginjakkan kaki di China, membuatnya tak pernah mempelajari hal apa pun tentang negeri ini.


Membuang EGO dalam dirinya, akhirnya Tere mengambil uang itu dan duduk kembali bangku halte, berharap akan ada uang lagi untuknya dan benar saja beberapa orang yang berlalu lalang, melempar uang padanya.


"Setidaknya aku tidak meminta pada mereka, mereka saja yang bodoh tak bisa membedakan mana pengemis dan orang tersesat. Yang terpenting aku makan dan minum dulu," ucap Tere sambil mengumpulkan uang di pangkuannya, senyum manis terbit di bibirnya saat membayangkan makanan dan minuman.


"Aku tak tahu harus makan di mana? Tak mungkin aku makan di restoran, pasti akan mengeluarkan uang banyak. Sepertinya aku harus berjalan sedikit lagi untuk menemukan tempat makan kecil dan murah."

__ADS_1


Setelah berbicara sendiri seperti orang gila, Tere akhirnya berjalan dengan sendal jepit dan baju tidur yang melekat di tubuhnya tanpa peduli tatapan kasihan dari orang bodoh itu.


Tangerang, 10 November 2019


__ADS_2