
Ada waktunya saat seseorang akan menyerah menggapai impiannya
~Arya Panggalila~
Tere hanya diam menatap jalanan lewat jendela mobil Arya begitu pun dengan Arya yang hanya diam mengemudi, tak ada yang mengeluarkan suara karena keduanya tak tahu mau mengatakan apa.
Detik berubah menjadi menit, tidak terasa mobil Arya sudah sampai di depan kosnya Tere namun Tere belum menyadarinya. Arya menoleh ke arah Tere, Arya ingin memeluk erat Tere namun dia tahu Tere tak akan menyukainya.
"Sudah sampai, kau bisa turun."
Tere menoleh ke arah Arya dengan kening berkerut lalu pandangannya jatuh pada kosnya yang sederhana membuatnya sadar bahwa mereka sudah sampai.
Tere membuka pintu mobil Arya lalu turun dari mobil itu namun tatapannya tertuju pada Arya yang hanya diam menatap ke depan tanpa mau menatanya.
Hati Tere terasa tercubit saat melihat sikap Arya yang berubah 180°, air mata pun memaksa keluar dari matanya namun Tere lebih dulu menghapusnya dengan kasar. Dia tidak boleh lemah di hadapan ******** ini!
Arya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal tanpa sepatah kata pun sedangkan Tere hanya bisa menatap mobil Arya yang semakin menjauh dan hilang di perempatan.
Tanpa Tere sadari air mata yang dia tahan sedari tadi, sudah jatuh berlomba-lomba membasahi kedua pipinya lalu Tere melangkahkan kakinya ke pintu kosnya namun pandangannya tetap tertuju ke arah jalan raya.
Merasa mobil Arya tak akan berbalik lagi, Tere pun memasuki kosnya.
Di sisi lain Arya menghentikan mobilnya setelah berbelok di perempatan, Arya memukul setir mobilnya dengan amarah yang meluap-luap.
Arya benci pada dirinya sendiri yang menyakiti Tere hingga membuat Tere menangis lalu meninggalkannya tanpa mengatakan apa pun. Apalagi saat melihat Tere menangis lewat kaca spionnya, pertama kalinya dia menjadi pengecut dengan membiarkan Tere menangis sendirian.
"KAU MEMANG BODOH ARYA PANGGALILA!"
__ADS_1
~Malam Terkutuk~
Tere mengelap meja restoran dengan telaten tidak peduli matahari sudah berganti menjadi bulan dan waktu sudah malam.
Tere sedari tadi terus saja memikirkan Arya yang sudah tiga hari ini tidak pernah menemuinya lagi setelah hari itu, dan Tere membenci dirinya yang mulai terpengaruh dengan kehadiran Arya.
"Lupakan dia Tere, mungkin dia saja mempermainkanmu. Siapa kau? Dan siapa dia? Hingga dia mau bertanggung jawab atas kesalahan yang bahkan kau mulai sendiri."
Tere bermonolog sendiri lalu mengambil sapu dan mulai menyapu restoran yang berukuran sedang ini.
"Mungkin kemarin-kemarin, dia hanya merasa bersalah lalu sekarang dia sadar bahwa tidak ada gunanya tanggung jawab untuk kesalahan orang lain," ucap Tere dengan nada bergetar, rasanya Tere ingin menangis namun dia masih memiliki otak untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
"TERE!"
Tere menoleh ke asal suara lalu berjalan ke arah dapur saat melihat koki restoran yang berteriak memanggilnya.
"Bawa makanan ini ke meja nomor 15, jangan sampai kau melakukan kesalahan. Aku lihat dia sepertinya wanita sosialita yang mungkin mampir ke restoran biasa ini."
Tere hanya mengangguk mengerti sambil tersenyum tipis lalu kakinya melangkah ke arah meja dengan kertas nomor 15.
Tere yakin yang dikatakan Dinda memang benar, wanita di meja 15 sangat cantik walaupun Tere tahu wajahnya dipoles dandanan tebal, kecantikannya semakin terpancar lewat perhiasan dan gaunnya yang tergolong terbuka.
"Ini makanannya," ucap Tere meletakkan makanan untuk dua orang ini namun hanya ada satu orang di meja ini. Tere pun tahu pasti wanita ini arogan terlihat dari dirinya yang tidak membalas ucapan atau senyuman Tere, hanya ada tatapan sinis dan menghina mungkin karena dia pelayan rendahan.
Tere pun berniat meninggalkan meja nomor 15 ini namun langkahnya terhenti saat wanita itu mengatakan nama orang yang selalu Tere pikirkan dalam tiga hari ini.
"Arya, akhirnya kau datang juga, aku sudah lama menunggu."
__ADS_1
Tere hanya diam mematung tidak siap menoleh ke belakang saat wanita itu melewatinya dan menghampiri orang yanga ada di belakangnya.
Tere semakin yakin bahwa dia adalah Arya Panggalila, karena hidungnya yang mencium aroma maskulin yang hanya Arya miliki.
"Vita, apa yang ingin kau katakan sampai meminta bertemu. Aku harap penting."
"Itu suara Arya!" Teriak batin Tere.
Tere tetap diam di tempat walaupun dia tahu tidak baik menguping percakapan orang lain, namun tubuh dan hatinya ingin sekali tetap di tempat dan mendengar percakapan keduanya.
"Baby, jangan seperti itu. Kau tahu kan aku ini tunanganmu, kau harus bersikap lembut padaku."
Air mata langsung menetes di kedua pipinya saat mendengar ucapan manja dan menggoda Vita.
"Pergi kau pelayan! Buat apa kau tetap di situ, pergi cepat!"
Beberapa pengunjung dan pelayan menoleh ke arah Vita yang berteriak pada Tere, Tere pun langsung menghapus air matanya lalu membalik badannya menatap keduanya lalu menunduk.
Tere sempat melihat raut wajah terkejut dari wajah Arya, mungkin karena dia telah tahu kebohongan pria itu.
"Maaf, Permisi."
Tere bergegas meninggalkan Vita dan Arya lalu air mata memaksa menetes lagi saat Arya tak mengatakan apa pun atau pun mencegahnya.
Semua sudah selesai dan pria itu hanya mempermainkannya.
Tangerang, 12 September 2019
__ADS_1