Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (30): Penyesalan Terlambat


__ADS_3

Tere berdiri di depan pintu gerbang gereja, menatap sekeliling gereja yang asri dan sejuk. Namun kedamaian yang baru ia dapat lenyap saat ia mendengar suara orang yang bertengkar. Tatapan Tere terkunci pada seorang gadis manis dan pria tampan yang sedang bertengkar tak jauh darinya, sehingga ia bisa melihat dan mendengar pertengkaran mereka.


Mereka berdua seperti sepasang suami istri yang bertengkar, Tere tahu kalau menguping pembicaraan bahkan pertengkaran orang lain itu tidak benar namun salah dua orang itu juga bertengkar di tempat umum sehingga semua orang bisa melihatnya.


"Mas aku enggak mau bercerai, ingat mas aku hamil anak kamu mas, darah daging kamu."


Si wanita menggenggam erat tangan pria itu lalu membawanya ke perut buncitnya yang Tere perkirakan umur kandungannya sama dengan dirinya, yaitu 9 sebulan.


Kedua mata Tere melotot tidak percaya saat pria itu malah mendorong istrinya yang sedang mengandung besar, rintihan kesakitan dari wanita itu sama sekali tak dihiraukan oleh pria bejat itu.


Tangan Tere mengepal kuat melihat tindakan selanjutnya pria itu yang meludahi wanita itu lalu memakinya dengan kasar, seakan wanita itu adalah hewan yang sangat hina.


"Dari awal aku enggak mau kita menikah, apa yang terjadi di antara kita adalah kesalahan satu malam yang menghasilkan janin sialan itu!"


Meskipun sering mengucapkan kata "Janin Sialan" pada calon bayinya sendiri, tetap saja Tere merasa sakit mendengarnya. Tere tahu apa yang dirasakan wanita itu, wanita itu terluka dan sakit hati namun ia tetap berusaha mempertahankan pernikahan itu.


"Mas, aku mohon sama kamu jangan ceraikan aku. Aku enggak mau anak ini tidak memiliki ayah mas... Aku sadar aku yang salah malam itu karena mabuk sehingga kita melakukan kesalahan itu, namun jangan ceraikan aku mas hiks hiks."


Tere tak tahu apa yang terjadi saat ini, suara lonceng gereja untuk kedua kalinta membuat Tere menoleh pada gereja di depannya lalu menatap pasangan suami istri itu bergantian.


Mata Tere mulai berkaca-kaca dan air mata mulai mengalir di pipinya, dadanya sesak, dan ia kesulitan bernafas saat setiap kejadian demi kejadian yang ia lalui selama sembilan bulan ini mulai beterbangan dalam ingatannya.


Malam kelulusan.


Club


Mabuk.


Gerald.


Obat perangsang.

__ADS_1


Arya.


Hamil.


Pernikahan.


Bayi laknat.


Dan membenci Arya.


Seketika tubuh Tere melemas, kakinya tak mampu menahan berat tubuhnya lagi hingga ia berpegangan pada pagar gereja.


Lalu tatapan Tere tertuju pada pasangan muda itu terlihat wanita itu tampak menangis dan berusaha menahan kepergian pria itu, namun pria itu tetap saja pergi, meninggalkan wanita itu yang menangis dan terjatuh di tanah.


"Arya," ucap Tere pertama kalinya menyebut nama Arya dengan nada lembut tanpa ada kebencian.


"Mas aku cinta kamu mas, jangan ceraikan aku, jangan tinggalkan kami mas!" teriak wanita itu menangis tersedu-sedu menatap mobil suaminya yang melaju kencang.


Tangan Tere tanpa sadar mengusap perut besarnya dengan lembut saat melihat penderitaan wanita itu yang berusaha menahan sakit saat ingin melahirkan, Tere ingin menolong wanita itu namun kakinya terasa kelu hanya untuk berjalan ke arah wanita itu.


Tak lama kemudian warga yang lewat mulai membantu wanita itu namun wanita itu sudah tak sadarkan diri, Tere hanya bisa berdoa pada Tuhan agar memberikan keselamatan pada wanita itu dan calon anaknya.


"Enggak, aku enggak akan berakhir sama dengan wanita itu... Arya mencintai aku, dia enggak mungkin melakukan hal bejat seperti ini."


"Namun Arya hanya manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran."


"Enggak! Enggak aku enggak mau semua itu berakhir... Aku mengaku telah melakukan kesalahan yang besar... Tapi aku tak siap bila Arya pergi hiks, hiks," tangis Tere sambil mengingat perbuatannya yang sangat tak manusiawi bahkan sangat jahat.


"Tuhan memberikan kesempatan kedua pada umatnya untuk memperbaiki kesalahan mereka, aku pun berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali bersama Arya. Aku... Aku tak tahu apa yang kurasakan pada Arya, tapi aku tak siap bila harus menghadapi Dunia ini sendiri lagi."


Tere memegang dadanya yang terasa sakit saat bayangan senyum tipis Arya saat ia memperlakukannya dengan kasar, saat Arya tak pernah membalas perlakuan kejamnya, dan tak pernah sekali pun Arya memperlakukannya kasar padahal ia yang salah karena sudah membawa Arya pada kehamilannya.

__ADS_1


Tere tahu ia salah karena mengira ia adalah pihak yang paling merasa sakit dan terluka, ia hanya memikirkan tentang dirinya yang tak siap menjadi seorang ibu, tanpa memikirkan apakah Arya siap menjadi ayah.


"Aku harus menemui Arya dan meminta maaf padanya, lalu kami akan hidup bahagia bersama dengan anak ini... Tak ada yang bisa memisahkan kami, aku yakin Arya pasti mau memaafkan kesalahanku karena dia mencintai aku."


Tere berusaha meyakinkan hati kecilnya, lalu menghapus air mata di pipinya berusaha tersenyum dan merangkai kata-kata indah untuk meminta maaf pada Arya.


Saat merasa sudah siap untuk berhadapan dengan Arya, Tere pun melangkah memasuki gereja. Detak jantung Tere berdetak semakin kencang saat ia sudah berada di depan pintu gereja, terlihat Arya yang sedang berdiri di depan salib Tuhan.


"Ayo Tere, katakan pada Arya, minta maaf padanya lalu kalian akan memulai kehidupan baru yang bahagia."


Tere berusaha meyakinkan dirinya, lalu melangkah ke arah Arya namun ia tidak melihat ada air di lantai, hingga ia terjatuh dan perutnya menyentuh lantai dengan kasar.


Tere sekarang tahu bagaimana sakitnya penderitaan wanita tadi tapi kenapa ia harus mengalami hal yang sama?


Tere merintih kesakitan, memegang perut besarnya dengan kuat berusaha menguatkan calon anaknya menghadapi benturan pada lantai tadi, namun darah yang mengalir di kedua kakinya membuat Tere panik dan menatap Arya.


Tere ingin berteriak sekencang mungkin, meminta pertolongan Arya namun suaranya seakan tertelan oleh rasa sakit yang ia rasakan, hingga ia hanya bisa mengulurkan tangannya berusaha memanggil Arya namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


"Yang kuat sayang, jangan tinggalkan mama. Maafkan kesalahan mama selama ini, maafkan mama yang selalu berkata kasar pada kamu, maafkan mama yang tidak pernah bisa menerima kehadiran kamu. Mama sadar bahwa mama bukan ibu yang baik untuk kamu, tapi mama ingin memulai semuanya dari awal. Jangan pergi Nak ...


Air mata mengalir deras di kedua pipinya saat pandangannya tertuju pada salib Tuhan, apa ini balasan dari Tuhan akan semua kesalahannya pada Arya dan anaknya?


Namun kenapa ia harus menerima balasan atas dosanya saat ia sudah menyadari dosanya dan ingin memperbaikinya? Tere menatap nanar Arya yang masih berdoa dan doa yang keluar dari mulut Arya membuat Tere sadar bahwa ia adalah...


Manusia paling hina dan berdosa di Dunia ini, karena telah menyia-nyiakan pria berhati emas seperti Arya, karena telah membenci kehadiran Arya dan janin dalam perutnya.


"Aku sadar bahwa aku bukan pria baik-baik yang pantas mendapatkan wanita sebaik Tere, namun aku hanya ingin kau berjanji untuk terus menjaga dan memberikan kebahagiaan dalam hidupnya setelah kami berpisah, aku sadar kau benci perceraian dan tak memaafkan umatmu yang bercerai. Jadi biarkan dosa perceraian ini aku yang menanggungnya dan jauhkanlah Tere dari balasan atas dosa perceraian ini."


Arya menatap penuh harap pada salib Tuhan di depannya lalu berbalik badan hendak pergi meninggalkan gereja, namun apa yang ia lihat di depan pintu gereja, mampu membuat jantungnya berhenti berdetak beberapa detik.


"TERE!"

__ADS_1


Tangerang, 07 Desember 2019


__ADS_2