Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (44): Kebenaran Yang Terungkap (2)


__ADS_3

"Aku ada di balkon."


Tere tahu itu suara Arya, berarti dari tadi Arya mendengar ucapan dan melihat kelakuannya yang melempar barang. Tere langsung berjalan ke arah balkon kamar, dan benar itu adalah Arya.


"Selamat pagi sayang."


Tanpa menjawab ucapan Arya maupun membalas senyum Arya, Tere langsung duduk di bangku samping Arya.


"Aku ingin pulang."


Tere yang tak mendapat respons dari Arya, menoleh ke arah Arya dan matanya melotot tak percaya saat melihat Arya mengisap rokok sambil memegang gelas berisi minuman alkohol.


"Apa yang kau lakukan?!"


Arya menaruh gelas di tangannya, lalu mengusap dadanya karena terkejut akan teriakan Tere yang tiba-tiba.


"Aku melihat matamu masih berada di tempatnya Tere, berarti kau bisa melihat apa yang aku lakukan."


Tere memutar mata jengah mendengar jawaban Arya dan Arya yang terlihat biasa saja bahkan menikmati kegiatan merokok dan meminum alkohol.


"Sejak kapan kau merokok dan minum alkohol?"


"Sudah sangat lama, saat aku berusia tujuh belas tahun. Kau tahu kan kenakalan remaja, dan aku melakukannya."


Tere tak bisa menyembunyikan tatapan terkejutnya mendengar jawaban Arya, padahal selama sembilan bulan mereka tinggal bersama, tak pernah sekali pun Arya merokok atau minum alkohol di depannya.


"Tapi kenapa kau tidak pernah melakukannya di depanku sebelumnya?"


"Karena kau sedang hamil, dan merokok di depan wanita hamil tidak baik. Aku vakum selama sembilan bulan untuk dirimu, tadinya aku ingin vakum selamanya namun aku sadar bahwa alasan aku vakum akan pergi setelah sembilan bulan. Lalu buat apa aku vakum?"


"Kau tahu, rokok bisa membunuhmu dan alkohol tak baik untuk...


Ucapan Tere terhenti saat Arya menyela ucapannya. Arya menatap tajam pada Tere, sedangkan Tere hanya diam mematung mendengar jawaban Arya.

__ADS_1


"Aku tak butuh profesi doktermu itu saat bersamaku Tere! Lagi pula buat apa kau khawatir padaku? Kalau aku mati, kau pasti orang yang paling bahagia."


"Aku bukan peduli padamu, namun aku peduli pada Arsa. Dia masih remaja, kalau dia kehilangan orang tuanya, pasti dia sangat sedih."


"Kau masih ada untuknya, lagi pula Arsa adalah putri yang kuat, dia bisa hidup tanpa sosok ibu di sampingnya, pasti dia juga bisa hidup tanpa sosok ayah di sampingnya."


Tere berusaha sekuat mungkin menahan amarah dalam dirinya, saat Arya menyindir dirinya lewat kata-kata pria itu.


"Apa rokok itu nikmat?"


Arya terkejut mendengar pertanyaan Tere, namun ia tetap menjawab pertanyaan Tere lewat anggukkan kepala. Tere dengan cepat mengambil rokok di tangan Arya dan menghisapnya.


"Uhuk, uhuk, uhuk."


"Apa yang kau lakukan bodoh?! Tere lepaskan rokoknya, kau terbatuk-batuk!"


Arya berusaha mengambil rokok dari bibir Tere karena ia sangat khawatir melihat Tere yang terbatuk-batuk, dan wajah Tere yang mulai pucat hanya karena asap rokok yang Tere hisap.


Tere berusaha menghindar dari Arya, dan berlari keluar dari balkon sambil terus menghisap rokok itu walaupun ia sudah kesulitan bernafas.


Arya berusaha meminta Tere berhenti menghisap rokok sialan itu, namun Tere malah semakin berani menghisap rokok itu bahkan Tere menguapkan asap rokok itu di depannya.


"Kenapa sekarang kau mengatakan rokok berbahaya Arya Panggalila? Tadi kau mengatakan rokok ini nikmat, jadi aku mencobanya tapi sekarang kau malah melarangku merasakan rokok ini."


Tere menatap tajam Arya, dan Arya sadar bahwa Tere sedang menantangnya. Arya mengusap wajahnya dengan kasar, karena frustrasi melihat kelakuan Tere.


Melihat Tere lengah, Arya langsung berlari ke arah Tere dan memeluk Tere sedangkan Tere berusaha berontak tak mau Arya mengambil rokok dari tangannya.


"Arya lepaskan! Jangan ambil rokokku!"


"Berikan rokoknya padaku Tere!"


"Tidak! Ini rokokku!"

__ADS_1


Arya berusaha mengambil rokok dari tangan Tere tanpa mengenai rokok itu pada kulit Tere, namun terasa sangat susah saat Tere terus berontak hingga mereka terjatuh di atas kasur dengan Arya berada di atas Tere.


"DIAM!"


Tere langsung terdiam saat Arya berteriak tepat di depannya, apalagi tatapan tajam Arya seakan siap membakar dirinya hidup-hidup jika tetap memberontak.


Arya langsung mengambil rokok dari tangan Tere, dan meremas rokok itu di tangannya tak peduli rasa sakit seperti terbakar di telapak tangannya.


"Jangan pernah merokok, kau tak boleh merokok, tolong dengarkan aku sekali saja Tere untuk kali ini."


Arya menatap memohon pada Tere, tangan Arya mengusap rambut Tere dengan lembut sedangkan Tere hanya diam mematung.


"Aku takut dan khawatir saat melihat reaksimu setelah merokok, aku tak mau kau terluka."


Keduanya hanya terdiam tak mengucap apa pun lagi, karena mereka tak tahu mau mengatakan apalagi setelah ini.


"Jangan pernah merokok lagi, kalau aku melihatmu merokok maka aku akan melakukannya lagi. Rokok itu membunuhmu perlahan Arya, dan aku tak ingin kau pergi meninggalkanku dan Arsa, Aku tak bisa."


Arya tak tahu harus melakukan apa saat Tere memeluk dirinya dengan erat, dan Arya bisa merasakan bahunya yang basah oleh air mata Tere.


"Aku tak akan merokok lagi, aku janji."


Arya membalas pelukan Tere lalu mencium rambut Tere berusaha menenangkan Tere, sedangkan Tere hanya diam menikmati kehangatan tubuh Arya.


Arsa yang khawatir mendengar suara teriakan dan benda jatuh, langsung meminta kunci cadangan kamar ayahnya pada pembantunya, lalu membuka pintu kamar Arya.


Namun yang ia lihat sekarang membuat hatinya sakit dan teriris, tangan Arsa mengepal kuat saat melihat foto pernikahan ayahnya untuk pertama kalinya karena Arya selalu menyembunyikan foto pernikahan itu namun sekarang Arya sendiri yang memasangnya di kamarnya.


"Dasar wanita murahan!"


Arsa langsung berlari menjauh dari kamar ayahnya, ia masih tak menyangka bahwa wanita yang paling ia benci, yang menyandang status ibu dalam akte kelahirannya.


Arsa menutup mulutnya dengan telapak tangannya, berusaha meredam isak tangis keluar dari bibirnya. Arsa tak sudi menangisi wanita murahan itu.

__ADS_1


Tangerang, 29 Desember 2019


__ADS_2