Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (32): Semua Telah Selesai


__ADS_3

Kedua mata indah itu perlahan-lahan mulai terbuka, pandangan pertama yang ia lihat adalah hitam lalu kabur dan perlahan-lahan ia kembali bisa melihat dengan jelas.


Tatapannya menelusuri ruang serba putih dengan bau obat-obatan, saat tak menemukan siapa pun di ruangan itu. Ia sadar bahwa ia terlambat, dan ia kembali sendiri dalam kubangan kesedihan ini.


Air mata menetes dari matanya saat mengingat pertemuan terakhir mereka, betapa bodohnya ia masih berharap bisa memulai kehidupan yang baru dengan pria itu padahal ia sadar bahwa ia dan pria itu bagai bumi dan langit.


Terlebih selama ini perlakuan buruknya pada pria itu tak akan bisa dimaafkan, dan juga ia yang meminta pria itu menjauh membawa bayi mereka yang baru lahir, lalu kenapa sekarang ia menangis dan hatinya terasa perih saat hari yang ia impikan menjadi kenyataan?


"Semoga kau bahagia Arya, mulai hari ini kita akan menjadi asing untuk satu sama lain. Keputusan yang tepat Arya, meninggalkan wanita sepertiku dan memulai kehidupan yang baru bersama anak kita."


Terasa mudah mengatakannya lewat mulut, namun efek yang terasa di hatinya sangat perih dan menyakitkan. Hingga ia tak bisa menahan isak tangis yang keluar dari bibirnya.


Isak tangis pilu keluar dari bibir Tere, biarkan ia menangis sekencang mungkin, biarkan ia meluapkan segala kesedihan dan penyesalan mendalam yang ada di hatinya hari ini, dan biarkan ia mengingat setiap kenangan yang terukir selama sembilan tahun ini.

__ADS_1


Sebelum akhirnya ia melupakan segalanya yang terjadi sembilan tahun ini, sebelum akhirnya ia melupakan kenangan, kesedihan, dan penyesalan hari ini, dan sebelum akhirnya ia memulai kehidupan barunya tanpa Arya dan anaknya.


"Kau pria yang baik Arya, kau pria pertama yang bisa menghancurkan keras kepala, egois, dan dendamku. Aku yakin kau bisa menggantikan sosok ibu untuk anak kita, kau pasti bisa menjaga dan merawat anak kita sendiri, dan semoga...


Terasa berat mengatakan doa terakhirnya untuk Arya, namun ia sadar suatu hari doa yang terasa berat ini pasti akan terjadi dan saat itu Tere tak yakin apa ia bisa kembali menata kehidupannya kalau doa itu melintas di kehidupannya.


"Semoga kau menemukan wanita baik untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk putri kita."


Namun Tere tak tahu bahwa di belahan bumi yang berbeda, seorang pria yang ia tangisi kepergiannya, sedang menatap salju yang turun di bulan Desember di balkon rumahnya, sambil menggendong bayi manis dan cantik, bernama Artesha Christy Panggalila.


Tapi yang ia tahu, ini yang diinginkan wanita itu, keinginan yang sudah ada sejak mereka bertemu, yaitu berpisah.


"Aku tak tahu apa aku bisa melanjutkan kehidupanku seperti sembilan bulan lalu, apa aku bisa membesarkan dan merawat bayi kita sendirian Tere? Apa aku bisa menggantikan sosok ibu dalam hidup bayi kita?" tanya pria itu pada dirinya sendiri sambil menatap kasihan pada bayi cantik yang tertidur pulas di pelukan hangatnya.

__ADS_1


"Namun aku tahu satu hal, meskipun aku tak bisa melakukan hal itu, namun aku harus mampu karena kau tak ada lagi di sisiku Tere, mungkin ini akhir dari kisah kita, akhir dari segala kekacauan yang kubuat, namun ini adalah awal dari hidupku dan putri kita dan juga awal dari impian besarmu."


Arya yakin pasti setelah ini Tere akan memulai hidupnya yang tenang dan teratur sama seperti sebelum ia datang dan merusak hidup wanita itu, Arya yakin Tere bisa meraih impiannya sendiri, Tere adalah wanita cerdas yang ambisius dan tak ada kata tak mungkin dalam hidup wanita itu.


Hal itu pula yang membuat Arya mencintai wanita itu, namun ia sadar bahwa ia dan Tere tak akan bisa bersama selamanya. Karena sampai kapan pun, matahari dan bulan tak akan bisa bersatu di langit.


"Selamat memulai kehidupanmu Tere, dan maaf pernah hadir sebagai parasit dalam hidupmu."


Tanpa Arya sadari air mata menetes dari kedua matanya, lalu mengalir di kedua pipinya. Air mata itu jatuh membasahi pipi bayi mungil itu, seakan tahu ayahnya sedang bersedih. Bayi itu membuka matanya, mata yang indah dan tajam sama persis seperti mata Tere.


Terkadang Arya bingung dengan jalan Tuhan, kalau memang ia dan Tere ditakdirkan untuk berpisah dan Tere tak pernah menginginkan kehadiran bayi mereka lalu mengapa bayi mereka sangat mirip seperti Tere, bagai pinang dibelah dua.


Hidung mancung, bibir tipis merah muda, pipi tirus, bulu mata yang lentik, rambut hitam lebat, dan senyum yang sangat manis hingga tanpa Arya sadar ia sering membayangkan bahwa Tere ada di dalam putrinya, Artesha Christy Panggalila.

__ADS_1


Tangerang, 12 Desember 2019


__ADS_2