
Perlu ribuan kata sabar untuk menghadapi dirimu
~Arya Panggalila~
Arya menatap jam yang berada di pergelangan tangannya lalu menghela nafas kasar saat Tere tidak kunjung datang padahal jam mereka bertemu yaitu dua jam yang lalu.
Terkadang Arya lelah menghadapi sikap kekanak-kanakan, keras kepala, dan egois seorang Teresa Queenera namun ada perasaan asing dalam dirinya yang ingin terus bersama wanita itu dan melindunginya dengan segenap hatinya walaupun penolakan yang selalu dia dapat.
Arya mengirim puluhan pesan yang menanyakan keberadaan Tere namun hanya dibaca tanpa dibalas oleh Tere dan Arya pun sudah menelepon Tere berkali-kali namun hanya ditolak.
"KEPARAT!"
"PRAKKK!"
Arya meremas rambutnya frustrasi melihat sikap Tere, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bisa berdamai pada Tere meskipun sebenarnya dia tahu bahwa kejadian malam itu mutlak kesalahan mereka berdua bukan hanya kesalahannya.
Namun, Tere terus saja menyalahkan dirinya seakan dialah yang paling benar. Tak sanggup menahan rasa frustrasinya Arya melempar teleponnya hingga pecah berkeping-keping.
"Tere sampai kapan kau terus seperti ini? Aku lelah menghadapi semua ini. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahanku malam itu namun kau terlalu membenciku sehingga lupa bahwa kau juga ikut andil dalam malam itu," ucap Arya bertanya pada dirinya sendiri tanpa peduli tatapan pengunjung restoran yang menatap bertanya-tanya ke arahnya.
Arya diam melamun memikirkan setiap kejadian demi kejadian antara dirinya dan Tere. Pertama bertemu Tere, Arya mengaku ada perasaan ingin memiliki Tere seutuhnya namun Arya bukan pria ******** yang memaksa wanita untuk ke ranjang. "Tubuhku panas, aku butuh kamu."
Lima kata dari bibir Tere yang bagi Arya cukup untuk mengajak Tere ke ranjang namun tak pernah terpikir oleh Arya akan jadi seperti ini. Tapi jujur Arya tak pernah menyesali pertemuan pertamanya dengan Tere.
Arya beranjak dari duduknya lalu berniat keluar dari kafe ini karena percuma saja menunggu sosok yang tidak mungkin menemuinya.
__ADS_1
Ego seorang Teresa Queenera lebih besar dari akal sehatnya!
Arya diam mematung melupakan niatnya untuk pergi dari kafe ini saat matanya tanpa sengaja menatap perempuan yang sangat dia kenali dan yang tidak mengangkat telepon atau membalas puluhan pesannya.
Tere sedang bersama seorang pria dan mereka tertawa bersama!
Hati Arya teriris saat melihat tawa dan sinar kebahagiaan di kedua mata Tere yang tidak pernah perempuan itu tunjukkan saat bersamanya.
Arya ingat setiap mereka bertemu hanya ada tatapan penuh kebencian dan teriakan penuh amarah yang diberikan perempuan itu padanya meskipun Arya sudah mencoba berdamai dengan Tere.
"Kau sangat cantik Tere."
"Sialan!"
Tatapan Arya dan Tere tanpa sengaja bertemu, keduanya saling menatap dalam diam namun Tere lebih dulu mengalihkan pandangannya dan kembali menatap pria di depannya yang baru saja memuji kecantikannya.
"Kau juga tampan Theo."
"BRAKKK!"
Tere dan pengunjung lainnya berjingkat kaget saat mendengar suara meja yang digulingkan oleh Arya dengan kasar hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Pak Arya sedang apa di sini?"
Tere menatap menilai seorang wanita cantik dengan setelan kantoran dan rambut diurai indah sedang berdiri di samping Arya sedangkan pengunjung yang lain menatap penasaran keduanya yang mereka anggap sepasang kekasih.
__ADS_1
"Semua pria memang buaya!"
Arya menoleh ke samping dan menatap Indira, sekretarisnya yang dia tahu telah memendam perasaan padanya semenjak masuk ke kantornya namun Arya tak pernah membalas atau merespons perasaan Indira.
Arya langsung mendorong Indira dengan lembut ke tembok, mengurung wanita cantik itu dan memajukan wajahnya ke wajah cantik dan ayu itu sedangkan Indira hanya menatap Arya dan berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila.
Dari posisi duduk Tere yang terlihat adalah Arya berciuman dengan Indira karena posisi Tere yang berada di belakang Arya padahal nyatanya Arya hanya memajukan wajahnya pada Indira tanpa melakukan apa pun karena Arya tak mau merusak wanita lagi, cukup Tere wanita terakhirnya.
Theo menatap aneh Tere yang terus menatap pasangan yang sedang berciuman itu dengan tatapan tajam dan tangan terkepal.
"Ini pesanan Nyonya dan Tuan."
"Terima kasih," balas Theo sambil tersenyum pada pelayan yang mengantarkan jus yang mereka pesan sedangkan Tere tetap diam menatap tajam sepasang kekasih yang berciuman itu.
"Kau tidak minum jusnya Tere?" tanya Theo namun Tere tidak menjawabnya melainkan berdiri sambil membawa jus jambu miliknya dan berjalan ke arah sepasang kekasih itu.
Tere membalik tubuh Arya sekuat tenaga lalu menyiram jus jambu itu ke wajah tampan itu membuat para pengunjung, Theo, Indira, dan Arya sendiri kaget dan menatap tak percaya pada Tere.
"Apa maksudmu menyiram jus ini ke wajahku?" tanya Arya datar menatap Tere.
"Kau bilang mau bertanggung jawab atas kehamilanku tapi apa yang ku lihat sekarang! Kau malah berciuman dengan kekasihmu yang seksi dan cantik ini.
"DASAR BRENGSEK!"
Tangerang, 22 Agustus 2019
__ADS_1