Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (13): Perjalanan Pertama


__ADS_3

Rasa cintaku padamu lebih besar dari kebencianmu padaku dan itu lebih dari cukup untuk


menjadi dasar dari pernikahan ini


~Arya Panggalila~


Tere bangun dari tidurnya lalu merenggangkan ototnya, menatap sekelilingnya dengan setengah sadar karena masih mengantuk.


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Tere menoleh ke kamar mandi dan Tere melihat Arya yang baru saja keluar kamar mandi dengan handuk di pinggangnya.


Tere langsung mengalihkan pandangannya saat tatapannya bertemu dengan Arya, kaki Tere melangkah keluar dari kamar ini. Sebenarnya Tere sudah menolak tidur bersama Arya di satu kamar, namun Arya tetap pada pendiriannya. Akhirnya Tere pun menyetujui ucapan Arya asal pria itu tidak tidur di kasur, di mana saja yang penting di kasur bersamanya.


Langkah Tere terhenti saat melihat koper yang berada di samping pintu, lalu menoleh ke arah Arya yang sedang memakai kemejanya.


"Kau ingin pergi?"


Arya menoleh ke arah Tere lalu mengangguk tanpa suara, Tere lalu duduk di sofa, tempat Arya biasa tidur, melupakan niatannya untuk keluar dari kamar ini.


"Kenapa kau diam saja? Kau sakit?" tanya Arya menatap khawatir Tere yang hanya diam tak bersuara, lalu telapak tangan Arya memeriksa kening Tere.


"Aku tidak sakit bodoh!" balas Tere ketus lalu menghempaskan tangan Arya dari keningnya dengan kasar.


Arya kembali melanjutkan memakai kemejanya untuk mengalihkan emosinya saat melihat tindakan kasar Tere.

__ADS_1


"Berapa lama?"


"Apa?" tanya Arya dengan kening berkerut tak mengerti ucapan Tere. Tere menghela nafas kasar saat melihat otak Arya yang pintar sudah tergantikan dengan otak bodoh.


"Berapa lama kau pergi?"


"Oh, sebulan paling cepat dan tiga bulan paling lama."


Tere hanya diam tidak merespons karena sekarang dalam dirinya sedang ada pergolakan batin, Tere muak dengan perasaan aneh yang tiba-tiba datang saat tahu Arya akan pergi selama sebulan (paling cepat)


Seperti perasaan rindu dan tidak rela Arya pergi dan dalam hati Tere terus mengatakan ini hanya hormon ibu hamilnya, bayi laknat ini yang tidak ingin berjauhan dengan Arya bukan dirinya.


"Dasar anak tidak tahu diri, sudah kuberi tempat untuk tumbuh malah menyusahkanku!" rutuk Tere yang melupakan ada Arya di sampingnya, yang menatap datar Tere.


"Tidak baik mengatakan hal kasar pada bayimu sendiri Tere, kalau kau ingin berkata kasar, katakan saja padaku jangan pada dia."


Tere menghempaskan tangan Arya dengan perutnya, lalu menatap tajam Arya, Tere tidak mau mengikuti keinginan lain dari dirinya untuk membiarkan Arya mengusap perutnya.


"Jangan berani menyentuhku ********! Minggir dari hadapanku!" teriak Tere, sedangkan Arya yang tidak ingin ada keributan langsung memberi Tere jalan untuk pergi.


Tangan Tere yang sudah menyentuh knop pintu berhenti bergerak saat mendengar ucapan Arya.


"Jaga dirimu selama aku pergi, tidak ada yang tahu takdir. Kalau nanti aku tidak kembali, tolong jaga bayi kita dan jangan pernah memakinya. Dia tidak bersalah, yang bersalah adalah aku, setidaknya berikanlah sedikit kasih sayang agar dia tidak merasa bahwa dia tidak diinginkan di Dunia ini. Rasanya sangat menyakitkan saat seseorang hanya dianggap menjadi benalu, karena kesalahan orang lain."

__ADS_1


Tere membalikkan badannya menatap Arya tanpa ekspresi, pertama kalinya Tere melihat mata Arya berkaca-kaca. Tere tidak pernah tahu kehidupan Arya namun saat mendengar ucapan Arya, entah kenapa Tere merasa Arya pernah merasakan hal yang diucapkannya sendiri.


Terlihat dari ekspresi dan nada bicara pria itu, namun Tere terus meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa itu hanya rencananya pria itu demi menarik perhatiannya.


Tere lalu menoleh pada koper di sampingnya, lalu membuka koper itu dan berjalan ke arah lemari tanpa peduli tatapan heran yang ditunjukkan Arya.


"Kenapa kau masukkan bajumu ke dalam koper?" tanya Arya saat Tere memasukkan beberapa pasang bajunya dan barang-barang Tere ke dalam kopernya.


Tere tak menjawab ucapan Arya dan lebih memilih mempersiapkan barang-barangnya untuk ikut dengan Arya karena nyatanya Tere kalah dengan keinginan bayi dalam perutnya.


"Kau ikut denganku?"


Tere memutar mata jengah saat Arya masih saja tak mengerti maksud dari tindakannya, lalu menatap tajam Arya dan berdiri di hadapan Arya.


"Kenapa? Kau tidak memperbolehkan aku ikut denganmu?"


"Bukan, aku malah sangat senang kau ikut denganku, tapi bukannya kau tidak suka berada di dekatku?"


Dalam hati Arya berharap kalau Tere akan membalas ucapannya sesuai dengan harapan di hati Arya kalau Tere ingin mulai menerima keberadaan Tere di hidupnya.


"Aku hanya tidak ingin kau mempunyai alasan untuk menjauh atau meninggalkan tanggung jawabmu terhadap bayi laknat ini. Kalau aku ikut denganmu, dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, setidaknya kita bertiga akan mati, itu lebih baik dari pada hidup dan merawat bayi laknat ini sendirian."


Tangerang, 22 Oktober 2020

__ADS_1


__ADS_2