
Inilah yang seharusnya terjadi dari dulu,
kau dan aku memiliki kehidupan sendiri-sendiri
~Tere Queenera~
Arya dan Tere pun memulai kehidupan baru mereka, Arya kembali sibuk dengan bisnis dan putri mereka. Tak semudah yang Arya bayangkan, mengurus bayi yang seharusnya berada di dekat ibunya.
Berkali-kali Arya mencari ibu susu yang baik untuk Artesha, kriteria Arya hanya tiga yaitu menyayangi, mencintai, dan tulus pada Artesha, putrinya. Namun semua terasa sulit saat ia masih tidak terima keadaan, dan menginginkan Tere sebagai ibu susu Artesha.
Mana mungkin ia bisa mendapatkan sosok yang mirip persis dengan Tere?
Namun akhirnya ia sadar bahwa ia tak boleh egois, Artesha membutuhkan ASI secepatnya. Jadi, ia pun memutuskan untuk memilih Dela, janda beranak 1, namun sayangnya anak Dela sudah tiada sejak dilahirkan.
Arya tersenyum lebar saat melihat Artesha atau Arsa, nama panggilan Artesha sedang berjalan pelan-pelan ke arahnya, sambil merentangkan tangannya ingin dipeluk Arya.
__ADS_1
"Artesha sayang, papa pulang!"
Balita cantik itu tertawa girang saat mendengar suara papanya, Arya berjalan ke arah putrinya lalu menggendong putrinya. Arya gemas melihat pipi gempal putrinya, sehingga ia terus saja mencium pipi putrinya.
"Pa___Papa."
Jantung Arya berdetak kencang saat kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah papa, hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan putrinya.
"Artesha papa memang pintar, papa sayang banget sama Artesha."
"Bentar lagi Artesha ulang tahun ya? Arsa mau ayah kasih kado apa?"
"Oh, Artesha mau boneka baru? Nanti ayah belikan boneka paling bagus untuk Arsa. Terus Arsa mau apa lagi?"
"Ma___mama."
__ADS_1
Seketika senyum di wajah Arya hilang, tidak ada raut bahagia, yang ada hanya wajah datar. Inilah yang Arya takutkan suatu hari nanti, apabila Artesha menanyakan tentang di mana mamanya?
Mungkin sekarang Arya bisa berbohong pada putrinya karena Arsa masih balita yang tak mengerti apa-apa, namun saat putrinya menginjak bangku sekolah, pasti teman-temannya akan bertanya tentang mamanya pada Arsa dan saat Arsa bertanya padanya, apa yang akan ia jawab? Tidak mungkin ia menjawab bahwa mama Arsa tak ingin Arsa dan ayah ada di hidupnya, jadi mama pergi.
Menjawab jujur pada Arsa, hanya akan menyakiti hati Arsa dan menyakiti Arsa adalah hal yang tak akan Arya lakukan.
"Mama lagi mengejar impiannya, jadi mama enggak bisa berkumpul sama kita sayang. Arsa jangan sedih ya, kan ada papa. Arsa sama papa saja."
Arsa hanya diam sibuk sendiri, karena Arsa tak mengerti apa pun yang dikatakan oleh Arya. Arya mengusap rambut lebat putrinya, sambil menatap sendu putrinya.
Seharusnya Arsa hidup seperti anak lain, Arsa layak mendapat kasih sayang seorang ibu bukan kasih sayang Baby Sisternya. Namun Arya tak akan bisa memberikan Arsa ibu baru, karena Arya tak akan pernah mengucap janji suci pada wanita lain.
Hanya ibu kandung Arsa yang akan selalu mengisi kekosongan di hatinya, hanya Tere seorang walaupun ia sadar bahwa Tere pasti dengan mudah menggantikan sosok ia dan Arsa dalam kehidupannya.
Biarkanlah Arya menjadi pria bodoh, yang berharap bahwa suatu hari nanti akan ada keajaiban dalam kehidupannya sehingga ia, Arsa, dan Tere bisa bersatu sebagai keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
"Arsa berdoa saja sayang, semoga mama bisa kembali bersama kita lagi untuk selamanya."
Tangerang, 16 Desember 2019