Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (20): Khawatir Yang Tersembunyi


__ADS_3

Hidup ini bagai roda,


kadang kita di atas dan kadang di bawah


~Arya Panggalila~


Tere tidur di brankar rumah sakit, menatap kosong ruang rawat yang ia tempati. Tere tak tahu ia harus senang atau sedih saat tahu bayi dalam kandungannya baik-baik saja.


Hati kecilnya berteriak senang.


Sedangkan rasa egoisnya berteriak tak terima.


"Setelah ini, aku harus ke mana? Aku takut kalau diusir dari rumah sakit, dunia luar sangat kejam. Tapi aku tak punya uang untuk membayar rumah sakit," ucap Tere bermonolog sendiri.


Suara pintu yang terbuka membuat Tere buru-buru menutup mata, ia takut itu adalah suster atau dokter yang meminta ia membayar uang perawatan selama di rumah sakit, pasti biayanya sangat mahal terlebih ia tak sadarkan diri selama dua hari.


Tere tak tahu suara sepatu siapa itu dan siapa yang sekarang sedang memeluknya dengan erat, tangan Tere mengepal saat orang itu mencium keningnya.


Ini termasuk pelecehan dan Tere tak akan membiarkan nasib sial seperti malam terkutuk itu kembali lagi dalam hidupnya, tangan Tere melayang di pipi pria itu lalu mendorong pria itu sekuat tenaga hingga menjauh dari tubuhnya.

__ADS_1


"Dasar ********! Berani sekali kau melakukan hal itu padaku!"


Tere tak dapat melihat wajah pria itu, karena pria itu masih menunduk. Tere pun bisa melihat darah menetes di lantai, senyum kepuasan terbit di bibir Tere saat pria itu sudut bibir pria itu berdarah. Menurut Tere itu tak seberapa dengan perlakuan bejat pria itu.


Perlakuan pria itu mengingatkannya kembali pada satu malam yang menghancurkan seluruh hidupnya, seharusnya dirinya bukan di rumah sakit dan pura-pura terbaring karena tak punya uang, kalau saja ia tak bertemu Arya mungkin ia sedang sibuk mempelajari berbagai hal tentang medis.


"Rasakan ini ********, pria sepertimu harus diberi pelajaran agar kau tak bisa melakukan hal kurang ajar lagi pada wanita!"


Amarah yang meluap dalam diri Tere, membuat Tere mengambil mangkuk buah yang terbuat dari kaca dan hendak melemparkannya pada pria itu namun tangannya berhenti di atas, saat pria itu menoleh ke arahnya.


"ARYA?!"


"PRAKKK!"


Arya beringsut mundur saat melihat pecahan kaca itu berserakan di lantai, sedangkan Tere hanya diam mematung.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Arya setelah menghampiri Tere, Arya menyentuh kedua bahu Tere menatap khawatir pada Tere yang hanya diam.


"Harusnya aku langsung melempar mangkuk itu ke wajahmu, agar kau lenyap dari hadapanku!"

__ADS_1


Tere menatap tajam Arya lalu memukul pria itu, bukan pukulan ala wanita tapi seperti pukulan petinju handal karena nyatanya Tere pernah belajar bela diri sejak kecil.


"Tere tenanglah, Awwhhh. Tere ini sakit, tenagamu bukan tenaga wanita Tere. Tolong hentikan."


Arya.


"Kau bilang merasakan sakit ha?! Bagaimana dengan aku yang terlantar di negara orang tanpa tahu bahasa mereka ha?!"


"Tere maaf kalau soal hal itu, lagi pula kau yang memilih pergi."


"PLAAKK!"


"Kurang ajar, kau sudah membuatku seperti wanita hamil gila di negara orang sekarang malah menyalahkanku, dasar ********!"


Melihat nafas Tere yang memburu, kesulitan bernafas membuat Arya mengalah lalu menggenggam tangan Tere dengan lembut lalu mencium punggung tangan Tere. Arya tersenyum samar saat Tere hanya diam, tak menolaknya.


"Aku minta maaf, karena aku, kau sampai terlantar di negara orang."


Tere melepaskan tangannya, lalu menatap Arya sekilas dan memilih tidur sambil memunggungi Arya. Tere hanya ingin menormalkan detak jantungnya yang menggila bila di dekat Arya.

__ADS_1


Tangerang, 16 November 2019


__ADS_2