Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (43): Kebenaran Yang Terungkap (1)


__ADS_3

Kata orang ibu dan anak memiliki ikatan batin yang kuat


namun mengapa aku dan dia bagai orang asing?


~Artesha Christy Panggalila~


Perlahan-lahan kelopak mata indah dari wanita yang sedang tertidur itu terbuka, tatapan Tere mengitari seluruh ruang kamar yang ia tempati. Mata Tere langsung melotot saat melihat bingkai berukuran besar, foto pernikahannya dengan Arya.


"Bagaimana aku bisa ada di sini?" tanya Tere pada dirinya sendiri, Tere memegang kepalanya yang terasa pusing lalu tatapannya tertuju pada pakaian yang sedang ia kenakan.


Tere langsung menaikkan selimut tebal di kakinya sampai leher saat melihat baju yang ia kenakan berbeda dengan baju yang ia kenakan sebelumnya, Tere berusaha mengingat kejadian terakhir yang menimpanya hingga ia bisa berada di kamar Arya dengan pakaian yang berbeda.


Dua belas tahun tak cukup bagi Tere untuk melupakan segala kenangan tentang Arya, termasuk kamar tidur Arya yang tak pernah berubah, kamar membosankan yang bernuansa serba abu-abu dan putih.


"Aku ingat sekarang, Arya melakukannya lagi. Di... Dia memperkosaku lagi."


Tangis Tere pecah saat mengingat kejadian terakhir yang terjadi padanya. Arya memperkosanya dan mengingat tangan serta menutup mulutnya dengan kain.


"Kenapa kau melakukan hal itu padaku Arya? Aku benci padamu Arya Panggalila! Aku benci!"


Tere mengusap air matanya dengan kasar, sekarang bukan waktunya menangis dan meratapi nasib. Sekarang waktunya ia membalas perbuatan keji Arya.


"Kau kira, kau hebat Arya Panggalila? Kau ingin mengulang kejadian dua belas tahun yang lalu? Tak akan kubiarkan Arya, tak akan pernah."

__ADS_1


Tangan Tere mengepal kuat hingga memerah, lalu tangannya melempar benda apa pun yang berada di sekitarnya tanpa peduli harga fantastis barang-barang itu.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu menghancurkan hidupku lagi Arya Panggalila!"


Tere berteriak sekeras mungkin lalu turun dari kasur dan kembali melempar barang-barang di kamar Arya ke arah pintu kamar.


"Keluarkan aku Arya! Keluarkan aku! Aku benci kau!"


"ARYA KELUARKAN AKU!"


PRAKKK.


PRAKKKK.


Tere tak peduli dengan suara nyaring barang-barang yang rusak maupun dengan teriakannya yang mungkin akan mengganggu orang-orang di Mansion, karena sekarang ia butuh pelampiasan atas amarah dalam dirinya.


"Aku tak berhenti berteriak Arya, kalau perlu sampai pita suaraku putus. Aku akan tetap berteriak sampai kau mengeluarkan aku dari neraka ini!"


Tere menarik rambutnya dengan kuat dan mengusap wajahnya dengan kasar, ia mulai frustrasi akan keadaannya sekarang dan ia hanya bisa menyesali keputusannya mendatangi kantor Arya.


Tere terus saja mengedor-gedor pintu berwarna hitam tersebut namun tetap saja tak ada yang peduli padanya, karena mereka terlalu takut pada Arya.


"Kau jahat!"

__ADS_1


"Dulu kau menghancurkan kehidupan gadis remaja, kau merenggut kehormatan dan cita-citanya, dan sekarang kau mengulangi hal yang sama. Kau merusak kehidupan yang kubangun di atas cita-citaku."


Tubuh Tere merosot di depan pintu saat kakinya sudah tak sanggup menahan semua beban yang ia tanggung, Tere memeluk dirinya sendiri dengan erat berusaha menahan isak tangis keluar dari bibirnya namun ia gagal.


Tatapan Tere tanpa sengaja tertuju pada bingkai foto di atas meja, foto Arya dan putri mereka yang ia tahu bernama Artesha Christy Panggalila atau disapa Arsa. Tere mencari tahu semua tentang Arsa lewat Internet.


Tangan Tere terulur mengambil foto tersebut, tanpa perlu dijelaskan Tere bisa melihat kebahagiaan terpancar di kedua mata Arsa, mata yang sama persis seperti dirinya.


Tanpa Tere sadari ia tersenyum sendiri melihat foto itu, dan tangannya mulai mengusap foto Arsa dengan lembut, membayangkan bahwa foto itu adalah Arsa.


"Aku tak tahu ini kutukan Tuhan atau kebaikan Tuhan, sehingga wajah dan karaktermu sangat mirip seperti ku saat remaja. Ka... Kau seperti bayanganku."


Tere memeluk bingkai tersebut dengan erat, membayangkan ia sedang memeluk Arsa, putrinya.


"Kau dan Arsa pasti membenciku, kalian pasti menganggap aku iblis. Ya, aku memang iblis dalam kehidupan kalian. Aku pantas kalian benci."


Tere menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca lalu tanpa sadar air mata menetes dari matanya dan membasahi bingkai foto itu.


"Tak ada yang membencimu Tere Queenera."


Tere terkejut saat mendengar ada suara lain di kamar ini, ia langsung menaruh bingkai foto tersebut dan berusaha mencari dari mana asal suara itu.


"Aku ada di balkon."

__ADS_1


Tangerang, 29 Desember 2019


__ADS_2