Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (17): Pertengkaran


__ADS_3

Selagi kau masih ada waktu,


maka tak akan kusia-siakan waktu yang ada,


aku akan berusaha mengubah perasaanmu padaku


hingga waktu berakhir dam aku menyerah.


~Arya Panggalila~


Arya menatap sekilas pada Tere yang sibuk dengan buku tebal di tangannya, ingin sekali rasanya Arya melempar buku tentang kandungan itu sejauh yang ia bisa, kalau perlu dibakar.


Namun sayangnya ia tidak bisa, karena Tere begitu semangat membaca buku tebal itu. Jangan mengira Tere membaca buku tentang kandungan itu, untuk menjaga kandungan atau bahkan agar kandungannya sehat.


Maka kalian SALAH!


Sebelum pulang, Tere meminta Arya ke toko buku yang menyediakan buku tentang kesehatan dalam bahasa Indonesia, awalnya hati Arya berbunga-bunga saat melihat buku yang dibeli Tere. Namun entah ia yang terlalu berharap atau Tere yang memang pintar menghempaskan kebahagiaannya, langsung berkata,


"Sebentar lagi aku akan melahirkan bayi ini, jadi aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi di London nanti, dan mempelajari beberapa materi yang kulupakan!"


Tak ingat membuat kepalanya semakin pusing dengan memikirkan wanita yang duduk tenang membaca buku tebal itu, Arya lebih memilih membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa tugas kantor yang belum selesai.


Tere melirik sekilas pada Arya, lalu membuka laci di sampingnya dan mengeluarkan buku lalu membukanya. Kening Arya berkerut bingung saat buku dengan gambar bangunan dan hitungan mengisi lembaran buku tersebut.


"Ini apa?"


"Kau punya mata, jelas-jelas itu buku."


Demi meredam kekesalan dalam dirinya, Arya lebih memilih membaca dan melihat isi buku itu. Sedangkan Tere kembali melanjutkan kegiatan belajarnya.

__ADS_1


"Sketsa rumah sakit yang bagus, kau tak perlu khawatir. Aku akan membayar semua biaya pendidikan yang kau tulis di buku ini dan biaya rumah sakitmu."


Mungkin ucapan Arya tenang dan lembut, namun tindakannya merobek kertas buku itu hingga menjadi bagian kecil-kecil, membuat Tere melongo.


"Apa yang kau lakukan bodoh?!"


Tere menatap tajam dan marah pada Arya, lalu menatap sendu gambar dan hitungan yang ia buat sampai dua hari sambil membayangkan masa depannya yang cerah, namun berakhir mengenaskan di tangan ******** ini.


Arya mendekat pada Tere, sangat dekat hingga hidungnya menempel dengan hidung Tere. Tere hanya diam tak bisa mundur, karena bila ia mundur ia akan jatuh ke bawah. Tanpa Tere sadari, dirinya menahan nafas saat ia bisa merasakan aroma nafas Arya yang... Seksi.


Tere menggelengkan kepalanya, mengutuk sisi lain dirinya yaitu sisi jalangnya.


"Berikan itu kembali padaku, tepat hari perpisahan kita. Karena aku muak dan jijik melihat kertas itu, yang menggambarkan harga dirimu Teresa Queenera."


Mata Tere berkaca-kaca, hatinya perih saat mendengar ucapan Arya yang merendahkannya. Hingga tangannya mendarat dengan keras di pipi Arya.


"Dasar ********!"


Tere menuruni kasur tersebut, sekarang ia menyesal membiarkan pria itu tidur satu kasur dengannya, karena staf Arya sudah memesan kamar hotel duluan dan hanya satu mengingat staf Arya mengetahuinya bahwa Tere adalah istri Arya, dan hanya butuh satu kamar.


Demi menjaga nama baik pria itu dan karena tak ada sofa di kamar mewah ini, maka Tere pun berbaik hati memperbolehkan pria itu satu kasur dengannya. Sekarang Tere menyesal berbaik hati dengan ******** satu itu.


Tangan Tere yang hendak menyentuh knop pintu terhenti, saat mendengar ucapan Arya berikutnya yang lebih menyakiti hatinya.


"Aku salah, kau bukan ******. Karena seorang ****** pun pasti mau mengandung darah dagingnya sendiri... Tapi kau wanita yang aku rahimnya untuk mengandung bayiku yang ada dalam rahimmu."


Tangan Tere mengepal mendengar ucapan Arya, tak ingin menangis di depan pria itu. Akhirnya Tere pergi meninggalkan kamar hotel itu, tak lupa menutup pintu itu dengan keras karena amarah yang sekarang membara di hatinya.


Setelah menutup pintu, Tubuh Tere merosot di depan pintu. Tangis yang ia tahan pun pecah, air mata mengalir deras di kedua pipinya. Tak seharusnya ia sedih dan marah karena mendengar perkataan Arya karena memang itu kebenarannya, namun entah kenapa hatinya tidak terima Arya mengatakan itu padanya.

__ADS_1


Tanpa sadar tangan Tere bergerak mengusap perutnya yang sudah mulai membesar dengan lembut lalu berjalan tanpa arah, meninggalkan hotel bintang lima itu.


Di sisi lain Arya meninju tembok kamarnya tak peduli rasa sakit dan tangannya yang memerah, ia hanya butuh pelampiasan amarahnya. Dan semalaman ia hanya bisa menatap indahnya malam kota Beijing sambil memikirkan Tere yang tak kunjung kembali.


[] [] [] [] [] [] []


Arya menelepon anak buahnya untuk menanyakan perkembangan dari pencaharian Tere yang sudah ia lakukan dari semalam namun tak membuahkan hasil, hati Arya gelisah dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Tere.


Tere tak pernah menginjakkan kakinya di kota Beijing, ini adalah pertama kalinya bagi Tere dan Tere pun tak memiliki saudara karena ia sebatang kara, lalu semalaman ini Tere tidur di mana?


Arya merutuki dirinya yang semalam mengikuti amarahnya, dan mengucapkan kata-kata kasar dan menghina pada Tere hingga Tere pergi, dan bodohnya lagi ia tidak mengejarnya karena mengira Tere hanya butuh udara segar.


"Toni, bagaimana apa ada perkembangan? Apa kalian tahu di mana Tere sekarang berada?"


Arya langsung memberi Toni, anak buahnya berbagai pertanyaan saat sambungan telepon itu tersambung, dan Arya pun bisa mendengar Toni yang menghela nafas kasar.


"Maaf Bos, tapi kami tak kunjung menemui Nyonya Tere, mengingat kekuasaan kita di negeri ini tak sebesar di Indonesia, membuat kami kesulitan menemukan Nyonya Tere."


Tangan Arya mengepal, nafasnya memburu, dan matanya menatap tajam pada keindahan bangunan kota Beijing dari atas balkon kamar hotelnya.


"Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu dan anak buahmu yang tidak becus itu, kalau sampai Tere tak ditemukan maka akan kuhabisi istri kalian semua!"


Belum sempat Toni menjawab, Arya sudah mematikan sambungan teleponnya lalu melempar teleponnya ke tembok hingga hancur berkeping-keping.


Arya mengusap kasar wajahnya dan menarik rambutnya frustrasi, ia tak sanggup membayangkan Tere pergi selamanya dari hidupnya dan pergi menggapai impian wanita itu, lalu ia melampiaskan ketakutannya dengan memanggil nama Tere sambil berteriak, berharap Tere akan datang menemuinya.


"TERESA QUEENERA"


Tangerang, 03 November 2019

__ADS_1


__ADS_2