Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (34): Keberhasilan Impian


__ADS_3

Tere duduk dengan gelisah di kursi paling depan, menatap panggung besar gedung mewah dan megah yang digunakan untuk acara kelulusan Harvard University.


"Semoga aku bisa lulus dengan IPK memuaskan, Tuhan tolong bantu hambamu ini."


Tere menarik nafas lalu mengeluarkannya perlahan, berusaha menenangkan dirinya dari ketakutan tidak lulus setelah empat tahun berjuang keras dan belajar dengan giat tanpa kenal lelah, semua itu semata-mata demi mimpi besarnya.


"Masih saja takut tidak lulus, padahal seluruh dosen mengenal siapa dirimu Tere Queenera."


Tere menoleh ke sampingnya, menatap kesal pria keturunan Amerika asli yang sedang mengejeknya dengan senyum miring itu. Tere memukul bahu pria itu, untuk meluapkan kekesalan dan ketakutan dalam dirinya.


"Tutup mulutmu, tidak hari biasa, tidak hari kelulusan. Kau tetap saja bisa setenang bahkan menjurus tidak peduli seperti ini, kau ini anak orang kaya Xerion, tidak seperti diriku yang mendapatkan beasiswa."


"Kau tahu aku bosan mendengar ucapanmu itu, Kau ini terlalu cerewet."


Ingin sekali rasanya Tere memukul kepala pria di sampingnya, yang selama ini menjadi sahabat dekatnya namun niatannya harus terhenti, saat suara MC yang memulai acara menyela ucapannya.


Jantung Tere berdetak cepat setiap detiknya, bahkan saat pertunjukkan pentas seni pun, jantungnya tetap berdetak cepat. Tere sangat takut kalau ia tidak lulus dari Harvard University, mengingat perjuangannya yang begitu panjang untuk mencapai hari ini.


Membayangkan dirinya gagal saja mampu membuat air mata mengalir di kedua pipinya, semua sudah ia korbankan untuk hari ini, untuk mimpinya, dan untuk impian orang tuanya. Hatinya seakan dicubit, saat mengingat sudah empat tahun setelah perpisahannya dengan Arya.

__ADS_1


Arya sungguh-sungguh menjauh dari kehidupannya, tak pernah lagi terlihat oleh mata Tere. Namun nama seorang Arya Panggalila tak akan lepas dari majalah bisnis, mengingat perusahaannya yang sudah mendunia dan melalang buana ke seluruh belahan Dunia.


Lamunan Tere terhenti saat mendengar suara MC yang sedang mengumumkan lulusan terbaik setiap jurusan, mulai dari jurusan hukum, bisnis, jurnalistik, hingga kedokteran...


"Kalau MC itu tidak menyebutkan namamu, maka aku akan menonjok wajah pas-pasannya itu."


"Diamlah Xerion, kau ini cerewet sekali."


"Dan sekarang giliran jurusan kedokteran Harvard University, saya kagum pada lulusan terbaik jurusan kedokteran ini, selain karena dia wanita, jalur beasiswa, dia juga memiliki phobia akan darah yang mengingat jurusan kedokteran pasti akan berhubungan dengan darah...


MC itu terdiam sebentar, memberikan aura menegangkan untuk setiap mahasiswa kedokteran walaupun mereka semua sudah sadar siapa orang itu.


"Jangan mengatakan apa pun, tolong diam."


Xerion terkejut saat melihat air mata di pipi Tere, selama empat tahun bersahabat bersama wanita kuat di sampingnya ini, tak pernah sedikit pun ia melihat Tere menangis atau lebih jelasnya Tere selalu menyembunyikan air matanya dari siapa pun.


"Wanita hebat yang berani melawan fobia demi kelangsungan hidup setiap anak di Dunia dalam rahim ibunya, dia adalah Tere Queenera jurusan Kedokteran."


Suara tepuk tangan meriah, tatapan yang tertuju pada Tere Queenera dan lampu yang menyorot jelas wanita berusia 22 tahun itu. Tere senang, ia terharu namun air mata terus saja mengalir di pipinya. Ia sadar bahwa ini bukan air mata kebahagiaan namun air mata kesedihan.

__ADS_1


"Tere kau memang yang terbaik! Cepat maju, MC bodoh itu sedang menunggumu," ucap Xerion sambil menggoyang pelan lengan Tere, menyadarkan Tere dari lamunannya.


Tere memberikan senyuman pada Xerion sebelum berjalan ke arah panggung, untuk menerima penghargaan atas kerja keras, pengorbanan, dan rasa egoisnya empat tahun lalu.


Rektor Harvard University langsung yang memberikan piagam dan piala penghargaan pada Tere, tangan Tere gemetaran saat harus menerima piagam dan piala itu. Tak pernah terpikir di otaknya kalau ia akan mendapat gelar lulusan terbaik bidang kedokteran, karena baginya lulus dari Harvard, yang merupakan perguruan tinggi terbaik di Dunia saja sudah lebih dari cukup.


"Congratulations On Your Achievements."


"Thank You Very Much, Sir," ucap Tere dengan berlinang air mata saat sudah menerima penghargaannya, berbagai lampu kamera mengabadikan momen berharga itu.


"You're Welcome."


Tere berdiri dengan percaya diri, aura mengintimidasi dan positif menguar dalam dirinya saat memegang piala dan piagam itu, membiarkan seluruh kamera memotret keberhasilannya setelah semua pengorbanan yang ia lakukan.


Ini bukan akhir dari mimpinya namun ini awal dari mimpinya, awal dari karirnya di masa yang akan datang, mulai hari ini Tere akan menuliskan namanya di sejarah kedokteran Dunia, Dunia akan mengenalnya sebagai wanita ambisius dan cerdas, yang berjasa di Dunia Kedokteran.


Namun tak akan ada yang tahu tentang Tere yang dilecehkan, hamil di luar nikah pada usia muda, menikah di usia muda dan memiliki anak serta mantan suami di Indonesia. Tere berjanji tak akan ada yang mengetahui masa lalunya, mereka hanya akan mengetahui masa depannya saja.


Tangerang, 16 Desember 2020

__ADS_1


__ADS_2