
"BANJIR!"
"Tak ada banjir bodoh!"
Arya menoleh ke arah Tere, pria itu bahkan terlihat tak yakin saat melihat sosok wanita yang baru saja memasuki mimpinya ada di hadapannya, bahkan Arya sampai mengucek matanya untuk memastikan bahwa itu adalah Tere bukan mimpi alam bawah sadarnya.
"Kalau kau berpikir bahwa aku adalah mimpimu, maka kau adalah orang buta!"
"Kenapa kau ada di kamarku?"
"Janin laknat ini lapar, ia terus meminta makan. Jadi cepat bangun dan masak apa pun yang kau bisa!"
"Aku yang masak?!"
"Jaga nada bicaramu itu, yang boleh berteriak hanya aku!"
Arya menghela nafas kasar lalu meminta maaf, lebih baik mengalah dari pada harus berdebat dengan Tere. Arya hanya khawatir pada kondisi Tere dan anaknya.
"Baiklah, maafkan aku. Tapi aku tak bisa masak, aku akan membangunkan salah satu pembantu untuk...
"Anak ini hanya ingin masakanmu bodoh!" teriak Tere frustrasi karena keinginan yang ada dalam dirinya yang menurutnya adalah karma dari anak sialan ini.
"Apa kau sedang mengidam?"
"Aku tak tahu apa ini namanya, cepatlah bergerak, aku kelaparan!"
Tere langsung berjalan lebih dulu, tak lupa menutup pintu kamar Arya dengan keras hingga menimbulkan suara nyaring, membuat Arya tersadar atas lamunannya lalu tersenyum sendiri dan mengikuti langkah Tere ke arah dapur.
__ADS_1
"Kau ingin aku masak apa?" tanya Arya dengan senyum bodoh di bibirnya, membuat mata Tere memutar jengah karena melihat harapan di mata setajam elang di sampingnya.
"Aku ingin sekali kau memotong-motong tubuhmu, lalu memasaknya agar kuberikan pada buaya atau binatang buas di kebun binatang!"
Tanpa memedulikan Arya, Tere langsung duduk di kursi. Menunggu Arya menyelesaikan masakannya, sedangkan Arya tetap berusaha tersenyum lalu mulai memasak sesuatu yang mudah.
"Lebih baik aku masak yang mudah saja, Tere itu wanita bermulut pedas. Saat dia meminta sesuatu saja, mulutnya tetap berkata pedas. Apalagi saat masakanku tak enak, bisa-bisa ia melukaiku."
Arya akhirnya memutuskan memasak nasi goreng dengan bumbu racik instan, bermodalkan langkah-langkah di Internet.
BUGGGHH.
Arya meringis pelan saat sesuatu dilemparkan di punggungnya, lalu ia menoleh ke belakang dan menemukan majalah bisnisnya yang tergelatak di lantai. Lalu tatapannya tertuju pada Tere yang menatap tajamnya.
"Kau bisa tidak lebih cepat lagi memasaknya! Bisa-bisa aku ketiduran karena kau begitu lama memasak."
Satu kata yang selalu Arya sebutkan dalam hatinya saat berurusan dengan wanita bermulut pedas seperti Tere.
"Iya, ini nasi gorengnya sudah selesai. Tinggal di sajikan ke piring, tak mungkin kan kau makan dari penggorengan ini."
"Kau tak cocok jadi pelawak, kau lebih cocok jadi ********."
"Dan kau sangat cocok jadi Nyonya, bakat menyiksa dan berkata pedas seakan sudah melekat dengan sempurna dalam dirinya," ucap Arya menimpali ucapan Tere, membuat Tere kesal dan menggebrak meja.
"Kalau kau tidak ikhlas maka tak usah masak bodoh!"
"Baiklah aku minta maaf, sekarang makanan sudah jadi. Silakan dimakan Nyonya," ucap Arya untuk ke sekian kalinya mengalah dan terus mengalah pada wanita di depannya ini.
__ADS_1
"Kalau nasi goreng ini tidak enak, maka bersiaplah wajah yang kau dan kaum hawa di luar sana agungkan, akan kumuntahi."
"Aku siap, apa pun siap kulakukan asal kau bahagia."
"Kalau Anda ingin merayu saya, maka Anda salah orang. Karena sampai mati pun saya tak akan termakan rayuan basimu itu."
"Padahal ucapanku itu adalah satu kebenaran di antara ribuan kebohongan dalam diriku."
Tak ingin meladeni Arya, Tere mulai menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Rasanya enak untuk ukuran pemula seperti Arya, tapi memang Tere yang sudah terlanjur membenci wajah tampan yang merusak masa depannya, hingga ia memuntahkan nasi itu tepat ke muka Arya.
"Nasi gorengnya tidak enak, tidak pantas dimakan oleh manusia lebih pantas digunakan di wajah bajinganmu itu!"
Setelah mengatakan hal itu, Tere melempar nasi goreng itu ke arah Arya sehingga tubuh Arya dilumuri nasi goreng. Tere tersenyum puas melihat kondisi Arya yang mengenaskan, ini yang Tere inginkan selama ini.
Penderitaan dan harga diri Arya yang ia injak-injak, kalau perlu tubuh pria itu yang ia injak-injak.
"Maafkan aku."
Tere langsung pergi meninggalkan Arya yang menatap sendu punggung mungilnya untuk ke sekian kalinya.
Pertama kalinya seseorang memperlakukannya bagai kuman atau bahkan budak, namun ia hanya bisa diam membiarkannya. Karena bagi Arya, kebahagiaan Tere adalah kebahagiaannya.
Walaupun harus dipermalukan seperti ini, Arya pun siap melakukannya karena ia sadar bahwa ini tak seberapa dengan kesalahannya yang menghancurkan seluruh hidup Tere. Ia hanya bisa berdoa semoga semua yang dilakukan Tere padanya, cukup untuk menembus dosanya pada istrinya itu.
"Kalau memang bukan aku pria yang akan menemani sisa hidupnya sampai akhir hayatmu, maka biarkan aku yang menjadi satu-satunya pria yang pernah melihat sisi lain dalam dirimu, walaupun sisi itu akan menyakitiku."
Tangerang, 01 Desember 2019
__ADS_1